Friday, May 28, 2004

Viola, A Home for Me

Viola, A Home for Me

Masih inget dengan jelas banget, kira-kira sebulan yang lalu, saya menangis di pelukan kekasih saya. Sedih rasanya melihat harga rumah yang makin melonjak. Salah satu rumah andalan saya, Metro Permata (Ciledug, Tangerang), udah naik sampe 50 juta dalam waktu 2 bulan, cuma gara-gara waktu Februari 2002 gak ikutan kena banjir. Gimana gak meledak rasanya kepala ini!!!
Rencana kami memang membeli rumah sekitar bulan Desember. Kami memilih Metro Permata karena kedua kakak saya sudah tinggal di sana sejak menikah. Papa dan Mama saya pun sangat mendukung kalo kami pindah ke sana nanti setelah kami menikah. Tapi melihat harga rumah di sana yang melonjak gila-gilaan, saya sempet stress berat.

Sampai akhirnya satu hari, kami mencoba untuk membicarakan mengenai perumahan lain yang layak untuk dikunjungi. Kami malahan terpikir untuk membuat daftar rumah-rumah yang akan kami tinjau. Waaah, sempet seneng juga tuh. Soalnya saya jadi bersemangat banget. Apalagi setelah melihat-lihat brosur rumah yang pernah kami ambil di salah satu pameran property di JHCC. Kami rencana mengawali Sabtu kami dengan pergi ke daerah Serpong, di mana ada perumahan Gading Serpong, Vila Melati Mas, dan Bumi Serpong Damai, lalu mungkin lanjut ke daerah Cipondoh melihat rumah di Banjar Wijaya, Taman Royal dan Modernland.. Lalu hari Minggunya, mungkin kami akan ke Taman Palem Lestari, disambung dengan Griya Permata, Duta Gardenia dan Puri Metropolitan. Sabtu berikutnya, mungkin kami akan ke Cibubur untuk melihat Kota Wisata. Setelah itu, hari Minggunya, kami rencana ke Lippo Karawaci.

Tapi semua rencana itu buyar dalam sekejap. Adik laki-laki saya diterima di UI, Depok. Ambil jurusan Ilmu Komputer. Setelah Papa dan Mama saya melihat daerah Depok, mereka cenderung memuji-muji daerah Depok yang sudah semakin maju. Dalam benak saya terlintas pikiran, 'Gimana kalo coba-coba ke daerah Depok? Kabarnya, rumah di sana masih murah.' Pikiran yang melintas itu saya ceritakan ke dia, dan kami sepakat untuk langsung mendatangi daerah Depok. Di sana ada perumahan Pesona Khayangan yang lumayan berbobot. Apalagi saya sudah ikutan mengantar adik ke UI, dan melihat sendiri daerah Depok yang mulai ramai.

Cuma... lagi-lagi rencana itu gagal. Ada berita kalo di Kosambi Baru akan dipasarkan rumah baru dengan cara pembayaran yang mudah. Kebayang deh kalo bisa punya rumah di Jakarta dengan harga yang masih terjangkau. Secepat kilat berita itu saya sampaikan ke doi. Dan doi setuju aja saya ajak ke Kosambi Baru untuk melihat-lihat lokasi. Malahan kakak saya menyempatkan diri untuk menemani saya melihat-lihat perumahan lain.

Tibalah hari itu, tgl 24 Agustus 2002, kami bertiga menjelajahi berbagai perumahan. Pertama-tama kami ke Kosambi Baru. Tapi entah mengapa, saya tidak tertarik melihat daerahnya. Akhirnya kami nekat ke Taman Semanan Indah, Griya Permata, Puri Metropolitan, Puri Media Kembangan dan terakhir ke Metro Permata 1 dan 2. Setelah melihat sana-sini, kami berdua sepakat untuk berkonsentrasi pada Griya Permata karena ditinjau dari harganya, masih lumayan murah dibanding yang lain-lainnya, apalagi Griya Permata masih satu kampung sama Metro Permata. Keesokan harinya kami kembali mengunjungi Griya Permata. Setelah melihat-lihat lokasi dan kecocokan harga plus fengshui rumahnya, kami sepakat memilih satu tipe kecil dari Griya Permata, walaupun saya belum sepenuhnya yakin dengan rumah itu. Masalahnya kami masih harus mengajak kedua orang tua kami melihat rumah itu, sekalian meminta pendapat mereka.

Saking stress gara-gara mikirin rumah, saya mendadak sakit panas. Sampe-sampe doi cemas banget dengan keadaan saya. Sepulang kantor, doi menyempatkan diri untuk nengokin keadaan saya di rumah. Tapi, saya udah agak sembuh. Setelah disuruh istirahat, doi pamit pulang. Sayangnya, keesokan harinya, badan saya panas tinggi. So, saya gak masuk kerja deh. Lumayan enak, istirahat di rumah, dan kerjaan lagi gak terlalu banyak. Nah, hari itu, saya dan kedua orang tua saya plus keponakan tercinta, pergi mengunjungi Griya Permata. Eeeeh, ternyata ortu saya gak suka tuh. Kata mereka, daerahnya kurang bagus. Berantakan. Gak terurus. Waaaah, sempet kecewa berat pada saat itu. Gak disangka-sangka kalo mereka gak suka sama sekali. Saking kecewanya, saya sampe gak tau lagi mesti bilang apa. Pas udah keluar kompleks, tiba-tiba saya terpikir untuk mengajak mereka ke Puri Metropolitan. Tadinya papa saya gak mau, tapi saya bilang kalo jaraknya gak jauh, cuma tinggal belok sekali doank. So, papa mau juga diajak ke Puri Metropolitan.
Lucunya, begitu masuk ke Puri Metropolitan, mereka langsung jatuh hati. Hehehe. Gak disangka-sangka juga deh. Apalagi, saya tiba-tiba jadi ingat kalo waktu pertama liat Puri Metropolitan, saya juga udah suka. Cuma karena kelihatannya masih agak sepi, kami waktu itu gak terlalu konsentrasi ke sana.

Setelah membicarakannya dengan doi, maka kami berdua sepakat untuk mengalihkan perhatian kami ke Puri Metropolitan, apalagi didukung dengan cara pembayarannya yang lebih mudah. Jadilah minggu berikutnya, saya, doi dan kedua orang tuanya berkunjung ke sana. Luckily, kedua orang tuanya juga suka dengan Puri Metropolitan. Dan ternyata, udah cukup rame tuh...

Kami melihat-lihat beberapa tipe rumah, dan saat itu juga, saya langsung jatuh cinta pada satu tipe mungil yang manis sekali. Dengan tampak muka berwarna pink manis, membuat hati saya langsung luluh melihatnya. Apalagi didukung dengan luas tanah yang cukup besar, walaupun bangunannya tergolong mungil. Sayangnya ada ketidakcocokkan fengshui yang harus dicari solusinya. Maka kami meninggalkan Puri Metropolitan dengan perasaan sedikit kalut. Tapi, setelah beberapa lama, kami berhasil mendapatkan solusinya.

Gak bisa diungkapin dengan kata-kata, gimana senengnya saya dan doi, waktu akhirnya kami jadi membeli rumah itu. Puji Tuhan. Itu yang selalu kami berdua kumandangkan dalam hati. Kami bersyukur banget pada Tuhan, karena membuat kami sanggup mewujudkan tujuan awal kami, sebelum kami melangkah lagi ke tujuan berikutnya.

Setiap kali mengingat awal perjuangan kami, saya selalu tersenyum bahagia sambil menangis terharu. Berkat Tuhan pada saya tidak pernah berkurang, malah semakin bertambah. Mungkin banyak yang tidak percaya kalau semua kebahagiaan ini saya alami. Tapi, itu benar adanya. Semoga akan selalu saya alami seumur hidup saya. Dan semoga semua orang yang membaca ini juga akan mengalami kebahagiaan yang sedang, dan akan terus, saya alami.

Dedicated to Michael.
Thank you for 'VIOLA.'
Thank you...
Thank you...
Thank you...
Michael, I love you, always and forever.