Friday, May 28, 2004

Yes, I Do

Yes, I Do

Tanpa disadari, air mata saya menetes membasahi pipi. Dengan lembut, kekasih saya mencium kedua mata saya, berusaha menghentikan linangan air mata yang malah semakin deras. Malam ini, saya dilamar.
Awalnya, kami cuma bercanda. Mengingat hari lamaran makin dekat, saya menggodanya. "Sayang, aku mau donk dilamar gaya barat. Kamu bawa2 cincin sambil berlutut. Hehehe." Saking isengnya, kami berdua malah bikin2 skenario lucu. Sampe akhirnya, malam itu saya sibuk mencari cincin koleksi saya. Ketemu deh. Cincin berbentuk kepala harimau bertatahkan berlian berlapis emas putih. Cincin unik tapi manis itu saya beli di Hongkong, beberapa tahun yang lalu. Setelah itu, saya sibuk mencari tempat cincin berbentuk hati yang pernah saya dapatkan waktu kakak saya menikah dulu.
Lalu, kami berdua larut dalam suasana hening. Dia menghampiri saya. Memegang kedua bahu saya sambil menunduk memandang wajah saya. Tatapan matanya yang penuh cinta tiba2 saja membuat saya terharu. "Sayang, hubungan kita sudah berjalan setahun lebih. Aku ingin menjadikan hubungan kita lebih dari cuma sekadar pacaran," sambil berlutut di hadapan saya dan memberikan cincin, dia melanjutkan kata2nya, "Maukah kamu menikah denganku?"
Tak perlu banyak kata. Saya langsung menangis antara haru dan bahagia. Dalam pelukannya, saya berkata, "Ya. Aku mau."

Keesokan harinya, kami berdua sibuk sekali. Dari urusan gereja sampai mencari hiasan untuk membuat parcel. Rencananya, saat hari lamaran nanti, pihak laki2 membawa parcel buah dan parcel makanan. Karena parcel buah sulit untuk dibuat sendiri, kami akhirnya memutuskan untuk menggunakan jasa toko buah2an. Tapi untuk parcel makanan, saya menawarkan diri untuk membuatkannya. Jadilah hari itu, kami berdua keliling2. Diawali dengan dia mengurus dokumen di gerejanya, ke rumah temannya untuk mengambil VCD gratis (whoaaaaaa... nambah2in koleksi VCD Yenny... bikin seneng deh...), ke Citraland (beli pita2 plus hiasan2 untuk parcel), sampe akhirnya mampir ke rumahnya untuk membuat parcel.
Susah2 gampang ternyata membuat parcel. Tapi akhirnya kami berdua berhasil membuat parcel yang cantik.
Setelah makan malam di rumahnya, kami pulang ke rumah saya untuk nyobain VCD2 yang udah diambil dari rumah temennya. Wah, gak rugi banget deh. Pokoknya walaupun lelah, kami sama2 senang dan happy.

Hari lamaran telah tiba... Entah memang musimnya lagi hujan terus2an, atau gara2 mau memberikan rejeki berkelimpahan buat kami semua, sedari pagi hujan deras gak berenti2. Sempet panik juga, soalnya kasihan banget kalo dia dan keluarganya mesti kehujanan saat mau melamar saya. Tapi untung banget, hujan berhenti tepat saat mereka tiba di rumah saya. Ohya, orangtua saya sudah pernah berkenalan dengan orangtuanya, jadi mereka udah gak canggung lagi. Beda dengan jaman kedua kakak saya dulu. Waktu itu, mereka gak pernah kenalan dengan orangtua kedua calon kakak ipar saya, jadi saat lamaran, masih keliatan canggung.
Bangga rasanya melihat kedua kakak saya menerima parcel dari orangtuanya. Apalagi setelah kakak kedua saya bilang, "Parcelnya bagus yah." Terus, dia melirik saya yang senyum2 senang, "Pasti elo yang bikin yah." Waaah, tambah bangga deh. Bisa2nya dia menuduh kalo saya yang bikin parcel bagus itu. Hehehe.
Setelah para orangtua itu berbincang2 (saya dan dia gak ikutan, kami berdua cuma nguping dari dalam... hehehe...), saya dipanggil ke depan. Saat itulah, saya dikalungi kalung emas oleh mamanya. Dan memang, itu adalah yang paling penting dalam acara lamaran, di mana saya sudah diikat oleh keluarganya, supaya tidak ke-mana2 lagi. Setelah itu kami semua pergi makan siang bareng di Bakmi Metropolitan. Asyiiiik... ^-*

Selesai sudah acara lamaran. Sejak hari itu, saya sudah bisa bilang dengan bangga, "Yenny sudah sah jadi calon istri Michael. Jadi, Michael gak boleh ngelaba cewe2 laen." Lucunya, dia langsung memandang dengan tatapan sedih bercampur nakal, "Bukannya dari dulu juga udah gak boleh ngelaba???" Waah, kalo udah gitu, biasanya saya langsung memekik, "Emangnya kepingin yah???" sambil mencerucutkan bibir saya. Dan, dia mulai sibuk baik2in saya. Entah dengan cara apa, semua yang dia lakukan untuk menyenangkan saya, pasti selalu berhasil. Itu sebabnya saya selalu mencintai dia. Sekarang. Selalu. Selamanya.

Dedicated to Michael, my husband-to-be.
I Love You.
The Only You.
^-^