Home Sweet Home
11 Desember 2004, setelah tinggal selama 1 tahun 3 bulan 6 hari, rumah kami tercinta akhirnya diberkati. Akhir November 2004 saya mencari tahu mengapa rumah saya tidak diikutsertakan dalam pemberkatan massal di perumahan saya. Ternyata saya memang terlewatkan. Entah karena ketua lingkungannya lupa atau memang saya dianggap tidak aktif di lingkungan. Maklum saja, Michael selalu pulang malam, dan saya masih malu untuk ikut kegiatan sendirian. So, nasib saya untuk mencari sendiri Romo yang mau memberkati rumah saya.
Setelah menelepon sana-sini, saya optimis kalau acara pemberkatan rumah nanti akan sukses. Semua saya persiapkan sebaik mungkin. Bahkan 2 hari sebelum acara, saya menelepon lagi untuk memastikan Romo-nya memang sudah siap. Dan jawabannya adalah: "Tenang saja. Romo sudah tahu dan akan datang pada hari Sabtu tgl 11 Desember 2004 jam 9 pagi." Dan saya pun tenang. Sampai tiba harinya, jam 6 pagi saya sudah bangun untuk merapikan rumah. Walaupun saya tidak mengundang siapa-siapa, tapi saya ingin rumah saya dalam kondisi siap untuk diberkati. Saya dandan cantik dan wangi. Michael pun sudah dari pagi saya suruh cuci kamar mandi dan rapi-rapi. Tibalah jam 9 pagi, saya menunggu sambil duduk manis di depan TV, tapi apa daya, Romo tak kunjung datang.
Jam 9:10 saya menelepon dengan hati was-was. Dan ternyata memang benar kecurigaan saya. Romo-nya tidak ada di tempat karena mendadak ada rapat di Keuskupan. Hancurlah hati saya. Niat untuk mengadakan pemberkatan rumah pudar sudah. Betapa emosinya saya sampai-sampai saya hampir membatalkan acara pemberkatan rumah hari itu. Untung saja saya gak mengundang teman-teman saya. Coba kalo tamu sudah datang... Mau dikemanakan muka saya? Tapi untungnya masih ada Romo lain yang mau menggantikan. Tapi Romo ini cuma bisa setelah jam 11 siang, dan harus saya jemput sendiri. Walhasil, saya terpaksa mengiyakan. Daripada harus mencari hari lagi di saat saya udah males banget.
Jam 11:00 berangkatlah saya ke gereja untuk menjemput sang Romo. Macet dan panas kami lewati dengan penuh semangat. Maklum, yang akan kami jemput, Romo dari Belgia. Keren donk kalo rumah kami diberkati Romo bule. Hehehe. Jam 11:30 sampailah kami di gereja. Setelah itu kami langsung jalan lagi menuju rumah. Jam 12:00, acara pemberkatan rumah dilakukan. Hanya kami bertiga. Tanpa siapa-siapa lagi. Pemberkatan rumah berjalan dengan khidmat. Air mata saya hampir menitik setiap kali satu persatu ruangan di rumah kami diberkati. Mula-mula ruang tamu, dilanjutkan dengan dapur tempat saya memasak makanan dengan bumbu cinta untuk suami, setelah itu kamar tidur kami tempat kami memadu kasih dan cinta, disambung dengan kamar mandi, kamar komputer dan car port. Setelah pembacaan doa, acara pemberkatan rumah kami pun selesai. Lega rasanya.
Walaupun sempat ada masalah muncul, saat Romo yang batal datang tiba-tiba menelepon saya dan ngomel-ngomel karena merasa saya yang membatalkan acara pemberkatan rumah, saya dan Michael tetap bersyukur karena acara berjalan dengan lancar. Kami memang tidak mengundang siapa-siapa karena kami tidak mengadakan misa pemberkatan rumah. Sebetulnya itu ide saya sendiri. Terus terang, bukannya saya pelit dengan tidak mengadakan acara ramah-tamah dan mengundang teman-teman. Tapi rasanya pemberkatan rumah tanpa keramaian lebih mengena di hati saya. Dan lebih berkesan buat saya. Itu sebabnya Michael juga setuju dengan ide saya.
Well, yang pasti, saya tidak akan pernah lupa moment indah setelah rumah kami diberkati, setelah Romo sudah diantar pulang. Kami di dalam rumah. Hanya berdua. Berdiri berhadapan. Saling menatap. Perlahan saya melihat kedua matanya berkaca-kaca. Haru. Lega. Bahagia. Campur jadi satu. Dan saat ia memeluk saya dengan erat, saya pun semakin merasakannya.
Dedicated to Michael, my lovely hubby.
Thanks yah udah nemenin aku sepanjang hari...
Ps: Thanks to Romo Ludo yang udah menyediakan waktu utk acara pemberkatan rumah kami.
this is about our life. about michael and yenny's life. how we met, how we found and complete each other, and how we become one.
Tuesday, December 14, 2004
Saturday, December 04, 2004
So Unpopular
So Unpopular
Saya percaya setiap orang pasti ingin menjadi populer. Setiap kali melihat orang lain populer, rasanya ingin menjadi seperti mereka. Saya tahu rasanya. Saya mengerti keinginan itu. Karena saya pun pernah berada di tempat itu. Tempat di mana kepopuleran menjadi suatu kebanggaan. Tempat di mana saya berusaha untuk menjadi populer. Tempat di mana saya akhirnya sadar kalau kepopuleran bukanlah jawaban untuk kebahagiaan saya.
Saat menonton film-film jaman sekarang, saya melihat, kecenderungan orang untuk berusaha menjadi populer masih menaungi tema film saat ini, khususnya film remaja. Contoh yang baru saja saya tonton adalah film Mean Girls, Confessions of A Teenage Drama Queen dan 13 Going on 30. Dalam film-film tersebut terlihat betapa gadis-gadis populer sudah menguasai sekolah. Dan selalu ada gadis tidak populer yang sangat ingin menjadi bagian dari grup tersebut. Tapi seringkali perbuatan grup tersebut sangat mengesalkan. Membuat kita yang melihat rasanya muak dan ingin mengubah sistem yang tanpa disadari sudah merajalela dalam kehidupan kita sehari-hari.
Saya ingin berbagi tentang pengalaman saya sendiri. Saat sekolah dulu, saya bukanlah gadis populer. Saya tidak pernah menjadi gadis populer. Tapi layaknya seorang remaja, anak gadis yang sudah mulai mengenal dunia luar, saya juga ingin menjadi populer. Tapi saya sadar, kondisi fisik saya tidak memungkinkan. Dalam dunia ini, populer identik dengan keren, cantik, kaya raya dan berkuasa. Saya sadar kalau saya cuma seorang gadis biasa. Wajah saya biasa saja. Saya tidak pintar. Bahkan kondisi keuangan keluarga saya pun biasa saja. Saya tidak bisa menyamai teman-teman saya yang cantik, pintar dan sering bercerita tentang luar negeri. Saya bukan tipe gadis populer. Dan saya sadari itu.
Seringkali saya berusaha untuk menegur sekelompok gadis yang terkenal di sekolah saya. Just wanna be friends with them. Tapi saya selalu dicuekin. Dianggap tidak ada. Like I never exist. Bahkan di belakang saya, saya tahu kalau mereka mengejek saya. Mengejek ketidakpopuleran saya. Mengejek ketidakmampuan saya. Mengejek semua tentang saya. Tapi saya tetap tegar. Saya ingat, kadang saya menangis. Saya sering bertanya pada diri saya sendiri, mengapa harus ada kesenjangan di antara manusia. Mengapa harus ada perbedaan yang memisahkan. Mengapa harus ada jembatan di antara saya dan mereka. Saya tidak pernah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Saya hanya bertanya dan bertanya terus, tanpa tahu apa jawabnya.
Setelah menginjak usia dewasa, saya mulai kuliah, mulai mengalami hal-hal yang berbeda dengan saat saya sekolah. Saat kuliah, saya memiliki beberapa teman yang selalu berkumpul setiap minggu. Rasanya indah. Saya merasa jadi bagian dari 1 grup populer di universitas. Rasa yang tidak pernah saya alami saat saya sekolah. Tapi itu pun tidak lama. Semakin banyak orang dalam 1 grup, itu berarti semakin banyak pribadi dan semakin banyak ego. Masing-masing punya kebiasaan dan kehidupan
yang berbeda. Dan itu akhirnya membuat grup kami pun bubar. And once more, I feel like I never exist.
Lulus kuliah, saya bekerja. Saya dengar, dunia kerja sangat berbeda dengan dunia sekolah atau kuliah. Tapi lagi-lagi saya masuk dalam tempat di mana kepopuleran menjadi satu kebanggaan. Ada seorang teman yang menjunjung tinggi kepopuleran. Kebetulan saya pernah dekat di awal saya masuk kerja. Setelah berjalan beberapa lama, saya jadi muak melihat caranya mencari muka agar dia jadi anak populer bos. Saya bukan iri atau dengki. Saya hanya tidak suka melihat dia menjilat bos bersamaan dengan dia menjelekkan bos di belakang beliau. Tapi saya tidak peduli. Saya tetap menjalankan pekerjaan saya seperti biasa.
Hanya saja, saya jadi mulai menyadari kalau kepopuleran memang bisa membuat orang jadi berubah. Orang yang tadinya baik hati, biar berubah menjadi tak peduli dengan orang lain dan berambisi besar untuk meraih kepopuleran. Segala cara bisa diambil untuk menjadikan dirinya populer. Siapa pun tidak boleh menghalangi langkahnya untuk menjadi yang terdepan. Ambisi untuk menjadi yang terbaik adalah hal yang bagus. Saya setuju. Tapi kalau dipakai jalan belakang atau jalan pintas, saya tidak akan setuju. Menjadi populer belum tentu menjadi yang terbaik. Tapi menjadi yang terbaik kemungkinan besar akan jadi terkenal, jadi populer. Banyak orang populer yang berawal dari kesederhanaan. Contoh Mother Teresa. Kesederhanaan. Bukan kekayaan. Bukan gemerlap uang. Bukan kecantikan. Bukan kesombongan. Hanya kesederhanaan. Mengapa kita harus bangga dengan kekayaan kalau kita tidak bisa memulai dari kesederhanaan. Dan saya akhirnya tahu mengapa harus ada jembatan antara saya dengan mereka.
Saya duduk di sini, menulis tentang ini, bukan berarti saya sudah menjadi populer. Saya hanya seorang wanita biasa yang berwajah biasa, memiliki tingkat kepandaian yang biasa, dan juga kondisi keuangan yang biasa saja. Tapi saya tumbuh dari seorang gadis kecil biasa dengan keinginan besar untuk jadi populer, hingga menjadi seorang wanita biasa dengan keinginan besar untuk tidak jadi populer. Tanpa popularitas, saya mendapatkan semua yang saya inginkan. Saya memiliki orang tua dan keluarga yang menyayangi saya, suami yang mencintai saya dengan sepenuh hati, rumah mungil yang melindungi saya dari hujan dan panas matahari, mobil tua yang mengantar saya ke mana pun saya inginkan, dan waktu serta kemampuan untuk menuangkan semua isi hati saya lewat tulisan-tulisan saya. Dan, saya bangga akan ketidakpopuleran saya. Karena jawaban atas kebahagiaan yang saya dapatkan saat ini adalah karena ketidakpopuleran saya.
Dedicated to Michael, my husband.
Even though I've never been the popular girl in the past, I'm proud to be the one and only popular girl in your heart and life, now and forever.
Saya percaya setiap orang pasti ingin menjadi populer. Setiap kali melihat orang lain populer, rasanya ingin menjadi seperti mereka. Saya tahu rasanya. Saya mengerti keinginan itu. Karena saya pun pernah berada di tempat itu. Tempat di mana kepopuleran menjadi suatu kebanggaan. Tempat di mana saya berusaha untuk menjadi populer. Tempat di mana saya akhirnya sadar kalau kepopuleran bukanlah jawaban untuk kebahagiaan saya.
Saat menonton film-film jaman sekarang, saya melihat, kecenderungan orang untuk berusaha menjadi populer masih menaungi tema film saat ini, khususnya film remaja. Contoh yang baru saja saya tonton adalah film Mean Girls, Confessions of A Teenage Drama Queen dan 13 Going on 30. Dalam film-film tersebut terlihat betapa gadis-gadis populer sudah menguasai sekolah. Dan selalu ada gadis tidak populer yang sangat ingin menjadi bagian dari grup tersebut. Tapi seringkali perbuatan grup tersebut sangat mengesalkan. Membuat kita yang melihat rasanya muak dan ingin mengubah sistem yang tanpa disadari sudah merajalela dalam kehidupan kita sehari-hari.
Saya ingin berbagi tentang pengalaman saya sendiri. Saat sekolah dulu, saya bukanlah gadis populer. Saya tidak pernah menjadi gadis populer. Tapi layaknya seorang remaja, anak gadis yang sudah mulai mengenal dunia luar, saya juga ingin menjadi populer. Tapi saya sadar, kondisi fisik saya tidak memungkinkan. Dalam dunia ini, populer identik dengan keren, cantik, kaya raya dan berkuasa. Saya sadar kalau saya cuma seorang gadis biasa. Wajah saya biasa saja. Saya tidak pintar. Bahkan kondisi keuangan keluarga saya pun biasa saja. Saya tidak bisa menyamai teman-teman saya yang cantik, pintar dan sering bercerita tentang luar negeri. Saya bukan tipe gadis populer. Dan saya sadari itu.
Seringkali saya berusaha untuk menegur sekelompok gadis yang terkenal di sekolah saya. Just wanna be friends with them. Tapi saya selalu dicuekin. Dianggap tidak ada. Like I never exist. Bahkan di belakang saya, saya tahu kalau mereka mengejek saya. Mengejek ketidakpopuleran saya. Mengejek ketidakmampuan saya. Mengejek semua tentang saya. Tapi saya tetap tegar. Saya ingat, kadang saya menangis. Saya sering bertanya pada diri saya sendiri, mengapa harus ada kesenjangan di antara manusia. Mengapa harus ada perbedaan yang memisahkan. Mengapa harus ada jembatan di antara saya dan mereka. Saya tidak pernah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Saya hanya bertanya dan bertanya terus, tanpa tahu apa jawabnya.
Setelah menginjak usia dewasa, saya mulai kuliah, mulai mengalami hal-hal yang berbeda dengan saat saya sekolah. Saat kuliah, saya memiliki beberapa teman yang selalu berkumpul setiap minggu. Rasanya indah. Saya merasa jadi bagian dari 1 grup populer di universitas. Rasa yang tidak pernah saya alami saat saya sekolah. Tapi itu pun tidak lama. Semakin banyak orang dalam 1 grup, itu berarti semakin banyak pribadi dan semakin banyak ego. Masing-masing punya kebiasaan dan kehidupan
yang berbeda. Dan itu akhirnya membuat grup kami pun bubar. And once more, I feel like I never exist.
Lulus kuliah, saya bekerja. Saya dengar, dunia kerja sangat berbeda dengan dunia sekolah atau kuliah. Tapi lagi-lagi saya masuk dalam tempat di mana kepopuleran menjadi satu kebanggaan. Ada seorang teman yang menjunjung tinggi kepopuleran. Kebetulan saya pernah dekat di awal saya masuk kerja. Setelah berjalan beberapa lama, saya jadi muak melihat caranya mencari muka agar dia jadi anak populer bos. Saya bukan iri atau dengki. Saya hanya tidak suka melihat dia menjilat bos bersamaan dengan dia menjelekkan bos di belakang beliau. Tapi saya tidak peduli. Saya tetap menjalankan pekerjaan saya seperti biasa.
Hanya saja, saya jadi mulai menyadari kalau kepopuleran memang bisa membuat orang jadi berubah. Orang yang tadinya baik hati, biar berubah menjadi tak peduli dengan orang lain dan berambisi besar untuk meraih kepopuleran. Segala cara bisa diambil untuk menjadikan dirinya populer. Siapa pun tidak boleh menghalangi langkahnya untuk menjadi yang terdepan. Ambisi untuk menjadi yang terbaik adalah hal yang bagus. Saya setuju. Tapi kalau dipakai jalan belakang atau jalan pintas, saya tidak akan setuju. Menjadi populer belum tentu menjadi yang terbaik. Tapi menjadi yang terbaik kemungkinan besar akan jadi terkenal, jadi populer. Banyak orang populer yang berawal dari kesederhanaan. Contoh Mother Teresa. Kesederhanaan. Bukan kekayaan. Bukan gemerlap uang. Bukan kecantikan. Bukan kesombongan. Hanya kesederhanaan. Mengapa kita harus bangga dengan kekayaan kalau kita tidak bisa memulai dari kesederhanaan. Dan saya akhirnya tahu mengapa harus ada jembatan antara saya dengan mereka.
Saya duduk di sini, menulis tentang ini, bukan berarti saya sudah menjadi populer. Saya hanya seorang wanita biasa yang berwajah biasa, memiliki tingkat kepandaian yang biasa, dan juga kondisi keuangan yang biasa saja. Tapi saya tumbuh dari seorang gadis kecil biasa dengan keinginan besar untuk jadi populer, hingga menjadi seorang wanita biasa dengan keinginan besar untuk tidak jadi populer. Tanpa popularitas, saya mendapatkan semua yang saya inginkan. Saya memiliki orang tua dan keluarga yang menyayangi saya, suami yang mencintai saya dengan sepenuh hati, rumah mungil yang melindungi saya dari hujan dan panas matahari, mobil tua yang mengantar saya ke mana pun saya inginkan, dan waktu serta kemampuan untuk menuangkan semua isi hati saya lewat tulisan-tulisan saya. Dan, saya bangga akan ketidakpopuleran saya. Karena jawaban atas kebahagiaan yang saya dapatkan saat ini adalah karena ketidakpopuleran saya.
Dedicated to Michael, my husband.
Even though I've never been the popular girl in the past, I'm proud to be the one and only popular girl in your heart and life, now and forever.
Friday, November 12, 2004
Indahnya Mudik
Indahnya Mudik
Pagi tadi, saat saya melintasi jalan tol dari rumah menuju kantor, saya melihat beberapa mobil "konde" lewat di dekat mobil saya. Entah mengapa, tiba-tiba saja rasa haru muncul tanpa diundang. Mobil "konde" berwarna merah melewati pandangan mata saya. Terlihat seorang anak kecil duduk di kursi depan samping pengemudi. Kantuk masih terlihat di matanya. Tapi bukan itu yang membuat saya terharu. Sinar kebahagiaan penuh kerinduan terlihat jelas. Anak itu pasti mengerti, sebentar lagi ia akan bertemu dengan sanak saudaranya. Mungkin neneknya, mungkin sepupunya, mungkin juga teman-teman kecilnya. Mungkin dalam hatinya ia mengerti, betapa sebentar lagi ia akan melewati jalan yang cukup panjang untuk menemui semua orang yang selama ini gak selalu ada di sampingnya.
Saya tidak tahu rasanya. Saya tidak pernah merasakan yang namanya 'mudik.' Kampung halaman saya di Jakarta. Saya lahir, besar dan menikah di Jakarta. Walaupun saya sejak menikah tinggal di Tangerang, tapi saya setiap hari ke Jakarta. Saya kerja di Jakarta. Suami saya pun begitu. Kami tidak pernah tahu apa rasanya mudik. Kami tidak pernah tahu apa rasanya berkemas untuk pulang. Kami tidak pernah tahu apa rasanya perjalanan panjang untuk pulang. Tapi setiap tahun, kami mengalami sekitar kami melakukan hal itu. Setiap tahun, kami melihat semua orang mudik, pulang ke kampungnya masing-masing. Setiap tahun, kami merasakan indahnya Jakarta dengan jalanan yang sepi, tidak adanya kemacetan, dan kami gembira dengan perasaan itu.
Tapi baru pagi tadi - pagi yang indah di hari terakhir kami bekerja sebelum libur panjang - saya merasakan kegembiraan mereka yang mudik. Saya bisa membayangkan, mereka bangun lebih pagi, menyiapkan barang-barang untuk masuk ke mobil, menyiapkan snack dan minuman untuk bekal buka puasa sepanjang perjalanan, dan kesibukan-kesibukan lain yang rutin mereka lakukan setiap tahun, setiap mereka mudik, pulang ke kampung halaman. Belum lagi celoteh-celoteh anak-anak yang masih kecil, yang mungkin lupa siapa saja yang akan mereka temui di kampung halaman mereka. Semua itu bisa saya bayangkan. Bisa saya rasakan. Dan, saya bergembira dengan perasaan itu.
Saya sering ke luar kota. Saya tahu apa itu bangun lebih pagi, apa itu berkemas, dan kesibukan-kesibukan yang dilakukan setiap berlibur. Tapi lain rasanya. Apa pun itu, lain rasanya. Saya bukan pergi untuk bertemu dengan saudara yang nun jauh di sana. Saya cuma pergi berlibur. Rasa gembira yang muncul hanya rasa sesaat. Bukan karena rindu, bukan karena kangen. Hanya rasa gembira.
Dan pagi tadi, saat saya melintasi jalan tol dari rumah menuju kantor, saya begitu gembira hingga saya menangis. Selamat mudik semuanya.
Regards,
Yenny
November 12th, 2004
Pagi tadi, saat saya melintasi jalan tol dari rumah menuju kantor, saya melihat beberapa mobil "konde" lewat di dekat mobil saya. Entah mengapa, tiba-tiba saja rasa haru muncul tanpa diundang. Mobil "konde" berwarna merah melewati pandangan mata saya. Terlihat seorang anak kecil duduk di kursi depan samping pengemudi. Kantuk masih terlihat di matanya. Tapi bukan itu yang membuat saya terharu. Sinar kebahagiaan penuh kerinduan terlihat jelas. Anak itu pasti mengerti, sebentar lagi ia akan bertemu dengan sanak saudaranya. Mungkin neneknya, mungkin sepupunya, mungkin juga teman-teman kecilnya. Mungkin dalam hatinya ia mengerti, betapa sebentar lagi ia akan melewati jalan yang cukup panjang untuk menemui semua orang yang selama ini gak selalu ada di sampingnya.
Saya tidak tahu rasanya. Saya tidak pernah merasakan yang namanya 'mudik.' Kampung halaman saya di Jakarta. Saya lahir, besar dan menikah di Jakarta. Walaupun saya sejak menikah tinggal di Tangerang, tapi saya setiap hari ke Jakarta. Saya kerja di Jakarta. Suami saya pun begitu. Kami tidak pernah tahu apa rasanya mudik. Kami tidak pernah tahu apa rasanya berkemas untuk pulang. Kami tidak pernah tahu apa rasanya perjalanan panjang untuk pulang. Tapi setiap tahun, kami mengalami sekitar kami melakukan hal itu. Setiap tahun, kami melihat semua orang mudik, pulang ke kampungnya masing-masing. Setiap tahun, kami merasakan indahnya Jakarta dengan jalanan yang sepi, tidak adanya kemacetan, dan kami gembira dengan perasaan itu.
Tapi baru pagi tadi - pagi yang indah di hari terakhir kami bekerja sebelum libur panjang - saya merasakan kegembiraan mereka yang mudik. Saya bisa membayangkan, mereka bangun lebih pagi, menyiapkan barang-barang untuk masuk ke mobil, menyiapkan snack dan minuman untuk bekal buka puasa sepanjang perjalanan, dan kesibukan-kesibukan lain yang rutin mereka lakukan setiap tahun, setiap mereka mudik, pulang ke kampung halaman. Belum lagi celoteh-celoteh anak-anak yang masih kecil, yang mungkin lupa siapa saja yang akan mereka temui di kampung halaman mereka. Semua itu bisa saya bayangkan. Bisa saya rasakan. Dan, saya bergembira dengan perasaan itu.
Saya sering ke luar kota. Saya tahu apa itu bangun lebih pagi, apa itu berkemas, dan kesibukan-kesibukan yang dilakukan setiap berlibur. Tapi lain rasanya. Apa pun itu, lain rasanya. Saya bukan pergi untuk bertemu dengan saudara yang nun jauh di sana. Saya cuma pergi berlibur. Rasa gembira yang muncul hanya rasa sesaat. Bukan karena rindu, bukan karena kangen. Hanya rasa gembira.
Dan pagi tadi, saat saya melintasi jalan tol dari rumah menuju kantor, saya begitu gembira hingga saya menangis. Selamat mudik semuanya.
Regards,
Yenny
November 12th, 2004
Thursday, October 28, 2004
Someone Like You
Someone Like You
Selasa, 26 Oktober 2004, Erwin Parengkuan telpon saya untuk konfirmasi pengambilan dan pengantaran DVD Private Gladiator (PG) yang dia titip ke saya. Malamnya saya langsung minta Michael untuk mengantar saya ke Radio Cosmo. Untung banget suamiku tercinta itu penuh pengertian. Dia mengerti kalo saya tuh nge-fans banget sama Tika Panggabean (dan Project Pop-nya). Dia juga mengerti kalo Cosmo FM itu adalah my personal station. Jadi dia rela untuk bangun lebih pagi supaya saya bisa ke Cosmo untuk mengantarkan DVD titipan Erwin. Dan sekalian saya mau bawain nasi goreng ala Yenny yang biasa cuma dimakan sama Michael. Lagian saya pernah janji ke Tika dan Erwin mau bawain masakan favorit Michael made in Yenny. Hehehe...
Rabu, 27 Oktober 2004, pukul 4 pagi saya bangun. Saya harus bangun lebih pagi karena harus extra masak nasi goreng plus juga biar Michael gak telat lewat Sudirman dan gak sampe kena 3 in 1. Sehabis mandi saya langsung bikin nasi goreng. Setelah nasi goreng rampung, saya beres-beres seperti biasa. Bikin breakfast buat Michael, siram tanaman, bangunin Michael dan makan pagi bersama. Setelah itu Michael mandi dan saya panasin mobil. Maklum, mobil tua harus dipanaskan dulu pagi-pagi sebelum berangkat. Pukul 05:30, kami berangkat menuju Gedung Sarinah Thamrin. Pukul 06:00 sampailah saya di Cosmo. Belum ada yang datang, cuma ada Bapak Security bertampang gahar berkumis tebal, tapi kalo senyum ternyata manis juga. Dan saya duduk di ruang tamu depan sambil menunggu.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah kaki berjalan di lorong berkarpet di depan kantor Cosmo FM. Dan... jreng... muncullah Erwin Parengkuan memakai kaos ketat berwarna gelap, mencoba melewati saya yang sudah dengan terkantuk-kantuk menunggu kedatangannya. Saya ikuti matanya yang menatap saya dengan tatapan curiga, dan segera dia tersadar dan langsung menyapa, "Yenny yah?" Sambil menyalami saya, Erwin langsung tembak, "Mana???" Melihat saya sibuk membuka tas, dia langsung mengajak saya masuk ke dalam, dengan senyum sumringah penuh makna. Sayangnya, saat itu cuma saya yang tau arti senyumnya. Bapak Security yang duduk di meja operator depan jelas gak tau apa yang membuat senyum Erwin di pagi itu begitu sumringah. ^-^
Sesampai di dalam studio, langsung saya kasih bungkusan warna pink berisi DVD PG. Senyum Erwin udah bukan sumringah lagi, tapi udah ganti jadi ketawa girang. Pokoknya Erwin hepi banget deh. Setelah itu, dia mengambilkan saya minum, dan kami ngobrol2 di ruang operator radio menunggu Tika datang. Lagi asyik-asyiknya ngobrol, terdengar suara khas Tika dari arah depan. Deg... jantung saya berdebar-debar. Maklum lah, pertama kalinya saya ketemu dengan Tika, sang idola. Dan... muncullan Tika di depan mata saya. Memakai sweater warna abu-abu, Tika menyalami saya sambil menempelkan pipinya di pipi saya. Duh, senangnya... Ketemu juga sama Sang Idola...
Setelah itu Erwin dan Tika siaran seperti biasa, dan saya duduk dengan manisnya di dekat mereka mendengarkan celoteh mereka yang seru dan kocak. Kami membahas tentang DVD, tentang Dokter Bedah, tentang parcel dll. Kebetulan topik hari itu adalah bisnis di hari raya. Ada yang bikin bingkisan coklat, kue2 kering, brownies, dll. Saya juga ketemu dengan Mas Dede dan Nona Ame. Ada 1 orang lagi yang bolak-balik juga, tapi gak dikenalin, jadi gak tau namanya. Feelingnya sih itu yang namanya Mas Yudi. :) Jam 8 ada talk-show tentang Pediasure sehingga saya gak ikutan lagi. Jam 9 saya ketemu dengan Mbak Rossa untuk mengambil hadiah Paseo Moment, berupa sekotak tissue Paseo dan voucher Metro senilai Rp 200.000,- Ohya sebelum ketemu Mbak Rossa, saya liat 2 personnel Project Pop (Udjo dan Odie) masuk ke Cosmo, dan tanpa sadar saya langsung melambaikan tangan, dan dibalas. Hehehe... Ternyata mereka lagi mo rekaman di Hard Rock FM bareng Yosi.
Setelah acara pengambilan hadiah selesai, saya langsung masuk ke studio lagi. "Tika... ada Project Pop... kenalin..." Dan diteleponlah Udjo dan Odie untuk datang ke Cosmo. Di depan kantor, sepanjang lorong, saya dikenalin sama Udjo dan Odie. Duh, hepi banget deh. Mereka rame, ramah dan gak sombong. Malah saya serasa udah kenal lama dengan mereka. Tapi waktu harus memisahkan kami. Jam sudah menunjukkan pukul 09:15, dan saya harus balik ke kantor. Maklum, kalo telat lebih dari 4 jam, bisa dipotong cuti atau potong gaji. Ini aja saya udah mengorbankan uang transport karena saya telat masuk kantor. Tapi gapapa, kalo saya ambil hadiahnya jam makan siang pun, saya harus mengeluarkan uang senilai uang transport tersebut untuk naik bajaj bolak-balik dari kantor ke Cosmo. So, setali tiga uang deh.
Well, selesai sudah petualangan saya pagi itu di Cosmo. Walaupun gak sempet on-air, tapi saya seneng karena Michael bisa denger suara saya sayup-sayup di belakang suara Tika dan Erwin. Tapi mungkin karena bangun kepagian, seharian itu saya pusing. Hehehe. Mungkin juga karena sedikit shock bisa ketemu sekaligus Erwin, Tika, Udjo dan Odie. Tapi abis minum Panadol, sudah lupa tuh... Hihihi... Lagian, malam itu, pukul 20:00, saya udah terkapar dengan nikmatnya di kasur. Sampe Michael pulang pun saya gak tau. Baru jam 2 pagi saya terbangun dengan kaget, 'Wah, Michael udah pulang belon yah???' dan mendapati Michael udah tidur nyenyak di samping saya. Langsung saya peluk. Bahagia rasanya punya suami yang mengerti saya. Bahagia rasanya punya suami yang memanjakan saya. Bahagia rasanya punya suami seperti dia. Dan saya pun tertidur lagi.
Dedicated to Michael.
I feel so lucky to have a husband like you...
I love you...
Selasa, 26 Oktober 2004, Erwin Parengkuan telpon saya untuk konfirmasi pengambilan dan pengantaran DVD Private Gladiator (PG) yang dia titip ke saya. Malamnya saya langsung minta Michael untuk mengantar saya ke Radio Cosmo. Untung banget suamiku tercinta itu penuh pengertian. Dia mengerti kalo saya tuh nge-fans banget sama Tika Panggabean (dan Project Pop-nya). Dia juga mengerti kalo Cosmo FM itu adalah my personal station. Jadi dia rela untuk bangun lebih pagi supaya saya bisa ke Cosmo untuk mengantarkan DVD titipan Erwin. Dan sekalian saya mau bawain nasi goreng ala Yenny yang biasa cuma dimakan sama Michael. Lagian saya pernah janji ke Tika dan Erwin mau bawain masakan favorit Michael made in Yenny. Hehehe...
Rabu, 27 Oktober 2004, pukul 4 pagi saya bangun. Saya harus bangun lebih pagi karena harus extra masak nasi goreng plus juga biar Michael gak telat lewat Sudirman dan gak sampe kena 3 in 1. Sehabis mandi saya langsung bikin nasi goreng. Setelah nasi goreng rampung, saya beres-beres seperti biasa. Bikin breakfast buat Michael, siram tanaman, bangunin Michael dan makan pagi bersama. Setelah itu Michael mandi dan saya panasin mobil. Maklum, mobil tua harus dipanaskan dulu pagi-pagi sebelum berangkat. Pukul 05:30, kami berangkat menuju Gedung Sarinah Thamrin. Pukul 06:00 sampailah saya di Cosmo. Belum ada yang datang, cuma ada Bapak Security bertampang gahar berkumis tebal, tapi kalo senyum ternyata manis juga. Dan saya duduk di ruang tamu depan sambil menunggu.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah kaki berjalan di lorong berkarpet di depan kantor Cosmo FM. Dan... jreng... muncullah Erwin Parengkuan memakai kaos ketat berwarna gelap, mencoba melewati saya yang sudah dengan terkantuk-kantuk menunggu kedatangannya. Saya ikuti matanya yang menatap saya dengan tatapan curiga, dan segera dia tersadar dan langsung menyapa, "Yenny yah?" Sambil menyalami saya, Erwin langsung tembak, "Mana???" Melihat saya sibuk membuka tas, dia langsung mengajak saya masuk ke dalam, dengan senyum sumringah penuh makna. Sayangnya, saat itu cuma saya yang tau arti senyumnya. Bapak Security yang duduk di meja operator depan jelas gak tau apa yang membuat senyum Erwin di pagi itu begitu sumringah. ^-^
Sesampai di dalam studio, langsung saya kasih bungkusan warna pink berisi DVD PG. Senyum Erwin udah bukan sumringah lagi, tapi udah ganti jadi ketawa girang. Pokoknya Erwin hepi banget deh. Setelah itu, dia mengambilkan saya minum, dan kami ngobrol2 di ruang operator radio menunggu Tika datang. Lagi asyik-asyiknya ngobrol, terdengar suara khas Tika dari arah depan. Deg... jantung saya berdebar-debar. Maklum lah, pertama kalinya saya ketemu dengan Tika, sang idola. Dan... muncullan Tika di depan mata saya. Memakai sweater warna abu-abu, Tika menyalami saya sambil menempelkan pipinya di pipi saya. Duh, senangnya... Ketemu juga sama Sang Idola...
Setelah itu Erwin dan Tika siaran seperti biasa, dan saya duduk dengan manisnya di dekat mereka mendengarkan celoteh mereka yang seru dan kocak. Kami membahas tentang DVD, tentang Dokter Bedah, tentang parcel dll. Kebetulan topik hari itu adalah bisnis di hari raya. Ada yang bikin bingkisan coklat, kue2 kering, brownies, dll. Saya juga ketemu dengan Mas Dede dan Nona Ame. Ada 1 orang lagi yang bolak-balik juga, tapi gak dikenalin, jadi gak tau namanya. Feelingnya sih itu yang namanya Mas Yudi. :) Jam 8 ada talk-show tentang Pediasure sehingga saya gak ikutan lagi. Jam 9 saya ketemu dengan Mbak Rossa untuk mengambil hadiah Paseo Moment, berupa sekotak tissue Paseo dan voucher Metro senilai Rp 200.000,- Ohya sebelum ketemu Mbak Rossa, saya liat 2 personnel Project Pop (Udjo dan Odie) masuk ke Cosmo, dan tanpa sadar saya langsung melambaikan tangan, dan dibalas. Hehehe... Ternyata mereka lagi mo rekaman di Hard Rock FM bareng Yosi.
Setelah acara pengambilan hadiah selesai, saya langsung masuk ke studio lagi. "Tika... ada Project Pop... kenalin..." Dan diteleponlah Udjo dan Odie untuk datang ke Cosmo. Di depan kantor, sepanjang lorong, saya dikenalin sama Udjo dan Odie. Duh, hepi banget deh. Mereka rame, ramah dan gak sombong. Malah saya serasa udah kenal lama dengan mereka. Tapi waktu harus memisahkan kami. Jam sudah menunjukkan pukul 09:15, dan saya harus balik ke kantor. Maklum, kalo telat lebih dari 4 jam, bisa dipotong cuti atau potong gaji. Ini aja saya udah mengorbankan uang transport karena saya telat masuk kantor. Tapi gapapa, kalo saya ambil hadiahnya jam makan siang pun, saya harus mengeluarkan uang senilai uang transport tersebut untuk naik bajaj bolak-balik dari kantor ke Cosmo. So, setali tiga uang deh.
Well, selesai sudah petualangan saya pagi itu di Cosmo. Walaupun gak sempet on-air, tapi saya seneng karena Michael bisa denger suara saya sayup-sayup di belakang suara Tika dan Erwin. Tapi mungkin karena bangun kepagian, seharian itu saya pusing. Hehehe. Mungkin juga karena sedikit shock bisa ketemu sekaligus Erwin, Tika, Udjo dan Odie. Tapi abis minum Panadol, sudah lupa tuh... Hihihi... Lagian, malam itu, pukul 20:00, saya udah terkapar dengan nikmatnya di kasur. Sampe Michael pulang pun saya gak tau. Baru jam 2 pagi saya terbangun dengan kaget, 'Wah, Michael udah pulang belon yah???' dan mendapati Michael udah tidur nyenyak di samping saya. Langsung saya peluk. Bahagia rasanya punya suami yang mengerti saya. Bahagia rasanya punya suami yang memanjakan saya. Bahagia rasanya punya suami seperti dia. Dan saya pun tertidur lagi.
Dedicated to Michael.
I feel so lucky to have a husband like you...
I love you...
Sunday, October 24, 2004
Crying is OK
Crying is OK
19 Oktober 2004, saya mengirim fax ke Cosmopolitan FM untuk memenangkan "something" from PASEO MOMENT.
21 Oktober 2004, saya kirim sms untuk tanya ttg studio untuk merekam suara saya di CD. Kebetulan saya emang suka banget nyanyi. Dan kebetulan Michael suka banget dengerin saya nyanyi. So, jawabannya adalah... Cosmo FM menelepon saya untuk on-air sebentar dengan Tika dan Erwin. Dan, hasil akhir adalah... saya disuruh nyanyi... Hehehe... Seneng juga bisa nyanyi di radio, walaupun gak pake band. Hihihi... Saya nyanyi lagunya Rio Febrian, yang judulnya Bukan Untukku. Tika sempet ngiringin lagu dengan background vocal gitu. Jadi kaya lagu R&B. :)
Dan, semua bertepuk tangan. Erwin bahkan bilang kalo suara saya bagus. Waaaaah... bangga juga deh. ^-^
And, I am grateful for the info about the recording studio...
Ohya, hari itu juga kisah PASEO MOMENT saya jadi pemenang. So, saya akan dapat hadiah. Thanks to Cosmo FM dan Paseo. Mereka berdua memang ada untuk membuat saya lebih gembira.
Well, please read the "moment" below... Have fun... ^-^
*****
PASEO MOMENT @ Cosmopolitan FM
Sejak Paseo muncul di pasaran, saya gak pernah lagi pakai tissue merk lain. Buat saya, tissue Paseo berguna banget. Saya tuh orangnya cengeng. Nonton film sedih, nangis. Nonton film yang happy ending, nangis juga karena terharu. Nonton film komedi, ketawa sampe nangis. Jadi, gak ada hari nonton tanpa tissue.
Michael, suami saya, udah tau banget sifat saya. Jadi, setiap kali saya nangis kalo abis nonton, dia selalu lari ke kamar untuk mengambil kotak tissue dan langsung diletakkan di samping saya. Abis itu, gak lupa dia ambil kotak sampah untuk bekas tissue yang sudah dipakai. Soalnya bisa banyak banget yang saya pakai.
Di antara semua tissue yang udah saya coba, hanya tissue Paseo yang paling lembut dan enak dipakai. Sebenarnya sayang banget kalo pakai tissue Paseo. Tapi, apa daya, cuma tissue Paseo yang ada di rumah saya. Well, gak salah lagi, Paseo ada untuk membuat Anda lebih nyaman.
*****
Dedicated to Michael.
Don't worry... you definitely make me feel more comfortable than Paseo.
And... I think crying is OK...
19 Oktober 2004, saya mengirim fax ke Cosmopolitan FM untuk memenangkan "something" from PASEO MOMENT.
21 Oktober 2004, saya kirim sms untuk tanya ttg studio untuk merekam suara saya di CD. Kebetulan saya emang suka banget nyanyi. Dan kebetulan Michael suka banget dengerin saya nyanyi. So, jawabannya adalah... Cosmo FM menelepon saya untuk on-air sebentar dengan Tika dan Erwin. Dan, hasil akhir adalah... saya disuruh nyanyi... Hehehe... Seneng juga bisa nyanyi di radio, walaupun gak pake band. Hihihi... Saya nyanyi lagunya Rio Febrian, yang judulnya Bukan Untukku. Tika sempet ngiringin lagu dengan background vocal gitu. Jadi kaya lagu R&B. :)
Dan, semua bertepuk tangan. Erwin bahkan bilang kalo suara saya bagus. Waaaaah... bangga juga deh. ^-^
And, I am grateful for the info about the recording studio...
Ohya, hari itu juga kisah PASEO MOMENT saya jadi pemenang. So, saya akan dapat hadiah. Thanks to Cosmo FM dan Paseo. Mereka berdua memang ada untuk membuat saya lebih gembira.
Well, please read the "moment" below... Have fun... ^-^
*****
PASEO MOMENT @ Cosmopolitan FM
Sejak Paseo muncul di pasaran, saya gak pernah lagi pakai tissue merk lain. Buat saya, tissue Paseo berguna banget. Saya tuh orangnya cengeng. Nonton film sedih, nangis. Nonton film yang happy ending, nangis juga karena terharu. Nonton film komedi, ketawa sampe nangis. Jadi, gak ada hari nonton tanpa tissue.
Michael, suami saya, udah tau banget sifat saya. Jadi, setiap kali saya nangis kalo abis nonton, dia selalu lari ke kamar untuk mengambil kotak tissue dan langsung diletakkan di samping saya. Abis itu, gak lupa dia ambil kotak sampah untuk bekas tissue yang sudah dipakai. Soalnya bisa banyak banget yang saya pakai.
Di antara semua tissue yang udah saya coba, hanya tissue Paseo yang paling lembut dan enak dipakai. Sebenarnya sayang banget kalo pakai tissue Paseo. Tapi, apa daya, cuma tissue Paseo yang ada di rumah saya. Well, gak salah lagi, Paseo ada untuk membuat Anda lebih nyaman.
*****
Dedicated to Michael.
Don't worry... you definitely make me feel more comfortable than Paseo.
And... I think crying is OK...
Thursday, October 14, 2004
FW: curhat
di bawah ini adalah curhat dari seorang teman di milis ingin-timang, berikut email reply dari saya.
semoga ini bisa menguatkan hati teman2 sekalian yg mungkin merasakan hal yg sama.
-----Original Message-----
dear intimers,
saat ini aku sedih banget...makanya aku curhat ke milis yg sehati sama aku semoga bisa membuat hatiku ga sedih lagi.
temen deket aku di kantor saat ini sedang hamil,pada saat dia sudah terlambat bulan aku yg dorong2 dia untuk tes tapi setelah hasilnya positif aku jadi sedih banget...aku sampai nangis di kamar mandi. kenapa orang lain begitu mudahnya mendapatkan apa yg mereka inginkan...kenapa aku susah sekali untuk mendapatkan anak. aku jadi ngerasa ga berharga,ngerasa lemah dan rapuh. sekarang aku jadi menjauh dari temen aku itu,sebenarnya aku ga mau seperti itu tapi aku ga sanggup ngedengerin cerita dia tentang kandungannya,aku ga sanggup ngeliat gimana temen2 bersukacita nyambut kehamilan temen aku itu. aku jadi ngerasa BT di kantor,aku egois yach...??
maaf...kalo ini mengganggu teman2 di milis,aku cuma ingin mengeluarkan isi hati aku sama temen2 yg senasib dan seperjuangan untuk mendapatkan anak.
*****
Date: Tue, 12 Oct 2004 00:25:20 -0000
From: "Yenny"
Subject: Re: FW: curhat
dear you,
aku tau rasanya.
sepupuku yg married belakangan udah mo punya baby.
tetanggaku yg married belakangan udah mo punya baby.
temen kantorku yg married belakangan udah mo punya baby.
semua rasanya udah mo punya baby, kecuali aku.
tapi...
temen kantorku yg married 3 th lebih dulu dr aku, masih belum punya baby.
sepupuku yang married 10 th lebih dulu dr aku, masih belum punya baby.
so, jangan selalu melihat ke atas... lihat juga ke bawah...
masih banyak org yang sama spt kita...
masih menunggu anugerah terindah dari Tuhan.
tapi...
mereka tetep enjoy...
mereka tetep hepi...
kenapa kita harus sedih???
aku dulu juga sedih.
setiap kali liat iklan di TV ada bayinya, pasti nangis di pelukan suami.
setiap kali liat ibu2 hamil lewat, pasti mataku berkaca-kaca.
setiap kali liat sebuah keluarga sedang berjalan2 di mall, pasti hatiku dipenuhi rasa iri.
tapi, aku sadar, semua itu udah jalan dari Tuhan.
aku ingat kalau Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-NYA.
bukan waktu kita, tapi waktu-NYA.
mendapatkan bayi itu juga seperti mendapatkan pasangan, mendapatkan rumah, mendapatkan pekerjaan.
kalo belum cocok, ya belum dikasih
kalo belum jodoh, ya belum dapat.
skr, setiap kali aku liat gambar bayi di iklan TV, aku senyum.
setiap kali aku liat ibu2 hamil lewat, aku senang.
setiap kali aku liat sebuah keluarga sedang berjalan2 di mall, aku bahagia.
aku menerima semuanya, karena aku tahu... Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-NYA.
dan aku akan selalu menunggu sampai waktu-NYA tiba..
regards
Yenny
semoga ini bisa menguatkan hati teman2 sekalian yg mungkin merasakan hal yg sama.
-----Original Message-----
dear intimers,
saat ini aku sedih banget...makanya aku curhat ke milis yg sehati sama aku semoga bisa membuat hatiku ga sedih lagi.
temen deket aku di kantor saat ini sedang hamil,pada saat dia sudah terlambat bulan aku yg dorong2 dia untuk tes tapi setelah hasilnya positif aku jadi sedih banget...aku sampai nangis di kamar mandi. kenapa orang lain begitu mudahnya mendapatkan apa yg mereka inginkan...kenapa aku susah sekali untuk mendapatkan anak. aku jadi ngerasa ga berharga,ngerasa lemah dan rapuh. sekarang aku jadi menjauh dari temen aku itu,sebenarnya aku ga mau seperti itu tapi aku ga sanggup ngedengerin cerita dia tentang kandungannya,aku ga sanggup ngeliat gimana temen2 bersukacita nyambut kehamilan temen aku itu. aku jadi ngerasa BT di kantor,aku egois yach...??
maaf...kalo ini mengganggu teman2 di milis,aku cuma ingin mengeluarkan isi hati aku sama temen2 yg senasib dan seperjuangan untuk mendapatkan anak.
*****
Date: Tue, 12 Oct 2004 00:25:20 -0000
From: "Yenny"
Subject: Re: FW: curhat
dear you,
aku tau rasanya.
sepupuku yg married belakangan udah mo punya baby.
tetanggaku yg married belakangan udah mo punya baby.
temen kantorku yg married belakangan udah mo punya baby.
semua rasanya udah mo punya baby, kecuali aku.
tapi...
temen kantorku yg married 3 th lebih dulu dr aku, masih belum punya baby.
sepupuku yang married 10 th lebih dulu dr aku, masih belum punya baby.
so, jangan selalu melihat ke atas... lihat juga ke bawah...
masih banyak org yang sama spt kita...
masih menunggu anugerah terindah dari Tuhan.
tapi...
mereka tetep enjoy...
mereka tetep hepi...
kenapa kita harus sedih???
aku dulu juga sedih.
setiap kali liat iklan di TV ada bayinya, pasti nangis di pelukan suami.
setiap kali liat ibu2 hamil lewat, pasti mataku berkaca-kaca.
setiap kali liat sebuah keluarga sedang berjalan2 di mall, pasti hatiku dipenuhi rasa iri.
tapi, aku sadar, semua itu udah jalan dari Tuhan.
aku ingat kalau Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-NYA.
bukan waktu kita, tapi waktu-NYA.
mendapatkan bayi itu juga seperti mendapatkan pasangan, mendapatkan rumah, mendapatkan pekerjaan.
kalo belum cocok, ya belum dikasih
kalo belum jodoh, ya belum dapat.
skr, setiap kali aku liat gambar bayi di iklan TV, aku senyum.
setiap kali aku liat ibu2 hamil lewat, aku senang.
setiap kali aku liat sebuah keluarga sedang berjalan2 di mall, aku bahagia.
aku menerima semuanya, karena aku tahu... Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-NYA.
dan aku akan selalu menunggu sampai waktu-NYA tiba..
regards
Yenny
Wednesday, October 06, 2004
Dream Comes True
Dream Comes True
Semua diawali dengan keisengan semata. Gara-gara bete dengan temen sekantor, saya membawa radio dari rumah ke kantor. Awalnya saya cuma putar sana-sini, cari radio yang enak didengar. Tau-tau saya sampai di 90.40 FM, radio Cosmopolitan. Saya pikir, cobain deh, radio apaan sih. Ternyata kedengeran suara Tika Panggabean, idola saya. Saya emang suka Tika sejak pertama liat Tika di TV. Buat saya, Tika tuh pede banget. Di antara selebritis lain yang megah, Tika terlihat simple dan sweet. Apalagi sejak muncul Project Pop, waah... langsung jatuh hati liat tingkah mereka yang lucu-lucu.
Waktu pertama denger, Tika masih siaran sama Farhan karena Erwin lagi keliling Eropa. Kocak banget denger mereka siaran. My morning jadi indah banget deh. Saya selalu ketawa sendirian setiap dengerin mereka. Lalu masuklah Erwin. Terus terang, awalnya saya gak terlalu sreg dengan Erwin. Mungkin karena kelamaan denger Farhan. Tapi denger punya denger, Erwin makin asyik dan makin nyambung dengan selera saya. So, saya selalu stay tune tuh di Cosmopolitan FM, gak ke mana-mana lagi. Dari Breakfast Club saya lanjut ke Live and Work. Setelah itu langsung ke Musicbox dan berakhir di Happy Hour. Sayangnya saya cuma bisa denger Happy Hour dari jam 16:00-17:00 karena harus pulang kantor. Karena di rumah radionya gak bisa tuning di Cosmo FM, terpaksa saya harus menahan keinginan dengerin Cosmo esok paginya. Pertama-tama saya cukup bangga kalo ditelepon Cosmo untuk ngobrol dengan Erwin dan Tika. Kadang-kadang laporan traffic, kadang-kadang ikutan curhat soal kerjaan dengan pakar Mbak Ita. Pernah juga cerita tentang saya dan suami waktu masih Farhan dan Tika. Pada intinya, saya udah hepi banget bisa ngobrol dengan mereka. Biasanya para selebritis itu pasti gak punya waktu untuk orang awam seperti saya. Tapi saya seneng karena kenyataannya mereka punya waktu. ^-^
6 September 2004 our first anniversary. Saya gak nyiapin hadiah apa-apa buat Michael, suami tercinta. Tapi saya ikut acara Heart-2-Heart di Radio Cosmo. Dan pagi itu saya deg-degan banget. Setelah telpon, Mas Iyes dari Cosmo bilang, kalo acara H2H itu gak bisa dilaksanakan karena udah ada orang lain yang duluan. So saya pasrah aja. Kata Mas Iyes, nanti Michael akan ditelepon aja. Ok lah, mau gimana lagi... Mendekati jam 10 pagi itu, ternyata suara Michael terdengar berkumandang di radio saya. Dasar! Saya dikerjain... surprise bukan cuma buat Michael, tapi buat saya juga. Cuma, seneng juga sih dapet Tiramisu yang endang bambang dari Cheese Cake Factory. Mantap bo!!! Thanks to H2H and personnel-personnelnya.
3 Oktober 2004 Tika ultah. Seminggu sebelumnya saya coba cari tau, apa sih yang Tika suka. Ternyata Tika suka baca juga. So, pergilah saya ke toko buku dan membeli buku TOTO CHAN. Kisah tentang seorang anak perempuan di Jepang yang mengalami banyak hal dalam hidupnya. Ceritanya bagus dan menyentuh banget. Itu sebabnya saya belikan untuk Tika. Dan senangnya... karena Tika mau terima kado dari saya.
6 Oktober 2004, temen kantor saya ngajak ke Cosmo. Beberapa bulan yang lalu, saya pernah 1 kali ke Cosmo, ketemu Mbak Rossa, sang operator yang baik hati dan tidak sombong. Ohya, dulu sempet bete juga dengan Mbak Rossa, gara-gara susah banget kalo ditelpon. Tapi setelah ketemu baru tau kalo orangnya asyik banget. Ohya, niat ke Cosmo siang tadi emang mo ketemu Tika. Sampe di Sarinah, saya lunch dulu. Abis gitu, ke Hero untuk beli snacks. Sampe di Cosmo, ternyata menurut Mbak Rossa, Tika dan Erwin baru aja pulang. Sedihnya... Tapi gapapa lah, saya emang niat mampir kok. Kenalan dengan Mas Iyes, Mbak Fitri, dll.
Tiba-tiba aja Mbak Cera Esmeralda ngajak saya untuk liat studio tempat mereka siaran. Saya sih seneng aja, langsung saya ikutan masuk. Eeeeh, taunya diajak siaran. On-air. Tangan saya langsung dingin. Cuma, ini emang impian saya sejak dulu. Pingin banget kerja di radio, siaran di radio dan have fun di radio. Setelah 28 tahun, baru saya punya kesempatan. Bener-bener dream comes true deh rasanya. Walaupun cuma jadi bintang tamu dadakan, saya seneng banget. Diberikan kesempatan untuk siaran langsung dengan penyiar beneran, dan bahkan Erwin yang ditelpon oleh Mas Iyes juga ikutan ngomong. Apalagi karena hal yang dibahas seputar Breakfast Club edisi 5 Oktober 2004, saat Erwin dan Tika wawancara dengan Mbak Marissa Haque, sang anggota DPR. Sayang Tika gak bisa dihubungi, padahal ngarep juga sih. Hehehe. Tapi... duh, gak akan terlupakan deh. Bener-bener pengalaman yang indah banget. Kebayang donk gimana rasanya kalo apa yang kita inginkan dari dulu bisa terkabul??? Saya pake headphone, ngomong di microphone, sambil ngobrol dengan Mbak Cera dan Erwin. Lengkap sudah kesenangan saya.
Tapi ternyata, kesenangan itu gak berhenti sampai di situ. Sepulang dari Cosmo, saya udah telat banget nyampe kantor. Bersyukur juga karena boss gak complaint. Langsung saya tune di Musicbox. Beberapa kali ikutan request, saya gak pernah menang tuh. Tapi kali ini saya pingin banget menang, biar ada alasan untuk mampir ke Cosmo lagi. Hehehe. Saya ikutan request lagu Blue dan Stevie Wonder, langsung diputerin. Tapi feeling saya, lagu itu bukan request of the day. So, saya request lagi lagu Sheilla Madjid, dan "Request of the day hari itu dimenangkan oleh... YENNY..." Waaaah, girang banget deh. Biarin lah, mo dibilang norak kek, mo dibilang gila kek, pokoknya abis gitu, saya langsung telpon temen dan suami saya, dan bercerita dengan serunya. Kalo gak inget itu di kantor, udah jingkrak-jingkrak deh. ^-^
Well, malam ini saya cape. Mo tidur dulu. Setelah mengalami hari yang penuh kesenangan ini, saya mau mimpi indah. Mimpi siaran di radio Cosmo bareng Erwin dan Tika, bareng Mbak Cera, bareng Irene, bareng Reymund dan Irina. Semoga saat bangun, saya bener-bener jadi penyiar. Indahnya...
Regards,
Yenny
October 6th, 2004
Semua diawali dengan keisengan semata. Gara-gara bete dengan temen sekantor, saya membawa radio dari rumah ke kantor. Awalnya saya cuma putar sana-sini, cari radio yang enak didengar. Tau-tau saya sampai di 90.40 FM, radio Cosmopolitan. Saya pikir, cobain deh, radio apaan sih. Ternyata kedengeran suara Tika Panggabean, idola saya. Saya emang suka Tika sejak pertama liat Tika di TV. Buat saya, Tika tuh pede banget. Di antara selebritis lain yang megah, Tika terlihat simple dan sweet. Apalagi sejak muncul Project Pop, waah... langsung jatuh hati liat tingkah mereka yang lucu-lucu.
Waktu pertama denger, Tika masih siaran sama Farhan karena Erwin lagi keliling Eropa. Kocak banget denger mereka siaran. My morning jadi indah banget deh. Saya selalu ketawa sendirian setiap dengerin mereka. Lalu masuklah Erwin. Terus terang, awalnya saya gak terlalu sreg dengan Erwin. Mungkin karena kelamaan denger Farhan. Tapi denger punya denger, Erwin makin asyik dan makin nyambung dengan selera saya. So, saya selalu stay tune tuh di Cosmopolitan FM, gak ke mana-mana lagi. Dari Breakfast Club saya lanjut ke Live and Work. Setelah itu langsung ke Musicbox dan berakhir di Happy Hour. Sayangnya saya cuma bisa denger Happy Hour dari jam 16:00-17:00 karena harus pulang kantor. Karena di rumah radionya gak bisa tuning di Cosmo FM, terpaksa saya harus menahan keinginan dengerin Cosmo esok paginya. Pertama-tama saya cukup bangga kalo ditelepon Cosmo untuk ngobrol dengan Erwin dan Tika. Kadang-kadang laporan traffic, kadang-kadang ikutan curhat soal kerjaan dengan pakar Mbak Ita. Pernah juga cerita tentang saya dan suami waktu masih Farhan dan Tika. Pada intinya, saya udah hepi banget bisa ngobrol dengan mereka. Biasanya para selebritis itu pasti gak punya waktu untuk orang awam seperti saya. Tapi saya seneng karena kenyataannya mereka punya waktu. ^-^
6 September 2004 our first anniversary. Saya gak nyiapin hadiah apa-apa buat Michael, suami tercinta. Tapi saya ikut acara Heart-2-Heart di Radio Cosmo. Dan pagi itu saya deg-degan banget. Setelah telpon, Mas Iyes dari Cosmo bilang, kalo acara H2H itu gak bisa dilaksanakan karena udah ada orang lain yang duluan. So saya pasrah aja. Kata Mas Iyes, nanti Michael akan ditelepon aja. Ok lah, mau gimana lagi... Mendekati jam 10 pagi itu, ternyata suara Michael terdengar berkumandang di radio saya. Dasar! Saya dikerjain... surprise bukan cuma buat Michael, tapi buat saya juga. Cuma, seneng juga sih dapet Tiramisu yang endang bambang dari Cheese Cake Factory. Mantap bo!!! Thanks to H2H and personnel-personnelnya.
3 Oktober 2004 Tika ultah. Seminggu sebelumnya saya coba cari tau, apa sih yang Tika suka. Ternyata Tika suka baca juga. So, pergilah saya ke toko buku dan membeli buku TOTO CHAN. Kisah tentang seorang anak perempuan di Jepang yang mengalami banyak hal dalam hidupnya. Ceritanya bagus dan menyentuh banget. Itu sebabnya saya belikan untuk Tika. Dan senangnya... karena Tika mau terima kado dari saya.
6 Oktober 2004, temen kantor saya ngajak ke Cosmo. Beberapa bulan yang lalu, saya pernah 1 kali ke Cosmo, ketemu Mbak Rossa, sang operator yang baik hati dan tidak sombong. Ohya, dulu sempet bete juga dengan Mbak Rossa, gara-gara susah banget kalo ditelpon. Tapi setelah ketemu baru tau kalo orangnya asyik banget. Ohya, niat ke Cosmo siang tadi emang mo ketemu Tika. Sampe di Sarinah, saya lunch dulu. Abis gitu, ke Hero untuk beli snacks. Sampe di Cosmo, ternyata menurut Mbak Rossa, Tika dan Erwin baru aja pulang. Sedihnya... Tapi gapapa lah, saya emang niat mampir kok. Kenalan dengan Mas Iyes, Mbak Fitri, dll.
Tiba-tiba aja Mbak Cera Esmeralda ngajak saya untuk liat studio tempat mereka siaran. Saya sih seneng aja, langsung saya ikutan masuk. Eeeeh, taunya diajak siaran. On-air. Tangan saya langsung dingin. Cuma, ini emang impian saya sejak dulu. Pingin banget kerja di radio, siaran di radio dan have fun di radio. Setelah 28 tahun, baru saya punya kesempatan. Bener-bener dream comes true deh rasanya. Walaupun cuma jadi bintang tamu dadakan, saya seneng banget. Diberikan kesempatan untuk siaran langsung dengan penyiar beneran, dan bahkan Erwin yang ditelpon oleh Mas Iyes juga ikutan ngomong. Apalagi karena hal yang dibahas seputar Breakfast Club edisi 5 Oktober 2004, saat Erwin dan Tika wawancara dengan Mbak Marissa Haque, sang anggota DPR. Sayang Tika gak bisa dihubungi, padahal ngarep juga sih. Hehehe. Tapi... duh, gak akan terlupakan deh. Bener-bener pengalaman yang indah banget. Kebayang donk gimana rasanya kalo apa yang kita inginkan dari dulu bisa terkabul??? Saya pake headphone, ngomong di microphone, sambil ngobrol dengan Mbak Cera dan Erwin. Lengkap sudah kesenangan saya.
Tapi ternyata, kesenangan itu gak berhenti sampai di situ. Sepulang dari Cosmo, saya udah telat banget nyampe kantor. Bersyukur juga karena boss gak complaint. Langsung saya tune di Musicbox. Beberapa kali ikutan request, saya gak pernah menang tuh. Tapi kali ini saya pingin banget menang, biar ada alasan untuk mampir ke Cosmo lagi. Hehehe. Saya ikutan request lagu Blue dan Stevie Wonder, langsung diputerin. Tapi feeling saya, lagu itu bukan request of the day. So, saya request lagi lagu Sheilla Madjid, dan "Request of the day hari itu dimenangkan oleh... YENNY..." Waaaah, girang banget deh. Biarin lah, mo dibilang norak kek, mo dibilang gila kek, pokoknya abis gitu, saya langsung telpon temen dan suami saya, dan bercerita dengan serunya. Kalo gak inget itu di kantor, udah jingkrak-jingkrak deh. ^-^
Well, malam ini saya cape. Mo tidur dulu. Setelah mengalami hari yang penuh kesenangan ini, saya mau mimpi indah. Mimpi siaran di radio Cosmo bareng Erwin dan Tika, bareng Mbak Cera, bareng Irene, bareng Reymund dan Irina. Semoga saat bangun, saya bener-bener jadi penyiar. Indahnya...
Regards,
Yenny
October 6th, 2004
Tuesday, September 07, 2004
Unlimited Love
Unlimited Love
Gak terasa udah 1 tahun berlalu sejak saya duduk di depan cermin sambil didandani oleh crew dari Cucu Bridal. Sepertinya baru kemarin saya kenal dengan Michael. Dan saat ini sudah 1 tahun sejak saya menginjakkan kaki ke dalam rumah mungil yang Michael beli untuk kami tempati. Berbagai emosi sudah saya alami di rumah ini. Dari yang kesel sampe yang seneng. Dari yang nangis sampe yang ketawa kenceng. Setiap jengkal dari rumah ini sudah saya jelajahi. Setiap langkah di rumah ini sudah meninggalkan memory setahun kemarin yang tak pernah saya lupa. Dan saya masih terus berada di rumah ini. Mengetik di komputer yang sama. Baca buku di ruang yang sama. Mencuci baju di mesin cuci yang sama. Memasak di kompor dan dapur yang sama. Mandi di kamar mandi yang sama. Tidur di ranjang yang sama. Dan tetap memeluk suami yang sama. Suami tercinta, yang sudah memberikan kebahagiaan selama 1 tahun ini, dan yang akan selalu memberikan saya kebahagiaan selama hidup kami berdua.
Gak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan perasaan gembira, haru dan bahagia yang selalu saya rasakan bila saya bersama Michael. Gak ada juga hadiah atau surprise yang bisa menceritakan isi hati saya kepada Michael. Hanya perhatian, cinta, kesetiaan dan kasih sayang yang dapat saya berikan untuk Michael sampai akhir hidup kami.
Saya pernah bertanya kepada Michael, "Sayang, apakah perasaan kamu berubah ke aku?" Michael balik bertanya, "Berubah gimana? Aku kan tetep sayang kamu." Tapi yang saya maksud adalah, apakah perasaannya berbeda dengan waktu masih pacaran. Michael bilang, "Jelas donk. Aku sekarang tambah sayang sama kamu. Dan sayangku ke kamu itu udah yang paling besar. Gak akan aku bisa sayang ke orang lain seperti aku sayang kamu."
Michael balik bertanya ke saya, apakah yang saya rasakan. Dan saya hanya menjawab, "Cinta dan sayangku ke kamu jelas berubah. Semakin bertambah. Tapi bukan yang paling besar. Karena cintaku ke kamu unlimited. Gak bisa ada batasnya. Terus dan terus bertambah. Gak pernah ada kata 'paling' buat kamu, karena perasaan aku ke kamu emang gak terbatas."
Dan Michael hanya menatap saya dengan mata berkaca-kaca penuh cinta.
Dedicated to Michael.
Happy 1st Anniversary, September 06th, 2004
You will always have my unlimited love...
I love you.
Gak terasa udah 1 tahun berlalu sejak saya duduk di depan cermin sambil didandani oleh crew dari Cucu Bridal. Sepertinya baru kemarin saya kenal dengan Michael. Dan saat ini sudah 1 tahun sejak saya menginjakkan kaki ke dalam rumah mungil yang Michael beli untuk kami tempati. Berbagai emosi sudah saya alami di rumah ini. Dari yang kesel sampe yang seneng. Dari yang nangis sampe yang ketawa kenceng. Setiap jengkal dari rumah ini sudah saya jelajahi. Setiap langkah di rumah ini sudah meninggalkan memory setahun kemarin yang tak pernah saya lupa. Dan saya masih terus berada di rumah ini. Mengetik di komputer yang sama. Baca buku di ruang yang sama. Mencuci baju di mesin cuci yang sama. Memasak di kompor dan dapur yang sama. Mandi di kamar mandi yang sama. Tidur di ranjang yang sama. Dan tetap memeluk suami yang sama. Suami tercinta, yang sudah memberikan kebahagiaan selama 1 tahun ini, dan yang akan selalu memberikan saya kebahagiaan selama hidup kami berdua.
Gak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan perasaan gembira, haru dan bahagia yang selalu saya rasakan bila saya bersama Michael. Gak ada juga hadiah atau surprise yang bisa menceritakan isi hati saya kepada Michael. Hanya perhatian, cinta, kesetiaan dan kasih sayang yang dapat saya berikan untuk Michael sampai akhir hidup kami.
Saya pernah bertanya kepada Michael, "Sayang, apakah perasaan kamu berubah ke aku?" Michael balik bertanya, "Berubah gimana? Aku kan tetep sayang kamu." Tapi yang saya maksud adalah, apakah perasaannya berbeda dengan waktu masih pacaran. Michael bilang, "Jelas donk. Aku sekarang tambah sayang sama kamu. Dan sayangku ke kamu itu udah yang paling besar. Gak akan aku bisa sayang ke orang lain seperti aku sayang kamu."
Michael balik bertanya ke saya, apakah yang saya rasakan. Dan saya hanya menjawab, "Cinta dan sayangku ke kamu jelas berubah. Semakin bertambah. Tapi bukan yang paling besar. Karena cintaku ke kamu unlimited. Gak bisa ada batasnya. Terus dan terus bertambah. Gak pernah ada kata 'paling' buat kamu, karena perasaan aku ke kamu emang gak terbatas."
Dan Michael hanya menatap saya dengan mata berkaca-kaca penuh cinta.
Dedicated to Michael.
Happy 1st Anniversary, September 06th, 2004
You will always have my unlimited love...
I love you.
Tuesday, August 31, 2004
What A Day
What A Day
Rencana awal, saya dan suami - Yenny dan Michael - beserta kakak saya sekeluarga, akan pergi ke Kampoeng Sampireun tgl 21-22 Agustus 2004. Sungguh sangat disayangkan tour kami ternyata membatalkan acara tersebut. Betapa kecewa hati kami. Masih teringat minggu sebelumnya, kami berdua pergi ke Carrefour membeli snacks untuk di perjalanan. Kami juga menyempatkan diri membeli isi film kamera, berhubung kami belum punya kamera digital.
Tapi pihak tour ternyata bukan membatalkan, melainkan memundurkan acara menjadi tgl 28-29 Agustus 2004. Saya segera memberitahukan berita baik tersebut kepada Michael. Sayangnya kami berdua sudah keburu kecewa. Apalagi di tgl 29 Agustus itu, saya sudah janji dengan Pak Bondan Winarno untuk bertemu muka di acara "Heritage Food at Heritage City" yang akan berlangsung di Gedung Arsip Nasional. Acara ini adalah acara mergersutra antara Jalan Sutra dengan Sahabat Museum. Belum lagi di hari Sabtu ada pameran Elex Media Komputindo di Bentara Budaya Palmerah. Apalagi kakak saya sekeluarga tidak bisa ikut di hari itu. Otomatis, saya cuma berdua saja, plus anggota tour yang lain. Dan lagi, saya baru ingat, karena diberitahu oleh pihak tour sudah mendadak, saya gak sempat lagi ikutan Cosmo FM Trip ke Bandung tgl 21-22 Agustus 2004. Duh, jadi sebel juga. Padahal saya udah lama pingin jalan-jalan ke Bandung juga.
Tapi, alangkah indahnya kalau kami tetap bisa mengikuti tour ke Kampoeng Sampireun. Saya pikir dan pikir terus. 'Think! Think! Think!' kata saya dalam hati. Apa yang harus saya lakukan agar kami jadi ke sana? Dan, tiba-tiba saja seperti ada lampu pijar di atas kepala saya. Saya baru ingat kalau saya pernah melihat foto Kampoeng Sampireun di salah satu majalah milik teman kantor saya, Majalah TAMASYA. Beberapa kali saya pergi ke Gramedia, Carrefour dan lapak-lapak di pinggir jalan, tapi majalah edisi 02 tersebut sudah habis. Saya hanya bisa gigit jari. Tapi saya gak mau menyerah begitu saya. Saya kirim email lalu menelepon redaksi majalah tersebut. Saya minta dikirimkan edisi 01 dan edisi 02 yang belum saya miliki. Pihak redaksi - Pak Sugiman dan Pak Terris - dengan sangat ramah melayani permintaan saya. Pagi itu saya transfer uang ke rekening majalah TAMASYA, sorenya majalah sudah di tangan saya.
Dengan berbekal majalah TAMASYA edisi 02, saya bujuk dan rayu Michael sambil memperlihatkan foto-foto pasangan Early dan suami yang sedang honeymoon lagi di Kampoeng Sampireun. "Masa gak tertarik sih?" Dan jawabannya hanya, "Tapi gak ada TV yah???" Saya langsung cemberut. Sebel juga. Masa mau honeymoon lagi malah mikirin TV. Tapi ternyata Michael hanya bercanda. Dan jadilah kami booking villa di Kampoeng Sampireun melalui tour tadi. Tapi tiba-tiba saja, ada panggilan kerja untuk Michael di hari Sabtu. Dan saya jelas ingin supaya Michael memprioritaskan kerjaan dibanding jalan-jalan. So, terpaksa jalan-jalan ke Kampoeng Sampireun pun batal. Mungkin kami emang gak boleh jalan-jalan ke luar kota di bulan Agustus ini. Bahkan setelah tour dibatalkan, panggilan kerja pun gak jadi hari Sabtu itu, ditunda hari Selasa. Hehehe. Lengkap sudah.
So, Sabtu pagi kami pergi ke Bentara Budaya. Setelah sedikit putar-putar karena nyobain jalan, kami sampai sudah di Bentara Budaya. Sempet kesel berat. Tas yang saya bawa harus dititip, padahal saya gunakan tas tersebut untuk bawa uang, dompet dan handphone. Berpuluh-puluh kali saya datang untuk mengikuti pameran di sana, tidak pernah tas saya disuruh titip. Dengan sedikit kesal, saya suruh Michael taruh tas di mobil saja, karena takut hilang. Tapi, setelah kami masuk ke dalam, saya melihat ada ibu-ibu membawa tas-nya dengan riang dan santai. Langsung saya tegur pihak keamanan di depan itu, "Itu ada yang bawa tas." Dan mereka menjawab tanpa melihat lagi, "Mungkin itu pihak Elex-nya." Bagaimana mungkin? Lha wong si Ibu lagi sibuk mo daftarin anaknya lomba puzzle... Akhirnya sesampai di pintu dalam, saya langsung cari security. "SIAPA SIH PIMPINAN SECURITY DI SINI? SAYA GAK DIKASIH BAWA TAS, PADAHAL SAYA LIAT YANG LAEN PADA BAWA TAS. SAYA UDAH SERING LIAT PAMERAN DI SINI. GAK PERNAH TUH ADA KEJADIAN GINI. SAYA JADI GAK ENAK KE SINI LAGI." Dan mereka bilang, sudah peraturan kalo gak boleh bawa tas. "SAYA MENGERTI! KALO EMANG PERATURAN SEPERTI ITU, SEMUANYA DONK DISURUH TITIP TAS. JANGAN CUMA SAYA! EMANG SAYA MO NYOLONG DI SINI!!!" Dan mereka berlalu sambil mengatakan kalau mau menegur security di depan. Semakin lama, semakin banyak ibu-ibu dan cewek-cewek yang masuk pake tas. Dan lengkap sudah kekesalan saya. "MICHAEEEEEEEL!!! AYO AMBIL TAS. ENAKNYA ORANG-ORANG PADA BAWA TAS, AKU DISURUH MEGANGIN DOMPET AMA HP! AYO!" Dan puaslah saya!
Terus terang, saya emang tipe orang yang sensitif dan mudah emosi. Sedikit lagi saya kesal, saya pasti langsung nangis sambil marah-marah gak tentu ujung pangkalnya. Tapi saya puas pulang dari pameran Elex Media sambil membawa belanjaan sebesar 177K. Komik lucu, buku resep dan buku komputer belanjaan Michael langsung kami bawa dengan senang hati. Dan lupalah saya dengan segala kekesalan dan kemarahan saya. Langkah saya pun bak prajurit menang perang. :)
Minggu pagi, bersiap-siaplah saya dan Michael menuju kota. Setelah mampir ke bengkel, kami lanjut ke rumah ortu Michael di Dwiwarna. Baru deh kami ke Gedung Arsip Nasional. Dengan membayar Rp 60.000,- kami mendapat 2 tiket masuk yang dapat ditukar dengan 2 buah roti buaya. Lucu bentuknya. Enak pula dimakannya. Saya langsung makan nasi uduk betawi bareng es cincau hijau. Nasi uduknya sih nikmat, sayang es cincau-nya pake kuah es cendol. Saya gak doyan, jadi cuma ngabisin cincau-nya, kuahnya Michael yang minum. Abis itu, kami cuma keliling-keliling sambil nunggu Om Sindhiarta datang. Saya memang janji dengan Om Sindhiarta untuk membawakan buku Seratus Kiat yang Jilid 2 karangan Pak Bondan Winarno. Sekitar jam 12-an, saya lihat Pak Bondan datang. Dengan PD dan penuh senyum, saya langsung menegur Pak Bondan sambil memperkenalkan diri. Saat tahu bahwa saya 'Yenny,' Pak Bondan langsung tersenyum lebar. Tapi karena saya tahu Pak Bondan sibuk, saya segera "melepaskan" Pak Bondan untuk menyelesaikan urusannya. Kan siangnya Pak Bondan mau demo masak bareng Om William Wongso.
Jam 1-an, Michael ternyata baru merasa lapar. Langsung saya suruh dia beli makanan, tapi "Kamu sendiri aja yah, Sayang. Panas nih..." bujuk saya sambil tersenyum. Dan pergilah Michael keliling mencari makanan. Tau-tau ada Ferry Salim di samping saya. Wah, ada syuting infotainment nih. Ikutan ah!!! Dan, jalanlah saya di belakang mereka sambil celingak-celinguk mencari Michael. Ternyata Michael tak kutemukan. Sedihnya. Balik lagi deh ke tempat rindang di depan pintu. Setelah menemukan Michael (yang ternyata udah selesai makan nasi uduk), saya langsung tarik dia untuk foto saya dengan Pak Bondan dan Om Ferry. Berhasil... Asyik juga bisa foto bareng selebritis. Hehehe...
Tapi kesan yang menyenangkan adalah bertemu dengan teman-teman JSers di sana. Setelah melihat Nana yang lagi buka stand JS en Gramedia bareng Bung Yos, saya juga ketemu dengan Rusli cs. Barengan menunggu Om Sindhiarta, akhirnya ketemu juga. Dan bukan cuma mereka saja yang saya temui. Ada Oemar, Grace, Ayu, Deasy, Andrew, Indra Lukman, Astrid, dan Fenny/Wendy (gak jelas). Ada juga yang gak sempet kenalan, seperti Yohan Handoyo. Saya cuma tahu dari Oemar tapi gak sempet kenalan karena kelihatannya Yohan sibuk sekali dengan orang Cafe Sampoerna. Ada juga JSers yang malah saya gak tau namanya.
Sekitar jam 3 kurang, saya telepon Pak Bondan untuk meminta tanda tangannya di buku Seratus Kiat Jilid 1, Jilid 2, dan Jalan Sutra. Selesai mendapatkan tanda tangan Pak Bondan, langsung saya meluncur pulang. Panas terik dan macet berat di luar bikin saya dan Michael pingin cepet-cepet nyampe rumah. Tapi, asli deh, baru kali ini saya gak perlu berjemur di pantai untuk mendapatkan kulit yang tanned. Muka dan kedua lengan saya merah-merah dan belang-belang. Hihihi. Tapi, kesan yang saya dapatkan dari beberapa hari terakhir ini, gak membuat saya menangisi kulit hitam saya yang makin menghitam.
Kesan yang lebih dalam? Jelas, tanda tangan Pak Bondan. Tapi kesan paling indah saya rasakan adalah saat melalui hari-hari itu bersama Michael. Ke mana pun saya pergi, Michael rela menemani saya. Bahkan dari saat dia mendengar omelan-omelan saya di pameran buku, sampai ikut berpanas-panasan ria di acara HFHC, dia selalu tersenyum setiap saya menoleh untuk menatap wajahnya, dia selalu membelai rambut saya dengan lembut setiap saya mengeluh kepanasan, dan dia selalu memeluk saya dengan penuh sayang sejak saat beberapa JSers mengenali kami sebagai "Yenny & Michael" yang terkenal romantis itu. Hehehe...
Tulisan ini saya persembahkan untuk Michael, yang sudah menjadi suami saya tepat 1 tahun. Walaupun tahun lalu, 31 Agustus 2003, kami belum tinggal bersama (kami baru tinggal bersama setelah acara resepsi tgl 6 September 2003), tapi kami sudah mengucapkan janji pernikahan di depan altar gereja. Semoga kami akan selalu menjadi "Yenny & Michael" yang selalu romantis, dan bahkan menjadi semakin romantis dengan bertambahnya usia pernikahan kami.
Dedicated to Michael.
Thank you for being such a romantic husband.
I love you.
Happy 1st - Church Wedding - Anniversary
Rencana awal, saya dan suami - Yenny dan Michael - beserta kakak saya sekeluarga, akan pergi ke Kampoeng Sampireun tgl 21-22 Agustus 2004. Sungguh sangat disayangkan tour kami ternyata membatalkan acara tersebut. Betapa kecewa hati kami. Masih teringat minggu sebelumnya, kami berdua pergi ke Carrefour membeli snacks untuk di perjalanan. Kami juga menyempatkan diri membeli isi film kamera, berhubung kami belum punya kamera digital.
Tapi pihak tour ternyata bukan membatalkan, melainkan memundurkan acara menjadi tgl 28-29 Agustus 2004. Saya segera memberitahukan berita baik tersebut kepada Michael. Sayangnya kami berdua sudah keburu kecewa. Apalagi di tgl 29 Agustus itu, saya sudah janji dengan Pak Bondan Winarno untuk bertemu muka di acara "Heritage Food at Heritage City" yang akan berlangsung di Gedung Arsip Nasional. Acara ini adalah acara mergersutra antara Jalan Sutra dengan Sahabat Museum. Belum lagi di hari Sabtu ada pameran Elex Media Komputindo di Bentara Budaya Palmerah. Apalagi kakak saya sekeluarga tidak bisa ikut di hari itu. Otomatis, saya cuma berdua saja, plus anggota tour yang lain. Dan lagi, saya baru ingat, karena diberitahu oleh pihak tour sudah mendadak, saya gak sempat lagi ikutan Cosmo FM Trip ke Bandung tgl 21-22 Agustus 2004. Duh, jadi sebel juga. Padahal saya udah lama pingin jalan-jalan ke Bandung juga.
Tapi, alangkah indahnya kalau kami tetap bisa mengikuti tour ke Kampoeng Sampireun. Saya pikir dan pikir terus. 'Think! Think! Think!' kata saya dalam hati. Apa yang harus saya lakukan agar kami jadi ke sana? Dan, tiba-tiba saja seperti ada lampu pijar di atas kepala saya. Saya baru ingat kalau saya pernah melihat foto Kampoeng Sampireun di salah satu majalah milik teman kantor saya, Majalah TAMASYA. Beberapa kali saya pergi ke Gramedia, Carrefour dan lapak-lapak di pinggir jalan, tapi majalah edisi 02 tersebut sudah habis. Saya hanya bisa gigit jari. Tapi saya gak mau menyerah begitu saya. Saya kirim email lalu menelepon redaksi majalah tersebut. Saya minta dikirimkan edisi 01 dan edisi 02 yang belum saya miliki. Pihak redaksi - Pak Sugiman dan Pak Terris - dengan sangat ramah melayani permintaan saya. Pagi itu saya transfer uang ke rekening majalah TAMASYA, sorenya majalah sudah di tangan saya.
Dengan berbekal majalah TAMASYA edisi 02, saya bujuk dan rayu Michael sambil memperlihatkan foto-foto pasangan Early dan suami yang sedang honeymoon lagi di Kampoeng Sampireun. "Masa gak tertarik sih?" Dan jawabannya hanya, "Tapi gak ada TV yah???" Saya langsung cemberut. Sebel juga. Masa mau honeymoon lagi malah mikirin TV. Tapi ternyata Michael hanya bercanda. Dan jadilah kami booking villa di Kampoeng Sampireun melalui tour tadi. Tapi tiba-tiba saja, ada panggilan kerja untuk Michael di hari Sabtu. Dan saya jelas ingin supaya Michael memprioritaskan kerjaan dibanding jalan-jalan. So, terpaksa jalan-jalan ke Kampoeng Sampireun pun batal. Mungkin kami emang gak boleh jalan-jalan ke luar kota di bulan Agustus ini. Bahkan setelah tour dibatalkan, panggilan kerja pun gak jadi hari Sabtu itu, ditunda hari Selasa. Hehehe. Lengkap sudah.
So, Sabtu pagi kami pergi ke Bentara Budaya. Setelah sedikit putar-putar karena nyobain jalan, kami sampai sudah di Bentara Budaya. Sempet kesel berat. Tas yang saya bawa harus dititip, padahal saya gunakan tas tersebut untuk bawa uang, dompet dan handphone. Berpuluh-puluh kali saya datang untuk mengikuti pameran di sana, tidak pernah tas saya disuruh titip. Dengan sedikit kesal, saya suruh Michael taruh tas di mobil saja, karena takut hilang. Tapi, setelah kami masuk ke dalam, saya melihat ada ibu-ibu membawa tas-nya dengan riang dan santai. Langsung saya tegur pihak keamanan di depan itu, "Itu ada yang bawa tas." Dan mereka menjawab tanpa melihat lagi, "Mungkin itu pihak Elex-nya." Bagaimana mungkin? Lha wong si Ibu lagi sibuk mo daftarin anaknya lomba puzzle... Akhirnya sesampai di pintu dalam, saya langsung cari security. "SIAPA SIH PIMPINAN SECURITY DI SINI? SAYA GAK DIKASIH BAWA TAS, PADAHAL SAYA LIAT YANG LAEN PADA BAWA TAS. SAYA UDAH SERING LIAT PAMERAN DI SINI. GAK PERNAH TUH ADA KEJADIAN GINI. SAYA JADI GAK ENAK KE SINI LAGI." Dan mereka bilang, sudah peraturan kalo gak boleh bawa tas. "SAYA MENGERTI! KALO EMANG PERATURAN SEPERTI ITU, SEMUANYA DONK DISURUH TITIP TAS. JANGAN CUMA SAYA! EMANG SAYA MO NYOLONG DI SINI!!!" Dan mereka berlalu sambil mengatakan kalau mau menegur security di depan. Semakin lama, semakin banyak ibu-ibu dan cewek-cewek yang masuk pake tas. Dan lengkap sudah kekesalan saya. "MICHAEEEEEEEL!!! AYO AMBIL TAS. ENAKNYA ORANG-ORANG PADA BAWA TAS, AKU DISURUH MEGANGIN DOMPET AMA HP! AYO!" Dan puaslah saya!
Terus terang, saya emang tipe orang yang sensitif dan mudah emosi. Sedikit lagi saya kesal, saya pasti langsung nangis sambil marah-marah gak tentu ujung pangkalnya. Tapi saya puas pulang dari pameran Elex Media sambil membawa belanjaan sebesar 177K. Komik lucu, buku resep dan buku komputer belanjaan Michael langsung kami bawa dengan senang hati. Dan lupalah saya dengan segala kekesalan dan kemarahan saya. Langkah saya pun bak prajurit menang perang. :)
Minggu pagi, bersiap-siaplah saya dan Michael menuju kota. Setelah mampir ke bengkel, kami lanjut ke rumah ortu Michael di Dwiwarna. Baru deh kami ke Gedung Arsip Nasional. Dengan membayar Rp 60.000,- kami mendapat 2 tiket masuk yang dapat ditukar dengan 2 buah roti buaya. Lucu bentuknya. Enak pula dimakannya. Saya langsung makan nasi uduk betawi bareng es cincau hijau. Nasi uduknya sih nikmat, sayang es cincau-nya pake kuah es cendol. Saya gak doyan, jadi cuma ngabisin cincau-nya, kuahnya Michael yang minum. Abis itu, kami cuma keliling-keliling sambil nunggu Om Sindhiarta datang. Saya memang janji dengan Om Sindhiarta untuk membawakan buku Seratus Kiat yang Jilid 2 karangan Pak Bondan Winarno. Sekitar jam 12-an, saya lihat Pak Bondan datang. Dengan PD dan penuh senyum, saya langsung menegur Pak Bondan sambil memperkenalkan diri. Saat tahu bahwa saya 'Yenny,' Pak Bondan langsung tersenyum lebar. Tapi karena saya tahu Pak Bondan sibuk, saya segera "melepaskan" Pak Bondan untuk menyelesaikan urusannya. Kan siangnya Pak Bondan mau demo masak bareng Om William Wongso.
Jam 1-an, Michael ternyata baru merasa lapar. Langsung saya suruh dia beli makanan, tapi "Kamu sendiri aja yah, Sayang. Panas nih..." bujuk saya sambil tersenyum. Dan pergilah Michael keliling mencari makanan. Tau-tau ada Ferry Salim di samping saya. Wah, ada syuting infotainment nih. Ikutan ah!!! Dan, jalanlah saya di belakang mereka sambil celingak-celinguk mencari Michael. Ternyata Michael tak kutemukan. Sedihnya. Balik lagi deh ke tempat rindang di depan pintu. Setelah menemukan Michael (yang ternyata udah selesai makan nasi uduk), saya langsung tarik dia untuk foto saya dengan Pak Bondan dan Om Ferry. Berhasil... Asyik juga bisa foto bareng selebritis. Hehehe...
Tapi kesan yang menyenangkan adalah bertemu dengan teman-teman JSers di sana. Setelah melihat Nana yang lagi buka stand JS en Gramedia bareng Bung Yos, saya juga ketemu dengan Rusli cs. Barengan menunggu Om Sindhiarta, akhirnya ketemu juga. Dan bukan cuma mereka saja yang saya temui. Ada Oemar, Grace, Ayu, Deasy, Andrew, Indra Lukman, Astrid, dan Fenny/Wendy (gak jelas). Ada juga yang gak sempet kenalan, seperti Yohan Handoyo. Saya cuma tahu dari Oemar tapi gak sempet kenalan karena kelihatannya Yohan sibuk sekali dengan orang Cafe Sampoerna. Ada juga JSers yang malah saya gak tau namanya.
Sekitar jam 3 kurang, saya telepon Pak Bondan untuk meminta tanda tangannya di buku Seratus Kiat Jilid 1, Jilid 2, dan Jalan Sutra. Selesai mendapatkan tanda tangan Pak Bondan, langsung saya meluncur pulang. Panas terik dan macet berat di luar bikin saya dan Michael pingin cepet-cepet nyampe rumah. Tapi, asli deh, baru kali ini saya gak perlu berjemur di pantai untuk mendapatkan kulit yang tanned. Muka dan kedua lengan saya merah-merah dan belang-belang. Hihihi. Tapi, kesan yang saya dapatkan dari beberapa hari terakhir ini, gak membuat saya menangisi kulit hitam saya yang makin menghitam.
Kesan yang lebih dalam? Jelas, tanda tangan Pak Bondan. Tapi kesan paling indah saya rasakan adalah saat melalui hari-hari itu bersama Michael. Ke mana pun saya pergi, Michael rela menemani saya. Bahkan dari saat dia mendengar omelan-omelan saya di pameran buku, sampai ikut berpanas-panasan ria di acara HFHC, dia selalu tersenyum setiap saya menoleh untuk menatap wajahnya, dia selalu membelai rambut saya dengan lembut setiap saya mengeluh kepanasan, dan dia selalu memeluk saya dengan penuh sayang sejak saat beberapa JSers mengenali kami sebagai "Yenny & Michael" yang terkenal romantis itu. Hehehe...
Tulisan ini saya persembahkan untuk Michael, yang sudah menjadi suami saya tepat 1 tahun. Walaupun tahun lalu, 31 Agustus 2003, kami belum tinggal bersama (kami baru tinggal bersama setelah acara resepsi tgl 6 September 2003), tapi kami sudah mengucapkan janji pernikahan di depan altar gereja. Semoga kami akan selalu menjadi "Yenny & Michael" yang selalu romantis, dan bahkan menjadi semakin romantis dengan bertambahnya usia pernikahan kami.
Dedicated to Michael.
Thank you for being such a romantic husband.
I love you.
Happy 1st - Church Wedding - Anniversary
Monday, August 02, 2004
Proud of You
Proud of You
Pertemuan dengan beberapa members milis Jalan Sutra (JS) di Taman Anggrek kemarin telah memberikan kesan tersendiri bagi saya dan suami. Buat saya, rasanya seperti mimpi. Selama ini saya hanya mengenal segelintir nama-nama yang sering muncul di milis, seperti Om Sindhiarta, Pak Gatot dan yang lainnya. Tak disangka, akhirnya bertemu jua. Milis saya sendiri pun belum pernah mengadakan gathering, sehingga sampai sekarang saya masih belum tahu seperti apa tampang-tampang members milis Love Our Life (LOL). Sepertinya hanya dunia maya buat saya. Tapi dengan bertemu members JS, saya seperti ditepuk dari belakang, seperti disiram air dingin, seperti dibangunkan dari tidur yang panjang. Ternyata dunia maya itu benar-benar ada. Saya bahkan bertemu dengan beberapa orang yang selama ini hanya dapat saya baca tulisannya di milis. Sepertinya mereka muncul dari balik layar panggung sandiwara, di mana saya berdiri menunggu pertunjukan dimulai.
Rasa terima kasih saya belum hilang hingga saat ini, saat saya menulis ini, kepada Om Sin. Saya hanya butuh meluangkan waktu sedikit untuk datang ke Taman Anggrek, tanpa berbuat apa-apa, hanya menunggu, tahu-tahu saya sudah memiliki 11 jilid buku perjalanan Prof. HOK Tanzil, yang dapat saya baca dengan hati senang. Terima kasih, Om Sin atas semua yang telah dilakukan untuk kami, para members JS.
Kesan lain juga didapat suami saya dari pertemuan ini. Sepanjang perkenalan dengan teman-teman dari member milis JS, Om Sin tak henti-hentinya memperkenalkan saya sebagai "Yenny, yang bikin Pak Bondan nangis." Muka saya pasti udah merah kaya kepiting rebus. Tak henti-hentinya pujian mengalir dari mulut teman-teman atas keindahan website yang saya buat. Padahal, murni website itu hanya iseng semata. Karena tertarik dengan blog Mr. Yohan yang profesional, saya jadi berniat untuk mempersembahkan website kepada belahan jiwa saya, suami tercinta. Tapi ternyata setelah membuat website tersebut, saya malah ingin mempersembahkannya untuk semua orang.
Mendengar pujian dari teman-teman, ternyata menambah kebanggaan suami terhadap saya. Sampai di rumah pun, Michael masih sibuk memuji-muji saya, karena telah menggerakkan hati banyak orang dengan memperkenalkan website itu. Senang rasanya melihat binar-binar di matanya. Walaupun saat pertemuan itu ia tak banyak bicara, tapi saya bisa merasakan betapa bangganya dia terhadap saya.
Cuma belakangan baru saya tahu bahwa ada 1 hal yang mengganjal hatinya. Michael merasa canggung di depan teman-teman sekalian. Ia merasa minder. Begitu banyak hal yang ia dengar dari teman-teman semua. Ada yang sering ke luar negeri, ada yang punya usaha sendiri, ada yang sering mengadakan tour ke tempat-tempat unik, bahkan ada yang baru pulang dari Riyadh. Rasanya ia tak punya kisah sukses yang bisa dibanggakan. Ia seperti tak punya apa-apa. Ia hanya seorang yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan di Jakarta. Hanya itu. Bagi dia, hanya itu yang ia punya. Dan itu bukanlah hal menarik yang bisa diceritakan atau di-share ke semua orang. Bukan sesuatu yang membanggakan.
Saya sedih mendengar isi hatinya. Saya gak nyangka kalo ia malahan jadi minder. Terus terang, saya sendiri tidak merasa minder, walaupun saya tahu bahwa banyak sekali orang hebat di milis JS ini, malahan saya bangga karena saya adalah salah satu orang yang mengenal orang-orang hebat tersebut, biarpun cuma via milis. Saya pernah minder dulu, tapi keminderan saya sudah lenyap seiring dengan pertemuan saya dengan Michael. Michael-lah orang yang sudah menumbuhkan rasa percaya diri saya. Michael-lah orang yang sudah menyadarkan saya betapa saya juga punya kemampuan yang bisa saya banggakan. Tapi di dalam hatinya, ia pun punya rasa itu.
Saya peluk dia dan saya katakan, "Sayang, aku bangga sama kamu. Apa pun yang orang lain banggakan, itu bukan urusanku. Aku hanya turut senang dengan prestasi yang mereka raih. Tapi aku paling bangga sama kamu. Kenapa kamu bilang kamu gak punya yang bisa dibanggakan? Sayang, kamu punya aku. Apa kamu gak bangga?"
Dan Michael cuma tersenyum simpul. "Oh iya, aku lupa. Aku adalah satu-satunya orang yang memiliki kamu. Gak ada lagi yang memiliki kamu, selain aku. Dan, emang bener, aku bangga sekali."
So, problem solved and case closed. Michael udah gak mengungkit-ungkit lagi tentang ke-tidak PD-annya. Saya pun kembali tersenyum sambil sibuk buka-buka fotocopy-an yang baru saya dapatkan tadi siang. Tapi, masih ada yang mengganjal di hati saya. Setelah bertahun-tahun gak pernah ke Taman Anggrek, saya mulai bingung sendiri. Resto-nya sudah berubah banyak dibanding waktu saya sering ke sana. Kira-kira, resto mana ya yang paling enak untuk dicoba bareng Michael?
Dedicated to Michael.
I'm proud of you, Honey, always...
Pertemuan dengan beberapa members milis Jalan Sutra (JS) di Taman Anggrek kemarin telah memberikan kesan tersendiri bagi saya dan suami. Buat saya, rasanya seperti mimpi. Selama ini saya hanya mengenal segelintir nama-nama yang sering muncul di milis, seperti Om Sindhiarta, Pak Gatot dan yang lainnya. Tak disangka, akhirnya bertemu jua. Milis saya sendiri pun belum pernah mengadakan gathering, sehingga sampai sekarang saya masih belum tahu seperti apa tampang-tampang members milis Love Our Life (LOL). Sepertinya hanya dunia maya buat saya. Tapi dengan bertemu members JS, saya seperti ditepuk dari belakang, seperti disiram air dingin, seperti dibangunkan dari tidur yang panjang. Ternyata dunia maya itu benar-benar ada. Saya bahkan bertemu dengan beberapa orang yang selama ini hanya dapat saya baca tulisannya di milis. Sepertinya mereka muncul dari balik layar panggung sandiwara, di mana saya berdiri menunggu pertunjukan dimulai.
Rasa terima kasih saya belum hilang hingga saat ini, saat saya menulis ini, kepada Om Sin. Saya hanya butuh meluangkan waktu sedikit untuk datang ke Taman Anggrek, tanpa berbuat apa-apa, hanya menunggu, tahu-tahu saya sudah memiliki 11 jilid buku perjalanan Prof. HOK Tanzil, yang dapat saya baca dengan hati senang. Terima kasih, Om Sin atas semua yang telah dilakukan untuk kami, para members JS.
Kesan lain juga didapat suami saya dari pertemuan ini. Sepanjang perkenalan dengan teman-teman dari member milis JS, Om Sin tak henti-hentinya memperkenalkan saya sebagai "Yenny, yang bikin Pak Bondan nangis." Muka saya pasti udah merah kaya kepiting rebus. Tak henti-hentinya pujian mengalir dari mulut teman-teman atas keindahan website yang saya buat. Padahal, murni website itu hanya iseng semata. Karena tertarik dengan blog Mr. Yohan yang profesional, saya jadi berniat untuk mempersembahkan website kepada belahan jiwa saya, suami tercinta. Tapi ternyata setelah membuat website tersebut, saya malah ingin mempersembahkannya untuk semua orang.
Mendengar pujian dari teman-teman, ternyata menambah kebanggaan suami terhadap saya. Sampai di rumah pun, Michael masih sibuk memuji-muji saya, karena telah menggerakkan hati banyak orang dengan memperkenalkan website itu. Senang rasanya melihat binar-binar di matanya. Walaupun saat pertemuan itu ia tak banyak bicara, tapi saya bisa merasakan betapa bangganya dia terhadap saya.
Cuma belakangan baru saya tahu bahwa ada 1 hal yang mengganjal hatinya. Michael merasa canggung di depan teman-teman sekalian. Ia merasa minder. Begitu banyak hal yang ia dengar dari teman-teman semua. Ada yang sering ke luar negeri, ada yang punya usaha sendiri, ada yang sering mengadakan tour ke tempat-tempat unik, bahkan ada yang baru pulang dari Riyadh. Rasanya ia tak punya kisah sukses yang bisa dibanggakan. Ia seperti tak punya apa-apa. Ia hanya seorang yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan di Jakarta. Hanya itu. Bagi dia, hanya itu yang ia punya. Dan itu bukanlah hal menarik yang bisa diceritakan atau di-share ke semua orang. Bukan sesuatu yang membanggakan.
Saya sedih mendengar isi hatinya. Saya gak nyangka kalo ia malahan jadi minder. Terus terang, saya sendiri tidak merasa minder, walaupun saya tahu bahwa banyak sekali orang hebat di milis JS ini, malahan saya bangga karena saya adalah salah satu orang yang mengenal orang-orang hebat tersebut, biarpun cuma via milis. Saya pernah minder dulu, tapi keminderan saya sudah lenyap seiring dengan pertemuan saya dengan Michael. Michael-lah orang yang sudah menumbuhkan rasa percaya diri saya. Michael-lah orang yang sudah menyadarkan saya betapa saya juga punya kemampuan yang bisa saya banggakan. Tapi di dalam hatinya, ia pun punya rasa itu.
Saya peluk dia dan saya katakan, "Sayang, aku bangga sama kamu. Apa pun yang orang lain banggakan, itu bukan urusanku. Aku hanya turut senang dengan prestasi yang mereka raih. Tapi aku paling bangga sama kamu. Kenapa kamu bilang kamu gak punya yang bisa dibanggakan? Sayang, kamu punya aku. Apa kamu gak bangga?"
Dan Michael cuma tersenyum simpul. "Oh iya, aku lupa. Aku adalah satu-satunya orang yang memiliki kamu. Gak ada lagi yang memiliki kamu, selain aku. Dan, emang bener, aku bangga sekali."
So, problem solved and case closed. Michael udah gak mengungkit-ungkit lagi tentang ke-tidak PD-annya. Saya pun kembali tersenyum sambil sibuk buka-buka fotocopy-an yang baru saya dapatkan tadi siang. Tapi, masih ada yang mengganjal di hati saya. Setelah bertahun-tahun gak pernah ke Taman Anggrek, saya mulai bingung sendiri. Resto-nya sudah berubah banyak dibanding waktu saya sering ke sana. Kira-kira, resto mana ya yang paling enak untuk dicoba bareng Michael?
Dedicated to Michael.
I'm proud of you, Honey, always...
Sunday, July 25, 2004
Invitation
Niece & Nephews on MY Wedding
Saturday, July 24, 2004
Ke Dufan
Little Yenny
Little Michael
Wednesday, July 21, 2004
MY Wedding Picture
Tuesday, July 20, 2004
Thank You
Thank You
Kecupan lembut di pipi membuat saya terbangun dari tidur. "Happy birthday, Sayang. I love you," bisik Michael di telinga saya. Dan kali ini saya benar-benar terbangun. "Loh, kok bangun?" lembut jari Michael menyentuh pipi saya. Dan, saya tahu kalau saat itu pasti sudah jam 00:00 menjelang 19 Juli 2004. "Makasih, Sayang." Saya tertidur dalam pelukannya sambil tersenyum.
Akhirnya, sampai juga saya di usia 28 tahun. Dulu sempet takut kalo usia 28 masih belum menikah. Tapi ternyata di usia 28 tahun ini, saya sudah hampir 1 tahun menikah. Dan saya bahagia. Sejak mengenal Michael, sudah 2 kali saya mengalami ulang tahun. Selalu ada surprise di ultah saya. :)
Kali ini ternyata saya pun mendapat surprise. Udah dari 2 minggu yang lalu dia terbingung-bingung mo kasih apa untuk hadiah ultah saya. Dan, udah berkali-kali saya bilang kalo saya gak perlu dikasih hadiah. Bahkan saya bilang ke dia kalo saya cuma butuh ada dia di samping saya setiap hari. Udah cukup sebagai hadiah ultah buat saya. Tapi dia memaksa dengan cara berkeluh kesah terus kalau dia gak sempet beliin saya kado karena bingung mau kasih apaan. "Perhiasan, kamu jarang pake. Arloji juga gak pernah pake. Udah 2 kali ultah kamu, aku beliin kalung dan arloji. Tapi gak pernah kamu pake. Cuma kamu simpeeeeeeeeeeeeen aja. DVD atau buku, kamu udah banyak. Aku bingung mau kasih kamu apaan."
Akhirnya, saya yang meminta hadiah darinya. Saya bilang, "Ya udah, kalo gitu aku minta blender aja. Yang 3 in 1. Biar bisa buat bumbu dapur sekaligus bikinin kamu jus alpukat. Kan kamu suka banget jus alpukat." Dan, akhirnya diputuskan untuk nitip Mama saya beli di kota.
18 Juli 2004 sore, manager saya datang ke rumah. Sengaja memberikan hadiah. Katanya, "Biar besok di kantor gak repot bawa2 pulang." Dan saya putuskan untuk membuka hadiahnya esok pagi. Dan, setelah bangun pagi itu, saya cepat-cepat membuka blender, hadiah dari Michael. Saya mainkan alat-alatnya. Saya baca lembaran manualnya. Saya putar-putar. Saya nikmati keindahan blender itu. Maklum, udah lama saya pingin punya blender, baru kesampaian. Setelah itu, saya buka hadiah dari manager saya. Dan, ternyata... isinya... blender. Hahahaha. Surprise banget. Gak nyangka kalo manager saya bisa baca pikiran saya. Akhirnya, di pagi hari itu, saya cuma duduk melongo sambil ngeliatin 2 buah blender di depan saya. Hihihi. What a surprise!!!
Saat saya sampai di kantor, saya seperti biasa cek email. Di folder "Michael" ada 2 email yang belum dibaca. Setelah saya buka, ternyata 1 email ada greetings dari Michael. Saya gak sabar langsung buka greetings-nya. Pikir saya, tumben Michael sempet kirim greetings. Biasanya musti ditanyain dulu. :)
Apa yang saya baca, membuat mata saya berkaca-kaca. Rasanya hati ini terharu campur bahagia. Apa yang saya baca, merupakan hadiah terindah yang pernah saya dapatkan. Dan, saya makin mengerti betapa dia begitu mencintai saya.
"what can i give for your birthday?
we've exchanged so many gifts...
shared so many wonderful memories...
known so much passion...
what can i give for your birthday?
something you've had all along - i give my love, now and forever..."
HONEY,
THIS IS THE ONLY PRESENT I CAN GIVE YOU FOR THIS YEAR'S BIRTHDAY. I HOPE YOU LOVE IT AS MUCH AS I DO.
I LOVE YOU,
MICHAEL
Dedicated to Michael.
I love you too.
Thank you, for being such a wonderful husband.
Kecupan lembut di pipi membuat saya terbangun dari tidur. "Happy birthday, Sayang. I love you," bisik Michael di telinga saya. Dan kali ini saya benar-benar terbangun. "Loh, kok bangun?" lembut jari Michael menyentuh pipi saya. Dan, saya tahu kalau saat itu pasti sudah jam 00:00 menjelang 19 Juli 2004. "Makasih, Sayang." Saya tertidur dalam pelukannya sambil tersenyum.
Akhirnya, sampai juga saya di usia 28 tahun. Dulu sempet takut kalo usia 28 masih belum menikah. Tapi ternyata di usia 28 tahun ini, saya sudah hampir 1 tahun menikah. Dan saya bahagia. Sejak mengenal Michael, sudah 2 kali saya mengalami ulang tahun. Selalu ada surprise di ultah saya. :)
Kali ini ternyata saya pun mendapat surprise. Udah dari 2 minggu yang lalu dia terbingung-bingung mo kasih apa untuk hadiah ultah saya. Dan, udah berkali-kali saya bilang kalo saya gak perlu dikasih hadiah. Bahkan saya bilang ke dia kalo saya cuma butuh ada dia di samping saya setiap hari. Udah cukup sebagai hadiah ultah buat saya. Tapi dia memaksa dengan cara berkeluh kesah terus kalau dia gak sempet beliin saya kado karena bingung mau kasih apaan. "Perhiasan, kamu jarang pake. Arloji juga gak pernah pake. Udah 2 kali ultah kamu, aku beliin kalung dan arloji. Tapi gak pernah kamu pake. Cuma kamu simpeeeeeeeeeeeeen aja. DVD atau buku, kamu udah banyak. Aku bingung mau kasih kamu apaan."
Akhirnya, saya yang meminta hadiah darinya. Saya bilang, "Ya udah, kalo gitu aku minta blender aja. Yang 3 in 1. Biar bisa buat bumbu dapur sekaligus bikinin kamu jus alpukat. Kan kamu suka banget jus alpukat." Dan, akhirnya diputuskan untuk nitip Mama saya beli di kota.
18 Juli 2004 sore, manager saya datang ke rumah. Sengaja memberikan hadiah. Katanya, "Biar besok di kantor gak repot bawa2 pulang." Dan saya putuskan untuk membuka hadiahnya esok pagi. Dan, setelah bangun pagi itu, saya cepat-cepat membuka blender, hadiah dari Michael. Saya mainkan alat-alatnya. Saya baca lembaran manualnya. Saya putar-putar. Saya nikmati keindahan blender itu. Maklum, udah lama saya pingin punya blender, baru kesampaian. Setelah itu, saya buka hadiah dari manager saya. Dan, ternyata... isinya... blender. Hahahaha. Surprise banget. Gak nyangka kalo manager saya bisa baca pikiran saya. Akhirnya, di pagi hari itu, saya cuma duduk melongo sambil ngeliatin 2 buah blender di depan saya. Hihihi. What a surprise!!!
Saat saya sampai di kantor, saya seperti biasa cek email. Di folder "Michael" ada 2 email yang belum dibaca. Setelah saya buka, ternyata 1 email ada greetings dari Michael. Saya gak sabar langsung buka greetings-nya. Pikir saya, tumben Michael sempet kirim greetings. Biasanya musti ditanyain dulu. :)
Apa yang saya baca, membuat mata saya berkaca-kaca. Rasanya hati ini terharu campur bahagia. Apa yang saya baca, merupakan hadiah terindah yang pernah saya dapatkan. Dan, saya makin mengerti betapa dia begitu mencintai saya.
"what can i give for your birthday?
we've exchanged so many gifts...
shared so many wonderful memories...
known so much passion...
what can i give for your birthday?
something you've had all along - i give my love, now and forever..."
HONEY,
THIS IS THE ONLY PRESENT I CAN GIVE YOU FOR THIS YEAR'S BIRTHDAY. I HOPE YOU LOVE IT AS MUCH AS I DO.
I LOVE YOU,
MICHAEL
Dedicated to Michael.
I love you too.
Thank you, for being such a wonderful husband.
Friday, June 18, 2004
Such a Beautiful Memory
Such a Beautiful Memory
Lagi baca email soal restoran Kalimantan di Cipanas, jadi inget masa kecil dulu. Kami berlima kakak beradik selalu ikut ortu ke puncak. Entah sekedar jalan2 atau nginep di salah satu hotel. Favorit kami dulu, nginep di Hotel Lembah Bukit Raya. Tempatnya asyik banget. Apalagi jaman dulu masih ada yang namanya jackpot. Kadang2 main sampe malem. Waktu itu, jackpot masih diperbolehkan. Waaah, senangnya kalo dapet logam-an banyak. Pulang ke kamar, langsung hitung penghasilan. Kalo udah gitu, lanjut buka meja billiard. Kebetulan papa saya jagonya main billiard. Jadi inget, pernah ada orang yang bilang kalo banyak anak kost di daerah Karet (rumah ortu) sebel sama papa saya. Tanya punya tanya, ternyata mereka selalu kalah main billiard lawan papa saya. Hehehe... Nah, papa ajarin kita2 main billiard. Yah, lumayan lah, skr ini udah bisa nyodok bola. Emang sih, gak selalu masuk. Tapi minimal udah bisa ngalahin adik saya yang cowok. :)
Kami juga sering nginep di Hotel Safari Garden. Pengalaman menarik waktu nginep di karavan. Bayangin aja. Bertujuh, tidur di karavan yang kecil mungil, tapi seru! Ada yang tidur di bangku, ada yang nge-gelar di lantai, pokoknya semua area dimanfaatkan. Udah gitu, kamar mandinya gak pake pintu. Cuma tirai dari bambu. Wah, ramenya kalo lagi ada yang mandi. Sengaja nyanyi sambil teriak2, takutnya ada yang gak sengaja buka tirai. Hahaha... Biasanya, bangun pagi, selalu nyari binatang untuk dikasih makan. Ada rusa, ada simpanse, bahkan pernah juga kasih makan beruang. Lucu dan menarik sekali. Skr udah gak tau lagi gimana kondisi hotel tsb. Jadi kangen juga...
Tapi, yang paling menyenangkan adalah saat makan malam. Biasanya, papa dan mama pergi ke restoran Kalimantan. Tapi, mereka bukan masuk ke restoran itu, melainkan langsung menuju restoran padang persis di samping restoran Kalimantan. Adanya di sebelah kiri. Setelah membeli makanan, mereka langsung pulang ke hotel. Dan, kami bertujuh langsung makan dengan nikmatnya, sesuai dengan pesanan masing2. Saya sendiri selalu pesan ayam gulai dan perkedel kentang. Hmmmm... nikmaaaaaaaaaat!!! Sayangnya, sudah lama sekali kami gak ke sana. Satu persatu, mulai dari kakak pertama, kakak kedua dan saya, menikah. Kedua kakak saya masih suka ke puncak, tapi perginya sama mertua masing2. Udah susah utk pergi ramai2 seperti dulu lagi.
So, untuk menuntaskan kerinduan pada restoran padang di puncak itu, kami terkadang kumpul di rumah kakak saya, di Metro Permata, Ciledug, Tangerang. Tepat di depan kompleks perumahan itu, ada 1 restoran padang yang enak juga. Saya lupa namanya, tapi letaknya persis di sebelah Ultra Disc. Biasanya papa dan mama saya mampir ke resto itu, baru ke rumah kakak saya. Berhubung rumah saya di Puri Metropolitan gak jauh dari Metro Permata, saya tinggal minta suami utk langsung ke sana. Lalu, makanlah kami ramai2, penuh canda, penuh tawa.
Rasanya masih sama seperti dulu, saat kami masih kecil. Saat kami masih bertujuh, bermobil ke puncak, merasakan dinginnya angin yang menerpa wajah, merasakan nikmatnya berenang, merasakan kepul2 nasi padang siap disantap, merasakan indahnya kebersamaan kami. Dan rasanya kenangan seindah itu tidak akan pernah pudar dari hati kami masing2.
Dedicated to my family.
I love you all.
PS: Apa resto padang itu masih ada??? Kangen banget!!!
Kalo emang masih ada, saya cuma akan bilang, "I'M COMING!!!"
Lagi baca email soal restoran Kalimantan di Cipanas, jadi inget masa kecil dulu. Kami berlima kakak beradik selalu ikut ortu ke puncak. Entah sekedar jalan2 atau nginep di salah satu hotel. Favorit kami dulu, nginep di Hotel Lembah Bukit Raya. Tempatnya asyik banget. Apalagi jaman dulu masih ada yang namanya jackpot. Kadang2 main sampe malem. Waktu itu, jackpot masih diperbolehkan. Waaah, senangnya kalo dapet logam-an banyak. Pulang ke kamar, langsung hitung penghasilan. Kalo udah gitu, lanjut buka meja billiard. Kebetulan papa saya jagonya main billiard. Jadi inget, pernah ada orang yang bilang kalo banyak anak kost di daerah Karet (rumah ortu) sebel sama papa saya. Tanya punya tanya, ternyata mereka selalu kalah main billiard lawan papa saya. Hehehe... Nah, papa ajarin kita2 main billiard. Yah, lumayan lah, skr ini udah bisa nyodok bola. Emang sih, gak selalu masuk. Tapi minimal udah bisa ngalahin adik saya yang cowok. :)
Kami juga sering nginep di Hotel Safari Garden. Pengalaman menarik waktu nginep di karavan. Bayangin aja. Bertujuh, tidur di karavan yang kecil mungil, tapi seru! Ada yang tidur di bangku, ada yang nge-gelar di lantai, pokoknya semua area dimanfaatkan. Udah gitu, kamar mandinya gak pake pintu. Cuma tirai dari bambu. Wah, ramenya kalo lagi ada yang mandi. Sengaja nyanyi sambil teriak2, takutnya ada yang gak sengaja buka tirai. Hahaha... Biasanya, bangun pagi, selalu nyari binatang untuk dikasih makan. Ada rusa, ada simpanse, bahkan pernah juga kasih makan beruang. Lucu dan menarik sekali. Skr udah gak tau lagi gimana kondisi hotel tsb. Jadi kangen juga...
Tapi, yang paling menyenangkan adalah saat makan malam. Biasanya, papa dan mama pergi ke restoran Kalimantan. Tapi, mereka bukan masuk ke restoran itu, melainkan langsung menuju restoran padang persis di samping restoran Kalimantan. Adanya di sebelah kiri. Setelah membeli makanan, mereka langsung pulang ke hotel. Dan, kami bertujuh langsung makan dengan nikmatnya, sesuai dengan pesanan masing2. Saya sendiri selalu pesan ayam gulai dan perkedel kentang. Hmmmm... nikmaaaaaaaaaat!!! Sayangnya, sudah lama sekali kami gak ke sana. Satu persatu, mulai dari kakak pertama, kakak kedua dan saya, menikah. Kedua kakak saya masih suka ke puncak, tapi perginya sama mertua masing2. Udah susah utk pergi ramai2 seperti dulu lagi.
So, untuk menuntaskan kerinduan pada restoran padang di puncak itu, kami terkadang kumpul di rumah kakak saya, di Metro Permata, Ciledug, Tangerang. Tepat di depan kompleks perumahan itu, ada 1 restoran padang yang enak juga. Saya lupa namanya, tapi letaknya persis di sebelah Ultra Disc. Biasanya papa dan mama saya mampir ke resto itu, baru ke rumah kakak saya. Berhubung rumah saya di Puri Metropolitan gak jauh dari Metro Permata, saya tinggal minta suami utk langsung ke sana. Lalu, makanlah kami ramai2, penuh canda, penuh tawa.
Rasanya masih sama seperti dulu, saat kami masih kecil. Saat kami masih bertujuh, bermobil ke puncak, merasakan dinginnya angin yang menerpa wajah, merasakan nikmatnya berenang, merasakan kepul2 nasi padang siap disantap, merasakan indahnya kebersamaan kami. Dan rasanya kenangan seindah itu tidak akan pernah pudar dari hati kami masing2.
Dedicated to my family.
I love you all.
PS: Apa resto padang itu masih ada??? Kangen banget!!!
Kalo emang masih ada, saya cuma akan bilang, "I'M COMING!!!"
Friday, May 28, 2004
Damage
Damage
Film tahun 1992 berjudul 'Damage' ini bercerita tentang seorang ayah yang berselingkuh dengan tunangan anaknya sendiri.
Jeremy Irons berperan sebagai Stephen, sang ayah. Miranda Richardson berperan sebagai Ingrid, sang ibu. Anaknya, Martyn, diperankan oleh Rupert Graves, sedangkan sang tunangan, Anna, diperankan oleh Juliette Binoche.
Stephen adalah seorang ayah yang kaku dalam mendidik kedua anaknya, Martyn dan Sally. Perannya dalam dunia parlemen membuatnya menjadi tidak hangat dan tidak ada 'passion.' Begitu juga dengan Ingrid. Ingrid adalah seorang istri yang tenang, lembut dan keibuan. Tidak ada keliaran dalam diri mereka berdua. Sampai suatu hari muncul Anna, kekasih dari Martyn, yang di awal film sudah menggoda Stephen. Keberanian Anna membuat keliaran Stephen muncul. Tanpa mengingat kalau Anna adalah kekasih anaknya, Martyn. Mereka memulai suatu perselingkuhan. Setiap ada kesempatan, Stephen langsung ke rumah Anna, dan memulai percintaan mereka yang bernafsu dan menggelora. Di tempat umum pun, mereka mencari tempat sepi untuk bercinta. Percintaan yang singkat, bernafsu dan penuh sensasi.
Sampai satu saat Martyn mengumumkan pertunangan mereka. Stephen sangat terkejut. Ia menginginkan Anna hanya untuk dirinya sendiri. Ia bahkan berniat menceraikan Ingrid, untuk kemudian menikahi Anna. Tapi, Anna menolak. Anna yakin mereka berdua lebih menyukai perselingkuhan yang sembunyi-sembunyi, dibanding jika mereka menikah. Anna menekankan bahwa kehidupan pernikahan Stephen sudah baik. Jangan membuat hidupnya jadi lebih sulit.
Perselingkuhan mereka tercium oleh ibu dari Anna. Beliau memperingatkan Stephen untuk menjauhi Anna. Awalnya Stephen menyetujui hal tersebut. Ia menelepon Anna dan mengatakan bahwa mereka harus mengakhiri semuanya. Mereka harus mengakhirinya. Sampai suatu saat Stephen mendapat kiriman kunci flat Anna yang baru. Anna menyewa flat baru karena Martyn pindah ke flatnya yang lama. Mereka sudah tinggal bersama. Mereka memang sedang merencanakan pernikahan mereka. Tetapi, karena kerinduan pada Stephen, Anna rela menyewa flat baru.
Beberapa kali Stephen dan Anna bertemu di flat itu. Bertemu untuk bercinta. Untuk mengeluarkan keliaran dalam diri mereka. Untuk mengeluarkan nafsu dan gelora mereka berdua. Sampai suatu saat, Martyn muncul tanpa diduga. Martyn muncul di gedung flat tersebut. Perlahan naik ke atas, mencari kamar Anna. Martyn mendengar desah nafas wanita di dalam kamar tersebut. Perlahan Martyn mendekati kamar itu. Suara desah wanita masih terdengar. Kunci kamar flat itu tertinggal di depan kamar. Tertinggal karena kecerobohan Stephen. Tanpa suara, Martyn membuka kamar tersebut, dan melihat adegan percintaan calon istrinya dengan ayahnya sendiri. Stephen tersadar dan langsung bangun dari ranjang untuk menghampiri Martyn dengan pandangan bersalah. Martyn mundur. Terpana. Tak percaya. Tak menyangka kalau ini akan terjadi pada dirinya. Mundur dan semakin mundur. Sampai akhirnya, Martyn terjatuh. Terjatuh dan tewas seketika.
Tak percaya, Stephen langsung turun dan menghampiri Martyn. Tanpa mengenakan sehelai pakaianpun, tanpa mengingat malu sedikitpun, tanpa menghiraukan sekelilingnya, Stephen memeluk Martyn. Menangis tersedu-sedu. Memeluk dan menangisi kematian anaknya, buah dari perbuatannya.
Saat Stephen pulang ke rumah, ia melihat Ingrid sedang duduk di dapur. Wajahnya memar-memar dan penuh air mata. "Apa yang terjadi?" tanya Stephen. Ingrid menatapnya dengan pandangan benci, "Sakitnya tak tertahankan (The pain was so unbearable). Aku memukuli diriku sendiri." Kesedihan seorang ibu kehilangan anaknya. Kesedihan seorang istri kehilangan cintanya. Kesedihan seorang manusia kehilangan kepercayaannya. Ingrid menjelaskan bahwa Martyn menerima telepon dari seseorang mengenai flat baru Anna. Martyn tidak pernah mengetahui tentang flat tersebut. Itu sebabnya ia mencatat alamat flat baru tersebut, dan bermaksud menemui Anna. Tapi, ternyata Martyn hanya menemui luka dan kematiannya.
Pertanyaan yang terlintas dalam pikiran saya adalah: Apakah itu yang diinginkan seorang suami yang mengkhianati istrinya? Apakah itu yang diinginkan seorang ayah yang mengkhianati anaknya? Walaupun bukan tunangan anaknya yang diselingkuhi, apapun yang terjadi, jika seorang suami dan seorang ayah berselingkuh, sang suami sudah mengkhianati istrinya, dan sang ayah sudah mengkhianati anaknya. Jadi, apa "keuntungan" dari perselingkuhan? Damage.
Dedicated to all husbands in the world.
Never betray your wife and your children.
Regards,
Yenny
December 26th, 2003
Film tahun 1992 berjudul 'Damage' ini bercerita tentang seorang ayah yang berselingkuh dengan tunangan anaknya sendiri.
Jeremy Irons berperan sebagai Stephen, sang ayah. Miranda Richardson berperan sebagai Ingrid, sang ibu. Anaknya, Martyn, diperankan oleh Rupert Graves, sedangkan sang tunangan, Anna, diperankan oleh Juliette Binoche.
Stephen adalah seorang ayah yang kaku dalam mendidik kedua anaknya, Martyn dan Sally. Perannya dalam dunia parlemen membuatnya menjadi tidak hangat dan tidak ada 'passion.' Begitu juga dengan Ingrid. Ingrid adalah seorang istri yang tenang, lembut dan keibuan. Tidak ada keliaran dalam diri mereka berdua. Sampai suatu hari muncul Anna, kekasih dari Martyn, yang di awal film sudah menggoda Stephen. Keberanian Anna membuat keliaran Stephen muncul. Tanpa mengingat kalau Anna adalah kekasih anaknya, Martyn. Mereka memulai suatu perselingkuhan. Setiap ada kesempatan, Stephen langsung ke rumah Anna, dan memulai percintaan mereka yang bernafsu dan menggelora. Di tempat umum pun, mereka mencari tempat sepi untuk bercinta. Percintaan yang singkat, bernafsu dan penuh sensasi.
Sampai satu saat Martyn mengumumkan pertunangan mereka. Stephen sangat terkejut. Ia menginginkan Anna hanya untuk dirinya sendiri. Ia bahkan berniat menceraikan Ingrid, untuk kemudian menikahi Anna. Tapi, Anna menolak. Anna yakin mereka berdua lebih menyukai perselingkuhan yang sembunyi-sembunyi, dibanding jika mereka menikah. Anna menekankan bahwa kehidupan pernikahan Stephen sudah baik. Jangan membuat hidupnya jadi lebih sulit.
Perselingkuhan mereka tercium oleh ibu dari Anna. Beliau memperingatkan Stephen untuk menjauhi Anna. Awalnya Stephen menyetujui hal tersebut. Ia menelepon Anna dan mengatakan bahwa mereka harus mengakhiri semuanya. Mereka harus mengakhirinya. Sampai suatu saat Stephen mendapat kiriman kunci flat Anna yang baru. Anna menyewa flat baru karena Martyn pindah ke flatnya yang lama. Mereka sudah tinggal bersama. Mereka memang sedang merencanakan pernikahan mereka. Tetapi, karena kerinduan pada Stephen, Anna rela menyewa flat baru.
Beberapa kali Stephen dan Anna bertemu di flat itu. Bertemu untuk bercinta. Untuk mengeluarkan keliaran dalam diri mereka. Untuk mengeluarkan nafsu dan gelora mereka berdua. Sampai suatu saat, Martyn muncul tanpa diduga. Martyn muncul di gedung flat tersebut. Perlahan naik ke atas, mencari kamar Anna. Martyn mendengar desah nafas wanita di dalam kamar tersebut. Perlahan Martyn mendekati kamar itu. Suara desah wanita masih terdengar. Kunci kamar flat itu tertinggal di depan kamar. Tertinggal karena kecerobohan Stephen. Tanpa suara, Martyn membuka kamar tersebut, dan melihat adegan percintaan calon istrinya dengan ayahnya sendiri. Stephen tersadar dan langsung bangun dari ranjang untuk menghampiri Martyn dengan pandangan bersalah. Martyn mundur. Terpana. Tak percaya. Tak menyangka kalau ini akan terjadi pada dirinya. Mundur dan semakin mundur. Sampai akhirnya, Martyn terjatuh. Terjatuh dan tewas seketika.
Tak percaya, Stephen langsung turun dan menghampiri Martyn. Tanpa mengenakan sehelai pakaianpun, tanpa mengingat malu sedikitpun, tanpa menghiraukan sekelilingnya, Stephen memeluk Martyn. Menangis tersedu-sedu. Memeluk dan menangisi kematian anaknya, buah dari perbuatannya.
Saat Stephen pulang ke rumah, ia melihat Ingrid sedang duduk di dapur. Wajahnya memar-memar dan penuh air mata. "Apa yang terjadi?" tanya Stephen. Ingrid menatapnya dengan pandangan benci, "Sakitnya tak tertahankan (The pain was so unbearable). Aku memukuli diriku sendiri." Kesedihan seorang ibu kehilangan anaknya. Kesedihan seorang istri kehilangan cintanya. Kesedihan seorang manusia kehilangan kepercayaannya. Ingrid menjelaskan bahwa Martyn menerima telepon dari seseorang mengenai flat baru Anna. Martyn tidak pernah mengetahui tentang flat tersebut. Itu sebabnya ia mencatat alamat flat baru tersebut, dan bermaksud menemui Anna. Tapi, ternyata Martyn hanya menemui luka dan kematiannya.
Pertanyaan yang terlintas dalam pikiran saya adalah: Apakah itu yang diinginkan seorang suami yang mengkhianati istrinya? Apakah itu yang diinginkan seorang ayah yang mengkhianati anaknya? Walaupun bukan tunangan anaknya yang diselingkuhi, apapun yang terjadi, jika seorang suami dan seorang ayah berselingkuh, sang suami sudah mengkhianati istrinya, dan sang ayah sudah mengkhianati anaknya. Jadi, apa "keuntungan" dari perselingkuhan? Damage.
Dedicated to all husbands in the world.
Never betray your wife and your children.
Regards,
Yenny
December 26th, 2003
Kesan Terindah
Kesan Terindah
Tgl 15 Maret 2004 saya berhasil juga mendapatkan hadiah untuk suami tersayang. Tepat 21 Maret 2004, Michael ulang tahun ke-30. Berbulan-bulan sebelumnya, saya udah bingung mau kasih hadiah apa buat Michael. Mikir sana mikir sini, akhirnya saya menetapkan untuk memberikan sesuatu yang special, yang tidak biasa. Saya memberikan voucher hotel untuk Michael. Saya pesan via tour & travel, lalu saya minta voucher tersebut dikirim langsung ke kantor Michael. Gak lama kemudian Michael menelepon saya. "Sayang, thank you yah..." Saya jelas donk pura2 bodoh. Masa saya langsung ngaku... Gengsi donk. Hehehe. "Thank you apaan? Emang aku kasih apaan?" Michael tertawa penuh sayang, "Aku tau kok kalo voucher itu pasti dari kamu. Siapa lagi yang akan kepikir untuk beliin aku hadiah segitu mahalnya buat aku, kalo bukan kamu. Makasih sayang. Aku sayang kamu..." Duuuh, senengnya hati ini. Walaupun acara surprise sedikit gagal, saya bahagia karena dia seneng terima hadiah itu. Awalnya saya emang sempet ragu apakah voucher itu layak dijadikan hadiah ulang tahun yang special untuk Michael.
Sebelum kenal Michael, saya pernah menginap di hotel Gran Melia. Kebetulan orangtua saya mendapat hadiah anniversary dari kakak saya yang bekerja di admin hotel Gran Melia. Kami menginap beramai-ramai sekeluarga. Waktu itu suasananya bener2 menyenangkan banget. Setelah kenal Michael, saya pernah bercerita kalo saya sering nginep di hotel bintang lima. Waktu saya ke Singapore, Hongkong dan Paris, saya selalu nginep di hotel bintang lima. Saya inget, Michael sampe cemberut saking irinya. Katanya waktu itu, "Seumur-umur aku belon pernah nginep di hotel bintang lima. Boro2 di luar negeri, di Jakarta aja nggak pernah." Dan, saya selalu ingat itu...
20 Maret 2004, kami check-in jam 12:00 setelah paginya mampir dulu di Radio Sonora untuk ambil hadiah voucher. Saya kan ikutan AMKM yang jam 10 pagi, taunya saya dapet voucher dari Bombay Textile senilai Rp 300.000,- Sayang kan kalo nggak diambil. Voucher itu nantinya akan saya berikan ke Mama saya, buat beli kain. Mama kan tukang jahit, pasti seneng dikasih voucher itu. Selesai check-in, kami langsung masuk kamar. Niat untuk makan siang, jadi gagal gara2 pasang TV. Tau donk kalo di hotel itu biasanya ada HBO, Cinemax, CNN, dll. Jadinya malahan kepingin nonton terus. Akhirnya, saya bikinin roti coklat untuk Michael. Dan kami berdua cuma makan roti dan coklat di siang hari itu.
Jam 18:30, kami mandi dan bersiap untuk dinner di Cafe Gran Via. Jam 19:00 kami langsung turun dan menikmati buffet-dinner di sana. Nikmat. Itu sudah jelas. Dari dulu saya memang penggemar buffet di Cafe Gran Via. Waktu ultah yang ke-26, saya pernah dinner berdua Michael di sana. Makanya, ini udah kaya reuni deh. Sejak menikah, kami gak pernah ke sana lagi. Selesai makan, Michael ngajak liat2 sekitar, tapi saya udah gak tahan kepingin nonton lagi. So, kami melanjutkan malam itu dengan nonton film HBO atau Cinemax.
Jam 00:00 harusnya saya bangun untuk mengucapkan Happy Birthday buat Michael. Tapi karena kondisi saya lagi gak fit, gara2 flu dan batuk, saya jadi ketiduran terus. Walhasil, jam 7 pagi baru saya bangun untuk say Happy Birthday to my lovely husband. Binar-binar di matanya membuat saya yakin kalau hadiah saya tidak salah. Jam 8 pagi kami breakfast di Cafe Gran Via. Enak loh. Saya sampe kekenyangan. Abisnya, gak pernah tuh breakfast senikmat itu. All-you-can-eat... Bikin ngiler terus. Hehehe... Sehabis breakfast, kami duduk sebentar di lobby. Tapi gak lama lah, saya keburu kangen sama kamar.
Karena kekenyangan, sesampai di kamar, kami malahan ketiduran. Jam 10:00 telpon berbunyi. Ternyata dari front desk yang menanyakan jam check-out. Kami sepakat untuk check-out jam 12:00 tepat. Biar gak rugi donk. :)
Jam 11:00 tiba2 saja bel pintu berbunyi. Setelah saya buka, ada 2 karyawati hotel yang memegang nampan berisi kue coklat bulat berhiaskan tulisan Happy Birthday, dan 2 piring beserta peralatan makannya. Waaaaah, surprise deh!!! Gak nyangka kalo Michael dapet kue. Hehehe... Thanks to Hotel Gran Melia. Pelayanannya bener2 memuaskan... Setelah menikmati hiasan Happy Birthday yang terbuat dari coklat, kami terpaksa membawa pulang kue tersebut karena perut sudah kekenyangan. (Psst... kue-nya enaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak bangets... :))
Bukan barang mahal dan bukan hadiah mewah yang saya berikan untuk Michael. Hanya 1 lembar voucher hotel. Tidak ada apa2 lagi.
Tapi saya percaya kalau kesan indah yang kami berdua telah rasakan, tidak akan pernah terlupakan.
Dedicated to Michael, dearest husband.
Can't wait to stay at five-star-hotel again, with you by my side.
^-*
Tgl 15 Maret 2004 saya berhasil juga mendapatkan hadiah untuk suami tersayang. Tepat 21 Maret 2004, Michael ulang tahun ke-30. Berbulan-bulan sebelumnya, saya udah bingung mau kasih hadiah apa buat Michael. Mikir sana mikir sini, akhirnya saya menetapkan untuk memberikan sesuatu yang special, yang tidak biasa. Saya memberikan voucher hotel untuk Michael. Saya pesan via tour & travel, lalu saya minta voucher tersebut dikirim langsung ke kantor Michael. Gak lama kemudian Michael menelepon saya. "Sayang, thank you yah..." Saya jelas donk pura2 bodoh. Masa saya langsung ngaku... Gengsi donk. Hehehe. "Thank you apaan? Emang aku kasih apaan?" Michael tertawa penuh sayang, "Aku tau kok kalo voucher itu pasti dari kamu. Siapa lagi yang akan kepikir untuk beliin aku hadiah segitu mahalnya buat aku, kalo bukan kamu. Makasih sayang. Aku sayang kamu..." Duuuh, senengnya hati ini. Walaupun acara surprise sedikit gagal, saya bahagia karena dia seneng terima hadiah itu. Awalnya saya emang sempet ragu apakah voucher itu layak dijadikan hadiah ulang tahun yang special untuk Michael.
Sebelum kenal Michael, saya pernah menginap di hotel Gran Melia. Kebetulan orangtua saya mendapat hadiah anniversary dari kakak saya yang bekerja di admin hotel Gran Melia. Kami menginap beramai-ramai sekeluarga. Waktu itu suasananya bener2 menyenangkan banget. Setelah kenal Michael, saya pernah bercerita kalo saya sering nginep di hotel bintang lima. Waktu saya ke Singapore, Hongkong dan Paris, saya selalu nginep di hotel bintang lima. Saya inget, Michael sampe cemberut saking irinya. Katanya waktu itu, "Seumur-umur aku belon pernah nginep di hotel bintang lima. Boro2 di luar negeri, di Jakarta aja nggak pernah." Dan, saya selalu ingat itu...
20 Maret 2004, kami check-in jam 12:00 setelah paginya mampir dulu di Radio Sonora untuk ambil hadiah voucher. Saya kan ikutan AMKM yang jam 10 pagi, taunya saya dapet voucher dari Bombay Textile senilai Rp 300.000,- Sayang kan kalo nggak diambil. Voucher itu nantinya akan saya berikan ke Mama saya, buat beli kain. Mama kan tukang jahit, pasti seneng dikasih voucher itu. Selesai check-in, kami langsung masuk kamar. Niat untuk makan siang, jadi gagal gara2 pasang TV. Tau donk kalo di hotel itu biasanya ada HBO, Cinemax, CNN, dll. Jadinya malahan kepingin nonton terus. Akhirnya, saya bikinin roti coklat untuk Michael. Dan kami berdua cuma makan roti dan coklat di siang hari itu.
Jam 18:30, kami mandi dan bersiap untuk dinner di Cafe Gran Via. Jam 19:00 kami langsung turun dan menikmati buffet-dinner di sana. Nikmat. Itu sudah jelas. Dari dulu saya memang penggemar buffet di Cafe Gran Via. Waktu ultah yang ke-26, saya pernah dinner berdua Michael di sana. Makanya, ini udah kaya reuni deh. Sejak menikah, kami gak pernah ke sana lagi. Selesai makan, Michael ngajak liat2 sekitar, tapi saya udah gak tahan kepingin nonton lagi. So, kami melanjutkan malam itu dengan nonton film HBO atau Cinemax.
Jam 00:00 harusnya saya bangun untuk mengucapkan Happy Birthday buat Michael. Tapi karena kondisi saya lagi gak fit, gara2 flu dan batuk, saya jadi ketiduran terus. Walhasil, jam 7 pagi baru saya bangun untuk say Happy Birthday to my lovely husband. Binar-binar di matanya membuat saya yakin kalau hadiah saya tidak salah. Jam 8 pagi kami breakfast di Cafe Gran Via. Enak loh. Saya sampe kekenyangan. Abisnya, gak pernah tuh breakfast senikmat itu. All-you-can-eat... Bikin ngiler terus. Hehehe... Sehabis breakfast, kami duduk sebentar di lobby. Tapi gak lama lah, saya keburu kangen sama kamar.
Karena kekenyangan, sesampai di kamar, kami malahan ketiduran. Jam 10:00 telpon berbunyi. Ternyata dari front desk yang menanyakan jam check-out. Kami sepakat untuk check-out jam 12:00 tepat. Biar gak rugi donk. :)
Jam 11:00 tiba2 saja bel pintu berbunyi. Setelah saya buka, ada 2 karyawati hotel yang memegang nampan berisi kue coklat bulat berhiaskan tulisan Happy Birthday, dan 2 piring beserta peralatan makannya. Waaaaah, surprise deh!!! Gak nyangka kalo Michael dapet kue. Hehehe... Thanks to Hotel Gran Melia. Pelayanannya bener2 memuaskan... Setelah menikmati hiasan Happy Birthday yang terbuat dari coklat, kami terpaksa membawa pulang kue tersebut karena perut sudah kekenyangan. (Psst... kue-nya enaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak bangets... :))
Bukan barang mahal dan bukan hadiah mewah yang saya berikan untuk Michael. Hanya 1 lembar voucher hotel. Tidak ada apa2 lagi.
Tapi saya percaya kalau kesan indah yang kami berdua telah rasakan, tidak akan pernah terlupakan.
Dedicated to Michael, dearest husband.
Can't wait to stay at five-star-hotel again, with you by my side.
^-*
The Truth about Cats and Dogs
The Truth about Cats and Dogs
Semalam film ini ditayangkan di TV7 sekitar jam 21:30-an. Seingat saya, Michael pernah merekomendasikan film ini untuk saya tonton. Tapi, saya masih belum menemukan VCD atau DVD-nya. Sampai akhirnya, semalam film itu bisa saya tonton.
Kisah cinta yang ditampilkan wajar sekali. Seorang pria, Brian (diperankan oleh Ben Chaplin) tertarik dengan seorang wanita, Abby (diperankan oleh Janeane Garofalo) hanya karena mendengar suaranya. Abby, seorang dokter hewan yang bekerja di sebuah radio, bukanlah seorang wanita yang biasa dilirik laki-laki. Dalam suatu kejadian, ia bertemu dengan Noelle (diperankan dengan baik oleh Uma Thurman) tetangganya yang langsing, tinggi, blonde and beautiful. Saat Brian meneleponnya untuk urusan anjing, Brian malahan tertarik dengan suara dan intelegensinya. Tetapi Abby yang tidak percaya diri malah menyuruh Noelle untuk berpura-pura menjadi dirinya.
Kelucuan-kelucuan yang terjadi, diantaranya karena Noelle yang polos tidak mengerti tentang hewan, bahkan terkesan takut, membuat film ini menarik. Konflik yang terjadi antara Abby - yang ternyata jatuh cinta pada Brian - dengan Noelle - yang juga tertarik pada Brian - membuat film ini makin menarik. Sampai akhirnya, adegan yang paling menentukan. Saat Noelle pergi ke luar kota untuk audisi, Brian merasa kehilangan dirinya, Abby yang terpaksa berdusta tentang keberadaan 'Abby' di kamar mandi, dan akhirnya semua menjadi jelas. Menjadi jelaslah bagi Abby saat Brian berbicara dengan 'Abby' yang ada di kamar mandi, mengatakan alasannya mencintai sosok Abby. Brian menyebutkan tentang suaranya di radio, tentang kepandaiannya. Lalu, Abby menambahkan, "Because you're beautiful." Brian menoleh dengan bingung. Abby menjelaskan, "You love Abby because she's beautiful." Dan, Brian menggeleng perlahan. Menurut Brian, secantik apapun wanita, kalau tidak ada feeling suka kepada wanita itu, tidak akan terlihat cantik. "No, I don't love her because she's beautiful. I love her just the way she is." Abby terpana mendengarnya. Abby meneteskan air mata. Mungkin karena baru kali ini ia menemukan pria seperti Brian.
Sudah dapat dipastikan bahwa saat Noelle, si 'Abby' palsu datang, Brian akhirnya mengerti. Dan walaupun awalnya Brian merasa dipermainkan, belakangan Brian dan Abby bersatu. Karena adanya cinta.
Selesai menonton film itu, saya masih tersedu-sedu. Saat menoleh kepada Michael yang berbaring di samping saya, ia hanya berkata, "Sayang, aku baru inget kenapa aku pingin banget kamu nonton film ini. Aku baru inget kalau banyak kesamaan antara hubungan kita dengan hubungan mereka."
Semua pasti tahu bahwa saya dan Michael dipertemukan dari milis LOL. Kami memulai dengan hanya saling bertelepon. Dan, kami sadar kalau kami sama2 tertarik karena suara yang terdengar di telepon. Dan, saya ingat, betapa saya tidak PD dengan diri saya, saat Michael tak sabar ingin bertemu dengan saya. Dan, saya ingat, betapa saya merasa canggung saat bertemu dengannya. Saya ingat, saat itu saya sudah jatuh cinta padanya. Dan, saya akan selalu ingat, betapa Michael salalu mencintai saya tanpa syarat.
Selesai menonton film itu, saya memeluknya dan menangis penuh haru. "I finally knew why you love me so much."
So, apakah semua pria bisa seperti Brian?
Regards,
Yenny
January 28th, 2004
Semalam film ini ditayangkan di TV7 sekitar jam 21:30-an. Seingat saya, Michael pernah merekomendasikan film ini untuk saya tonton. Tapi, saya masih belum menemukan VCD atau DVD-nya. Sampai akhirnya, semalam film itu bisa saya tonton.
Kisah cinta yang ditampilkan wajar sekali. Seorang pria, Brian (diperankan oleh Ben Chaplin) tertarik dengan seorang wanita, Abby (diperankan oleh Janeane Garofalo) hanya karena mendengar suaranya. Abby, seorang dokter hewan yang bekerja di sebuah radio, bukanlah seorang wanita yang biasa dilirik laki-laki. Dalam suatu kejadian, ia bertemu dengan Noelle (diperankan dengan baik oleh Uma Thurman) tetangganya yang langsing, tinggi, blonde and beautiful. Saat Brian meneleponnya untuk urusan anjing, Brian malahan tertarik dengan suara dan intelegensinya. Tetapi Abby yang tidak percaya diri malah menyuruh Noelle untuk berpura-pura menjadi dirinya.
Kelucuan-kelucuan yang terjadi, diantaranya karena Noelle yang polos tidak mengerti tentang hewan, bahkan terkesan takut, membuat film ini menarik. Konflik yang terjadi antara Abby - yang ternyata jatuh cinta pada Brian - dengan Noelle - yang juga tertarik pada Brian - membuat film ini makin menarik. Sampai akhirnya, adegan yang paling menentukan. Saat Noelle pergi ke luar kota untuk audisi, Brian merasa kehilangan dirinya, Abby yang terpaksa berdusta tentang keberadaan 'Abby' di kamar mandi, dan akhirnya semua menjadi jelas. Menjadi jelaslah bagi Abby saat Brian berbicara dengan 'Abby' yang ada di kamar mandi, mengatakan alasannya mencintai sosok Abby. Brian menyebutkan tentang suaranya di radio, tentang kepandaiannya. Lalu, Abby menambahkan, "Because you're beautiful." Brian menoleh dengan bingung. Abby menjelaskan, "You love Abby because she's beautiful." Dan, Brian menggeleng perlahan. Menurut Brian, secantik apapun wanita, kalau tidak ada feeling suka kepada wanita itu, tidak akan terlihat cantik. "No, I don't love her because she's beautiful. I love her just the way she is." Abby terpana mendengarnya. Abby meneteskan air mata. Mungkin karena baru kali ini ia menemukan pria seperti Brian.
Sudah dapat dipastikan bahwa saat Noelle, si 'Abby' palsu datang, Brian akhirnya mengerti. Dan walaupun awalnya Brian merasa dipermainkan, belakangan Brian dan Abby bersatu. Karena adanya cinta.
Selesai menonton film itu, saya masih tersedu-sedu. Saat menoleh kepada Michael yang berbaring di samping saya, ia hanya berkata, "Sayang, aku baru inget kenapa aku pingin banget kamu nonton film ini. Aku baru inget kalau banyak kesamaan antara hubungan kita dengan hubungan mereka."
Semua pasti tahu bahwa saya dan Michael dipertemukan dari milis LOL. Kami memulai dengan hanya saling bertelepon. Dan, kami sadar kalau kami sama2 tertarik karena suara yang terdengar di telepon. Dan, saya ingat, betapa saya tidak PD dengan diri saya, saat Michael tak sabar ingin bertemu dengan saya. Dan, saya ingat, betapa saya merasa canggung saat bertemu dengannya. Saya ingat, saat itu saya sudah jatuh cinta padanya. Dan, saya akan selalu ingat, betapa Michael salalu mencintai saya tanpa syarat.
Selesai menonton film itu, saya memeluknya dan menangis penuh haru. "I finally knew why you love me so much."
So, apakah semua pria bisa seperti Brian?
Regards,
Yenny
January 28th, 2004
Jack Frost
Jack Frost
Siapakah Jack Frost? Jack Frost adalah seorang ayah yang terlalu sibuk dengan urusan band musiknya sehingga terkadang lupa dengan keluarganya.
Film Jack Frost dibintangi oleh Michael Keaton sebagai Jack Frost, Kelly Preston sebagai Gaby Frost, dan Joseph Cross sebagai Charlie Frost. Satu bentuk keluarga yang harmonis dan penuh kehangatan, kalau saja Jack Frost bukan seorang suami dan ayah yang sibuk dengan band-nya.
Film tahun 1998 ini saya tonton di hari Natal ini dengan Michael, suami saya. Satu pelajaran yang kami berdua dapatkan dengan menonton film ini. Jack Frost bukan ayah yang buruk. Jack adalah ayah yang hangat, romantis dan penuh humor. Gaby sebagai istrinya begitu sangat mencintai Jack, demikian pula dengan Charlie, anak lelaki mereka satu-satunya. Di film itu benar-benar digambarkan keharmonisan keluarga mereka. Tapi semua itu hancur sudah di saat menjelang Natal, di mana Jack Frost mendapat kesempatan untuk rekaman musik oleh salah satu produser musik terkenal. Jack terpaksa membatalkan rencana berlibur mereka. Dengan kekecewaan, Charlie mengembalikan hadiah Jack berupa harmonika yang pertama kali dibeli Jack saat kelahiran Charlie. Charlie begitu kecewa karena bukan kali ini saja Jack mengingkari janji-janjinya.
Seperti kata Gaby di satu saat Jack mengingkari janjinya untuk datang ke pertandingan hockey Charlie, "Aku yang memilihmu, sehingga aku dapat menerima semua kekecewaan ini. Tapi Charlie tidak memilihmu." Itu adalah kata-kata seorang istri yang mengingatkan suaminya, bahwa sebagai istri, ia dapat menerima kekurangan suaminya karena ia yang memilih si suami untuk menjadi suaminya. Tetapi seorang anak tidak dapat memilih orangtuanya. Seorang anak tidak dapat dengan mudahnya berbesar hati menerima ingkar janji orangtuanya. Seorang anak belum memiliki toleransi sebesar itu.
Di tengah perjalanan, Jack menyadari kesalahannya. Mac, teman baiknya, juga menyadari itu. Bahkan Mac menawarkan diri untuk menepi dan membiarkan Jack pulang ke rumahnya. Sayangnya, dalam perjalanan pulang, karena salju yang tebal dan wiper mobil yang sudah rusak, Jack mengalami kecelakaan dan meninggal.
Setahun sudah berlalu sejak kepergian Jack, Charlie dan Gaby masih belum dapat menerima kepergiannya. Mereka masih sering menangis berpelukan sambil merindukan Jack. Sampai satu malam, Charlie melihat tetangganya membuat Snow Man, dan ia pun terinspirasi untuk membuat Snow Man sendiri dengan menggunakan syal dan topi Jack. Selesai membuat Snow Man, Charlie meniup harmonika pemberian Jack. Menurut Jack, saat Charlie meniup harmonika itu, ia akan selalu mendengarnya di mana pun ia berada. Charlie begitu merindukan Jack sehingga ditiupnya harmonika itu, berharap Jack akan mendengar kerinduannya.
Tiba-tiba keajaiban terjadi. Snow Man buatan Charlie, hidup. Dan Jack ada di dalamnya. Setahun meninggalkan mereka, Jack kembali dan menjelma menjadi Snow Man. Lucu bukan? Sampai di sini, kisah berlanjut menjadi lucu. Charlie bisa menerima ayahnya menjadi Snow Dad. Kelucuan-kelucuan terjadi dengan tingkah polah Jack yang terkadang masih belum terbiasa dengan tubuhnya. Jack juga memperbaiki water sink yang bocor, yang tidak pernah sempat ia perbaiki saat ia masih hidup.
Tapi semua itu hampir berakhir dengan mencairnya salju. Mereka terpaksa mencari tempat di mana salju selalu ada. Charlie meminta pertolongan Gaby, tetapi gagal karena Gaby tidak percaya bahwa Snow Man adalah Snow Dad. Akhirnya, mereka pergi ke puncak gunung dengan menumpang truk yang menuju Pine Top, di mana ada pondok tempat peristirahatan mereka yang selalu dipenuhi salju. Kelelahan, Charlie tertidur tanpa sadar bahwa Gaby mencarinya ke mana-mana. Jack sadar, kali ini ia harus pergi. Ia segera menelepon Gaby memberitahukan bahwa Charlie ada di pondok mereka. Tak percaya, Gaby mendengarkan suara yang pernah mengisi hari-harinya, muncul kembali di saat yang tidak mungkin.
"It's Christmas!!!" Charlie berseru saat ia bangun dari tidurnya. "Merry Christmas, Dad," katanya. "Merry Christmas, Charlie," jawab Jack. Jack memandang Charlie dengan penuh sayang. Dan ia berpamitan. Sudah saatnya untuk kembali. Charlie menatapnya dengan tak percaya. Charlie tidak ingin Jack pergi lagi. "Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan kami lagi," kata Charlie sambil berlinang air mata. Tapi Charlie tahu, tidak mungkin ia menahan kepergian Jack. Jack memang harus pergi, dan kali ini mungkin untuk selamanya. Di belakang Charlie, Gaby muncul dan melihat kalau semuanya memang benar. Selama ini Gaby mengira Charlie terlalu merindukan ayahnya, sampai-sampai mengira kalau Snow Man itu adalah ayahnya. Tapi di saat terakhir ini, Gaby tahu bahwa Snow Man itu adalah Jack.
Angin bertiup mengelilingi Jack. Snow Man sudah hilang, berganti dengan bayangan Jack. Gaby dan Jack saling menatap penuh cinta dan air mata. Kerinduan terlihat jelas di mata mereka. Kalau dulu Jack tidak sempat berpamitan pada Gaby, kali ini Jack mendapat kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Dan, Jack pun lenyap dari hadapan mereka.
Tidak dapat dibayangkan, air mata yang turun saat selesai menonton film ini. Saya memang tidak menyukai film tentang perpisahan. Film happy-ending saja bisa membuat saya menangis, apalagi film sad-ending. Tapi ini menjadi pelajaran buat kami berdua, mungkin juga buat semua orang yang menonton film ini. Kesempatan seperti Jack, belum tentu muncul. Mungkin tidak akan pernah ada kesempatan kedua seperti itu. Hidup ini toh bukan seperti film yang bisa kita mainkan semau kita. Hidup ini hanya sekali. Lakukan apa yang selama ini kita janji untuk melakukannya, karena kesempatan kedua itu sangat kecil kemungkinannya. Lihat sekitarmu. Berikan cintamu pada mereka. Berikan hatimu pada mereka. Berikan perhatianmu pada keluargamu. Jangan sampai muncul adanya penyesalan. Karena penyesalan tidak pernah datang duluan.
Merry Christmas Everybody.
December 26th, 2003
Siapakah Jack Frost? Jack Frost adalah seorang ayah yang terlalu sibuk dengan urusan band musiknya sehingga terkadang lupa dengan keluarganya.
Film Jack Frost dibintangi oleh Michael Keaton sebagai Jack Frost, Kelly Preston sebagai Gaby Frost, dan Joseph Cross sebagai Charlie Frost. Satu bentuk keluarga yang harmonis dan penuh kehangatan, kalau saja Jack Frost bukan seorang suami dan ayah yang sibuk dengan band-nya.
Film tahun 1998 ini saya tonton di hari Natal ini dengan Michael, suami saya. Satu pelajaran yang kami berdua dapatkan dengan menonton film ini. Jack Frost bukan ayah yang buruk. Jack adalah ayah yang hangat, romantis dan penuh humor. Gaby sebagai istrinya begitu sangat mencintai Jack, demikian pula dengan Charlie, anak lelaki mereka satu-satunya. Di film itu benar-benar digambarkan keharmonisan keluarga mereka. Tapi semua itu hancur sudah di saat menjelang Natal, di mana Jack Frost mendapat kesempatan untuk rekaman musik oleh salah satu produser musik terkenal. Jack terpaksa membatalkan rencana berlibur mereka. Dengan kekecewaan, Charlie mengembalikan hadiah Jack berupa harmonika yang pertama kali dibeli Jack saat kelahiran Charlie. Charlie begitu kecewa karena bukan kali ini saja Jack mengingkari janji-janjinya.
Seperti kata Gaby di satu saat Jack mengingkari janjinya untuk datang ke pertandingan hockey Charlie, "Aku yang memilihmu, sehingga aku dapat menerima semua kekecewaan ini. Tapi Charlie tidak memilihmu." Itu adalah kata-kata seorang istri yang mengingatkan suaminya, bahwa sebagai istri, ia dapat menerima kekurangan suaminya karena ia yang memilih si suami untuk menjadi suaminya. Tetapi seorang anak tidak dapat memilih orangtuanya. Seorang anak tidak dapat dengan mudahnya berbesar hati menerima ingkar janji orangtuanya. Seorang anak belum memiliki toleransi sebesar itu.
Di tengah perjalanan, Jack menyadari kesalahannya. Mac, teman baiknya, juga menyadari itu. Bahkan Mac menawarkan diri untuk menepi dan membiarkan Jack pulang ke rumahnya. Sayangnya, dalam perjalanan pulang, karena salju yang tebal dan wiper mobil yang sudah rusak, Jack mengalami kecelakaan dan meninggal.
Setahun sudah berlalu sejak kepergian Jack, Charlie dan Gaby masih belum dapat menerima kepergiannya. Mereka masih sering menangis berpelukan sambil merindukan Jack. Sampai satu malam, Charlie melihat tetangganya membuat Snow Man, dan ia pun terinspirasi untuk membuat Snow Man sendiri dengan menggunakan syal dan topi Jack. Selesai membuat Snow Man, Charlie meniup harmonika pemberian Jack. Menurut Jack, saat Charlie meniup harmonika itu, ia akan selalu mendengarnya di mana pun ia berada. Charlie begitu merindukan Jack sehingga ditiupnya harmonika itu, berharap Jack akan mendengar kerinduannya.
Tiba-tiba keajaiban terjadi. Snow Man buatan Charlie, hidup. Dan Jack ada di dalamnya. Setahun meninggalkan mereka, Jack kembali dan menjelma menjadi Snow Man. Lucu bukan? Sampai di sini, kisah berlanjut menjadi lucu. Charlie bisa menerima ayahnya menjadi Snow Dad. Kelucuan-kelucuan terjadi dengan tingkah polah Jack yang terkadang masih belum terbiasa dengan tubuhnya. Jack juga memperbaiki water sink yang bocor, yang tidak pernah sempat ia perbaiki saat ia masih hidup.
Tapi semua itu hampir berakhir dengan mencairnya salju. Mereka terpaksa mencari tempat di mana salju selalu ada. Charlie meminta pertolongan Gaby, tetapi gagal karena Gaby tidak percaya bahwa Snow Man adalah Snow Dad. Akhirnya, mereka pergi ke puncak gunung dengan menumpang truk yang menuju Pine Top, di mana ada pondok tempat peristirahatan mereka yang selalu dipenuhi salju. Kelelahan, Charlie tertidur tanpa sadar bahwa Gaby mencarinya ke mana-mana. Jack sadar, kali ini ia harus pergi. Ia segera menelepon Gaby memberitahukan bahwa Charlie ada di pondok mereka. Tak percaya, Gaby mendengarkan suara yang pernah mengisi hari-harinya, muncul kembali di saat yang tidak mungkin.
"It's Christmas!!!" Charlie berseru saat ia bangun dari tidurnya. "Merry Christmas, Dad," katanya. "Merry Christmas, Charlie," jawab Jack. Jack memandang Charlie dengan penuh sayang. Dan ia berpamitan. Sudah saatnya untuk kembali. Charlie menatapnya dengan tak percaya. Charlie tidak ingin Jack pergi lagi. "Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan kami lagi," kata Charlie sambil berlinang air mata. Tapi Charlie tahu, tidak mungkin ia menahan kepergian Jack. Jack memang harus pergi, dan kali ini mungkin untuk selamanya. Di belakang Charlie, Gaby muncul dan melihat kalau semuanya memang benar. Selama ini Gaby mengira Charlie terlalu merindukan ayahnya, sampai-sampai mengira kalau Snow Man itu adalah ayahnya. Tapi di saat terakhir ini, Gaby tahu bahwa Snow Man itu adalah Jack.
Angin bertiup mengelilingi Jack. Snow Man sudah hilang, berganti dengan bayangan Jack. Gaby dan Jack saling menatap penuh cinta dan air mata. Kerinduan terlihat jelas di mata mereka. Kalau dulu Jack tidak sempat berpamitan pada Gaby, kali ini Jack mendapat kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Dan, Jack pun lenyap dari hadapan mereka.
Tidak dapat dibayangkan, air mata yang turun saat selesai menonton film ini. Saya memang tidak menyukai film tentang perpisahan. Film happy-ending saja bisa membuat saya menangis, apalagi film sad-ending. Tapi ini menjadi pelajaran buat kami berdua, mungkin juga buat semua orang yang menonton film ini. Kesempatan seperti Jack, belum tentu muncul. Mungkin tidak akan pernah ada kesempatan kedua seperti itu. Hidup ini toh bukan seperti film yang bisa kita mainkan semau kita. Hidup ini hanya sekali. Lakukan apa yang selama ini kita janji untuk melakukannya, karena kesempatan kedua itu sangat kecil kemungkinannya. Lihat sekitarmu. Berikan cintamu pada mereka. Berikan hatimu pada mereka. Berikan perhatianmu pada keluargamu. Jangan sampai muncul adanya penyesalan. Karena penyesalan tidak pernah datang duluan.
Merry Christmas Everybody.
December 26th, 2003
MY Valentine
MY Valentine
Valentine's ini mestinya gak ada cerita apa-apa. Toh saya udah bilang sama suami, "Gak perlu ada surprise deh. Aku gak sempet sih beli apa2 buat kamu." Dan suami udah setuju tuh. Tapi nyatanya, dia bohong sama saya. Nyatanya, dia tetep gak rela kalo gak kasih surprise buat saya.
Pagi itu, 14 Februari 2004, saya terbangun dengan mata masih mengantuk. As usual, saya selalu nengok ke belakang saya untuk ngeliat udah jam berapa. Ternyata Michael udah tau persis kebiasaan saya. Saat saya ngucek2 mata untuk liat jam lebih jelas, saya malahan gak ngeliat apa2. Something's covering the clock. What's that? Saya langsung bangun dan melihat lebih dekat.
Disc mungil berwarna ungu - my favorite color - udah tersandar dengan manis di depan jam. Warna-warni tulisan Michael terbaca jelas. "Once upon a time, from a distance, you took my heart away. It must have been love. Heaven knows, I've been waiting for you. Beautiful girl, have I told you lately, you're the inspiration? How am I supposed to live without you, if you're not here? When I look into your eyes, you take my breath away. I'm gonna be around, whenever you close your eyes. We don't have to say the words, because I love you, only you. From this moment on, I'll be your everything. Don't forget to remember, I will always love you. Now and forever, you are the best thing in my life. Tonight I celebrate my love. Valentine girl, be my lady, till death do us part. I love you, just the way you are."
Well, saya langsung menduga kalo itu pasti disc berisi MP3 lagu2 cinta buat saya. Dengan penuh haru, saya langsung menubruk Michael yang masih terkantuk-kantuk di sebelah saya. Air mata sudah gak bisa dibendung lagi. Michael cuma tersenyum sambil mencium saya dengan lembut. "Happy Valentine's Day, Sayang."
Sepagian itu saya hanya memeluknya sambil tersenyum bahagia. Saya gak nyangka kalo dia masih bisa memberikan suprise buat saya. Saya tau dia sedang sibuk banget di kantor, mana mungkin sempat nyari apa2 buat saya. Tapi ternyata dia emang selalu bisa mencari sesuatu yang bikin saya surprise. Setelah itu, saya bangun dari ranjang. Lalu menuju dapur. Saatnya saya memberikan suprise buat dia. Walaupun surprise dadakan, saya harap dia cukup senang.
Roti tawar yang sudah saya beli kemarin, langsung saya cetak bentuk heart. Kecil-kecil loh. Terus, di atasnya saya colek-in sedikit selai kacang, lalu taburi coklat meisies warna-warni. Setelah itu, saya letakkan di atas loyang bentuk heart. Dan, saya hidangkan di depan matanya. Waaah, senang deh ngeliat binar-binar di mataya. Seperti anak kecil, dia milih roti bentuk heart itu satu persatu, dan saya menyuapi. Setelah itu, saya malahan mencetak bentuk2 lain, seperti bebek, kupu2, pohon, dll. Jadi seru. Jadi lucu.
Tapi, saya jadi timbul pertanyaan... Apa bisa jatuh cinta berulang kali pada orang yang sama? Sudah berkali-kali saya jatuh cinta lagi padanya. Semua yang dilakukannya terhadap saya, selalu membuat saya bahagia. Dari awal dia memasuki kehidupan saya, sampai sekarang saat memasuki bulan ke-7 pernikahan kami, saya selalu bahagia. Dan akhirnya, saya jatuh cinta lagi untuk yang kesekian kali.
Dedicated to Michael, suamiku.
I will always be your valentine...
Valentine's ini mestinya gak ada cerita apa-apa. Toh saya udah bilang sama suami, "Gak perlu ada surprise deh. Aku gak sempet sih beli apa2 buat kamu." Dan suami udah setuju tuh. Tapi nyatanya, dia bohong sama saya. Nyatanya, dia tetep gak rela kalo gak kasih surprise buat saya.
Pagi itu, 14 Februari 2004, saya terbangun dengan mata masih mengantuk. As usual, saya selalu nengok ke belakang saya untuk ngeliat udah jam berapa. Ternyata Michael udah tau persis kebiasaan saya. Saat saya ngucek2 mata untuk liat jam lebih jelas, saya malahan gak ngeliat apa2. Something's covering the clock. What's that? Saya langsung bangun dan melihat lebih dekat.
Disc mungil berwarna ungu - my favorite color - udah tersandar dengan manis di depan jam. Warna-warni tulisan Michael terbaca jelas. "Once upon a time, from a distance, you took my heart away. It must have been love. Heaven knows, I've been waiting for you. Beautiful girl, have I told you lately, you're the inspiration? How am I supposed to live without you, if you're not here? When I look into your eyes, you take my breath away. I'm gonna be around, whenever you close your eyes. We don't have to say the words, because I love you, only you. From this moment on, I'll be your everything. Don't forget to remember, I will always love you. Now and forever, you are the best thing in my life. Tonight I celebrate my love. Valentine girl, be my lady, till death do us part. I love you, just the way you are."
Well, saya langsung menduga kalo itu pasti disc berisi MP3 lagu2 cinta buat saya. Dengan penuh haru, saya langsung menubruk Michael yang masih terkantuk-kantuk di sebelah saya. Air mata sudah gak bisa dibendung lagi. Michael cuma tersenyum sambil mencium saya dengan lembut. "Happy Valentine's Day, Sayang."
Sepagian itu saya hanya memeluknya sambil tersenyum bahagia. Saya gak nyangka kalo dia masih bisa memberikan suprise buat saya. Saya tau dia sedang sibuk banget di kantor, mana mungkin sempat nyari apa2 buat saya. Tapi ternyata dia emang selalu bisa mencari sesuatu yang bikin saya surprise. Setelah itu, saya bangun dari ranjang. Lalu menuju dapur. Saatnya saya memberikan suprise buat dia. Walaupun surprise dadakan, saya harap dia cukup senang.
Roti tawar yang sudah saya beli kemarin, langsung saya cetak bentuk heart. Kecil-kecil loh. Terus, di atasnya saya colek-in sedikit selai kacang, lalu taburi coklat meisies warna-warni. Setelah itu, saya letakkan di atas loyang bentuk heart. Dan, saya hidangkan di depan matanya. Waaah, senang deh ngeliat binar-binar di mataya. Seperti anak kecil, dia milih roti bentuk heart itu satu persatu, dan saya menyuapi. Setelah itu, saya malahan mencetak bentuk2 lain, seperti bebek, kupu2, pohon, dll. Jadi seru. Jadi lucu.
Tapi, saya jadi timbul pertanyaan... Apa bisa jatuh cinta berulang kali pada orang yang sama? Sudah berkali-kali saya jatuh cinta lagi padanya. Semua yang dilakukannya terhadap saya, selalu membuat saya bahagia. Dari awal dia memasuki kehidupan saya, sampai sekarang saat memasuki bulan ke-7 pernikahan kami, saya selalu bahagia. Dan akhirnya, saya jatuh cinta lagi untuk yang kesekian kali.
Dedicated to Michael, suamiku.
I will always be your valentine...
MY Lovely Wedding
MY Lovely Wedding
Sejak pertama saya kenal dia, saya sudah tau bahwa he's the one. Tapi, sekarang... saat saya sudah benar2 menjadi pasangan hidupnya, saya masih suka takjub. Takjub karena saya bisa memiliki pasangan hidup yang benar2 mengerti dan mencintai saya. Kisah cinta kami sudah banyak membuat orang terheran2. Komentarnya macam2, dari yang tidak percaya sampai yang turut bahagia.
Setelah melewati banyak rintangan dan cobaan, kami menikah.
31 Agustus 2003.
Pencatatan sipil dilakukan di Gereja St. Ignatius Loyola, di Jalan Malang, deket Pasar Rumput. Sempat terhambat, karena tukang foto belum datang. Tapi, pencatatan sipil dapat segera kami laksanakan dengan baik.
Sakramen pernikahan juga kami lakukan di Gereja St. Ignatius Loyola. Romo FX Pranataseputra yang mengukuhkan janji pernikahan kami. Dengan diiringi lagu "Ave Maria" oleh paduan suara Lingkungan Antonius Fernandes I, kami memasuki gereja. Jantung saya berdebar keras. Rasanya seperti mimpi. Saya berjalan di samping Michael, memakai gaun indah buatan tangan Mama tercinta. Sekilas saya menoleh ke samping, melihat Michael, sambil bertanya2, apakah Michael juga berdebar2 seperti saya. Senyuman Michael membuat saya sedikit tenang. Ya, saya yakin saya akan sanggup melewati hari ini.
Suara saya bergetar saat membaca janji pernikahan.
"Di hadapan Imam, para saksi serta umat yang hadir di sini, Saya, Josephine Aurellia Yenny Widjaja menyatakan dengan sungguh-sungguh dan dengan tulus hati serta dengan niat hati yang suci memilih Sebastianus Michael Sujantono yang berdiri di sisi saya ini, mulai sekarang menjadi suami saya. Saya berjanji akan setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit dan sanggup dengan sepenuh hati mencintai, mengasihi, membahagiakan serta menghormati engkau seumur hidup. Demikianlah janji saya demi Allah dan Injil suci ini."
Isak tangis tak dapat kami tahan saat menghampiri kedua orang tua kami. Ucapan terima kasih kepada mereka yang telah merawat kami dengan baik, dan permohonan maaf atas segala perbuatan kami selama ini, kami ungkapkan lewat peluk dan cium tanda cinta.
Diiringi lagu indah "From This Moment On," kami melakukan penandatanganan Akte Pernikahan. Dan setelah menyerahkan bunga ke altar Bunda Maria, selesai sudah acara sakramen pernikahan kami.
06 September 2003.
Jam 4 pagi, saya diantar Papa ke Cucu Bridal, Mangga Besar. Sekitar 1-2 jam, wajah ngantuk saya sudah berganti dengan wajah cantik khas seorang pengantin. Setelah itu, saya menunggu Michael yang akan datang untuk menjemput saya. Michael sendiri sudah sibuk dengan acaranya di rumah kami, di Puri Metropolitan. Tak lama kemudian, Michael tiba. Setelah disambut dengan segala tata cara Chinese wedding, Michael akhirnya sampai juga di hadapan saya. Kami ditangani oleh fotografer yang mengarahkan kami untuk bergaya. Setelah gono-gini, selesai sudah acara foto2 penjemputan pengantin.
Acara teh-pai kami lakukan tidak terlalu lama, berhubung kami sudah tau tata caranya. Kebetulan kedua kakak perempuan saya juga melakukan tradisi ini, sehingga tidak terlalu menyulitkan.
Sekitar jam 10:30, kami berdua naik mobil pengantin menuju Cucu Bridal. Biasanya sebelum pesta, pengantin harus melakukan touch-up supaya saat pesta resepsi tetap keliatan segar dan cantik. Setelah itu, kami lanjut menuju Restaurant Sentral di Tomang. Sempet BT gara2 macet, tapi tak lama kami sampai juga di sana.
Rasanya bahagia sekali saat saya berjalan di samping Michael memasuki ruangan. Berpuluh2 bahkan beratus2 mata memandang kami. Di depan kami berdua, keponakan saya - Victoria - dan keponakan Michael - Samantha - berjalan dengan bangga sambil menabur-naburkan kertas kilap2 kecil sepanjang karpet merah. Setelah sampai di depan, kami dan para orang tua menempati posisi masing2. Setelah acara pemotongan kue pengantin, kami memberikan kue pengantin ke para orang tua. Setelah itu, kami saling memberikan kue pengantin, dan terakhir adalah Wedding Kiss. Malu rasanya diliat sebegitu banyak orang. Tapi, apa mo dikata, memang itu yang harus kami lakukan. Deg2an rasanya saat bibir kami saling mengecup. Dan selesai sudah. Indah. Indah sekali.
Lelah. Itu yang kami rasakan bersama. Tapi kami bahagia. Acara dapat kami selesaikan dengan baik. Dan kami pun siap pulang ke rumah untuk melakukan teh-pai dengan keluarga Michael. Setelah acara teh-pai, kami berfoto di kamar pengantin. Walaupun letih, kami berhasil melakukan dengan cukup baik. Dan, kali ini, selesai semuanya.
Malam Pertama.
Indah. Seindah yang selalu kami bayangkan. Bahagia rasanya menatap dirinya terbaring di sisi saya. Bahagia rasanya memeluk dirinya tanpa takut harus melepasnya lagi untuk pulang ke rumah. Bahagia rasanya saat tahu bahwa kami berdua sudah menjadi satu. Satu hati. Satu cinta.
Dedicated to Michael, my husband.
I'll never regret the day you became mine.
I love you, for the rest of my life.
Sejak pertama saya kenal dia, saya sudah tau bahwa he's the one. Tapi, sekarang... saat saya sudah benar2 menjadi pasangan hidupnya, saya masih suka takjub. Takjub karena saya bisa memiliki pasangan hidup yang benar2 mengerti dan mencintai saya. Kisah cinta kami sudah banyak membuat orang terheran2. Komentarnya macam2, dari yang tidak percaya sampai yang turut bahagia.
Setelah melewati banyak rintangan dan cobaan, kami menikah.
31 Agustus 2003.
Pencatatan sipil dilakukan di Gereja St. Ignatius Loyola, di Jalan Malang, deket Pasar Rumput. Sempat terhambat, karena tukang foto belum datang. Tapi, pencatatan sipil dapat segera kami laksanakan dengan baik.
Sakramen pernikahan juga kami lakukan di Gereja St. Ignatius Loyola. Romo FX Pranataseputra yang mengukuhkan janji pernikahan kami. Dengan diiringi lagu "Ave Maria" oleh paduan suara Lingkungan Antonius Fernandes I, kami memasuki gereja. Jantung saya berdebar keras. Rasanya seperti mimpi. Saya berjalan di samping Michael, memakai gaun indah buatan tangan Mama tercinta. Sekilas saya menoleh ke samping, melihat Michael, sambil bertanya2, apakah Michael juga berdebar2 seperti saya. Senyuman Michael membuat saya sedikit tenang. Ya, saya yakin saya akan sanggup melewati hari ini.
Suara saya bergetar saat membaca janji pernikahan.
"Di hadapan Imam, para saksi serta umat yang hadir di sini, Saya, Josephine Aurellia Yenny Widjaja menyatakan dengan sungguh-sungguh dan dengan tulus hati serta dengan niat hati yang suci memilih Sebastianus Michael Sujantono yang berdiri di sisi saya ini, mulai sekarang menjadi suami saya. Saya berjanji akan setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit dan sanggup dengan sepenuh hati mencintai, mengasihi, membahagiakan serta menghormati engkau seumur hidup. Demikianlah janji saya demi Allah dan Injil suci ini."
Isak tangis tak dapat kami tahan saat menghampiri kedua orang tua kami. Ucapan terima kasih kepada mereka yang telah merawat kami dengan baik, dan permohonan maaf atas segala perbuatan kami selama ini, kami ungkapkan lewat peluk dan cium tanda cinta.
Diiringi lagu indah "From This Moment On," kami melakukan penandatanganan Akte Pernikahan. Dan setelah menyerahkan bunga ke altar Bunda Maria, selesai sudah acara sakramen pernikahan kami.
06 September 2003.
Jam 4 pagi, saya diantar Papa ke Cucu Bridal, Mangga Besar. Sekitar 1-2 jam, wajah ngantuk saya sudah berganti dengan wajah cantik khas seorang pengantin. Setelah itu, saya menunggu Michael yang akan datang untuk menjemput saya. Michael sendiri sudah sibuk dengan acaranya di rumah kami, di Puri Metropolitan. Tak lama kemudian, Michael tiba. Setelah disambut dengan segala tata cara Chinese wedding, Michael akhirnya sampai juga di hadapan saya. Kami ditangani oleh fotografer yang mengarahkan kami untuk bergaya. Setelah gono-gini, selesai sudah acara foto2 penjemputan pengantin.
Acara teh-pai kami lakukan tidak terlalu lama, berhubung kami sudah tau tata caranya. Kebetulan kedua kakak perempuan saya juga melakukan tradisi ini, sehingga tidak terlalu menyulitkan.
Sekitar jam 10:30, kami berdua naik mobil pengantin menuju Cucu Bridal. Biasanya sebelum pesta, pengantin harus melakukan touch-up supaya saat pesta resepsi tetap keliatan segar dan cantik. Setelah itu, kami lanjut menuju Restaurant Sentral di Tomang. Sempet BT gara2 macet, tapi tak lama kami sampai juga di sana.
Rasanya bahagia sekali saat saya berjalan di samping Michael memasuki ruangan. Berpuluh2 bahkan beratus2 mata memandang kami. Di depan kami berdua, keponakan saya - Victoria - dan keponakan Michael - Samantha - berjalan dengan bangga sambil menabur-naburkan kertas kilap2 kecil sepanjang karpet merah. Setelah sampai di depan, kami dan para orang tua menempati posisi masing2. Setelah acara pemotongan kue pengantin, kami memberikan kue pengantin ke para orang tua. Setelah itu, kami saling memberikan kue pengantin, dan terakhir adalah Wedding Kiss. Malu rasanya diliat sebegitu banyak orang. Tapi, apa mo dikata, memang itu yang harus kami lakukan. Deg2an rasanya saat bibir kami saling mengecup. Dan selesai sudah. Indah. Indah sekali.
Lelah. Itu yang kami rasakan bersama. Tapi kami bahagia. Acara dapat kami selesaikan dengan baik. Dan kami pun siap pulang ke rumah untuk melakukan teh-pai dengan keluarga Michael. Setelah acara teh-pai, kami berfoto di kamar pengantin. Walaupun letih, kami berhasil melakukan dengan cukup baik. Dan, kali ini, selesai semuanya.
Malam Pertama.
Indah. Seindah yang selalu kami bayangkan. Bahagia rasanya menatap dirinya terbaring di sisi saya. Bahagia rasanya memeluk dirinya tanpa takut harus melepasnya lagi untuk pulang ke rumah. Bahagia rasanya saat tahu bahwa kami berdua sudah menjadi satu. Satu hati. Satu cinta.
Dedicated to Michael, my husband.
I'll never regret the day you became mine.
I love you, for the rest of my life.
Falling for You
Falling for You
Rasanya deg-degan banget waktu bangun pagi. Hari itu saya cuti barengan kekasih saya. Kami bakal test make-up di Cucu Bridal di Mangga Besar. Seminggu yang lalu, staf di Cucu Bridal tempat saya nanti make-up untuk pernikahan, sudah menelepon untuk mengingatkan janji kami test make-up sekaligus foto pengantin. Dan, gak terasa, saatnya udah tiba.
Sambil menunggu Michael dateng, saya mandi, makan pagi dan mencoba menyibukkan diri. Tapi rasa deg-degan ini gak hilang juga. Saya mondar-mandir ke sana ke mari, tapi gak ada yang bisa saya lakukan. Gak lama, Michael dateng juga. Dan, kami mulai sibuk memilah barang mana yang mau dibawa, barengan dengan Mama saya.
Sesampai di Cucu Bridal, kami langsung milih jas pengantin untuk Michael. Masih sibuk memilih jas, saya udah dipanggil untuk make-up. Jadi, saya udah gak tau lagi gimana kesibukan Michael memilih jas. Mama saya yang sibuk bantuin Michael. Mama emang sengaja saya ajak, supaya bisa bantuin saya saat memakai gaun pengantin. Kan Mama yang bikin gaunnya. ^-^
Sebentar2, Mama melongok masuk ke dalam melihat hasil dandanan saya. Gak lama, Michael juga masuk, untuk make-up pengantin pria. Saya senyum2 ngeliat dia bengong. Saya yakin banget kalo dia pasti gak suka sama dandanan saya. Dari awal kami bicara soal make-up, dia udah bilang kalo dia gak mau saya tampil dengan make-up yang berlebihan. Dia bilang, "Aku suka kamu dandan yang natural. Tipis-tipis aja. Kamu jauh lebih cantik kalo gak pake dandanan tebal." Makanya, saya udah berasa kalo saat dia liat dandanan saya, dia bakal gak sukaaaaa banget. Dia sih gak lama dandannya. Setelah selesai, dia langsung nunggu di depan. Pas saya keluar ruangan untuk ke bagian tata rambut, saya bisa ngeliat kekecewaan di wajahnya. Tapi saya gak peduli. Saya malah sibuk ngeliatin dia yang wajahnya jadi tambah keren. Hehehe...
Kami sama2 menuju bagian tata rambut. Pelan-pelan rambut saya disanggul, lalu kami sama2 milih rambut palsu yang cocok dengan dandanan plus bentuk wajah saya. Setelah itu, rambut saya disemprot pake multi-colour hair spray agar sewarna dengan rambut palsunya. Dan gak lama kemudian, saya sudah tampil cantik. Giliran Michael yang di-blow.
Saya dan Mama langsung menuju ruang make-up lagi. Saatnya saya milih crown, slayer dan accesories. Saya masuk. 2 orang staf udah nunggu di dalam. Mereka membantu saya memakai gaun pengantin. Setelah itu, crown dipilih. Kebetulan Mama sudah membawa crown, slayer dan accesories sendiri, karena takut kalau pilihan di Cucu Bridal tidak sesuai dengan warna gaun pengantin. Slayer-nya pun baru semalam ditaburi berlian2 kecil. Tapi setelah disesuaikan, ternyata crown dan accesories dari Cucu Bridal sudah bagus. Cuma slayer-nya saja yang kurang cocok. Akhirnya slayer buatan Mama saya yang dipakai.
Setelah siap, saya langsung keluar ruangan menemui Michael yang sudah siap dengan jas lengkap. Kali ini, saya bisa merasakan tatapan kekaguman yang terpancar dari matanya. Dan, kami berdua jalan menuju studio foto yang ada di ruko depan jalan Mangga Besar.
Setelah menunggu 1 jam, kami berdua siap untuk difoto. 2 pose pertama yang paling saya ingat, saat Michael memakaikan wedding ring di jari manis saya, dan saat saya memakaikan wedding ring di jari manis Michael. Indah. Pose selanjutnya mulai kabur. Yang pasti, Michael grogi. Maklum, dia gak pernah foto studio. Sedangkan saya udah beberapa kali foto studio. Cuma di awal2 foto, saya agak kaku. Tapi selebihnya, saya mulai relax. Berkali-kali Michael mengeluh, "Aku tegang banget nih. Kamu sih enak, udah biasa." Hehehe...
Satu moment indah saat Michael foto sendiri. Saya disuruh mundur karena "Pengantin pria foto sendirian." Saya langsung mundur, membiarkan Michael sendirian duduk sambil disorot lampu kamera. Saat itu, saya terpana. Entah apa yang sedang terjadi. Saya melihat Michael duduk, menatap saya - bukan memandang kamera - sambil tersenyum penuh cinta pada saya. Dan, saya merasakan suatu perasaan yang pernah muncul saat saya pertama kali mengenal Michael. Tanpa diduga, saya jatuh cinta lagi. Indah. Indah saat saya merasakan jatuh cinta lagi, yang melambungkan saya ke awan, yang berbunga-bunga dan penuh warna, yang menghilangkan segala sakit dan pedih, dan membuat saya jatuh ke pelukannya. Selalu... untuk selamanya.
Dedicated to Michael, my love.
Only you in the world can make me feel this way...
I'm falling in love, for the second time...
Falling for you, my love.
Rasanya deg-degan banget waktu bangun pagi. Hari itu saya cuti barengan kekasih saya. Kami bakal test make-up di Cucu Bridal di Mangga Besar. Seminggu yang lalu, staf di Cucu Bridal tempat saya nanti make-up untuk pernikahan, sudah menelepon untuk mengingatkan janji kami test make-up sekaligus foto pengantin. Dan, gak terasa, saatnya udah tiba.
Sambil menunggu Michael dateng, saya mandi, makan pagi dan mencoba menyibukkan diri. Tapi rasa deg-degan ini gak hilang juga. Saya mondar-mandir ke sana ke mari, tapi gak ada yang bisa saya lakukan. Gak lama, Michael dateng juga. Dan, kami mulai sibuk memilah barang mana yang mau dibawa, barengan dengan Mama saya.
Sesampai di Cucu Bridal, kami langsung milih jas pengantin untuk Michael. Masih sibuk memilih jas, saya udah dipanggil untuk make-up. Jadi, saya udah gak tau lagi gimana kesibukan Michael memilih jas. Mama saya yang sibuk bantuin Michael. Mama emang sengaja saya ajak, supaya bisa bantuin saya saat memakai gaun pengantin. Kan Mama yang bikin gaunnya. ^-^
Sebentar2, Mama melongok masuk ke dalam melihat hasil dandanan saya. Gak lama, Michael juga masuk, untuk make-up pengantin pria. Saya senyum2 ngeliat dia bengong. Saya yakin banget kalo dia pasti gak suka sama dandanan saya. Dari awal kami bicara soal make-up, dia udah bilang kalo dia gak mau saya tampil dengan make-up yang berlebihan. Dia bilang, "Aku suka kamu dandan yang natural. Tipis-tipis aja. Kamu jauh lebih cantik kalo gak pake dandanan tebal." Makanya, saya udah berasa kalo saat dia liat dandanan saya, dia bakal gak sukaaaaa banget. Dia sih gak lama dandannya. Setelah selesai, dia langsung nunggu di depan. Pas saya keluar ruangan untuk ke bagian tata rambut, saya bisa ngeliat kekecewaan di wajahnya. Tapi saya gak peduli. Saya malah sibuk ngeliatin dia yang wajahnya jadi tambah keren. Hehehe...
Kami sama2 menuju bagian tata rambut. Pelan-pelan rambut saya disanggul, lalu kami sama2 milih rambut palsu yang cocok dengan dandanan plus bentuk wajah saya. Setelah itu, rambut saya disemprot pake multi-colour hair spray agar sewarna dengan rambut palsunya. Dan gak lama kemudian, saya sudah tampil cantik. Giliran Michael yang di-blow.
Saya dan Mama langsung menuju ruang make-up lagi. Saatnya saya milih crown, slayer dan accesories. Saya masuk. 2 orang staf udah nunggu di dalam. Mereka membantu saya memakai gaun pengantin. Setelah itu, crown dipilih. Kebetulan Mama sudah membawa crown, slayer dan accesories sendiri, karena takut kalau pilihan di Cucu Bridal tidak sesuai dengan warna gaun pengantin. Slayer-nya pun baru semalam ditaburi berlian2 kecil. Tapi setelah disesuaikan, ternyata crown dan accesories dari Cucu Bridal sudah bagus. Cuma slayer-nya saja yang kurang cocok. Akhirnya slayer buatan Mama saya yang dipakai.
Setelah siap, saya langsung keluar ruangan menemui Michael yang sudah siap dengan jas lengkap. Kali ini, saya bisa merasakan tatapan kekaguman yang terpancar dari matanya. Dan, kami berdua jalan menuju studio foto yang ada di ruko depan jalan Mangga Besar.
Setelah menunggu 1 jam, kami berdua siap untuk difoto. 2 pose pertama yang paling saya ingat, saat Michael memakaikan wedding ring di jari manis saya, dan saat saya memakaikan wedding ring di jari manis Michael. Indah. Pose selanjutnya mulai kabur. Yang pasti, Michael grogi. Maklum, dia gak pernah foto studio. Sedangkan saya udah beberapa kali foto studio. Cuma di awal2 foto, saya agak kaku. Tapi selebihnya, saya mulai relax. Berkali-kali Michael mengeluh, "Aku tegang banget nih. Kamu sih enak, udah biasa." Hehehe...
Satu moment indah saat Michael foto sendiri. Saya disuruh mundur karena "Pengantin pria foto sendirian." Saya langsung mundur, membiarkan Michael sendirian duduk sambil disorot lampu kamera. Saat itu, saya terpana. Entah apa yang sedang terjadi. Saya melihat Michael duduk, menatap saya - bukan memandang kamera - sambil tersenyum penuh cinta pada saya. Dan, saya merasakan suatu perasaan yang pernah muncul saat saya pertama kali mengenal Michael. Tanpa diduga, saya jatuh cinta lagi. Indah. Indah saat saya merasakan jatuh cinta lagi, yang melambungkan saya ke awan, yang berbunga-bunga dan penuh warna, yang menghilangkan segala sakit dan pedih, dan membuat saya jatuh ke pelukannya. Selalu... untuk selamanya.
Dedicated to Michael, my love.
Only you in the world can make me feel this way...
I'm falling in love, for the second time...
Falling for you, my love.
Nobody But You
Nobody But You
Selama ini saya mengira kalo kekasih saya itu gak pernah mengkhawatirkan apa pun. Dia selalu tenang. Gak pernah grasa-grusu. Gak pernah cemburuan. Pokoknya bener-bener tenang. Dia sendiri pernah bilang kalo dia gak takut kehilangan saya. Dia yakin kalo saya gak akan ninggalin dia atau melakukan hal-hal yang akan menyakitkan dia. Tapi ternyata ada hal yang selama ini dia ingin saya lakukan untuknya.
Tepat pukul 00:00 dini hari, handphone saya berbunyi nyaring. "Happy Birthday, Sayang," suara mesranya membangunkan saya tepat di hari ulang tahun saya. Senang rasanya mendapat ucapan selamat pertama kali dari kekasih tercinta. Setelah itu menyambung sms dari Papa saya. Padahal si Papa kan lagi di kamar bawah, tapi sempet-sempetnya ngasih ucapan via sms. Setelah itu, teman kantor saya yang lucu juga menyempatkan diri sms saat hampir jam 1 pagi. Karena ini hari Sabtu, jadi saya gak kerja. Makanya dia mesti pake sms. Anyway, hari ulang tahun saya yang ke-27 diawali dengan sangat bahagia.
Jam 8 kurang, doi udah datang. Padahal saya lagi asyik mandi. Sekeluar dari kamar mandi, doi udah berdiri manis sambil menyembunyikan tangannya ke belakang. Sekuntum mawar merah yang cantik tak lama menjadi milik saya. Senang rasanya, walaupun saya tahu kalau dia gak sempat membeli kado untuk saya, mawar itu sudah lebih dari cukup buat saya. Apalagi dia juga udah ngasih voucher makan di Domus Restaurant yang dia dapat dari point Amex Credit Card. Dia juga menyempatkan diri untuk membuat kartu ulang tahun yang manis. Setelah itu saya dipanggil Mama saya untuk membicarakan masalah barang-barang yang akan dibawa ke rumah kami. Lagi asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba doi manggil. Di tangannya udah ada roti coklat dikasih lilin kecil warna pink. Lucu. Gak nyangka. Surprise. Pokoknya terharu biru deh. Make a wish. Fhuuuh, lilin pun saya tiup. Langsung saya peluk dan cium dia, "Makasih Sayang..."
Setelah itu, kami berdua berangkat ke rumah kami. Sesampai di sana, saya langsung beresin barang-barang yang kami bawa. Tak lama, Papa saya udah telpon. Mereka semua udah nunggu kami di Glosis, Mal Puri Indah. Kami emang rencana untuk makan bareng, sekaligus merayakan ultah kakak saya, adik saya dan saya, yang berulang tahun di bulan yang sama. Setelah menikmati makan enak, kami berdua balik lagi ke rumah. Melanjutkan beres-beres yang tertunda.
Senang rasanya menikmati kebersamaan kami. Saya membereskan kaset-kaset koleksi saya, dia tiduran membaca buku-buku saya yang udah disimpan di rak buku. Kami saling bercanda, saling menikmati rumah kami. Gak sabar rasanya untuk tinggal bareng di rumah.
Hampir jam 4 sore. Selesai mandi, saya masih sibuk beres-beres di dapur. Secepat kilat deh, soalnya kami mau langsung Candle Light Dinner di Domus Restaurant. Setelah selesai, saya langsung ke kamar tidur untuk mengambil tas saya. 'Loh? Kenapa kartu ulang tahunnya ada di ranjang? Rasanya saya gak ngeluarin kartu itu dari tas? Tapi??? Kok kartunya beda?' Saya perlahan mendekati ranjang untuk melihat kartu itu lebih dekat. Di balik kartu itu ada sebuah kotak berwarna merah yang cantik sekali. Perlahan saya baca isi kartu itu. Tertulis di dalamnya kata-kata indah dari Michael. "To My Sweetheart, You're a lovely girlfriend. * Time really flies when I'm with you. But I hope time can stop still for this day, so I can see your beautiful happy face all the time.* Michael."
Tersedu-sedu saya di samping ranjang. Sambil berlutut menikmati indahnya cinta. Masih terisak-isak, saya berdiri dan langsung memeluk Michael yang sudah beberapa waktu berdiri di depan pintu. Michael memeluk saya dengan erat, menenangkan saya yang masih meneteskan air mata. Lalu, dia mengajak saya untuk membuka hadiah darinya.
Saya bukan tipe cewe yang suka pake kalung, pake arloji, pake gelang, dan sebagainya. Tangan saya selalu polos, tanpa embel-embel. Saya cuma pake arloji kalo saya pergi ke pesta atau pergi makan di restaurant yang keren. Dan saya cuma punya 1 arloji. Itu pun bukan saya yang beli. Sebelum kenal dengan Michael, saya pernah dekat dengan seorang pria. Entah bagaimana, saat ulang tahun saya yang ke-25, dia membelikan saya hadiah arloji yang mahal. Dan, arloji itu yang selalu saya pakai ke pesta atau ke restaurant.
Saat saya membuka kotak berwarna merah itu, saya melihat arloji yang cantik sekali. Takjub rasanya. Saya gak nyangka kalo dia begitu sayangnya sama saya, sampai membelikan barang sebagus itu. Saya ambil arloji itu dan langsung saya minta dia pakaikan. Cara pakainya unik, karena bentuk talinya yang seperti ban pinggang. Pokoknya bagus banget deh. Terus terang, saya masih merasa takjub. Sampai saat ini pun, sembari menulis kisah ini, saya masih diliputi rasa takjub.
Satu kalimat yang diucapkan Michael membuat saya yakin kalau dia selama ini pun punya sedikit rasa gak nyaman, entah itu yang namanya cemburu atau bukan. Dia cuma mengatakan, "Mulai sekarang, kamu gak perlu lagi pake arloji yang dikasih sama orang lain." Saya sadar, dia gak ingin ada yang lain. Cuma dia. Gak ada yang lain. Dan itu yang akan selalu saya berikan padanya seumur hidup. Cinta saya hanya untuk dia. Gak ada yang lain.
Dedicated to Michael.
Thank you for the:
* 00:00 first call
* hugs and kisses
* sweet red rose
* yummy chocolate croissant
* cute candle
* beautiful watch
* nice candle light dinner (excluding the glass accident... ^-^)
* the beautiful wedding rings (I Love You, Honey...)
* delicious your-Mom-made marmer cake (always the best...)
I can't wait to see what my next surprise on my next year birthday.
^-*
Selama ini saya mengira kalo kekasih saya itu gak pernah mengkhawatirkan apa pun. Dia selalu tenang. Gak pernah grasa-grusu. Gak pernah cemburuan. Pokoknya bener-bener tenang. Dia sendiri pernah bilang kalo dia gak takut kehilangan saya. Dia yakin kalo saya gak akan ninggalin dia atau melakukan hal-hal yang akan menyakitkan dia. Tapi ternyata ada hal yang selama ini dia ingin saya lakukan untuknya.
Tepat pukul 00:00 dini hari, handphone saya berbunyi nyaring. "Happy Birthday, Sayang," suara mesranya membangunkan saya tepat di hari ulang tahun saya. Senang rasanya mendapat ucapan selamat pertama kali dari kekasih tercinta. Setelah itu menyambung sms dari Papa saya. Padahal si Papa kan lagi di kamar bawah, tapi sempet-sempetnya ngasih ucapan via sms. Setelah itu, teman kantor saya yang lucu juga menyempatkan diri sms saat hampir jam 1 pagi. Karena ini hari Sabtu, jadi saya gak kerja. Makanya dia mesti pake sms. Anyway, hari ulang tahun saya yang ke-27 diawali dengan sangat bahagia.
Jam 8 kurang, doi udah datang. Padahal saya lagi asyik mandi. Sekeluar dari kamar mandi, doi udah berdiri manis sambil menyembunyikan tangannya ke belakang. Sekuntum mawar merah yang cantik tak lama menjadi milik saya. Senang rasanya, walaupun saya tahu kalau dia gak sempat membeli kado untuk saya, mawar itu sudah lebih dari cukup buat saya. Apalagi dia juga udah ngasih voucher makan di Domus Restaurant yang dia dapat dari point Amex Credit Card. Dia juga menyempatkan diri untuk membuat kartu ulang tahun yang manis. Setelah itu saya dipanggil Mama saya untuk membicarakan masalah barang-barang yang akan dibawa ke rumah kami. Lagi asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba doi manggil. Di tangannya udah ada roti coklat dikasih lilin kecil warna pink. Lucu. Gak nyangka. Surprise. Pokoknya terharu biru deh. Make a wish. Fhuuuh, lilin pun saya tiup. Langsung saya peluk dan cium dia, "Makasih Sayang..."
Setelah itu, kami berdua berangkat ke rumah kami. Sesampai di sana, saya langsung beresin barang-barang yang kami bawa. Tak lama, Papa saya udah telpon. Mereka semua udah nunggu kami di Glosis, Mal Puri Indah. Kami emang rencana untuk makan bareng, sekaligus merayakan ultah kakak saya, adik saya dan saya, yang berulang tahun di bulan yang sama. Setelah menikmati makan enak, kami berdua balik lagi ke rumah. Melanjutkan beres-beres yang tertunda.
Senang rasanya menikmati kebersamaan kami. Saya membereskan kaset-kaset koleksi saya, dia tiduran membaca buku-buku saya yang udah disimpan di rak buku. Kami saling bercanda, saling menikmati rumah kami. Gak sabar rasanya untuk tinggal bareng di rumah.
Hampir jam 4 sore. Selesai mandi, saya masih sibuk beres-beres di dapur. Secepat kilat deh, soalnya kami mau langsung Candle Light Dinner di Domus Restaurant. Setelah selesai, saya langsung ke kamar tidur untuk mengambil tas saya. 'Loh? Kenapa kartu ulang tahunnya ada di ranjang? Rasanya saya gak ngeluarin kartu itu dari tas? Tapi??? Kok kartunya beda?' Saya perlahan mendekati ranjang untuk melihat kartu itu lebih dekat. Di balik kartu itu ada sebuah kotak berwarna merah yang cantik sekali. Perlahan saya baca isi kartu itu. Tertulis di dalamnya kata-kata indah dari Michael. "To My Sweetheart, You're a lovely girlfriend. * Time really flies when I'm with you. But I hope time can stop still for this day, so I can see your beautiful happy face all the time.* Michael."
Tersedu-sedu saya di samping ranjang. Sambil berlutut menikmati indahnya cinta. Masih terisak-isak, saya berdiri dan langsung memeluk Michael yang sudah beberapa waktu berdiri di depan pintu. Michael memeluk saya dengan erat, menenangkan saya yang masih meneteskan air mata. Lalu, dia mengajak saya untuk membuka hadiah darinya.
Saya bukan tipe cewe yang suka pake kalung, pake arloji, pake gelang, dan sebagainya. Tangan saya selalu polos, tanpa embel-embel. Saya cuma pake arloji kalo saya pergi ke pesta atau pergi makan di restaurant yang keren. Dan saya cuma punya 1 arloji. Itu pun bukan saya yang beli. Sebelum kenal dengan Michael, saya pernah dekat dengan seorang pria. Entah bagaimana, saat ulang tahun saya yang ke-25, dia membelikan saya hadiah arloji yang mahal. Dan, arloji itu yang selalu saya pakai ke pesta atau ke restaurant.
Saat saya membuka kotak berwarna merah itu, saya melihat arloji yang cantik sekali. Takjub rasanya. Saya gak nyangka kalo dia begitu sayangnya sama saya, sampai membelikan barang sebagus itu. Saya ambil arloji itu dan langsung saya minta dia pakaikan. Cara pakainya unik, karena bentuk talinya yang seperti ban pinggang. Pokoknya bagus banget deh. Terus terang, saya masih merasa takjub. Sampai saat ini pun, sembari menulis kisah ini, saya masih diliputi rasa takjub.
Satu kalimat yang diucapkan Michael membuat saya yakin kalau dia selama ini pun punya sedikit rasa gak nyaman, entah itu yang namanya cemburu atau bukan. Dia cuma mengatakan, "Mulai sekarang, kamu gak perlu lagi pake arloji yang dikasih sama orang lain." Saya sadar, dia gak ingin ada yang lain. Cuma dia. Gak ada yang lain. Dan itu yang akan selalu saya berikan padanya seumur hidup. Cinta saya hanya untuk dia. Gak ada yang lain.
Dedicated to Michael.
Thank you for the:
* 00:00 first call
* hugs and kisses
* sweet red rose
* yummy chocolate croissant
* cute candle
* beautiful watch
* nice candle light dinner (excluding the glass accident... ^-^)
* the beautiful wedding rings (I Love You, Honey...)
* delicious your-Mom-made marmer cake (always the best...)
I can't wait to see what my next surprise on my next year birthday.
^-*
Stronger than Ever
Stronger than Ever
30 Mei 2003, pagi-pagi, saya dan kekasih saya mulai hunting mencari furniture untuk melengkapi rumah kami nanti. Ketemu Toko Anugrah di sepanjang jalan KH. Hasyim Ashari (Roxy). Setelah tawar-menawar, akhirnya hari itu kami jadi juga DP untuk satu set kamar pengantin plus meja makan. Dengan harga tidak terlalu mahal, kami mendapat ranjang kayu beserta spring bed, meja rias, lemari pakaian 3 pintu, plus meja makan 4 kursi. Betapa leganya kami berdua telah menyelesaikan satu tahap dari beberapa tahap kegiatan yang harus kami lakukan.
01 Juni 2003, disertai kedua orang tua saya, kami mendatangi Sentral Restaurant untuk memilih kartu undangan dan kue pengantin. Setelah melihat-lihat, saya akhirnya menjatuhkan pilihan pada kartu undangan berwarna pink muda yang simple dan manis. Untuk kue pengantinnya, saya memilih kue pengantin dari Libra Cake yang sederhana tapi indah.
07 Juni 2003, AC mobil Michael gak dingin. Terpaksa dibawa ke bengkel AC. Menurut pemilik bengkel, AC-nya harus di-service dan diganti sana-sini. Kira-kira bisa habis 500 ribu lebih. Stress banget deh dengernya. Tapi, kami memilih untuk menunda service tersebut. Saya masih punya cara lain, mengecek di kantor. Kebetulan kantor saya punya teknisi mobil yang cukup handal. Siapa tahu...
13 Juni 2003, AC mobil Michael ternyata cuma rusak di switch 123-nya. Setelah diganti dan diisi freon, AC-nya udah dingin lagi. Gak butuh banyak biaya. Cuma perlu 65 ribu ajah. ^-^
14 Juni 2003, urusan surat pengantar dari Ketua Lingkungan untuk Pemberkatan Pernikahan beres sudah. Padahal saya udah stress berat, gara-gara minggu lalu Ketua Lingkungannya gak di rumah, dan pagi tadi beliau malah belum bikin sama sekali. Tapi siang ini, surat tersebut sudah jadi. Senangnya... Dan sore itu kami pun pergi ke Gereja untuk Kursus Persiapan Perkawinan (KPP).
15 Juni 2003, mobil Michael ngadat lagi. Jalannya ndut-ndutan. Bikin stress. Terpaksa deh, setelah KPP, dibawa ke bengkel resmi Suzuki daerah Kelapa Gading. Kebetulan dulu Michael selalu ke sana. Setelah jalan sama saya, baru dia urus mobilnya ke bengkel langganan Papa di Ciledug. Tapi, tetep ajah dia butuh second opinion. So, dibawalah mobil itu ke sana. Menurut bengkel Kelapa Gading tersebut, ada spare-part yang mesti diganti, dan harganya 975 ribu. Buseeeeeeet... pucat pasi deh wajah kami berdua saat itu. Setelah mikir sana-sini, kami sepakat untuk menunda hal itu. Biarlah kami ber-ndut-ndutan ria selama beberapa lama, daripada mengeluarkan ongkos yang segitu guedenya...
16 Juni 2003, Papa saya meminta bantuan montir langganan beliau yang di Ciledug untuk memeriksa kondisi mobil Michael. Dan keliatannya gak ada masalah besar. Cuma butuh dicek aja, dan harus dilakukan di bengkelnya di Ciledug. So, janjian deh untuk ke sana.
18 Juni 2003, Michael penuhi syarat untuk pindah rumah. Pagi-pagi sekali saya jemput Michael dan orang tuanya menuju rumah kami. Setelah syarat dipenuhi, kami pun pulang. Kebetulan kami berdua minta cuti hari itu. Seharian kami bersenang-senang. Sambil menunggu Michael dengan urusannya, saya mampir ke Smailing Tour untuk melihat-lihat. Setelah itu, kami menuju Mal Ciputra untuk nonton MATRIX RELOADED. Well... gak nyesel deh... Seruuuuuuuuu buangets... ^-^
21 Juni 2003, pagi-pagi kami pergi ke Ciledug untuk beresin mobil. Dan ternyata, kabel businya ada 1 yang putus. Setelah diganti (sang montir punya cadangan 1 kabel busi yang berwarna kuning cerah), jalanlah mobil tersebut dengan lancar. Kami pun meninggalkan bengkel tersebut dengan hanya membayar 20 ribu untuk ongkos, itu pun diterima dengan terpaksa oleh si montir. Montir itu memang sering tidak memberikan charge untuk pelayanannya, karena beliau sudah kenal Papa saya sejak saya belum lahir, sehingga beliau tidak enak kalau harus kasih harga untuk service kecil-kecilan. ^-^
Kami langsung mengunjungi rumah untuk beres-beres. Ternyata Papa dan Mama saya udah ada di sana. Mereka sedang sibuk memasang besi untuk gorden. Saya dan Michael lalu turun tangan membantu mereka. Saya dan Mama sibuk menyapu dan mengepel lantai, sedangkan Michael membantu Papa saya membuat kawat nyamuk kecil untuk lubang-lubang angin di dinding atas pintu rumah.
Setelah beres, Papa dan Mama pulang duluan. Ditinggallah saya dan Michael berdua untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih ada. Sekitar jam 14:30 kami pulang. Mandi. Lanjut KPP deh.
22 Juni 2003, dengan badan pegal-pegal, kami KPP hari terakhir. Setelah itu, langsung ke rumah untuk pasang ranjang. Seharian lagi, kami menemani sang tukang memasang ranjang, meja rias, lemari pakaian dan meja makan. Cape, tapi seru!
Tiba-tiba ada orang memanggil-manggil di luar. Setelah saya hampiri, ternyata orang dari Telkom. Gak disangka-sangka, permintaan pasang baru telepon yang saya lakukan 03 Juni 2003, sudah dapat jawaban. Kami tinggal membayar biaya pasang baru di Telkom BSD, langsung dapat nomor telepon. Padahal tetangga saya butuh waktu 6 bulan untuk pasang telepon.
24 Juni 2003, iseng-iseng telepon ke Bank NISP untuk menanyakan soal KPR yang sudah diajukan 13 hari yang lalu. Wah, senangnya... Gak disangka kalo KPR Michael udah disetujui, tinggal tunggu BI Checking aja (lagi ada connection problem di BI, sehingga butuh waktu lebih lama). Abis itu, bisa langsung KPR selama 5 tahun untuk melunasi rumah kami. ^-^
Berkat Tuhan tidak pernah berhenti...
Dari setiap masalah yang Tuhan berikan, selalu ada masalah lain yang terpecahkan. Dari masalah yang paling sulit sampai masalah yang paling simple, semua terpecahkan satu persatu. Satu persatu. Masih banyak hal dan kegiatan lain yang harus kami lakukan. Masih banyak masalah yang akan muncul dalam perjalanan kami menuju pernikahan. Tapi kami yakin, selalu akan muncul pemecahan untuk setiap masalah kami.
Dedicated to Michael.
I believe that each and every problem will make our LOVE stronger than ever.
I love you.
^-^
30 Mei 2003, pagi-pagi, saya dan kekasih saya mulai hunting mencari furniture untuk melengkapi rumah kami nanti. Ketemu Toko Anugrah di sepanjang jalan KH. Hasyim Ashari (Roxy). Setelah tawar-menawar, akhirnya hari itu kami jadi juga DP untuk satu set kamar pengantin plus meja makan. Dengan harga tidak terlalu mahal, kami mendapat ranjang kayu beserta spring bed, meja rias, lemari pakaian 3 pintu, plus meja makan 4 kursi. Betapa leganya kami berdua telah menyelesaikan satu tahap dari beberapa tahap kegiatan yang harus kami lakukan.
01 Juni 2003, disertai kedua orang tua saya, kami mendatangi Sentral Restaurant untuk memilih kartu undangan dan kue pengantin. Setelah melihat-lihat, saya akhirnya menjatuhkan pilihan pada kartu undangan berwarna pink muda yang simple dan manis. Untuk kue pengantinnya, saya memilih kue pengantin dari Libra Cake yang sederhana tapi indah.
07 Juni 2003, AC mobil Michael gak dingin. Terpaksa dibawa ke bengkel AC. Menurut pemilik bengkel, AC-nya harus di-service dan diganti sana-sini. Kira-kira bisa habis 500 ribu lebih. Stress banget deh dengernya. Tapi, kami memilih untuk menunda service tersebut. Saya masih punya cara lain, mengecek di kantor. Kebetulan kantor saya punya teknisi mobil yang cukup handal. Siapa tahu...
13 Juni 2003, AC mobil Michael ternyata cuma rusak di switch 123-nya. Setelah diganti dan diisi freon, AC-nya udah dingin lagi. Gak butuh banyak biaya. Cuma perlu 65 ribu ajah. ^-^
14 Juni 2003, urusan surat pengantar dari Ketua Lingkungan untuk Pemberkatan Pernikahan beres sudah. Padahal saya udah stress berat, gara-gara minggu lalu Ketua Lingkungannya gak di rumah, dan pagi tadi beliau malah belum bikin sama sekali. Tapi siang ini, surat tersebut sudah jadi. Senangnya... Dan sore itu kami pun pergi ke Gereja untuk Kursus Persiapan Perkawinan (KPP).
15 Juni 2003, mobil Michael ngadat lagi. Jalannya ndut-ndutan. Bikin stress. Terpaksa deh, setelah KPP, dibawa ke bengkel resmi Suzuki daerah Kelapa Gading. Kebetulan dulu Michael selalu ke sana. Setelah jalan sama saya, baru dia urus mobilnya ke bengkel langganan Papa di Ciledug. Tapi, tetep ajah dia butuh second opinion. So, dibawalah mobil itu ke sana. Menurut bengkel Kelapa Gading tersebut, ada spare-part yang mesti diganti, dan harganya 975 ribu. Buseeeeeeet... pucat pasi deh wajah kami berdua saat itu. Setelah mikir sana-sini, kami sepakat untuk menunda hal itu. Biarlah kami ber-ndut-ndutan ria selama beberapa lama, daripada mengeluarkan ongkos yang segitu guedenya...
16 Juni 2003, Papa saya meminta bantuan montir langganan beliau yang di Ciledug untuk memeriksa kondisi mobil Michael. Dan keliatannya gak ada masalah besar. Cuma butuh dicek aja, dan harus dilakukan di bengkelnya di Ciledug. So, janjian deh untuk ke sana.
18 Juni 2003, Michael penuhi syarat untuk pindah rumah. Pagi-pagi sekali saya jemput Michael dan orang tuanya menuju rumah kami. Setelah syarat dipenuhi, kami pun pulang. Kebetulan kami berdua minta cuti hari itu. Seharian kami bersenang-senang. Sambil menunggu Michael dengan urusannya, saya mampir ke Smailing Tour untuk melihat-lihat. Setelah itu, kami menuju Mal Ciputra untuk nonton MATRIX RELOADED. Well... gak nyesel deh... Seruuuuuuuuu buangets... ^-^
21 Juni 2003, pagi-pagi kami pergi ke Ciledug untuk beresin mobil. Dan ternyata, kabel businya ada 1 yang putus. Setelah diganti (sang montir punya cadangan 1 kabel busi yang berwarna kuning cerah), jalanlah mobil tersebut dengan lancar. Kami pun meninggalkan bengkel tersebut dengan hanya membayar 20 ribu untuk ongkos, itu pun diterima dengan terpaksa oleh si montir. Montir itu memang sering tidak memberikan charge untuk pelayanannya, karena beliau sudah kenal Papa saya sejak saya belum lahir, sehingga beliau tidak enak kalau harus kasih harga untuk service kecil-kecilan. ^-^
Kami langsung mengunjungi rumah untuk beres-beres. Ternyata Papa dan Mama saya udah ada di sana. Mereka sedang sibuk memasang besi untuk gorden. Saya dan Michael lalu turun tangan membantu mereka. Saya dan Mama sibuk menyapu dan mengepel lantai, sedangkan Michael membantu Papa saya membuat kawat nyamuk kecil untuk lubang-lubang angin di dinding atas pintu rumah.
Setelah beres, Papa dan Mama pulang duluan. Ditinggallah saya dan Michael berdua untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih ada. Sekitar jam 14:30 kami pulang. Mandi. Lanjut KPP deh.
22 Juni 2003, dengan badan pegal-pegal, kami KPP hari terakhir. Setelah itu, langsung ke rumah untuk pasang ranjang. Seharian lagi, kami menemani sang tukang memasang ranjang, meja rias, lemari pakaian dan meja makan. Cape, tapi seru!
Tiba-tiba ada orang memanggil-manggil di luar. Setelah saya hampiri, ternyata orang dari Telkom. Gak disangka-sangka, permintaan pasang baru telepon yang saya lakukan 03 Juni 2003, sudah dapat jawaban. Kami tinggal membayar biaya pasang baru di Telkom BSD, langsung dapat nomor telepon. Padahal tetangga saya butuh waktu 6 bulan untuk pasang telepon.
24 Juni 2003, iseng-iseng telepon ke Bank NISP untuk menanyakan soal KPR yang sudah diajukan 13 hari yang lalu. Wah, senangnya... Gak disangka kalo KPR Michael udah disetujui, tinggal tunggu BI Checking aja (lagi ada connection problem di BI, sehingga butuh waktu lebih lama). Abis itu, bisa langsung KPR selama 5 tahun untuk melunasi rumah kami. ^-^
Berkat Tuhan tidak pernah berhenti...
Dari setiap masalah yang Tuhan berikan, selalu ada masalah lain yang terpecahkan. Dari masalah yang paling sulit sampai masalah yang paling simple, semua terpecahkan satu persatu. Satu persatu. Masih banyak hal dan kegiatan lain yang harus kami lakukan. Masih banyak masalah yang akan muncul dalam perjalanan kami menuju pernikahan. Tapi kami yakin, selalu akan muncul pemecahan untuk setiap masalah kami.
Dedicated to Michael.
I believe that each and every problem will make our LOVE stronger than ever.
I love you.
^-^
Subscribe to:
Posts (Atom)







