Tour de Parijs van Java
Udah lama saya gak nulis kisah saya dan Michael. Kebetulan memang tidak banyak yang kami alami. Cuma waktu bulan Februari 2005, mobil baru saya datang ke rumah. Senangnya. Setelah itu, banyak kejadian menyenangkan yang kami lewati naik mobil baru. Kami bisa ngajak kedua orangtua Michael keliling dengan mobil baru. Selama ini, mereka sama sekali gak nyaman naik mobil Katana yang sudah tua. Sekarang kami udah bisa memberikan kenyamanan berkendara buat mereka. Tapi gak lama, Papa-nya Michael mengalami stroke ringan. Ada gumpalan di otaknya yang membuat tangan kiri tidak bisa lagi menggenggam erat. Kami semua sempet shock berat mengingat Papa-nya Michael orang yang trampil, naik2 ke atap rumah, betulin genteng, betulin bocor, dll. Tapi sekarang udah gak bisa lagi. Papa langsung keliatan gak selincah dulu lagi. Sekarang Papa masih menjalani terapi terus. Kami semua berharap Papa bisa cepat pulih seperti dulu.
4 Juni 2005, akhirnya kesempatan untuk mencoba mobil baru keluar kota, jadi juga. Berbekal peta Bandung seharga Rp 15.500,- saya dan Michael ke Bandung. Kami lewat tol Cipularang. Seneng banget, dalam waktu 1 jam 50 menit udah nyampe tol Pasteur. Kami berangkat jam 05:45. Sampe di sana sekitar jam 07:35. Saya langsung buka peta dan mulailah kami bertualang.
Kami langsung menuju Cihampelas Walk, mencari toilet. Maklum, sepanjang tol Cipularang ternyata gak ada tempat istirahat ataupun toilet. Setelah lega, kami mampir di Toserba Yogya karena baru di situ aja yang buka. Setelah belanja sedikit, kami keluar dari CiWalk menuju Karya Umbi. Belanja keripik tempe, puli udang, bantal keju, chocolada baton (schuimpjes) dan bookepotjes. Hmmm... sedaaaap... Setelah itu, kami makan di Sapu Lidi. Enak banget. Hawa dingin menikmati ayam serundeng plus sate ayam yang enak. Selesai makan, kami langsung menuju jalan Dr. Setiabudi, check-in di Hotel Alam Permai. Hotelnya gak terlalu besar, tapi ternyata kamarnya besar sekali. Dengan harga relatif murah, kami cukup puas walaupun tidak ada AC di dalam kamar. Tapi dengan jendela besar menghadap ke lembah, rasanya hawanya sudah cukup dingin. Kami menyempatkan diri untuk menikmati kamar sebentar. Setelah tidur nyenyak, tenaga kami muncul kembali. Kami langsung meluncur ke Sumur (Susu Murni) di Lembang, tempat favorit keluarga saya. Sambil menikmati segarnya susu coklat murni yang dingin, kami juga memesan roti bakar coklat yang murah meriah. Tak lupa, sosis-kentang dan baso tahu jadi santapan kami siang itu.
Setelah kenyang, kami langsung menuju Gunung Tangkuban Perahu. Maklum lah, biar udah tua gini, saya masih belum pernah melihat yang namanya kawah. Hehehe. Perjalanan panjang kami menuju Kawah Tangkuban Perahu sempet bikin panik, jangan-jangan kami salah jalan. Tapi ternyata kami sampai juga. Tak lama kami di sana, karena gerimis sudah mulai turun. Kami pun balik lagi ke hotel untuk mandi dan bersiap-siap karena kami akan dinner di Kampung Daun. Wiiiiih... seneeeeng...
Setelah melewati sedikit kemacetan menuju Terminal Ledeng, kami masuk ke Jalan Sersan Bajuri. Kurang lebih 5 km, kami sampai juga di Kampung Daun. Suasana romantis langsung terasa dengan lilin-lilin yang mendominasi warna titik-titik air gerimis yang turun sejak sore tadi. Sambil menunggu giliran, kami nonton Salon Oneng dengan berpayung-ria. Setelah giliran ke-8, masuklah kami ke saung nomor 6 yang telahtersedia. Kami pesan Nasi Timbel dan Nasi Sapi Lada Hitam. Dengan semakin turunnya malam, suasana makin ramai. Foto-foto pun tak lupa kami lakukan. Tak peduli dengan gerimis, saya berfoto di dekat air terjun di sisi atas kafe. Lalu, setelah makan bakwan dan roti bakar, kami pun kenyang dan siap untuk pulang. Tapi rasanya tanggung banget kalo gak mampir ke The Peak. So, kami pun lanjut ke atas, menuju The Peak. Well, suasana memang tidak se-romantis Kampung Daun, tapi rasanya senang udah bisa nyampe ke The Peak. Setelah foto-foto sedikit, kami pun pulang menuju Lembang.
Jalan pulang berbeda dengan jalan yang tadi kami lalui. Jalan Sersan Bajuri bisa menembus 2 arah. Bisa ke Terminal Ledeng, bisa ke Lembang. Saat berangkat, kami melalui jalan dekat Terminal Ledeng, tapi saat pulang kami menuju ke Lembang. Sempet panik karena sepertinya kami sudah tersesat. Tapi untunglah, kami sampai juga ke Lembang. Dari situ, kami turun menuju hotel. Dan saya senang karena jalan yang tadi kami lewati adalah jalan yang memang saya cari untuk menuju Little Farmers.
5 Juni 2005, pagi-pagi kami menikmati breakfast di restoran kecil di sisi bawah kamar. Ada nasi goreng, ada bubur ayam. Tinggal pilih. Minuman pun silakan pilih, antara teh atau kopi. Setelah breakfast, kami langsung check-out dan langsung menuju Little Farmers. Jaraknya cukup jauh. Kami naik dulu ke Lembang, setelah itu baru masuk lewat Jalan Sersan Bajuri menuju Jalan Kolonel Masturi. Sambil tanya sana-sini, akhirnya kami sampai juga di Little Farmers. Kebetulan sedang ada rombongan, jadi ramai. Kami berfoto sebentar, lalu keliling-keliling sebentar, lalu lanjut ke All About Strawberry. Dalam perjalanan ke Little Farmers, saya sempet melihat papan di jalan yang menunjuk ke sana. So, kami gak jadi mencari Rumah Strawberry. Langsung aja ke All About Strawberry. Dengan membayar Rp 5000,- per orang, kami masuk dan mendapat welcome drink berupa jus strawberry yang segar. Kami tak lama di sana, hanya berfoto dan duduk-duduk menikmati segarnya udara dingin. Hari sudah cukup siang, dan kami sudah lapar. Saatnya menuju Sumur lagi untuk menikmati santapan siang.
Di Sumur saya pesen nasi ayam, sambal, lalap, tempe & tahu, sedangkan Michael pesen nasi ayam goreng tepung. Kami juga sempet menikmati susu coklat dan roti bakar coklat, tapi kali ini pesen 1 untuk berdua. Abisnya, masih kenyang sih. Hehehe. Setelah puas, kami melanjutkan perjalanan turun ke Bandung menuju hotel berikutnya. Malam ini kami akan menginap di Hotel Cemerlang, Pasir Kaliki. Setelah hampir 1 jam putar-putar di kota Bandung, sampai juga kami di hotel. Maklumlah, Bandung sekarang udah beda. Banyak jalan yang 1 arah, jadinya kalo udah salah jalan, kudu cari-cari lagi. Jadi bingung. Tapi untung peta yang kami beli membantu banget. Jadilah kami check-in agak siang. Sampai di kamar (room 225) kami langsung terkapar kelelahan. Dan untungnya di hotel ini kami bisa nonton HBO. Michael jelas kesenengan karena waktu di Alam Permai, TV yang tersedia hanya TV lokal saja. Itu pun tidak jernih gambarnya. Jadi sore itu kami lewatkan hanya di kamar. Kepala saya pun agak pusing karena malam sebelumnya di Kampung Daun kehujanan. Tapi setelah tidur, pusing saya hilang. Malam itu kami makan di Tamani Cafe. Kebetulan saya punya BCA Side Card, sehingga bisa dapet diskon 30%. Lumayaaaaaaan...
6 Juni 2005, bangun tidur saya sudah cemberut. "Pulangnya besok aja yah...." kata saya. Michael sih ok aja, tapi mungkin kami bakal tambah males kerja kalo di Bandung sehari lagi. So, setelah bermalas-malasan, akhirnya kami check-out pagi itu. Dari Pasir Kaliki, kami menuju Jalan Veteran. Mampir di Batagor Kingsley untuk beli batagor titipan kakak saya yang kedua. Soalnya dia hobby banget tuh. Sekalian beli-in mertua dan pacar adik saya. Setelah itu, lanjut ke Jalan R.E. Martadinata (Jalan Riau). Mampir di Bawean untuk beli roll gulung kacang nougat titipan mama. Saya juga beli 1, karena emang doyan banget. Kalo digigit rhum-nya terasaaaaaaaaa banget. Abis dari situ, meluncur ke Jalan Ir. H. Juanda. Mampir di Kartika Sari untuk beli cake siffon ketan item titipan mama dan adik saya. Sekalian juga saya beliin kakak saya yang pertama. Tak lupa saya beli pisang molen untuk tetangga kanan kiri saya, temen kantor saya dan temen kantor Michael.
Udah sampe di Juanda, tanggung kalo gak ke atas. Akhirnya kami nekat ke The Valley. Tempatnya romantis banget. Saya juga sempet liat ke kamarnya. Pokoknya romantis deh. Pengen juga nginep di situ, tapi sayang... harganya lumayan mahal. Tapi saya ke situ juga sekalian ambil brosur untuk kakak saya yang kedua. Dia udah sms dari hari pertama saya di Bandung. Katanya, kalo mampir di Valley, ambilin brosur yah... Jadi, tugas saya selesai. Dari The Valley kami naik ke atas lagi menuju Cafe The View yang letaknya di Resor Dago Pakar, sambil melihat-lihat perumahan mahal di sana. Setelah berfoto, kami pun turun menuju Gepuk Ny. Yong di Jalan Dr. Setiabudi. Makan siang di sana, lalu pulang sambil membawa 20 tusuk gepuk pesanan mama dan 10 tusuk gepuk buat saya sendiri.
Perjalanan pulang lumayan lancar di Cipularang. Baru mulai padat saat memasuki Jakarta. Duh, rasanya mo balik lagi ke Bandung. Betah saya di sana. Apalagi dengan hawa yang segar dan suasana yang nyaman. Gak sabar juga mo jalan ke Bandung lagi. Well, yang pasti setelah liburan sekolah selesai, saya mo ajak mertua saya nginep di sana. Biar mereka merasakan nikmatnya jalan ke Bandung... gak pake lama. Hehehe...
Dedicated to Michael.
Thanks ya udah ajak aku ke Bandung.
Gak sabar rasanya mo ke sana lagi.
Aku tambah sayaaaaaaaaaaaaaang deh sama kamu.