Friday, May 28, 2004

What a Birthday

What a Birthday

"Happy birthday to you... Happy birthday to you... Happy birthday Dearest Michael... Happy birthday to you..."
Takjub. Surprise. Tak bisa berkata-kata.
Ekspresi itu yang muncul saat tahun lalu - tepatnya 21 Maret 2002 - saya mengajaknya ke ruangan yang sudah saya tata sedemikian rupa indahnya. Saat dia mendekati ruangan yang dari jauh terlihat gelap itu, dia sampe terperangah melihat nyala lilin di atas kue ulang tahun yang sengaja saya belikan untuknya.
Senang karena berhasil mengejutkannya, saya spontan memeluknya dari belakang. "Ayo, make a wish, dan tiup lilinnya," kata saya kepadanya.
Masih dalam suasana hening, dia memejamkan matanya, lalu meniup lilin ulang tahunnya. Saya melepaskan pelukan saya untuk bertepuk tangan. Dan, saat dia berbalik menghadap saya, dia mencium saya dengan lembut. "Thank you, Yen. Selama ini, gak ada yang pernah memberikan hadiah seindah ini buat aku."
Tapi, hadiah dari saya bukan cuma itu. Saya masih memberikan sebuah ikat pinggang dan dompet untuk kunci mobilnya. Sampai detik ini, ikat pinggang dan dompet kuncinya masih dia pakai. Saya senang. Senang karena saya sudah memberikan hadiah yang bisa selalu dia pakai.

Setahun sudah berlalu... Saya masih ingat, saat saya bertanya kepadanya, hadiah apa yang dia inginkan untuk ultahnya di tahun 2003 ini. Dia bilang, "Apa pun yang kamu berikan, pasti bagus buat aku. Aku percaya, kamu gak akan memberikan hadiah yang gak bagus buat aku. Dan, aku yakin kamu membeli hadiah buat aku dengan perasaan sayang dan cinta."
Terus terang, saya panik. Hadiah seperti apa lagi yang kira2 bisa bikin dia seneng??? Jelas saya gak sanggup beliin dia mobil - walaupun saya tahu dia pasti bahagia sekali kalo dapet mobil baru - karena harganya terlalu mahal. Saya bingung memikirkan hadiah ultahnya. Saya gak mau memberikan hadiah yang biasa2 saja buat dia. Saya ingin memberikan yang istimewa buat dia.

Tiba saatnya, tepat pada tgl 21 Maret 2003, pukul 00:00 saya menelponnya untuk mengucapkan Happy Birthday. Dia terkejut sekaligus gak nyangka kalo saya masih sempat bangun di tengah malam tersebut hanya untuk mengejutkannya. Ohya, saya dan dia berencana cuti barengan hari itu. Kebetulan kami harus mengurus serah terima kunci rumah, sehingga kami berdua memilih hari itu untuk sekalian bisa merayakan ulang tahunnya.
Pagi2 sekitar jam 9 dia udah nyampe di rumah saya. Karena mobilnya dititip di rumah saya, terpaksa dia datang naik kendaraan umum. Kesibukannya dari pagi - mandi, makan, sampe menunggu kendaraan umum - membuat dia lupa kalau hari itu dia berulang tahun. Dia baru ingat saat di lantai atas, saya mengucapkan Happy Birthday dan mencium pipinya. Saya juga sudah menyiapkan hadiahnya. Tapi... mungkin bukan surprise lagi buat dia...

Kira2 2-3 bulan sebelum hari H, dia pernah bilang kalau dia kepingin beli tas kerja yang bagus, berhubung tas kerjanya sudah agak tua. Tapi, dia juga mengingatkan kalau dia agak pemilih dalam membeli barang seperti itu. Jadi intinya, cuma dia yang bisa milih tas kerja untuk dirinya sendiri.
Saat kami ke Carrefour di Ambasador, saya menyadari kalau dia tertarik dengan satu model tas kerja merk Polo. Modelnya yang unik ternyata sudah menarik hatinya. Sayangnya, "Mahal yah..." dan dia tidak jadi membeli tas itu. Akhirnya, saya mengusulkan dia untuk membeli tas kerja model yang lain dan jauh lebih murah. Tapi, dia ragu2... Ya udah, saya bilang ke dia, "Nanti deh aku beliin buat ulang tahun kamu. Biar aku gak susah nyari2 kado buat kamu." Dan... dia pasrah... Bahkan setiap kali kami ke Carrefour, dia pasrah banget ngeliat tas murah yang sudah bisa dia pastikan akan menjadi miliknya saat Maret nanti. ^-^

Saat itu, ketika dia membuka pintu mobilnya, surprise sudah menunggunya di tempat duduknya. Saya menyempatkan diri membeli tas plastik yang lucu. Dan di tas plastik itu sudah berisi hadiah ultahnya. Dia langsung tersenyum senang. "Wah, aku sampe lupa kalo kamu mau kasih aku kado." Lalu, saya mengajaknya untuk duduk dan membuka hadiahnya. Senaaaaaaang banget waktu liat dia terbengong-bengong menarik tas kerja hitam bermerk Polo. "Loh, Yen??? Kok yang ini???" Saya cuma tersenyum berseri-seri. "Yen, ini kan mahal..." katanya lagi.
"Gak ada yang mahal buat kamu." Terus terang, saya gak bisa lupa tatapan matanya yang penuh haru saat saya mengatakan itu. Sambil berusaha agar tidak ketahuan keponakan saya yang lucu - yang sibuk bertanya-tanya, "Itu apaan, Om?" - dia ngumpet2 di balik tas kerja barunya untuk mencium saya. Hehehe. Gak berhasil tuh. Karena keponakan saya yang lucu penasaran banget, mau tau apa yang dilakukan si Om terhadap tantenya. Walhasil, keponakan saya yang masih melongo dengan mulut penuh iler, malah ikut mengintip ke balik tas kerjanya sambil sibuk bertanya, "Kenapa Om?" Hihihi. Pokoknya jadi kocak banget deh. ^-^
Ohya, saat dia membuka resleting tas barunya satu persatu, dia menemukan ada VCD di dalam tas itu. Dia mengangkat VCD itu dengan pandangan bertanya. Saya bilang, "Itu buat kamu juga. Sayangnya cuma bisa pasang di komputer. Ada kesalahan teknis waktu merekam." Dia tidak keberatan. Dia terlalu senang untuk memberikan komplain. Hehehe...

Sepagian itu kami lewati di rumah kami tercinta. Acara serah terima kunci rumah sudah kami lakukan. Dan, untuk merayakan 2 peristiwa penting hari itu, kami makan di Carrefour Puri Indah. Sepanjang jalan, tak henti2nya dia berterima kasih atas hadiah yang saya belikan untuknya. Saya pun tak henti2nya mengucapkan, "Your Welcome, Honey."
Setelah selesai semua, kami pulang ke rumah. Sesampai di rumah, dia penasaran ingin melihat VCD apa yang saya berikan padanya. Kali ini pasti jadi surprise buat dia...

Hampir 6 bulan terakhir ini, saya sibuk mencari 1 film yang pernah saya tonton di VCD beberapa tahun yang lalu, pinjam dari teman adik perempuan saya. Film itu bagus banget. Saya suka banget. Tapi waktu dulu, saya gak pernah berpikir untuk membelinya. Nah kebetulan, doi gak pernah nonton film ini. Selama 6 bulan terakhir ini, saya mencari VCD originalnya, tapi gak pernah ketemu. Dan, akhirnya saya menarik kesimpulan, kalau film tersebut gak pernah dibuat originalnya. Untuk mencari bajakannya, jelas sulit, karena film itu sudah cukup lama. Saya memesan adik saya untuk meminjam lagi dari temannya, tapi sepertinya si teman itu sulit ditemui. Dan saya pasrah... sampai beberapa hari sebelum ultahnya, adik saya yang laki2 memberi tahu kalau dia menemukan salah seorang temannya punya film itu, dan berbaik hati meminjamkannya untuk di-copy. Saya girang banget. Akhirnya, film itu bisa juga saya persembahkan buat si dia.
Setelah acara meng-copy selesai, ternyata VCD tersebut hanya bisa dipasang di komputer. VCD player tidak dapat membaca formatnya. Sempet kecewa, tapi saya sudah cukup senang karena berhasil menemukan film itu.

Malam itu, saya segera meminta adik saya menyalakan komputernya. Lalu, barengan si dia, saya pasang VCD tersebut, dan menunggu reaksinya. Waaaaaah... bener2 ekspresinya gak bisa dibandingkan dengan apa pun. Matanya sampe berkaca-kaca saat melihat judul film tersebut muncul. One Fine Day. Michelle Pfeiffer dan George Clooney. Saya inget, dia pernah bilang kalo kepingin banget nonton film ini. Dia gak pernah berhasil. Sejak itu saya bertekad, akan mencarikan film ini buat dia. Dan saya berhasil. Pelukan eratnya sudah menambah keyakinan saya sekaligus benar2 membuktikan kalau saya memang berhasil.

Dedicated to Michael.
Happy birthday, Honey.
In all your lifetime, just wait for your next surprises on your next birthdays...