Friday, May 28, 2004

Jack Frost

Jack Frost

Siapakah Jack Frost? Jack Frost adalah seorang ayah yang terlalu sibuk dengan urusan band musiknya sehingga terkadang lupa dengan keluarganya.

Film Jack Frost dibintangi oleh Michael Keaton sebagai Jack Frost, Kelly Preston sebagai Gaby Frost, dan Joseph Cross sebagai Charlie Frost. Satu bentuk keluarga yang harmonis dan penuh kehangatan, kalau saja Jack Frost bukan seorang suami dan ayah yang sibuk dengan band-nya.

Film tahun 1998 ini saya tonton di hari Natal ini dengan Michael, suami saya. Satu pelajaran yang kami berdua dapatkan dengan menonton film ini. Jack Frost bukan ayah yang buruk. Jack adalah ayah yang hangat, romantis dan penuh humor. Gaby sebagai istrinya begitu sangat mencintai Jack, demikian pula dengan Charlie, anak lelaki mereka satu-satunya. Di film itu benar-benar digambarkan keharmonisan keluarga mereka. Tapi semua itu hancur sudah di saat menjelang Natal, di mana Jack Frost mendapat kesempatan untuk rekaman musik oleh salah satu produser musik terkenal. Jack terpaksa membatalkan rencana berlibur mereka. Dengan kekecewaan, Charlie mengembalikan hadiah Jack berupa harmonika yang pertama kali dibeli Jack saat kelahiran Charlie. Charlie begitu kecewa karena bukan kali ini saja Jack mengingkari janji-janjinya.

Seperti kata Gaby di satu saat Jack mengingkari janjinya untuk datang ke pertandingan hockey Charlie, "Aku yang memilihmu, sehingga aku dapat menerima semua kekecewaan ini. Tapi Charlie tidak memilihmu." Itu adalah kata-kata seorang istri yang mengingatkan suaminya, bahwa sebagai istri, ia dapat menerima kekurangan suaminya karena ia yang memilih si suami untuk menjadi suaminya. Tetapi seorang anak tidak dapat memilih orangtuanya. Seorang anak tidak dapat dengan mudahnya berbesar hati menerima ingkar janji orangtuanya. Seorang anak belum memiliki toleransi sebesar itu.

Di tengah perjalanan, Jack menyadari kesalahannya. Mac, teman baiknya, juga menyadari itu. Bahkan Mac menawarkan diri untuk menepi dan membiarkan Jack pulang ke rumahnya. Sayangnya, dalam perjalanan pulang, karena salju yang tebal dan wiper mobil yang sudah rusak, Jack mengalami kecelakaan dan meninggal.

Setahun sudah berlalu sejak kepergian Jack, Charlie dan Gaby masih belum dapat menerima kepergiannya. Mereka masih sering menangis berpelukan sambil merindukan Jack. Sampai satu malam, Charlie melihat tetangganya membuat Snow Man, dan ia pun terinspirasi untuk membuat Snow Man sendiri dengan menggunakan syal dan topi Jack. Selesai membuat Snow Man, Charlie meniup harmonika pemberian Jack. Menurut Jack, saat Charlie meniup harmonika itu, ia akan selalu mendengarnya di mana pun ia berada. Charlie begitu merindukan Jack sehingga ditiupnya harmonika itu, berharap Jack akan mendengar kerinduannya.

Tiba-tiba keajaiban terjadi. Snow Man buatan Charlie, hidup. Dan Jack ada di dalamnya. Setahun meninggalkan mereka, Jack kembali dan menjelma menjadi Snow Man. Lucu bukan? Sampai di sini, kisah berlanjut menjadi lucu. Charlie bisa menerima ayahnya menjadi Snow Dad. Kelucuan-kelucuan terjadi dengan tingkah polah Jack yang terkadang masih belum terbiasa dengan tubuhnya. Jack juga memperbaiki water sink yang bocor, yang tidak pernah sempat ia perbaiki saat ia masih hidup.

Tapi semua itu hampir berakhir dengan mencairnya salju. Mereka terpaksa mencari tempat di mana salju selalu ada. Charlie meminta pertolongan Gaby, tetapi gagal karena Gaby tidak percaya bahwa Snow Man adalah Snow Dad. Akhirnya, mereka pergi ke puncak gunung dengan menumpang truk yang menuju Pine Top, di mana ada pondok tempat peristirahatan mereka yang selalu dipenuhi salju. Kelelahan, Charlie tertidur tanpa sadar bahwa Gaby mencarinya ke mana-mana. Jack sadar, kali ini ia harus pergi. Ia segera menelepon Gaby memberitahukan bahwa Charlie ada di pondok mereka. Tak percaya, Gaby mendengarkan suara yang pernah mengisi hari-harinya, muncul kembali di saat yang tidak mungkin.

"It's Christmas!!!" Charlie berseru saat ia bangun dari tidurnya. "Merry Christmas, Dad," katanya. "Merry Christmas, Charlie," jawab Jack. Jack memandang Charlie dengan penuh sayang. Dan ia berpamitan. Sudah saatnya untuk kembali. Charlie menatapnya dengan tak percaya. Charlie tidak ingin Jack pergi lagi. "Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan kami lagi," kata Charlie sambil berlinang air mata. Tapi Charlie tahu, tidak mungkin ia menahan kepergian Jack. Jack memang harus pergi, dan kali ini mungkin untuk selamanya. Di belakang Charlie, Gaby muncul dan melihat kalau semuanya memang benar. Selama ini Gaby mengira Charlie terlalu merindukan ayahnya, sampai-sampai mengira kalau Snow Man itu adalah ayahnya. Tapi di saat terakhir ini, Gaby tahu bahwa Snow Man itu adalah Jack.

Angin bertiup mengelilingi Jack. Snow Man sudah hilang, berganti dengan bayangan Jack. Gaby dan Jack saling menatap penuh cinta dan air mata. Kerinduan terlihat jelas di mata mereka. Kalau dulu Jack tidak sempat berpamitan pada Gaby, kali ini Jack mendapat kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Dan, Jack pun lenyap dari hadapan mereka.

Tidak dapat dibayangkan, air mata yang turun saat selesai menonton film ini. Saya memang tidak menyukai film tentang perpisahan. Film happy-ending saja bisa membuat saya menangis, apalagi film sad-ending. Tapi ini menjadi pelajaran buat kami berdua, mungkin juga buat semua orang yang menonton film ini. Kesempatan seperti Jack, belum tentu muncul. Mungkin tidak akan pernah ada kesempatan kedua seperti itu. Hidup ini toh bukan seperti film yang bisa kita mainkan semau kita. Hidup ini hanya sekali. Lakukan apa yang selama ini kita janji untuk melakukannya, karena kesempatan kedua itu sangat kecil kemungkinannya. Lihat sekitarmu. Berikan cintamu pada mereka. Berikan hatimu pada mereka. Berikan perhatianmu pada keluargamu. Jangan sampai muncul adanya penyesalan. Karena penyesalan tidak pernah datang duluan.

Merry Christmas Everybody.
December 26th, 2003