Pernikahan Menakutkan bagi Kaum Pria?
Pernyataan di atas ternyata tidak sepenuhnya benar. Dari dulu saya selalu tertawa jika membaca cerita atau mendengar kisah di mana ada seorang wanita yang sudah bosan dengan kekasihnya, malahan meminta kekasihnya untuk segera menikahinya. Dan benar saja, tidak lama kemudian kekasihnya langsung memutuskan wanita tersebut, dan si wanita dengan senang berlenggang-kangkung mencari kekasih lain.
Selama ini saya menganggap itu adalah sesuatu yang benar adanya. Di mana seorang pria, berapa pun usianya, berapa pun kematangannya, selalu melihat pernikahan itu sebagai suatu hal yang MENAKUTKAN.
Padahal... tidak benar!!!
Saya bisa mengatakan itu tidak benar, karena bisa dibilang saya pernah mengalaminya sendiri.
Saat ini saya dan kekasih saya sudah sangat serius menjalani hubungan cinta. Dan kami berdua sudah sama-sama yakin bahwa kami memang ditakdirkan untuk bersama.
Dari awalnya, saya menyangka kalau dia pasti takut jika membicarakan hal pernikahan. Bukankah pria itu takut dengan yang namanya menikah? Bukankah pria itu takut diikat dengan komitmen seumur hidup? Sayang sekali, ternyata dia bukan tipe pria yang seperti itu. Malahan dia yang bersemangat sekali untuk menikahi saya. Dan ternyata, saya yang ketakutan menghadapi pernikahan kami. =(
Apa sih sebenarnya yang saya takutkan?
Banyak hal. Dari masalah pesta pernikahannya, sampai dengan saat nanti kami menjalani hidup.
Saat saya baru mengenalnya, kami memang sudah membicarakan masalah pernikahan. Waktu itu bahkan saya merasa, kok masih jauh yah... Padahal saya sudah ingin membahagiakan orang tua saya dengan pernikahan kami. Lalu kami dibebani dengan masalah rumah. Tapi Tuhan memberkati kami berdua. Saat ini kami sudah memiliki rumah sendiri. Walaupun kecil dan masih harus mencicil bertahun-tahun, rasanya lega sekali bisa mempunyai tempat untuk kami dan anak-anak kami tinggal nantinya.
Dengan berlalunya hari demi hari, gak terasa sudah hampir mendekati waktunya. Kami segera mencari tempat untuk resepsi (walaupun kami hanya mengundang saudara dekat), dan sayang sekali, waktunya tidak sesuai dengan yang kami inginkan. Itu artinya kami tidak dapat melakukan Sakramen Pernikahan pada hari yang sama.
Terus terang, waktu itu kami belum mendaftar ke gereja saya, karena masih ada sedikit kendala. Tapi lagi-lagi Tuhan memberkati kami. Ternyata masih ada tempat untuk kami melakukan Sakramen Pernikahan di gereja saya. Jadi, masalah tempat resepsi dan gereja sudah beres. Legalah saya.
Selesai masalah itu, ternyata masih ada masalah lain. Masalah materi. Kami mulai sibuk menghitung biaya kredit rumah, biaya notaris, biaya renovasi rumah, biaya honeymoon, biaya hidup sehari-hari, biaya persalinan anak, biaya susu, biaya... biaya... biaya... Kenapa kata biaya itu tak ada habis-habisnya berkumandang di telinga saya???
Dan, saya trauma... Saya benar-benar gak menyangka kalau hidup dalam suatu pernikahan itu bukan akhir dari masalah saya selama ini sebagai single-person. Pernikahan itu ternyata mengakhiri semua problems saya sebagai single-person, tetapi mulai memunculkan problems baru saya sebagai married-woman. Walhasil, saya langsung panik. Saya benar-benar panik. Dan saya, tanpa pikir panjang, meminta kekasih saya untuk menunda pernikahan kami, memintanya untuk membatalkan semuanya. Saya panik!
Lalu, apa yang ia lakukan?
Ia menatap mata saya dengan lembut sambil tersenyum penuh cinta, lalu perlahan ia memeluk saya dan berkata, 'Sayang, jangan panik. Selama ini kita sudah melalui semua masalah bersama-sama, dan kali ini kita pasti akan bisa melaluinya. Cinta kita pasti bisa menembus semua masalah. Ingat, Tuhan selalu memberkati kita berdua.'
Lunturlah semua kepanikan dan ketakutan saya. Saya sadar, semua pernikahan tidak akan luput dari kerikil-kerikil kecil. Dan itu termasuk pernikahan saya. Saya ingat, Tuhan selalu memberikan masalah kepada anak-anak-Nya agar anak-anak-Nya bisa semakin mendekatkan diri dengan-Nya. Kali ini, saya percaya, ada hikmah di balik semua masalah yang Ia berikan kepada kami berdua.
Tuhan, berkati pernikahan suci kami di hadapan-Mu.
Amin.
Dedicated to Michael, my future husband.
I can't wait to be by your side for the rest of my life.