What A Day
Rencana awal, saya dan suami - Yenny dan Michael - beserta kakak saya sekeluarga, akan pergi ke Kampoeng Sampireun tgl 21-22 Agustus 2004. Sungguh sangat disayangkan tour kami ternyata membatalkan acara tersebut. Betapa kecewa hati kami. Masih teringat minggu sebelumnya, kami berdua pergi ke Carrefour membeli snacks untuk di perjalanan. Kami juga menyempatkan diri membeli isi film kamera, berhubung kami belum punya kamera digital.
Tapi pihak tour ternyata bukan membatalkan, melainkan memundurkan acara menjadi tgl 28-29 Agustus 2004. Saya segera memberitahukan berita baik tersebut kepada Michael. Sayangnya kami berdua sudah keburu kecewa. Apalagi di tgl 29 Agustus itu, saya sudah janji dengan Pak Bondan Winarno untuk bertemu muka di acara "Heritage Food at Heritage City" yang akan berlangsung di Gedung Arsip Nasional. Acara ini adalah acara mergersutra antara Jalan Sutra dengan Sahabat Museum. Belum lagi di hari Sabtu ada pameran Elex Media Komputindo di Bentara Budaya Palmerah. Apalagi kakak saya sekeluarga tidak bisa ikut di hari itu. Otomatis, saya cuma berdua saja, plus anggota tour yang lain. Dan lagi, saya baru ingat, karena diberitahu oleh pihak tour sudah mendadak, saya gak sempat lagi ikutan Cosmo FM Trip ke Bandung tgl 21-22 Agustus 2004. Duh, jadi sebel juga. Padahal saya udah lama pingin jalan-jalan ke Bandung juga.
Tapi, alangkah indahnya kalau kami tetap bisa mengikuti tour ke Kampoeng Sampireun. Saya pikir dan pikir terus. 'Think! Think! Think!' kata saya dalam hati. Apa yang harus saya lakukan agar kami jadi ke sana? Dan, tiba-tiba saja seperti ada lampu pijar di atas kepala saya. Saya baru ingat kalau saya pernah melihat foto Kampoeng Sampireun di salah satu majalah milik teman kantor saya, Majalah TAMASYA. Beberapa kali saya pergi ke Gramedia, Carrefour dan lapak-lapak di pinggir jalan, tapi majalah edisi 02 tersebut sudah habis. Saya hanya bisa gigit jari. Tapi saya gak mau menyerah begitu saya. Saya kirim email lalu menelepon redaksi majalah tersebut. Saya minta dikirimkan edisi 01 dan edisi 02 yang belum saya miliki. Pihak redaksi - Pak Sugiman dan Pak Terris - dengan sangat ramah melayani permintaan saya. Pagi itu saya transfer uang ke rekening majalah TAMASYA, sorenya majalah sudah di tangan saya.
Dengan berbekal majalah TAMASYA edisi 02, saya bujuk dan rayu Michael sambil memperlihatkan foto-foto pasangan Early dan suami yang sedang honeymoon lagi di Kampoeng Sampireun. "Masa gak tertarik sih?" Dan jawabannya hanya, "Tapi gak ada TV yah???" Saya langsung cemberut. Sebel juga. Masa mau honeymoon lagi malah mikirin TV. Tapi ternyata Michael hanya bercanda. Dan jadilah kami booking villa di Kampoeng Sampireun melalui tour tadi. Tapi tiba-tiba saja, ada panggilan kerja untuk Michael di hari Sabtu. Dan saya jelas ingin supaya Michael memprioritaskan kerjaan dibanding jalan-jalan. So, terpaksa jalan-jalan ke Kampoeng Sampireun pun batal. Mungkin kami emang gak boleh jalan-jalan ke luar kota di bulan Agustus ini. Bahkan setelah tour dibatalkan, panggilan kerja pun gak jadi hari Sabtu itu, ditunda hari Selasa. Hehehe. Lengkap sudah.
So, Sabtu pagi kami pergi ke Bentara Budaya. Setelah sedikit putar-putar karena nyobain jalan, kami sampai sudah di Bentara Budaya. Sempet kesel berat. Tas yang saya bawa harus dititip, padahal saya gunakan tas tersebut untuk bawa uang, dompet dan handphone. Berpuluh-puluh kali saya datang untuk mengikuti pameran di sana, tidak pernah tas saya disuruh titip. Dengan sedikit kesal, saya suruh Michael taruh tas di mobil saja, karena takut hilang. Tapi, setelah kami masuk ke dalam, saya melihat ada ibu-ibu membawa tas-nya dengan riang dan santai. Langsung saya tegur pihak keamanan di depan itu, "Itu ada yang bawa tas." Dan mereka menjawab tanpa melihat lagi, "Mungkin itu pihak Elex-nya." Bagaimana mungkin? Lha wong si Ibu lagi sibuk mo daftarin anaknya lomba puzzle... Akhirnya sesampai di pintu dalam, saya langsung cari security. "SIAPA SIH PIMPINAN SECURITY DI SINI? SAYA GAK DIKASIH BAWA TAS, PADAHAL SAYA LIAT YANG LAEN PADA BAWA TAS. SAYA UDAH SERING LIAT PAMERAN DI SINI. GAK PERNAH TUH ADA KEJADIAN GINI. SAYA JADI GAK ENAK KE SINI LAGI." Dan mereka bilang, sudah peraturan kalo gak boleh bawa tas. "SAYA MENGERTI! KALO EMANG PERATURAN SEPERTI ITU, SEMUANYA DONK DISURUH TITIP TAS. JANGAN CUMA SAYA! EMANG SAYA MO NYOLONG DI SINI!!!" Dan mereka berlalu sambil mengatakan kalau mau menegur security di depan. Semakin lama, semakin banyak ibu-ibu dan cewek-cewek yang masuk pake tas. Dan lengkap sudah kekesalan saya. "MICHAEEEEEEEL!!! AYO AMBIL TAS. ENAKNYA ORANG-ORANG PADA BAWA TAS, AKU DISURUH MEGANGIN DOMPET AMA HP! AYO!" Dan puaslah saya!
Terus terang, saya emang tipe orang yang sensitif dan mudah emosi. Sedikit lagi saya kesal, saya pasti langsung nangis sambil marah-marah gak tentu ujung pangkalnya. Tapi saya puas pulang dari pameran Elex Media sambil membawa belanjaan sebesar 177K. Komik lucu, buku resep dan buku komputer belanjaan Michael langsung kami bawa dengan senang hati. Dan lupalah saya dengan segala kekesalan dan kemarahan saya. Langkah saya pun bak prajurit menang perang. :)
Minggu pagi, bersiap-siaplah saya dan Michael menuju kota. Setelah mampir ke bengkel, kami lanjut ke rumah ortu Michael di Dwiwarna. Baru deh kami ke Gedung Arsip Nasional. Dengan membayar Rp 60.000,- kami mendapat 2 tiket masuk yang dapat ditukar dengan 2 buah roti buaya. Lucu bentuknya. Enak pula dimakannya. Saya langsung makan nasi uduk betawi bareng es cincau hijau. Nasi uduknya sih nikmat, sayang es cincau-nya pake kuah es cendol. Saya gak doyan, jadi cuma ngabisin cincau-nya, kuahnya Michael yang minum. Abis itu, kami cuma keliling-keliling sambil nunggu Om Sindhiarta datang. Saya memang janji dengan Om Sindhiarta untuk membawakan buku Seratus Kiat yang Jilid 2 karangan Pak Bondan Winarno. Sekitar jam 12-an, saya lihat Pak Bondan datang. Dengan PD dan penuh senyum, saya langsung menegur Pak Bondan sambil memperkenalkan diri. Saat tahu bahwa saya 'Yenny,' Pak Bondan langsung tersenyum lebar. Tapi karena saya tahu Pak Bondan sibuk, saya segera "melepaskan" Pak Bondan untuk menyelesaikan urusannya. Kan siangnya Pak Bondan mau demo masak bareng Om William Wongso.
Jam 1-an, Michael ternyata baru merasa lapar. Langsung saya suruh dia beli makanan, tapi "Kamu sendiri aja yah, Sayang. Panas nih..." bujuk saya sambil tersenyum. Dan pergilah Michael keliling mencari makanan. Tau-tau ada Ferry Salim di samping saya. Wah, ada syuting infotainment nih. Ikutan ah!!! Dan, jalanlah saya di belakang mereka sambil celingak-celinguk mencari Michael. Ternyata Michael tak kutemukan. Sedihnya. Balik lagi deh ke tempat rindang di depan pintu. Setelah menemukan Michael (yang ternyata udah selesai makan nasi uduk), saya langsung tarik dia untuk foto saya dengan Pak Bondan dan Om Ferry. Berhasil... Asyik juga bisa foto bareng selebritis. Hehehe...
Tapi kesan yang menyenangkan adalah bertemu dengan teman-teman JSers di sana. Setelah melihat Nana yang lagi buka stand JS en Gramedia bareng Bung Yos, saya juga ketemu dengan Rusli cs. Barengan menunggu Om Sindhiarta, akhirnya ketemu juga. Dan bukan cuma mereka saja yang saya temui. Ada Oemar, Grace, Ayu, Deasy, Andrew, Indra Lukman, Astrid, dan Fenny/Wendy (gak jelas). Ada juga yang gak sempet kenalan, seperti Yohan Handoyo. Saya cuma tahu dari Oemar tapi gak sempet kenalan karena kelihatannya Yohan sibuk sekali dengan orang Cafe Sampoerna. Ada juga JSers yang malah saya gak tau namanya.
Sekitar jam 3 kurang, saya telepon Pak Bondan untuk meminta tanda tangannya di buku Seratus Kiat Jilid 1, Jilid 2, dan Jalan Sutra. Selesai mendapatkan tanda tangan Pak Bondan, langsung saya meluncur pulang. Panas terik dan macet berat di luar bikin saya dan Michael pingin cepet-cepet nyampe rumah. Tapi, asli deh, baru kali ini saya gak perlu berjemur di pantai untuk mendapatkan kulit yang tanned. Muka dan kedua lengan saya merah-merah dan belang-belang. Hihihi. Tapi, kesan yang saya dapatkan dari beberapa hari terakhir ini, gak membuat saya menangisi kulit hitam saya yang makin menghitam.
Kesan yang lebih dalam? Jelas, tanda tangan Pak Bondan. Tapi kesan paling indah saya rasakan adalah saat melalui hari-hari itu bersama Michael. Ke mana pun saya pergi, Michael rela menemani saya. Bahkan dari saat dia mendengar omelan-omelan saya di pameran buku, sampai ikut berpanas-panasan ria di acara HFHC, dia selalu tersenyum setiap saya menoleh untuk menatap wajahnya, dia selalu membelai rambut saya dengan lembut setiap saya mengeluh kepanasan, dan dia selalu memeluk saya dengan penuh sayang sejak saat beberapa JSers mengenali kami sebagai "Yenny & Michael" yang terkenal romantis itu. Hehehe...
Tulisan ini saya persembahkan untuk Michael, yang sudah menjadi suami saya tepat 1 tahun. Walaupun tahun lalu, 31 Agustus 2003, kami belum tinggal bersama (kami baru tinggal bersama setelah acara resepsi tgl 6 September 2003), tapi kami sudah mengucapkan janji pernikahan di depan altar gereja. Semoga kami akan selalu menjadi "Yenny & Michael" yang selalu romantis, dan bahkan menjadi semakin romantis dengan bertambahnya usia pernikahan kami.
Dedicated to Michael.
Thank you for being such a romantic husband.
I love you.
Happy 1st - Church Wedding - Anniversary
this is about our life. about michael and yenny's life. how we met, how we found and complete each other, and how we become one.
Tuesday, August 31, 2004
Monday, August 02, 2004
Proud of You
Proud of You
Pertemuan dengan beberapa members milis Jalan Sutra (JS) di Taman Anggrek kemarin telah memberikan kesan tersendiri bagi saya dan suami. Buat saya, rasanya seperti mimpi. Selama ini saya hanya mengenal segelintir nama-nama yang sering muncul di milis, seperti Om Sindhiarta, Pak Gatot dan yang lainnya. Tak disangka, akhirnya bertemu jua. Milis saya sendiri pun belum pernah mengadakan gathering, sehingga sampai sekarang saya masih belum tahu seperti apa tampang-tampang members milis Love Our Life (LOL). Sepertinya hanya dunia maya buat saya. Tapi dengan bertemu members JS, saya seperti ditepuk dari belakang, seperti disiram air dingin, seperti dibangunkan dari tidur yang panjang. Ternyata dunia maya itu benar-benar ada. Saya bahkan bertemu dengan beberapa orang yang selama ini hanya dapat saya baca tulisannya di milis. Sepertinya mereka muncul dari balik layar panggung sandiwara, di mana saya berdiri menunggu pertunjukan dimulai.
Rasa terima kasih saya belum hilang hingga saat ini, saat saya menulis ini, kepada Om Sin. Saya hanya butuh meluangkan waktu sedikit untuk datang ke Taman Anggrek, tanpa berbuat apa-apa, hanya menunggu, tahu-tahu saya sudah memiliki 11 jilid buku perjalanan Prof. HOK Tanzil, yang dapat saya baca dengan hati senang. Terima kasih, Om Sin atas semua yang telah dilakukan untuk kami, para members JS.
Kesan lain juga didapat suami saya dari pertemuan ini. Sepanjang perkenalan dengan teman-teman dari member milis JS, Om Sin tak henti-hentinya memperkenalkan saya sebagai "Yenny, yang bikin Pak Bondan nangis." Muka saya pasti udah merah kaya kepiting rebus. Tak henti-hentinya pujian mengalir dari mulut teman-teman atas keindahan website yang saya buat. Padahal, murni website itu hanya iseng semata. Karena tertarik dengan blog Mr. Yohan yang profesional, saya jadi berniat untuk mempersembahkan website kepada belahan jiwa saya, suami tercinta. Tapi ternyata setelah membuat website tersebut, saya malah ingin mempersembahkannya untuk semua orang.
Mendengar pujian dari teman-teman, ternyata menambah kebanggaan suami terhadap saya. Sampai di rumah pun, Michael masih sibuk memuji-muji saya, karena telah menggerakkan hati banyak orang dengan memperkenalkan website itu. Senang rasanya melihat binar-binar di matanya. Walaupun saat pertemuan itu ia tak banyak bicara, tapi saya bisa merasakan betapa bangganya dia terhadap saya.
Cuma belakangan baru saya tahu bahwa ada 1 hal yang mengganjal hatinya. Michael merasa canggung di depan teman-teman sekalian. Ia merasa minder. Begitu banyak hal yang ia dengar dari teman-teman semua. Ada yang sering ke luar negeri, ada yang punya usaha sendiri, ada yang sering mengadakan tour ke tempat-tempat unik, bahkan ada yang baru pulang dari Riyadh. Rasanya ia tak punya kisah sukses yang bisa dibanggakan. Ia seperti tak punya apa-apa. Ia hanya seorang yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan di Jakarta. Hanya itu. Bagi dia, hanya itu yang ia punya. Dan itu bukanlah hal menarik yang bisa diceritakan atau di-share ke semua orang. Bukan sesuatu yang membanggakan.
Saya sedih mendengar isi hatinya. Saya gak nyangka kalo ia malahan jadi minder. Terus terang, saya sendiri tidak merasa minder, walaupun saya tahu bahwa banyak sekali orang hebat di milis JS ini, malahan saya bangga karena saya adalah salah satu orang yang mengenal orang-orang hebat tersebut, biarpun cuma via milis. Saya pernah minder dulu, tapi keminderan saya sudah lenyap seiring dengan pertemuan saya dengan Michael. Michael-lah orang yang sudah menumbuhkan rasa percaya diri saya. Michael-lah orang yang sudah menyadarkan saya betapa saya juga punya kemampuan yang bisa saya banggakan. Tapi di dalam hatinya, ia pun punya rasa itu.
Saya peluk dia dan saya katakan, "Sayang, aku bangga sama kamu. Apa pun yang orang lain banggakan, itu bukan urusanku. Aku hanya turut senang dengan prestasi yang mereka raih. Tapi aku paling bangga sama kamu. Kenapa kamu bilang kamu gak punya yang bisa dibanggakan? Sayang, kamu punya aku. Apa kamu gak bangga?"
Dan Michael cuma tersenyum simpul. "Oh iya, aku lupa. Aku adalah satu-satunya orang yang memiliki kamu. Gak ada lagi yang memiliki kamu, selain aku. Dan, emang bener, aku bangga sekali."
So, problem solved and case closed. Michael udah gak mengungkit-ungkit lagi tentang ke-tidak PD-annya. Saya pun kembali tersenyum sambil sibuk buka-buka fotocopy-an yang baru saya dapatkan tadi siang. Tapi, masih ada yang mengganjal di hati saya. Setelah bertahun-tahun gak pernah ke Taman Anggrek, saya mulai bingung sendiri. Resto-nya sudah berubah banyak dibanding waktu saya sering ke sana. Kira-kira, resto mana ya yang paling enak untuk dicoba bareng Michael?
Dedicated to Michael.
I'm proud of you, Honey, always...
Pertemuan dengan beberapa members milis Jalan Sutra (JS) di Taman Anggrek kemarin telah memberikan kesan tersendiri bagi saya dan suami. Buat saya, rasanya seperti mimpi. Selama ini saya hanya mengenal segelintir nama-nama yang sering muncul di milis, seperti Om Sindhiarta, Pak Gatot dan yang lainnya. Tak disangka, akhirnya bertemu jua. Milis saya sendiri pun belum pernah mengadakan gathering, sehingga sampai sekarang saya masih belum tahu seperti apa tampang-tampang members milis Love Our Life (LOL). Sepertinya hanya dunia maya buat saya. Tapi dengan bertemu members JS, saya seperti ditepuk dari belakang, seperti disiram air dingin, seperti dibangunkan dari tidur yang panjang. Ternyata dunia maya itu benar-benar ada. Saya bahkan bertemu dengan beberapa orang yang selama ini hanya dapat saya baca tulisannya di milis. Sepertinya mereka muncul dari balik layar panggung sandiwara, di mana saya berdiri menunggu pertunjukan dimulai.
Rasa terima kasih saya belum hilang hingga saat ini, saat saya menulis ini, kepada Om Sin. Saya hanya butuh meluangkan waktu sedikit untuk datang ke Taman Anggrek, tanpa berbuat apa-apa, hanya menunggu, tahu-tahu saya sudah memiliki 11 jilid buku perjalanan Prof. HOK Tanzil, yang dapat saya baca dengan hati senang. Terima kasih, Om Sin atas semua yang telah dilakukan untuk kami, para members JS.
Kesan lain juga didapat suami saya dari pertemuan ini. Sepanjang perkenalan dengan teman-teman dari member milis JS, Om Sin tak henti-hentinya memperkenalkan saya sebagai "Yenny, yang bikin Pak Bondan nangis." Muka saya pasti udah merah kaya kepiting rebus. Tak henti-hentinya pujian mengalir dari mulut teman-teman atas keindahan website yang saya buat. Padahal, murni website itu hanya iseng semata. Karena tertarik dengan blog Mr. Yohan yang profesional, saya jadi berniat untuk mempersembahkan website kepada belahan jiwa saya, suami tercinta. Tapi ternyata setelah membuat website tersebut, saya malah ingin mempersembahkannya untuk semua orang.
Mendengar pujian dari teman-teman, ternyata menambah kebanggaan suami terhadap saya. Sampai di rumah pun, Michael masih sibuk memuji-muji saya, karena telah menggerakkan hati banyak orang dengan memperkenalkan website itu. Senang rasanya melihat binar-binar di matanya. Walaupun saat pertemuan itu ia tak banyak bicara, tapi saya bisa merasakan betapa bangganya dia terhadap saya.
Cuma belakangan baru saya tahu bahwa ada 1 hal yang mengganjal hatinya. Michael merasa canggung di depan teman-teman sekalian. Ia merasa minder. Begitu banyak hal yang ia dengar dari teman-teman semua. Ada yang sering ke luar negeri, ada yang punya usaha sendiri, ada yang sering mengadakan tour ke tempat-tempat unik, bahkan ada yang baru pulang dari Riyadh. Rasanya ia tak punya kisah sukses yang bisa dibanggakan. Ia seperti tak punya apa-apa. Ia hanya seorang yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan di Jakarta. Hanya itu. Bagi dia, hanya itu yang ia punya. Dan itu bukanlah hal menarik yang bisa diceritakan atau di-share ke semua orang. Bukan sesuatu yang membanggakan.
Saya sedih mendengar isi hatinya. Saya gak nyangka kalo ia malahan jadi minder. Terus terang, saya sendiri tidak merasa minder, walaupun saya tahu bahwa banyak sekali orang hebat di milis JS ini, malahan saya bangga karena saya adalah salah satu orang yang mengenal orang-orang hebat tersebut, biarpun cuma via milis. Saya pernah minder dulu, tapi keminderan saya sudah lenyap seiring dengan pertemuan saya dengan Michael. Michael-lah orang yang sudah menumbuhkan rasa percaya diri saya. Michael-lah orang yang sudah menyadarkan saya betapa saya juga punya kemampuan yang bisa saya banggakan. Tapi di dalam hatinya, ia pun punya rasa itu.
Saya peluk dia dan saya katakan, "Sayang, aku bangga sama kamu. Apa pun yang orang lain banggakan, itu bukan urusanku. Aku hanya turut senang dengan prestasi yang mereka raih. Tapi aku paling bangga sama kamu. Kenapa kamu bilang kamu gak punya yang bisa dibanggakan? Sayang, kamu punya aku. Apa kamu gak bangga?"
Dan Michael cuma tersenyum simpul. "Oh iya, aku lupa. Aku adalah satu-satunya orang yang memiliki kamu. Gak ada lagi yang memiliki kamu, selain aku. Dan, emang bener, aku bangga sekali."
So, problem solved and case closed. Michael udah gak mengungkit-ungkit lagi tentang ke-tidak PD-annya. Saya pun kembali tersenyum sambil sibuk buka-buka fotocopy-an yang baru saya dapatkan tadi siang. Tapi, masih ada yang mengganjal di hati saya. Setelah bertahun-tahun gak pernah ke Taman Anggrek, saya mulai bingung sendiri. Resto-nya sudah berubah banyak dibanding waktu saya sering ke sana. Kira-kira, resto mana ya yang paling enak untuk dicoba bareng Michael?
Dedicated to Michael.
I'm proud of you, Honey, always...
Sunday, July 25, 2004
Invitation
Niece & Nephews on MY Wedding
Saturday, July 24, 2004
Ke Dufan
Little Yenny
Little Michael
Wednesday, July 21, 2004
MY Wedding Picture
Tuesday, July 20, 2004
Thank You
Thank You
Kecupan lembut di pipi membuat saya terbangun dari tidur. "Happy birthday, Sayang. I love you," bisik Michael di telinga saya. Dan kali ini saya benar-benar terbangun. "Loh, kok bangun?" lembut jari Michael menyentuh pipi saya. Dan, saya tahu kalau saat itu pasti sudah jam 00:00 menjelang 19 Juli 2004. "Makasih, Sayang." Saya tertidur dalam pelukannya sambil tersenyum.
Akhirnya, sampai juga saya di usia 28 tahun. Dulu sempet takut kalo usia 28 masih belum menikah. Tapi ternyata di usia 28 tahun ini, saya sudah hampir 1 tahun menikah. Dan saya bahagia. Sejak mengenal Michael, sudah 2 kali saya mengalami ulang tahun. Selalu ada surprise di ultah saya. :)
Kali ini ternyata saya pun mendapat surprise. Udah dari 2 minggu yang lalu dia terbingung-bingung mo kasih apa untuk hadiah ultah saya. Dan, udah berkali-kali saya bilang kalo saya gak perlu dikasih hadiah. Bahkan saya bilang ke dia kalo saya cuma butuh ada dia di samping saya setiap hari. Udah cukup sebagai hadiah ultah buat saya. Tapi dia memaksa dengan cara berkeluh kesah terus kalau dia gak sempet beliin saya kado karena bingung mau kasih apaan. "Perhiasan, kamu jarang pake. Arloji juga gak pernah pake. Udah 2 kali ultah kamu, aku beliin kalung dan arloji. Tapi gak pernah kamu pake. Cuma kamu simpeeeeeeeeeeeeen aja. DVD atau buku, kamu udah banyak. Aku bingung mau kasih kamu apaan."
Akhirnya, saya yang meminta hadiah darinya. Saya bilang, "Ya udah, kalo gitu aku minta blender aja. Yang 3 in 1. Biar bisa buat bumbu dapur sekaligus bikinin kamu jus alpukat. Kan kamu suka banget jus alpukat." Dan, akhirnya diputuskan untuk nitip Mama saya beli di kota.
18 Juli 2004 sore, manager saya datang ke rumah. Sengaja memberikan hadiah. Katanya, "Biar besok di kantor gak repot bawa2 pulang." Dan saya putuskan untuk membuka hadiahnya esok pagi. Dan, setelah bangun pagi itu, saya cepat-cepat membuka blender, hadiah dari Michael. Saya mainkan alat-alatnya. Saya baca lembaran manualnya. Saya putar-putar. Saya nikmati keindahan blender itu. Maklum, udah lama saya pingin punya blender, baru kesampaian. Setelah itu, saya buka hadiah dari manager saya. Dan, ternyata... isinya... blender. Hahahaha. Surprise banget. Gak nyangka kalo manager saya bisa baca pikiran saya. Akhirnya, di pagi hari itu, saya cuma duduk melongo sambil ngeliatin 2 buah blender di depan saya. Hihihi. What a surprise!!!
Saat saya sampai di kantor, saya seperti biasa cek email. Di folder "Michael" ada 2 email yang belum dibaca. Setelah saya buka, ternyata 1 email ada greetings dari Michael. Saya gak sabar langsung buka greetings-nya. Pikir saya, tumben Michael sempet kirim greetings. Biasanya musti ditanyain dulu. :)
Apa yang saya baca, membuat mata saya berkaca-kaca. Rasanya hati ini terharu campur bahagia. Apa yang saya baca, merupakan hadiah terindah yang pernah saya dapatkan. Dan, saya makin mengerti betapa dia begitu mencintai saya.
"what can i give for your birthday?
we've exchanged so many gifts...
shared so many wonderful memories...
known so much passion...
what can i give for your birthday?
something you've had all along - i give my love, now and forever..."
HONEY,
THIS IS THE ONLY PRESENT I CAN GIVE YOU FOR THIS YEAR'S BIRTHDAY. I HOPE YOU LOVE IT AS MUCH AS I DO.
I LOVE YOU,
MICHAEL
Dedicated to Michael.
I love you too.
Thank you, for being such a wonderful husband.
Kecupan lembut di pipi membuat saya terbangun dari tidur. "Happy birthday, Sayang. I love you," bisik Michael di telinga saya. Dan kali ini saya benar-benar terbangun. "Loh, kok bangun?" lembut jari Michael menyentuh pipi saya. Dan, saya tahu kalau saat itu pasti sudah jam 00:00 menjelang 19 Juli 2004. "Makasih, Sayang." Saya tertidur dalam pelukannya sambil tersenyum.
Akhirnya, sampai juga saya di usia 28 tahun. Dulu sempet takut kalo usia 28 masih belum menikah. Tapi ternyata di usia 28 tahun ini, saya sudah hampir 1 tahun menikah. Dan saya bahagia. Sejak mengenal Michael, sudah 2 kali saya mengalami ulang tahun. Selalu ada surprise di ultah saya. :)
Kali ini ternyata saya pun mendapat surprise. Udah dari 2 minggu yang lalu dia terbingung-bingung mo kasih apa untuk hadiah ultah saya. Dan, udah berkali-kali saya bilang kalo saya gak perlu dikasih hadiah. Bahkan saya bilang ke dia kalo saya cuma butuh ada dia di samping saya setiap hari. Udah cukup sebagai hadiah ultah buat saya. Tapi dia memaksa dengan cara berkeluh kesah terus kalau dia gak sempet beliin saya kado karena bingung mau kasih apaan. "Perhiasan, kamu jarang pake. Arloji juga gak pernah pake. Udah 2 kali ultah kamu, aku beliin kalung dan arloji. Tapi gak pernah kamu pake. Cuma kamu simpeeeeeeeeeeeeen aja. DVD atau buku, kamu udah banyak. Aku bingung mau kasih kamu apaan."
Akhirnya, saya yang meminta hadiah darinya. Saya bilang, "Ya udah, kalo gitu aku minta blender aja. Yang 3 in 1. Biar bisa buat bumbu dapur sekaligus bikinin kamu jus alpukat. Kan kamu suka banget jus alpukat." Dan, akhirnya diputuskan untuk nitip Mama saya beli di kota.
18 Juli 2004 sore, manager saya datang ke rumah. Sengaja memberikan hadiah. Katanya, "Biar besok di kantor gak repot bawa2 pulang." Dan saya putuskan untuk membuka hadiahnya esok pagi. Dan, setelah bangun pagi itu, saya cepat-cepat membuka blender, hadiah dari Michael. Saya mainkan alat-alatnya. Saya baca lembaran manualnya. Saya putar-putar. Saya nikmati keindahan blender itu. Maklum, udah lama saya pingin punya blender, baru kesampaian. Setelah itu, saya buka hadiah dari manager saya. Dan, ternyata... isinya... blender. Hahahaha. Surprise banget. Gak nyangka kalo manager saya bisa baca pikiran saya. Akhirnya, di pagi hari itu, saya cuma duduk melongo sambil ngeliatin 2 buah blender di depan saya. Hihihi. What a surprise!!!
Saat saya sampai di kantor, saya seperti biasa cek email. Di folder "Michael" ada 2 email yang belum dibaca. Setelah saya buka, ternyata 1 email ada greetings dari Michael. Saya gak sabar langsung buka greetings-nya. Pikir saya, tumben Michael sempet kirim greetings. Biasanya musti ditanyain dulu. :)
Apa yang saya baca, membuat mata saya berkaca-kaca. Rasanya hati ini terharu campur bahagia. Apa yang saya baca, merupakan hadiah terindah yang pernah saya dapatkan. Dan, saya makin mengerti betapa dia begitu mencintai saya.
"what can i give for your birthday?
we've exchanged so many gifts...
shared so many wonderful memories...
known so much passion...
what can i give for your birthday?
something you've had all along - i give my love, now and forever..."
HONEY,
THIS IS THE ONLY PRESENT I CAN GIVE YOU FOR THIS YEAR'S BIRTHDAY. I HOPE YOU LOVE IT AS MUCH AS I DO.
I LOVE YOU,
MICHAEL
Dedicated to Michael.
I love you too.
Thank you, for being such a wonderful husband.
Friday, June 18, 2004
Such a Beautiful Memory
Such a Beautiful Memory
Lagi baca email soal restoran Kalimantan di Cipanas, jadi inget masa kecil dulu. Kami berlima kakak beradik selalu ikut ortu ke puncak. Entah sekedar jalan2 atau nginep di salah satu hotel. Favorit kami dulu, nginep di Hotel Lembah Bukit Raya. Tempatnya asyik banget. Apalagi jaman dulu masih ada yang namanya jackpot. Kadang2 main sampe malem. Waktu itu, jackpot masih diperbolehkan. Waaah, senangnya kalo dapet logam-an banyak. Pulang ke kamar, langsung hitung penghasilan. Kalo udah gitu, lanjut buka meja billiard. Kebetulan papa saya jagonya main billiard. Jadi inget, pernah ada orang yang bilang kalo banyak anak kost di daerah Karet (rumah ortu) sebel sama papa saya. Tanya punya tanya, ternyata mereka selalu kalah main billiard lawan papa saya. Hehehe... Nah, papa ajarin kita2 main billiard. Yah, lumayan lah, skr ini udah bisa nyodok bola. Emang sih, gak selalu masuk. Tapi minimal udah bisa ngalahin adik saya yang cowok. :)
Kami juga sering nginep di Hotel Safari Garden. Pengalaman menarik waktu nginep di karavan. Bayangin aja. Bertujuh, tidur di karavan yang kecil mungil, tapi seru! Ada yang tidur di bangku, ada yang nge-gelar di lantai, pokoknya semua area dimanfaatkan. Udah gitu, kamar mandinya gak pake pintu. Cuma tirai dari bambu. Wah, ramenya kalo lagi ada yang mandi. Sengaja nyanyi sambil teriak2, takutnya ada yang gak sengaja buka tirai. Hahaha... Biasanya, bangun pagi, selalu nyari binatang untuk dikasih makan. Ada rusa, ada simpanse, bahkan pernah juga kasih makan beruang. Lucu dan menarik sekali. Skr udah gak tau lagi gimana kondisi hotel tsb. Jadi kangen juga...
Tapi, yang paling menyenangkan adalah saat makan malam. Biasanya, papa dan mama pergi ke restoran Kalimantan. Tapi, mereka bukan masuk ke restoran itu, melainkan langsung menuju restoran padang persis di samping restoran Kalimantan. Adanya di sebelah kiri. Setelah membeli makanan, mereka langsung pulang ke hotel. Dan, kami bertujuh langsung makan dengan nikmatnya, sesuai dengan pesanan masing2. Saya sendiri selalu pesan ayam gulai dan perkedel kentang. Hmmmm... nikmaaaaaaaaaat!!! Sayangnya, sudah lama sekali kami gak ke sana. Satu persatu, mulai dari kakak pertama, kakak kedua dan saya, menikah. Kedua kakak saya masih suka ke puncak, tapi perginya sama mertua masing2. Udah susah utk pergi ramai2 seperti dulu lagi.
So, untuk menuntaskan kerinduan pada restoran padang di puncak itu, kami terkadang kumpul di rumah kakak saya, di Metro Permata, Ciledug, Tangerang. Tepat di depan kompleks perumahan itu, ada 1 restoran padang yang enak juga. Saya lupa namanya, tapi letaknya persis di sebelah Ultra Disc. Biasanya papa dan mama saya mampir ke resto itu, baru ke rumah kakak saya. Berhubung rumah saya di Puri Metropolitan gak jauh dari Metro Permata, saya tinggal minta suami utk langsung ke sana. Lalu, makanlah kami ramai2, penuh canda, penuh tawa.
Rasanya masih sama seperti dulu, saat kami masih kecil. Saat kami masih bertujuh, bermobil ke puncak, merasakan dinginnya angin yang menerpa wajah, merasakan nikmatnya berenang, merasakan kepul2 nasi padang siap disantap, merasakan indahnya kebersamaan kami. Dan rasanya kenangan seindah itu tidak akan pernah pudar dari hati kami masing2.
Dedicated to my family.
I love you all.
PS: Apa resto padang itu masih ada??? Kangen banget!!!
Kalo emang masih ada, saya cuma akan bilang, "I'M COMING!!!"
Lagi baca email soal restoran Kalimantan di Cipanas, jadi inget masa kecil dulu. Kami berlima kakak beradik selalu ikut ortu ke puncak. Entah sekedar jalan2 atau nginep di salah satu hotel. Favorit kami dulu, nginep di Hotel Lembah Bukit Raya. Tempatnya asyik banget. Apalagi jaman dulu masih ada yang namanya jackpot. Kadang2 main sampe malem. Waktu itu, jackpot masih diperbolehkan. Waaah, senangnya kalo dapet logam-an banyak. Pulang ke kamar, langsung hitung penghasilan. Kalo udah gitu, lanjut buka meja billiard. Kebetulan papa saya jagonya main billiard. Jadi inget, pernah ada orang yang bilang kalo banyak anak kost di daerah Karet (rumah ortu) sebel sama papa saya. Tanya punya tanya, ternyata mereka selalu kalah main billiard lawan papa saya. Hehehe... Nah, papa ajarin kita2 main billiard. Yah, lumayan lah, skr ini udah bisa nyodok bola. Emang sih, gak selalu masuk. Tapi minimal udah bisa ngalahin adik saya yang cowok. :)
Kami juga sering nginep di Hotel Safari Garden. Pengalaman menarik waktu nginep di karavan. Bayangin aja. Bertujuh, tidur di karavan yang kecil mungil, tapi seru! Ada yang tidur di bangku, ada yang nge-gelar di lantai, pokoknya semua area dimanfaatkan. Udah gitu, kamar mandinya gak pake pintu. Cuma tirai dari bambu. Wah, ramenya kalo lagi ada yang mandi. Sengaja nyanyi sambil teriak2, takutnya ada yang gak sengaja buka tirai. Hahaha... Biasanya, bangun pagi, selalu nyari binatang untuk dikasih makan. Ada rusa, ada simpanse, bahkan pernah juga kasih makan beruang. Lucu dan menarik sekali. Skr udah gak tau lagi gimana kondisi hotel tsb. Jadi kangen juga...
Tapi, yang paling menyenangkan adalah saat makan malam. Biasanya, papa dan mama pergi ke restoran Kalimantan. Tapi, mereka bukan masuk ke restoran itu, melainkan langsung menuju restoran padang persis di samping restoran Kalimantan. Adanya di sebelah kiri. Setelah membeli makanan, mereka langsung pulang ke hotel. Dan, kami bertujuh langsung makan dengan nikmatnya, sesuai dengan pesanan masing2. Saya sendiri selalu pesan ayam gulai dan perkedel kentang. Hmmmm... nikmaaaaaaaaaat!!! Sayangnya, sudah lama sekali kami gak ke sana. Satu persatu, mulai dari kakak pertama, kakak kedua dan saya, menikah. Kedua kakak saya masih suka ke puncak, tapi perginya sama mertua masing2. Udah susah utk pergi ramai2 seperti dulu lagi.
So, untuk menuntaskan kerinduan pada restoran padang di puncak itu, kami terkadang kumpul di rumah kakak saya, di Metro Permata, Ciledug, Tangerang. Tepat di depan kompleks perumahan itu, ada 1 restoran padang yang enak juga. Saya lupa namanya, tapi letaknya persis di sebelah Ultra Disc. Biasanya papa dan mama saya mampir ke resto itu, baru ke rumah kakak saya. Berhubung rumah saya di Puri Metropolitan gak jauh dari Metro Permata, saya tinggal minta suami utk langsung ke sana. Lalu, makanlah kami ramai2, penuh canda, penuh tawa.
Rasanya masih sama seperti dulu, saat kami masih kecil. Saat kami masih bertujuh, bermobil ke puncak, merasakan dinginnya angin yang menerpa wajah, merasakan nikmatnya berenang, merasakan kepul2 nasi padang siap disantap, merasakan indahnya kebersamaan kami. Dan rasanya kenangan seindah itu tidak akan pernah pudar dari hati kami masing2.
Dedicated to my family.
I love you all.
PS: Apa resto padang itu masih ada??? Kangen banget!!!
Kalo emang masih ada, saya cuma akan bilang, "I'M COMING!!!"
Friday, May 28, 2004
Damage
Damage
Film tahun 1992 berjudul 'Damage' ini bercerita tentang seorang ayah yang berselingkuh dengan tunangan anaknya sendiri.
Jeremy Irons berperan sebagai Stephen, sang ayah. Miranda Richardson berperan sebagai Ingrid, sang ibu. Anaknya, Martyn, diperankan oleh Rupert Graves, sedangkan sang tunangan, Anna, diperankan oleh Juliette Binoche.
Stephen adalah seorang ayah yang kaku dalam mendidik kedua anaknya, Martyn dan Sally. Perannya dalam dunia parlemen membuatnya menjadi tidak hangat dan tidak ada 'passion.' Begitu juga dengan Ingrid. Ingrid adalah seorang istri yang tenang, lembut dan keibuan. Tidak ada keliaran dalam diri mereka berdua. Sampai suatu hari muncul Anna, kekasih dari Martyn, yang di awal film sudah menggoda Stephen. Keberanian Anna membuat keliaran Stephen muncul. Tanpa mengingat kalau Anna adalah kekasih anaknya, Martyn. Mereka memulai suatu perselingkuhan. Setiap ada kesempatan, Stephen langsung ke rumah Anna, dan memulai percintaan mereka yang bernafsu dan menggelora. Di tempat umum pun, mereka mencari tempat sepi untuk bercinta. Percintaan yang singkat, bernafsu dan penuh sensasi.
Sampai satu saat Martyn mengumumkan pertunangan mereka. Stephen sangat terkejut. Ia menginginkan Anna hanya untuk dirinya sendiri. Ia bahkan berniat menceraikan Ingrid, untuk kemudian menikahi Anna. Tapi, Anna menolak. Anna yakin mereka berdua lebih menyukai perselingkuhan yang sembunyi-sembunyi, dibanding jika mereka menikah. Anna menekankan bahwa kehidupan pernikahan Stephen sudah baik. Jangan membuat hidupnya jadi lebih sulit.
Perselingkuhan mereka tercium oleh ibu dari Anna. Beliau memperingatkan Stephen untuk menjauhi Anna. Awalnya Stephen menyetujui hal tersebut. Ia menelepon Anna dan mengatakan bahwa mereka harus mengakhiri semuanya. Mereka harus mengakhirinya. Sampai suatu saat Stephen mendapat kiriman kunci flat Anna yang baru. Anna menyewa flat baru karena Martyn pindah ke flatnya yang lama. Mereka sudah tinggal bersama. Mereka memang sedang merencanakan pernikahan mereka. Tetapi, karena kerinduan pada Stephen, Anna rela menyewa flat baru.
Beberapa kali Stephen dan Anna bertemu di flat itu. Bertemu untuk bercinta. Untuk mengeluarkan keliaran dalam diri mereka. Untuk mengeluarkan nafsu dan gelora mereka berdua. Sampai suatu saat, Martyn muncul tanpa diduga. Martyn muncul di gedung flat tersebut. Perlahan naik ke atas, mencari kamar Anna. Martyn mendengar desah nafas wanita di dalam kamar tersebut. Perlahan Martyn mendekati kamar itu. Suara desah wanita masih terdengar. Kunci kamar flat itu tertinggal di depan kamar. Tertinggal karena kecerobohan Stephen. Tanpa suara, Martyn membuka kamar tersebut, dan melihat adegan percintaan calon istrinya dengan ayahnya sendiri. Stephen tersadar dan langsung bangun dari ranjang untuk menghampiri Martyn dengan pandangan bersalah. Martyn mundur. Terpana. Tak percaya. Tak menyangka kalau ini akan terjadi pada dirinya. Mundur dan semakin mundur. Sampai akhirnya, Martyn terjatuh. Terjatuh dan tewas seketika.
Tak percaya, Stephen langsung turun dan menghampiri Martyn. Tanpa mengenakan sehelai pakaianpun, tanpa mengingat malu sedikitpun, tanpa menghiraukan sekelilingnya, Stephen memeluk Martyn. Menangis tersedu-sedu. Memeluk dan menangisi kematian anaknya, buah dari perbuatannya.
Saat Stephen pulang ke rumah, ia melihat Ingrid sedang duduk di dapur. Wajahnya memar-memar dan penuh air mata. "Apa yang terjadi?" tanya Stephen. Ingrid menatapnya dengan pandangan benci, "Sakitnya tak tertahankan (The pain was so unbearable). Aku memukuli diriku sendiri." Kesedihan seorang ibu kehilangan anaknya. Kesedihan seorang istri kehilangan cintanya. Kesedihan seorang manusia kehilangan kepercayaannya. Ingrid menjelaskan bahwa Martyn menerima telepon dari seseorang mengenai flat baru Anna. Martyn tidak pernah mengetahui tentang flat tersebut. Itu sebabnya ia mencatat alamat flat baru tersebut, dan bermaksud menemui Anna. Tapi, ternyata Martyn hanya menemui luka dan kematiannya.
Pertanyaan yang terlintas dalam pikiran saya adalah: Apakah itu yang diinginkan seorang suami yang mengkhianati istrinya? Apakah itu yang diinginkan seorang ayah yang mengkhianati anaknya? Walaupun bukan tunangan anaknya yang diselingkuhi, apapun yang terjadi, jika seorang suami dan seorang ayah berselingkuh, sang suami sudah mengkhianati istrinya, dan sang ayah sudah mengkhianati anaknya. Jadi, apa "keuntungan" dari perselingkuhan? Damage.
Dedicated to all husbands in the world.
Never betray your wife and your children.
Regards,
Yenny
December 26th, 2003
Film tahun 1992 berjudul 'Damage' ini bercerita tentang seorang ayah yang berselingkuh dengan tunangan anaknya sendiri.
Jeremy Irons berperan sebagai Stephen, sang ayah. Miranda Richardson berperan sebagai Ingrid, sang ibu. Anaknya, Martyn, diperankan oleh Rupert Graves, sedangkan sang tunangan, Anna, diperankan oleh Juliette Binoche.
Stephen adalah seorang ayah yang kaku dalam mendidik kedua anaknya, Martyn dan Sally. Perannya dalam dunia parlemen membuatnya menjadi tidak hangat dan tidak ada 'passion.' Begitu juga dengan Ingrid. Ingrid adalah seorang istri yang tenang, lembut dan keibuan. Tidak ada keliaran dalam diri mereka berdua. Sampai suatu hari muncul Anna, kekasih dari Martyn, yang di awal film sudah menggoda Stephen. Keberanian Anna membuat keliaran Stephen muncul. Tanpa mengingat kalau Anna adalah kekasih anaknya, Martyn. Mereka memulai suatu perselingkuhan. Setiap ada kesempatan, Stephen langsung ke rumah Anna, dan memulai percintaan mereka yang bernafsu dan menggelora. Di tempat umum pun, mereka mencari tempat sepi untuk bercinta. Percintaan yang singkat, bernafsu dan penuh sensasi.
Sampai satu saat Martyn mengumumkan pertunangan mereka. Stephen sangat terkejut. Ia menginginkan Anna hanya untuk dirinya sendiri. Ia bahkan berniat menceraikan Ingrid, untuk kemudian menikahi Anna. Tapi, Anna menolak. Anna yakin mereka berdua lebih menyukai perselingkuhan yang sembunyi-sembunyi, dibanding jika mereka menikah. Anna menekankan bahwa kehidupan pernikahan Stephen sudah baik. Jangan membuat hidupnya jadi lebih sulit.
Perselingkuhan mereka tercium oleh ibu dari Anna. Beliau memperingatkan Stephen untuk menjauhi Anna. Awalnya Stephen menyetujui hal tersebut. Ia menelepon Anna dan mengatakan bahwa mereka harus mengakhiri semuanya. Mereka harus mengakhirinya. Sampai suatu saat Stephen mendapat kiriman kunci flat Anna yang baru. Anna menyewa flat baru karena Martyn pindah ke flatnya yang lama. Mereka sudah tinggal bersama. Mereka memang sedang merencanakan pernikahan mereka. Tetapi, karena kerinduan pada Stephen, Anna rela menyewa flat baru.
Beberapa kali Stephen dan Anna bertemu di flat itu. Bertemu untuk bercinta. Untuk mengeluarkan keliaran dalam diri mereka. Untuk mengeluarkan nafsu dan gelora mereka berdua. Sampai suatu saat, Martyn muncul tanpa diduga. Martyn muncul di gedung flat tersebut. Perlahan naik ke atas, mencari kamar Anna. Martyn mendengar desah nafas wanita di dalam kamar tersebut. Perlahan Martyn mendekati kamar itu. Suara desah wanita masih terdengar. Kunci kamar flat itu tertinggal di depan kamar. Tertinggal karena kecerobohan Stephen. Tanpa suara, Martyn membuka kamar tersebut, dan melihat adegan percintaan calon istrinya dengan ayahnya sendiri. Stephen tersadar dan langsung bangun dari ranjang untuk menghampiri Martyn dengan pandangan bersalah. Martyn mundur. Terpana. Tak percaya. Tak menyangka kalau ini akan terjadi pada dirinya. Mundur dan semakin mundur. Sampai akhirnya, Martyn terjatuh. Terjatuh dan tewas seketika.
Tak percaya, Stephen langsung turun dan menghampiri Martyn. Tanpa mengenakan sehelai pakaianpun, tanpa mengingat malu sedikitpun, tanpa menghiraukan sekelilingnya, Stephen memeluk Martyn. Menangis tersedu-sedu. Memeluk dan menangisi kematian anaknya, buah dari perbuatannya.
Saat Stephen pulang ke rumah, ia melihat Ingrid sedang duduk di dapur. Wajahnya memar-memar dan penuh air mata. "Apa yang terjadi?" tanya Stephen. Ingrid menatapnya dengan pandangan benci, "Sakitnya tak tertahankan (The pain was so unbearable). Aku memukuli diriku sendiri." Kesedihan seorang ibu kehilangan anaknya. Kesedihan seorang istri kehilangan cintanya. Kesedihan seorang manusia kehilangan kepercayaannya. Ingrid menjelaskan bahwa Martyn menerima telepon dari seseorang mengenai flat baru Anna. Martyn tidak pernah mengetahui tentang flat tersebut. Itu sebabnya ia mencatat alamat flat baru tersebut, dan bermaksud menemui Anna. Tapi, ternyata Martyn hanya menemui luka dan kematiannya.
Pertanyaan yang terlintas dalam pikiran saya adalah: Apakah itu yang diinginkan seorang suami yang mengkhianati istrinya? Apakah itu yang diinginkan seorang ayah yang mengkhianati anaknya? Walaupun bukan tunangan anaknya yang diselingkuhi, apapun yang terjadi, jika seorang suami dan seorang ayah berselingkuh, sang suami sudah mengkhianati istrinya, dan sang ayah sudah mengkhianati anaknya. Jadi, apa "keuntungan" dari perselingkuhan? Damage.
Dedicated to all husbands in the world.
Never betray your wife and your children.
Regards,
Yenny
December 26th, 2003
Kesan Terindah
Kesan Terindah
Tgl 15 Maret 2004 saya berhasil juga mendapatkan hadiah untuk suami tersayang. Tepat 21 Maret 2004, Michael ulang tahun ke-30. Berbulan-bulan sebelumnya, saya udah bingung mau kasih hadiah apa buat Michael. Mikir sana mikir sini, akhirnya saya menetapkan untuk memberikan sesuatu yang special, yang tidak biasa. Saya memberikan voucher hotel untuk Michael. Saya pesan via tour & travel, lalu saya minta voucher tersebut dikirim langsung ke kantor Michael. Gak lama kemudian Michael menelepon saya. "Sayang, thank you yah..." Saya jelas donk pura2 bodoh. Masa saya langsung ngaku... Gengsi donk. Hehehe. "Thank you apaan? Emang aku kasih apaan?" Michael tertawa penuh sayang, "Aku tau kok kalo voucher itu pasti dari kamu. Siapa lagi yang akan kepikir untuk beliin aku hadiah segitu mahalnya buat aku, kalo bukan kamu. Makasih sayang. Aku sayang kamu..." Duuuh, senengnya hati ini. Walaupun acara surprise sedikit gagal, saya bahagia karena dia seneng terima hadiah itu. Awalnya saya emang sempet ragu apakah voucher itu layak dijadikan hadiah ulang tahun yang special untuk Michael.
Sebelum kenal Michael, saya pernah menginap di hotel Gran Melia. Kebetulan orangtua saya mendapat hadiah anniversary dari kakak saya yang bekerja di admin hotel Gran Melia. Kami menginap beramai-ramai sekeluarga. Waktu itu suasananya bener2 menyenangkan banget. Setelah kenal Michael, saya pernah bercerita kalo saya sering nginep di hotel bintang lima. Waktu saya ke Singapore, Hongkong dan Paris, saya selalu nginep di hotel bintang lima. Saya inget, Michael sampe cemberut saking irinya. Katanya waktu itu, "Seumur-umur aku belon pernah nginep di hotel bintang lima. Boro2 di luar negeri, di Jakarta aja nggak pernah." Dan, saya selalu ingat itu...
20 Maret 2004, kami check-in jam 12:00 setelah paginya mampir dulu di Radio Sonora untuk ambil hadiah voucher. Saya kan ikutan AMKM yang jam 10 pagi, taunya saya dapet voucher dari Bombay Textile senilai Rp 300.000,- Sayang kan kalo nggak diambil. Voucher itu nantinya akan saya berikan ke Mama saya, buat beli kain. Mama kan tukang jahit, pasti seneng dikasih voucher itu. Selesai check-in, kami langsung masuk kamar. Niat untuk makan siang, jadi gagal gara2 pasang TV. Tau donk kalo di hotel itu biasanya ada HBO, Cinemax, CNN, dll. Jadinya malahan kepingin nonton terus. Akhirnya, saya bikinin roti coklat untuk Michael. Dan kami berdua cuma makan roti dan coklat di siang hari itu.
Jam 18:30, kami mandi dan bersiap untuk dinner di Cafe Gran Via. Jam 19:00 kami langsung turun dan menikmati buffet-dinner di sana. Nikmat. Itu sudah jelas. Dari dulu saya memang penggemar buffet di Cafe Gran Via. Waktu ultah yang ke-26, saya pernah dinner berdua Michael di sana. Makanya, ini udah kaya reuni deh. Sejak menikah, kami gak pernah ke sana lagi. Selesai makan, Michael ngajak liat2 sekitar, tapi saya udah gak tahan kepingin nonton lagi. So, kami melanjutkan malam itu dengan nonton film HBO atau Cinemax.
Jam 00:00 harusnya saya bangun untuk mengucapkan Happy Birthday buat Michael. Tapi karena kondisi saya lagi gak fit, gara2 flu dan batuk, saya jadi ketiduran terus. Walhasil, jam 7 pagi baru saya bangun untuk say Happy Birthday to my lovely husband. Binar-binar di matanya membuat saya yakin kalau hadiah saya tidak salah. Jam 8 pagi kami breakfast di Cafe Gran Via. Enak loh. Saya sampe kekenyangan. Abisnya, gak pernah tuh breakfast senikmat itu. All-you-can-eat... Bikin ngiler terus. Hehehe... Sehabis breakfast, kami duduk sebentar di lobby. Tapi gak lama lah, saya keburu kangen sama kamar.
Karena kekenyangan, sesampai di kamar, kami malahan ketiduran. Jam 10:00 telpon berbunyi. Ternyata dari front desk yang menanyakan jam check-out. Kami sepakat untuk check-out jam 12:00 tepat. Biar gak rugi donk. :)
Jam 11:00 tiba2 saja bel pintu berbunyi. Setelah saya buka, ada 2 karyawati hotel yang memegang nampan berisi kue coklat bulat berhiaskan tulisan Happy Birthday, dan 2 piring beserta peralatan makannya. Waaaaah, surprise deh!!! Gak nyangka kalo Michael dapet kue. Hehehe... Thanks to Hotel Gran Melia. Pelayanannya bener2 memuaskan... Setelah menikmati hiasan Happy Birthday yang terbuat dari coklat, kami terpaksa membawa pulang kue tersebut karena perut sudah kekenyangan. (Psst... kue-nya enaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak bangets... :))
Bukan barang mahal dan bukan hadiah mewah yang saya berikan untuk Michael. Hanya 1 lembar voucher hotel. Tidak ada apa2 lagi.
Tapi saya percaya kalau kesan indah yang kami berdua telah rasakan, tidak akan pernah terlupakan.
Dedicated to Michael, dearest husband.
Can't wait to stay at five-star-hotel again, with you by my side.
^-*
Tgl 15 Maret 2004 saya berhasil juga mendapatkan hadiah untuk suami tersayang. Tepat 21 Maret 2004, Michael ulang tahun ke-30. Berbulan-bulan sebelumnya, saya udah bingung mau kasih hadiah apa buat Michael. Mikir sana mikir sini, akhirnya saya menetapkan untuk memberikan sesuatu yang special, yang tidak biasa. Saya memberikan voucher hotel untuk Michael. Saya pesan via tour & travel, lalu saya minta voucher tersebut dikirim langsung ke kantor Michael. Gak lama kemudian Michael menelepon saya. "Sayang, thank you yah..." Saya jelas donk pura2 bodoh. Masa saya langsung ngaku... Gengsi donk. Hehehe. "Thank you apaan? Emang aku kasih apaan?" Michael tertawa penuh sayang, "Aku tau kok kalo voucher itu pasti dari kamu. Siapa lagi yang akan kepikir untuk beliin aku hadiah segitu mahalnya buat aku, kalo bukan kamu. Makasih sayang. Aku sayang kamu..." Duuuh, senengnya hati ini. Walaupun acara surprise sedikit gagal, saya bahagia karena dia seneng terima hadiah itu. Awalnya saya emang sempet ragu apakah voucher itu layak dijadikan hadiah ulang tahun yang special untuk Michael.
Sebelum kenal Michael, saya pernah menginap di hotel Gran Melia. Kebetulan orangtua saya mendapat hadiah anniversary dari kakak saya yang bekerja di admin hotel Gran Melia. Kami menginap beramai-ramai sekeluarga. Waktu itu suasananya bener2 menyenangkan banget. Setelah kenal Michael, saya pernah bercerita kalo saya sering nginep di hotel bintang lima. Waktu saya ke Singapore, Hongkong dan Paris, saya selalu nginep di hotel bintang lima. Saya inget, Michael sampe cemberut saking irinya. Katanya waktu itu, "Seumur-umur aku belon pernah nginep di hotel bintang lima. Boro2 di luar negeri, di Jakarta aja nggak pernah." Dan, saya selalu ingat itu...
20 Maret 2004, kami check-in jam 12:00 setelah paginya mampir dulu di Radio Sonora untuk ambil hadiah voucher. Saya kan ikutan AMKM yang jam 10 pagi, taunya saya dapet voucher dari Bombay Textile senilai Rp 300.000,- Sayang kan kalo nggak diambil. Voucher itu nantinya akan saya berikan ke Mama saya, buat beli kain. Mama kan tukang jahit, pasti seneng dikasih voucher itu. Selesai check-in, kami langsung masuk kamar. Niat untuk makan siang, jadi gagal gara2 pasang TV. Tau donk kalo di hotel itu biasanya ada HBO, Cinemax, CNN, dll. Jadinya malahan kepingin nonton terus. Akhirnya, saya bikinin roti coklat untuk Michael. Dan kami berdua cuma makan roti dan coklat di siang hari itu.
Jam 18:30, kami mandi dan bersiap untuk dinner di Cafe Gran Via. Jam 19:00 kami langsung turun dan menikmati buffet-dinner di sana. Nikmat. Itu sudah jelas. Dari dulu saya memang penggemar buffet di Cafe Gran Via. Waktu ultah yang ke-26, saya pernah dinner berdua Michael di sana. Makanya, ini udah kaya reuni deh. Sejak menikah, kami gak pernah ke sana lagi. Selesai makan, Michael ngajak liat2 sekitar, tapi saya udah gak tahan kepingin nonton lagi. So, kami melanjutkan malam itu dengan nonton film HBO atau Cinemax.
Jam 00:00 harusnya saya bangun untuk mengucapkan Happy Birthday buat Michael. Tapi karena kondisi saya lagi gak fit, gara2 flu dan batuk, saya jadi ketiduran terus. Walhasil, jam 7 pagi baru saya bangun untuk say Happy Birthday to my lovely husband. Binar-binar di matanya membuat saya yakin kalau hadiah saya tidak salah. Jam 8 pagi kami breakfast di Cafe Gran Via. Enak loh. Saya sampe kekenyangan. Abisnya, gak pernah tuh breakfast senikmat itu. All-you-can-eat... Bikin ngiler terus. Hehehe... Sehabis breakfast, kami duduk sebentar di lobby. Tapi gak lama lah, saya keburu kangen sama kamar.
Karena kekenyangan, sesampai di kamar, kami malahan ketiduran. Jam 10:00 telpon berbunyi. Ternyata dari front desk yang menanyakan jam check-out. Kami sepakat untuk check-out jam 12:00 tepat. Biar gak rugi donk. :)
Jam 11:00 tiba2 saja bel pintu berbunyi. Setelah saya buka, ada 2 karyawati hotel yang memegang nampan berisi kue coklat bulat berhiaskan tulisan Happy Birthday, dan 2 piring beserta peralatan makannya. Waaaaah, surprise deh!!! Gak nyangka kalo Michael dapet kue. Hehehe... Thanks to Hotel Gran Melia. Pelayanannya bener2 memuaskan... Setelah menikmati hiasan Happy Birthday yang terbuat dari coklat, kami terpaksa membawa pulang kue tersebut karena perut sudah kekenyangan. (Psst... kue-nya enaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak bangets... :))
Bukan barang mahal dan bukan hadiah mewah yang saya berikan untuk Michael. Hanya 1 lembar voucher hotel. Tidak ada apa2 lagi.
Tapi saya percaya kalau kesan indah yang kami berdua telah rasakan, tidak akan pernah terlupakan.
Dedicated to Michael, dearest husband.
Can't wait to stay at five-star-hotel again, with you by my side.
^-*
The Truth about Cats and Dogs
The Truth about Cats and Dogs
Semalam film ini ditayangkan di TV7 sekitar jam 21:30-an. Seingat saya, Michael pernah merekomendasikan film ini untuk saya tonton. Tapi, saya masih belum menemukan VCD atau DVD-nya. Sampai akhirnya, semalam film itu bisa saya tonton.
Kisah cinta yang ditampilkan wajar sekali. Seorang pria, Brian (diperankan oleh Ben Chaplin) tertarik dengan seorang wanita, Abby (diperankan oleh Janeane Garofalo) hanya karena mendengar suaranya. Abby, seorang dokter hewan yang bekerja di sebuah radio, bukanlah seorang wanita yang biasa dilirik laki-laki. Dalam suatu kejadian, ia bertemu dengan Noelle (diperankan dengan baik oleh Uma Thurman) tetangganya yang langsing, tinggi, blonde and beautiful. Saat Brian meneleponnya untuk urusan anjing, Brian malahan tertarik dengan suara dan intelegensinya. Tetapi Abby yang tidak percaya diri malah menyuruh Noelle untuk berpura-pura menjadi dirinya.
Kelucuan-kelucuan yang terjadi, diantaranya karena Noelle yang polos tidak mengerti tentang hewan, bahkan terkesan takut, membuat film ini menarik. Konflik yang terjadi antara Abby - yang ternyata jatuh cinta pada Brian - dengan Noelle - yang juga tertarik pada Brian - membuat film ini makin menarik. Sampai akhirnya, adegan yang paling menentukan. Saat Noelle pergi ke luar kota untuk audisi, Brian merasa kehilangan dirinya, Abby yang terpaksa berdusta tentang keberadaan 'Abby' di kamar mandi, dan akhirnya semua menjadi jelas. Menjadi jelaslah bagi Abby saat Brian berbicara dengan 'Abby' yang ada di kamar mandi, mengatakan alasannya mencintai sosok Abby. Brian menyebutkan tentang suaranya di radio, tentang kepandaiannya. Lalu, Abby menambahkan, "Because you're beautiful." Brian menoleh dengan bingung. Abby menjelaskan, "You love Abby because she's beautiful." Dan, Brian menggeleng perlahan. Menurut Brian, secantik apapun wanita, kalau tidak ada feeling suka kepada wanita itu, tidak akan terlihat cantik. "No, I don't love her because she's beautiful. I love her just the way she is." Abby terpana mendengarnya. Abby meneteskan air mata. Mungkin karena baru kali ini ia menemukan pria seperti Brian.
Sudah dapat dipastikan bahwa saat Noelle, si 'Abby' palsu datang, Brian akhirnya mengerti. Dan walaupun awalnya Brian merasa dipermainkan, belakangan Brian dan Abby bersatu. Karena adanya cinta.
Selesai menonton film itu, saya masih tersedu-sedu. Saat menoleh kepada Michael yang berbaring di samping saya, ia hanya berkata, "Sayang, aku baru inget kenapa aku pingin banget kamu nonton film ini. Aku baru inget kalau banyak kesamaan antara hubungan kita dengan hubungan mereka."
Semua pasti tahu bahwa saya dan Michael dipertemukan dari milis LOL. Kami memulai dengan hanya saling bertelepon. Dan, kami sadar kalau kami sama2 tertarik karena suara yang terdengar di telepon. Dan, saya ingat, betapa saya tidak PD dengan diri saya, saat Michael tak sabar ingin bertemu dengan saya. Dan, saya ingat, betapa saya merasa canggung saat bertemu dengannya. Saya ingat, saat itu saya sudah jatuh cinta padanya. Dan, saya akan selalu ingat, betapa Michael salalu mencintai saya tanpa syarat.
Selesai menonton film itu, saya memeluknya dan menangis penuh haru. "I finally knew why you love me so much."
So, apakah semua pria bisa seperti Brian?
Regards,
Yenny
January 28th, 2004
Semalam film ini ditayangkan di TV7 sekitar jam 21:30-an. Seingat saya, Michael pernah merekomendasikan film ini untuk saya tonton. Tapi, saya masih belum menemukan VCD atau DVD-nya. Sampai akhirnya, semalam film itu bisa saya tonton.
Kisah cinta yang ditampilkan wajar sekali. Seorang pria, Brian (diperankan oleh Ben Chaplin) tertarik dengan seorang wanita, Abby (diperankan oleh Janeane Garofalo) hanya karena mendengar suaranya. Abby, seorang dokter hewan yang bekerja di sebuah radio, bukanlah seorang wanita yang biasa dilirik laki-laki. Dalam suatu kejadian, ia bertemu dengan Noelle (diperankan dengan baik oleh Uma Thurman) tetangganya yang langsing, tinggi, blonde and beautiful. Saat Brian meneleponnya untuk urusan anjing, Brian malahan tertarik dengan suara dan intelegensinya. Tetapi Abby yang tidak percaya diri malah menyuruh Noelle untuk berpura-pura menjadi dirinya.
Kelucuan-kelucuan yang terjadi, diantaranya karena Noelle yang polos tidak mengerti tentang hewan, bahkan terkesan takut, membuat film ini menarik. Konflik yang terjadi antara Abby - yang ternyata jatuh cinta pada Brian - dengan Noelle - yang juga tertarik pada Brian - membuat film ini makin menarik. Sampai akhirnya, adegan yang paling menentukan. Saat Noelle pergi ke luar kota untuk audisi, Brian merasa kehilangan dirinya, Abby yang terpaksa berdusta tentang keberadaan 'Abby' di kamar mandi, dan akhirnya semua menjadi jelas. Menjadi jelaslah bagi Abby saat Brian berbicara dengan 'Abby' yang ada di kamar mandi, mengatakan alasannya mencintai sosok Abby. Brian menyebutkan tentang suaranya di radio, tentang kepandaiannya. Lalu, Abby menambahkan, "Because you're beautiful." Brian menoleh dengan bingung. Abby menjelaskan, "You love Abby because she's beautiful." Dan, Brian menggeleng perlahan. Menurut Brian, secantik apapun wanita, kalau tidak ada feeling suka kepada wanita itu, tidak akan terlihat cantik. "No, I don't love her because she's beautiful. I love her just the way she is." Abby terpana mendengarnya. Abby meneteskan air mata. Mungkin karena baru kali ini ia menemukan pria seperti Brian.
Sudah dapat dipastikan bahwa saat Noelle, si 'Abby' palsu datang, Brian akhirnya mengerti. Dan walaupun awalnya Brian merasa dipermainkan, belakangan Brian dan Abby bersatu. Karena adanya cinta.
Selesai menonton film itu, saya masih tersedu-sedu. Saat menoleh kepada Michael yang berbaring di samping saya, ia hanya berkata, "Sayang, aku baru inget kenapa aku pingin banget kamu nonton film ini. Aku baru inget kalau banyak kesamaan antara hubungan kita dengan hubungan mereka."
Semua pasti tahu bahwa saya dan Michael dipertemukan dari milis LOL. Kami memulai dengan hanya saling bertelepon. Dan, kami sadar kalau kami sama2 tertarik karena suara yang terdengar di telepon. Dan, saya ingat, betapa saya tidak PD dengan diri saya, saat Michael tak sabar ingin bertemu dengan saya. Dan, saya ingat, betapa saya merasa canggung saat bertemu dengannya. Saya ingat, saat itu saya sudah jatuh cinta padanya. Dan, saya akan selalu ingat, betapa Michael salalu mencintai saya tanpa syarat.
Selesai menonton film itu, saya memeluknya dan menangis penuh haru. "I finally knew why you love me so much."
So, apakah semua pria bisa seperti Brian?
Regards,
Yenny
January 28th, 2004
Jack Frost
Jack Frost
Siapakah Jack Frost? Jack Frost adalah seorang ayah yang terlalu sibuk dengan urusan band musiknya sehingga terkadang lupa dengan keluarganya.
Film Jack Frost dibintangi oleh Michael Keaton sebagai Jack Frost, Kelly Preston sebagai Gaby Frost, dan Joseph Cross sebagai Charlie Frost. Satu bentuk keluarga yang harmonis dan penuh kehangatan, kalau saja Jack Frost bukan seorang suami dan ayah yang sibuk dengan band-nya.
Film tahun 1998 ini saya tonton di hari Natal ini dengan Michael, suami saya. Satu pelajaran yang kami berdua dapatkan dengan menonton film ini. Jack Frost bukan ayah yang buruk. Jack adalah ayah yang hangat, romantis dan penuh humor. Gaby sebagai istrinya begitu sangat mencintai Jack, demikian pula dengan Charlie, anak lelaki mereka satu-satunya. Di film itu benar-benar digambarkan keharmonisan keluarga mereka. Tapi semua itu hancur sudah di saat menjelang Natal, di mana Jack Frost mendapat kesempatan untuk rekaman musik oleh salah satu produser musik terkenal. Jack terpaksa membatalkan rencana berlibur mereka. Dengan kekecewaan, Charlie mengembalikan hadiah Jack berupa harmonika yang pertama kali dibeli Jack saat kelahiran Charlie. Charlie begitu kecewa karena bukan kali ini saja Jack mengingkari janji-janjinya.
Seperti kata Gaby di satu saat Jack mengingkari janjinya untuk datang ke pertandingan hockey Charlie, "Aku yang memilihmu, sehingga aku dapat menerima semua kekecewaan ini. Tapi Charlie tidak memilihmu." Itu adalah kata-kata seorang istri yang mengingatkan suaminya, bahwa sebagai istri, ia dapat menerima kekurangan suaminya karena ia yang memilih si suami untuk menjadi suaminya. Tetapi seorang anak tidak dapat memilih orangtuanya. Seorang anak tidak dapat dengan mudahnya berbesar hati menerima ingkar janji orangtuanya. Seorang anak belum memiliki toleransi sebesar itu.
Di tengah perjalanan, Jack menyadari kesalahannya. Mac, teman baiknya, juga menyadari itu. Bahkan Mac menawarkan diri untuk menepi dan membiarkan Jack pulang ke rumahnya. Sayangnya, dalam perjalanan pulang, karena salju yang tebal dan wiper mobil yang sudah rusak, Jack mengalami kecelakaan dan meninggal.
Setahun sudah berlalu sejak kepergian Jack, Charlie dan Gaby masih belum dapat menerima kepergiannya. Mereka masih sering menangis berpelukan sambil merindukan Jack. Sampai satu malam, Charlie melihat tetangganya membuat Snow Man, dan ia pun terinspirasi untuk membuat Snow Man sendiri dengan menggunakan syal dan topi Jack. Selesai membuat Snow Man, Charlie meniup harmonika pemberian Jack. Menurut Jack, saat Charlie meniup harmonika itu, ia akan selalu mendengarnya di mana pun ia berada. Charlie begitu merindukan Jack sehingga ditiupnya harmonika itu, berharap Jack akan mendengar kerinduannya.
Tiba-tiba keajaiban terjadi. Snow Man buatan Charlie, hidup. Dan Jack ada di dalamnya. Setahun meninggalkan mereka, Jack kembali dan menjelma menjadi Snow Man. Lucu bukan? Sampai di sini, kisah berlanjut menjadi lucu. Charlie bisa menerima ayahnya menjadi Snow Dad. Kelucuan-kelucuan terjadi dengan tingkah polah Jack yang terkadang masih belum terbiasa dengan tubuhnya. Jack juga memperbaiki water sink yang bocor, yang tidak pernah sempat ia perbaiki saat ia masih hidup.
Tapi semua itu hampir berakhir dengan mencairnya salju. Mereka terpaksa mencari tempat di mana salju selalu ada. Charlie meminta pertolongan Gaby, tetapi gagal karena Gaby tidak percaya bahwa Snow Man adalah Snow Dad. Akhirnya, mereka pergi ke puncak gunung dengan menumpang truk yang menuju Pine Top, di mana ada pondok tempat peristirahatan mereka yang selalu dipenuhi salju. Kelelahan, Charlie tertidur tanpa sadar bahwa Gaby mencarinya ke mana-mana. Jack sadar, kali ini ia harus pergi. Ia segera menelepon Gaby memberitahukan bahwa Charlie ada di pondok mereka. Tak percaya, Gaby mendengarkan suara yang pernah mengisi hari-harinya, muncul kembali di saat yang tidak mungkin.
"It's Christmas!!!" Charlie berseru saat ia bangun dari tidurnya. "Merry Christmas, Dad," katanya. "Merry Christmas, Charlie," jawab Jack. Jack memandang Charlie dengan penuh sayang. Dan ia berpamitan. Sudah saatnya untuk kembali. Charlie menatapnya dengan tak percaya. Charlie tidak ingin Jack pergi lagi. "Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan kami lagi," kata Charlie sambil berlinang air mata. Tapi Charlie tahu, tidak mungkin ia menahan kepergian Jack. Jack memang harus pergi, dan kali ini mungkin untuk selamanya. Di belakang Charlie, Gaby muncul dan melihat kalau semuanya memang benar. Selama ini Gaby mengira Charlie terlalu merindukan ayahnya, sampai-sampai mengira kalau Snow Man itu adalah ayahnya. Tapi di saat terakhir ini, Gaby tahu bahwa Snow Man itu adalah Jack.
Angin bertiup mengelilingi Jack. Snow Man sudah hilang, berganti dengan bayangan Jack. Gaby dan Jack saling menatap penuh cinta dan air mata. Kerinduan terlihat jelas di mata mereka. Kalau dulu Jack tidak sempat berpamitan pada Gaby, kali ini Jack mendapat kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Dan, Jack pun lenyap dari hadapan mereka.
Tidak dapat dibayangkan, air mata yang turun saat selesai menonton film ini. Saya memang tidak menyukai film tentang perpisahan. Film happy-ending saja bisa membuat saya menangis, apalagi film sad-ending. Tapi ini menjadi pelajaran buat kami berdua, mungkin juga buat semua orang yang menonton film ini. Kesempatan seperti Jack, belum tentu muncul. Mungkin tidak akan pernah ada kesempatan kedua seperti itu. Hidup ini toh bukan seperti film yang bisa kita mainkan semau kita. Hidup ini hanya sekali. Lakukan apa yang selama ini kita janji untuk melakukannya, karena kesempatan kedua itu sangat kecil kemungkinannya. Lihat sekitarmu. Berikan cintamu pada mereka. Berikan hatimu pada mereka. Berikan perhatianmu pada keluargamu. Jangan sampai muncul adanya penyesalan. Karena penyesalan tidak pernah datang duluan.
Merry Christmas Everybody.
December 26th, 2003
Siapakah Jack Frost? Jack Frost adalah seorang ayah yang terlalu sibuk dengan urusan band musiknya sehingga terkadang lupa dengan keluarganya.
Film Jack Frost dibintangi oleh Michael Keaton sebagai Jack Frost, Kelly Preston sebagai Gaby Frost, dan Joseph Cross sebagai Charlie Frost. Satu bentuk keluarga yang harmonis dan penuh kehangatan, kalau saja Jack Frost bukan seorang suami dan ayah yang sibuk dengan band-nya.
Film tahun 1998 ini saya tonton di hari Natal ini dengan Michael, suami saya. Satu pelajaran yang kami berdua dapatkan dengan menonton film ini. Jack Frost bukan ayah yang buruk. Jack adalah ayah yang hangat, romantis dan penuh humor. Gaby sebagai istrinya begitu sangat mencintai Jack, demikian pula dengan Charlie, anak lelaki mereka satu-satunya. Di film itu benar-benar digambarkan keharmonisan keluarga mereka. Tapi semua itu hancur sudah di saat menjelang Natal, di mana Jack Frost mendapat kesempatan untuk rekaman musik oleh salah satu produser musik terkenal. Jack terpaksa membatalkan rencana berlibur mereka. Dengan kekecewaan, Charlie mengembalikan hadiah Jack berupa harmonika yang pertama kali dibeli Jack saat kelahiran Charlie. Charlie begitu kecewa karena bukan kali ini saja Jack mengingkari janji-janjinya.
Seperti kata Gaby di satu saat Jack mengingkari janjinya untuk datang ke pertandingan hockey Charlie, "Aku yang memilihmu, sehingga aku dapat menerima semua kekecewaan ini. Tapi Charlie tidak memilihmu." Itu adalah kata-kata seorang istri yang mengingatkan suaminya, bahwa sebagai istri, ia dapat menerima kekurangan suaminya karena ia yang memilih si suami untuk menjadi suaminya. Tetapi seorang anak tidak dapat memilih orangtuanya. Seorang anak tidak dapat dengan mudahnya berbesar hati menerima ingkar janji orangtuanya. Seorang anak belum memiliki toleransi sebesar itu.
Di tengah perjalanan, Jack menyadari kesalahannya. Mac, teman baiknya, juga menyadari itu. Bahkan Mac menawarkan diri untuk menepi dan membiarkan Jack pulang ke rumahnya. Sayangnya, dalam perjalanan pulang, karena salju yang tebal dan wiper mobil yang sudah rusak, Jack mengalami kecelakaan dan meninggal.
Setahun sudah berlalu sejak kepergian Jack, Charlie dan Gaby masih belum dapat menerima kepergiannya. Mereka masih sering menangis berpelukan sambil merindukan Jack. Sampai satu malam, Charlie melihat tetangganya membuat Snow Man, dan ia pun terinspirasi untuk membuat Snow Man sendiri dengan menggunakan syal dan topi Jack. Selesai membuat Snow Man, Charlie meniup harmonika pemberian Jack. Menurut Jack, saat Charlie meniup harmonika itu, ia akan selalu mendengarnya di mana pun ia berada. Charlie begitu merindukan Jack sehingga ditiupnya harmonika itu, berharap Jack akan mendengar kerinduannya.
Tiba-tiba keajaiban terjadi. Snow Man buatan Charlie, hidup. Dan Jack ada di dalamnya. Setahun meninggalkan mereka, Jack kembali dan menjelma menjadi Snow Man. Lucu bukan? Sampai di sini, kisah berlanjut menjadi lucu. Charlie bisa menerima ayahnya menjadi Snow Dad. Kelucuan-kelucuan terjadi dengan tingkah polah Jack yang terkadang masih belum terbiasa dengan tubuhnya. Jack juga memperbaiki water sink yang bocor, yang tidak pernah sempat ia perbaiki saat ia masih hidup.
Tapi semua itu hampir berakhir dengan mencairnya salju. Mereka terpaksa mencari tempat di mana salju selalu ada. Charlie meminta pertolongan Gaby, tetapi gagal karena Gaby tidak percaya bahwa Snow Man adalah Snow Dad. Akhirnya, mereka pergi ke puncak gunung dengan menumpang truk yang menuju Pine Top, di mana ada pondok tempat peristirahatan mereka yang selalu dipenuhi salju. Kelelahan, Charlie tertidur tanpa sadar bahwa Gaby mencarinya ke mana-mana. Jack sadar, kali ini ia harus pergi. Ia segera menelepon Gaby memberitahukan bahwa Charlie ada di pondok mereka. Tak percaya, Gaby mendengarkan suara yang pernah mengisi hari-harinya, muncul kembali di saat yang tidak mungkin.
"It's Christmas!!!" Charlie berseru saat ia bangun dari tidurnya. "Merry Christmas, Dad," katanya. "Merry Christmas, Charlie," jawab Jack. Jack memandang Charlie dengan penuh sayang. Dan ia berpamitan. Sudah saatnya untuk kembali. Charlie menatapnya dengan tak percaya. Charlie tidak ingin Jack pergi lagi. "Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan kami lagi," kata Charlie sambil berlinang air mata. Tapi Charlie tahu, tidak mungkin ia menahan kepergian Jack. Jack memang harus pergi, dan kali ini mungkin untuk selamanya. Di belakang Charlie, Gaby muncul dan melihat kalau semuanya memang benar. Selama ini Gaby mengira Charlie terlalu merindukan ayahnya, sampai-sampai mengira kalau Snow Man itu adalah ayahnya. Tapi di saat terakhir ini, Gaby tahu bahwa Snow Man itu adalah Jack.
Angin bertiup mengelilingi Jack. Snow Man sudah hilang, berganti dengan bayangan Jack. Gaby dan Jack saling menatap penuh cinta dan air mata. Kerinduan terlihat jelas di mata mereka. Kalau dulu Jack tidak sempat berpamitan pada Gaby, kali ini Jack mendapat kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Dan, Jack pun lenyap dari hadapan mereka.
Tidak dapat dibayangkan, air mata yang turun saat selesai menonton film ini. Saya memang tidak menyukai film tentang perpisahan. Film happy-ending saja bisa membuat saya menangis, apalagi film sad-ending. Tapi ini menjadi pelajaran buat kami berdua, mungkin juga buat semua orang yang menonton film ini. Kesempatan seperti Jack, belum tentu muncul. Mungkin tidak akan pernah ada kesempatan kedua seperti itu. Hidup ini toh bukan seperti film yang bisa kita mainkan semau kita. Hidup ini hanya sekali. Lakukan apa yang selama ini kita janji untuk melakukannya, karena kesempatan kedua itu sangat kecil kemungkinannya. Lihat sekitarmu. Berikan cintamu pada mereka. Berikan hatimu pada mereka. Berikan perhatianmu pada keluargamu. Jangan sampai muncul adanya penyesalan. Karena penyesalan tidak pernah datang duluan.
Merry Christmas Everybody.
December 26th, 2003
MY Valentine
MY Valentine
Valentine's ini mestinya gak ada cerita apa-apa. Toh saya udah bilang sama suami, "Gak perlu ada surprise deh. Aku gak sempet sih beli apa2 buat kamu." Dan suami udah setuju tuh. Tapi nyatanya, dia bohong sama saya. Nyatanya, dia tetep gak rela kalo gak kasih surprise buat saya.
Pagi itu, 14 Februari 2004, saya terbangun dengan mata masih mengantuk. As usual, saya selalu nengok ke belakang saya untuk ngeliat udah jam berapa. Ternyata Michael udah tau persis kebiasaan saya. Saat saya ngucek2 mata untuk liat jam lebih jelas, saya malahan gak ngeliat apa2. Something's covering the clock. What's that? Saya langsung bangun dan melihat lebih dekat.
Disc mungil berwarna ungu - my favorite color - udah tersandar dengan manis di depan jam. Warna-warni tulisan Michael terbaca jelas. "Once upon a time, from a distance, you took my heart away. It must have been love. Heaven knows, I've been waiting for you. Beautiful girl, have I told you lately, you're the inspiration? How am I supposed to live without you, if you're not here? When I look into your eyes, you take my breath away. I'm gonna be around, whenever you close your eyes. We don't have to say the words, because I love you, only you. From this moment on, I'll be your everything. Don't forget to remember, I will always love you. Now and forever, you are the best thing in my life. Tonight I celebrate my love. Valentine girl, be my lady, till death do us part. I love you, just the way you are."
Well, saya langsung menduga kalo itu pasti disc berisi MP3 lagu2 cinta buat saya. Dengan penuh haru, saya langsung menubruk Michael yang masih terkantuk-kantuk di sebelah saya. Air mata sudah gak bisa dibendung lagi. Michael cuma tersenyum sambil mencium saya dengan lembut. "Happy Valentine's Day, Sayang."
Sepagian itu saya hanya memeluknya sambil tersenyum bahagia. Saya gak nyangka kalo dia masih bisa memberikan suprise buat saya. Saya tau dia sedang sibuk banget di kantor, mana mungkin sempat nyari apa2 buat saya. Tapi ternyata dia emang selalu bisa mencari sesuatu yang bikin saya surprise. Setelah itu, saya bangun dari ranjang. Lalu menuju dapur. Saatnya saya memberikan suprise buat dia. Walaupun surprise dadakan, saya harap dia cukup senang.
Roti tawar yang sudah saya beli kemarin, langsung saya cetak bentuk heart. Kecil-kecil loh. Terus, di atasnya saya colek-in sedikit selai kacang, lalu taburi coklat meisies warna-warni. Setelah itu, saya letakkan di atas loyang bentuk heart. Dan, saya hidangkan di depan matanya. Waaah, senang deh ngeliat binar-binar di mataya. Seperti anak kecil, dia milih roti bentuk heart itu satu persatu, dan saya menyuapi. Setelah itu, saya malahan mencetak bentuk2 lain, seperti bebek, kupu2, pohon, dll. Jadi seru. Jadi lucu.
Tapi, saya jadi timbul pertanyaan... Apa bisa jatuh cinta berulang kali pada orang yang sama? Sudah berkali-kali saya jatuh cinta lagi padanya. Semua yang dilakukannya terhadap saya, selalu membuat saya bahagia. Dari awal dia memasuki kehidupan saya, sampai sekarang saat memasuki bulan ke-7 pernikahan kami, saya selalu bahagia. Dan akhirnya, saya jatuh cinta lagi untuk yang kesekian kali.
Dedicated to Michael, suamiku.
I will always be your valentine...
Valentine's ini mestinya gak ada cerita apa-apa. Toh saya udah bilang sama suami, "Gak perlu ada surprise deh. Aku gak sempet sih beli apa2 buat kamu." Dan suami udah setuju tuh. Tapi nyatanya, dia bohong sama saya. Nyatanya, dia tetep gak rela kalo gak kasih surprise buat saya.
Pagi itu, 14 Februari 2004, saya terbangun dengan mata masih mengantuk. As usual, saya selalu nengok ke belakang saya untuk ngeliat udah jam berapa. Ternyata Michael udah tau persis kebiasaan saya. Saat saya ngucek2 mata untuk liat jam lebih jelas, saya malahan gak ngeliat apa2. Something's covering the clock. What's that? Saya langsung bangun dan melihat lebih dekat.
Disc mungil berwarna ungu - my favorite color - udah tersandar dengan manis di depan jam. Warna-warni tulisan Michael terbaca jelas. "Once upon a time, from a distance, you took my heart away. It must have been love. Heaven knows, I've been waiting for you. Beautiful girl, have I told you lately, you're the inspiration? How am I supposed to live without you, if you're not here? When I look into your eyes, you take my breath away. I'm gonna be around, whenever you close your eyes. We don't have to say the words, because I love you, only you. From this moment on, I'll be your everything. Don't forget to remember, I will always love you. Now and forever, you are the best thing in my life. Tonight I celebrate my love. Valentine girl, be my lady, till death do us part. I love you, just the way you are."
Well, saya langsung menduga kalo itu pasti disc berisi MP3 lagu2 cinta buat saya. Dengan penuh haru, saya langsung menubruk Michael yang masih terkantuk-kantuk di sebelah saya. Air mata sudah gak bisa dibendung lagi. Michael cuma tersenyum sambil mencium saya dengan lembut. "Happy Valentine's Day, Sayang."
Sepagian itu saya hanya memeluknya sambil tersenyum bahagia. Saya gak nyangka kalo dia masih bisa memberikan suprise buat saya. Saya tau dia sedang sibuk banget di kantor, mana mungkin sempat nyari apa2 buat saya. Tapi ternyata dia emang selalu bisa mencari sesuatu yang bikin saya surprise. Setelah itu, saya bangun dari ranjang. Lalu menuju dapur. Saatnya saya memberikan suprise buat dia. Walaupun surprise dadakan, saya harap dia cukup senang.
Roti tawar yang sudah saya beli kemarin, langsung saya cetak bentuk heart. Kecil-kecil loh. Terus, di atasnya saya colek-in sedikit selai kacang, lalu taburi coklat meisies warna-warni. Setelah itu, saya letakkan di atas loyang bentuk heart. Dan, saya hidangkan di depan matanya. Waaah, senang deh ngeliat binar-binar di mataya. Seperti anak kecil, dia milih roti bentuk heart itu satu persatu, dan saya menyuapi. Setelah itu, saya malahan mencetak bentuk2 lain, seperti bebek, kupu2, pohon, dll. Jadi seru. Jadi lucu.
Tapi, saya jadi timbul pertanyaan... Apa bisa jatuh cinta berulang kali pada orang yang sama? Sudah berkali-kali saya jatuh cinta lagi padanya. Semua yang dilakukannya terhadap saya, selalu membuat saya bahagia. Dari awal dia memasuki kehidupan saya, sampai sekarang saat memasuki bulan ke-7 pernikahan kami, saya selalu bahagia. Dan akhirnya, saya jatuh cinta lagi untuk yang kesekian kali.
Dedicated to Michael, suamiku.
I will always be your valentine...
MY Lovely Wedding
MY Lovely Wedding
Sejak pertama saya kenal dia, saya sudah tau bahwa he's the one. Tapi, sekarang... saat saya sudah benar2 menjadi pasangan hidupnya, saya masih suka takjub. Takjub karena saya bisa memiliki pasangan hidup yang benar2 mengerti dan mencintai saya. Kisah cinta kami sudah banyak membuat orang terheran2. Komentarnya macam2, dari yang tidak percaya sampai yang turut bahagia.
Setelah melewati banyak rintangan dan cobaan, kami menikah.
31 Agustus 2003.
Pencatatan sipil dilakukan di Gereja St. Ignatius Loyola, di Jalan Malang, deket Pasar Rumput. Sempat terhambat, karena tukang foto belum datang. Tapi, pencatatan sipil dapat segera kami laksanakan dengan baik.
Sakramen pernikahan juga kami lakukan di Gereja St. Ignatius Loyola. Romo FX Pranataseputra yang mengukuhkan janji pernikahan kami. Dengan diiringi lagu "Ave Maria" oleh paduan suara Lingkungan Antonius Fernandes I, kami memasuki gereja. Jantung saya berdebar keras. Rasanya seperti mimpi. Saya berjalan di samping Michael, memakai gaun indah buatan tangan Mama tercinta. Sekilas saya menoleh ke samping, melihat Michael, sambil bertanya2, apakah Michael juga berdebar2 seperti saya. Senyuman Michael membuat saya sedikit tenang. Ya, saya yakin saya akan sanggup melewati hari ini.
Suara saya bergetar saat membaca janji pernikahan.
"Di hadapan Imam, para saksi serta umat yang hadir di sini, Saya, Josephine Aurellia Yenny Widjaja menyatakan dengan sungguh-sungguh dan dengan tulus hati serta dengan niat hati yang suci memilih Sebastianus Michael Sujantono yang berdiri di sisi saya ini, mulai sekarang menjadi suami saya. Saya berjanji akan setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit dan sanggup dengan sepenuh hati mencintai, mengasihi, membahagiakan serta menghormati engkau seumur hidup. Demikianlah janji saya demi Allah dan Injil suci ini."
Isak tangis tak dapat kami tahan saat menghampiri kedua orang tua kami. Ucapan terima kasih kepada mereka yang telah merawat kami dengan baik, dan permohonan maaf atas segala perbuatan kami selama ini, kami ungkapkan lewat peluk dan cium tanda cinta.
Diiringi lagu indah "From This Moment On," kami melakukan penandatanganan Akte Pernikahan. Dan setelah menyerahkan bunga ke altar Bunda Maria, selesai sudah acara sakramen pernikahan kami.
06 September 2003.
Jam 4 pagi, saya diantar Papa ke Cucu Bridal, Mangga Besar. Sekitar 1-2 jam, wajah ngantuk saya sudah berganti dengan wajah cantik khas seorang pengantin. Setelah itu, saya menunggu Michael yang akan datang untuk menjemput saya. Michael sendiri sudah sibuk dengan acaranya di rumah kami, di Puri Metropolitan. Tak lama kemudian, Michael tiba. Setelah disambut dengan segala tata cara Chinese wedding, Michael akhirnya sampai juga di hadapan saya. Kami ditangani oleh fotografer yang mengarahkan kami untuk bergaya. Setelah gono-gini, selesai sudah acara foto2 penjemputan pengantin.
Acara teh-pai kami lakukan tidak terlalu lama, berhubung kami sudah tau tata caranya. Kebetulan kedua kakak perempuan saya juga melakukan tradisi ini, sehingga tidak terlalu menyulitkan.
Sekitar jam 10:30, kami berdua naik mobil pengantin menuju Cucu Bridal. Biasanya sebelum pesta, pengantin harus melakukan touch-up supaya saat pesta resepsi tetap keliatan segar dan cantik. Setelah itu, kami lanjut menuju Restaurant Sentral di Tomang. Sempet BT gara2 macet, tapi tak lama kami sampai juga di sana.
Rasanya bahagia sekali saat saya berjalan di samping Michael memasuki ruangan. Berpuluh2 bahkan beratus2 mata memandang kami. Di depan kami berdua, keponakan saya - Victoria - dan keponakan Michael - Samantha - berjalan dengan bangga sambil menabur-naburkan kertas kilap2 kecil sepanjang karpet merah. Setelah sampai di depan, kami dan para orang tua menempati posisi masing2. Setelah acara pemotongan kue pengantin, kami memberikan kue pengantin ke para orang tua. Setelah itu, kami saling memberikan kue pengantin, dan terakhir adalah Wedding Kiss. Malu rasanya diliat sebegitu banyak orang. Tapi, apa mo dikata, memang itu yang harus kami lakukan. Deg2an rasanya saat bibir kami saling mengecup. Dan selesai sudah. Indah. Indah sekali.
Lelah. Itu yang kami rasakan bersama. Tapi kami bahagia. Acara dapat kami selesaikan dengan baik. Dan kami pun siap pulang ke rumah untuk melakukan teh-pai dengan keluarga Michael. Setelah acara teh-pai, kami berfoto di kamar pengantin. Walaupun letih, kami berhasil melakukan dengan cukup baik. Dan, kali ini, selesai semuanya.
Malam Pertama.
Indah. Seindah yang selalu kami bayangkan. Bahagia rasanya menatap dirinya terbaring di sisi saya. Bahagia rasanya memeluk dirinya tanpa takut harus melepasnya lagi untuk pulang ke rumah. Bahagia rasanya saat tahu bahwa kami berdua sudah menjadi satu. Satu hati. Satu cinta.
Dedicated to Michael, my husband.
I'll never regret the day you became mine.
I love you, for the rest of my life.
Sejak pertama saya kenal dia, saya sudah tau bahwa he's the one. Tapi, sekarang... saat saya sudah benar2 menjadi pasangan hidupnya, saya masih suka takjub. Takjub karena saya bisa memiliki pasangan hidup yang benar2 mengerti dan mencintai saya. Kisah cinta kami sudah banyak membuat orang terheran2. Komentarnya macam2, dari yang tidak percaya sampai yang turut bahagia.
Setelah melewati banyak rintangan dan cobaan, kami menikah.
31 Agustus 2003.
Pencatatan sipil dilakukan di Gereja St. Ignatius Loyola, di Jalan Malang, deket Pasar Rumput. Sempat terhambat, karena tukang foto belum datang. Tapi, pencatatan sipil dapat segera kami laksanakan dengan baik.
Sakramen pernikahan juga kami lakukan di Gereja St. Ignatius Loyola. Romo FX Pranataseputra yang mengukuhkan janji pernikahan kami. Dengan diiringi lagu "Ave Maria" oleh paduan suara Lingkungan Antonius Fernandes I, kami memasuki gereja. Jantung saya berdebar keras. Rasanya seperti mimpi. Saya berjalan di samping Michael, memakai gaun indah buatan tangan Mama tercinta. Sekilas saya menoleh ke samping, melihat Michael, sambil bertanya2, apakah Michael juga berdebar2 seperti saya. Senyuman Michael membuat saya sedikit tenang. Ya, saya yakin saya akan sanggup melewati hari ini.
Suara saya bergetar saat membaca janji pernikahan.
"Di hadapan Imam, para saksi serta umat yang hadir di sini, Saya, Josephine Aurellia Yenny Widjaja menyatakan dengan sungguh-sungguh dan dengan tulus hati serta dengan niat hati yang suci memilih Sebastianus Michael Sujantono yang berdiri di sisi saya ini, mulai sekarang menjadi suami saya. Saya berjanji akan setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit dan sanggup dengan sepenuh hati mencintai, mengasihi, membahagiakan serta menghormati engkau seumur hidup. Demikianlah janji saya demi Allah dan Injil suci ini."
Isak tangis tak dapat kami tahan saat menghampiri kedua orang tua kami. Ucapan terima kasih kepada mereka yang telah merawat kami dengan baik, dan permohonan maaf atas segala perbuatan kami selama ini, kami ungkapkan lewat peluk dan cium tanda cinta.
Diiringi lagu indah "From This Moment On," kami melakukan penandatanganan Akte Pernikahan. Dan setelah menyerahkan bunga ke altar Bunda Maria, selesai sudah acara sakramen pernikahan kami.
06 September 2003.
Jam 4 pagi, saya diantar Papa ke Cucu Bridal, Mangga Besar. Sekitar 1-2 jam, wajah ngantuk saya sudah berganti dengan wajah cantik khas seorang pengantin. Setelah itu, saya menunggu Michael yang akan datang untuk menjemput saya. Michael sendiri sudah sibuk dengan acaranya di rumah kami, di Puri Metropolitan. Tak lama kemudian, Michael tiba. Setelah disambut dengan segala tata cara Chinese wedding, Michael akhirnya sampai juga di hadapan saya. Kami ditangani oleh fotografer yang mengarahkan kami untuk bergaya. Setelah gono-gini, selesai sudah acara foto2 penjemputan pengantin.
Acara teh-pai kami lakukan tidak terlalu lama, berhubung kami sudah tau tata caranya. Kebetulan kedua kakak perempuan saya juga melakukan tradisi ini, sehingga tidak terlalu menyulitkan.
Sekitar jam 10:30, kami berdua naik mobil pengantin menuju Cucu Bridal. Biasanya sebelum pesta, pengantin harus melakukan touch-up supaya saat pesta resepsi tetap keliatan segar dan cantik. Setelah itu, kami lanjut menuju Restaurant Sentral di Tomang. Sempet BT gara2 macet, tapi tak lama kami sampai juga di sana.
Rasanya bahagia sekali saat saya berjalan di samping Michael memasuki ruangan. Berpuluh2 bahkan beratus2 mata memandang kami. Di depan kami berdua, keponakan saya - Victoria - dan keponakan Michael - Samantha - berjalan dengan bangga sambil menabur-naburkan kertas kilap2 kecil sepanjang karpet merah. Setelah sampai di depan, kami dan para orang tua menempati posisi masing2. Setelah acara pemotongan kue pengantin, kami memberikan kue pengantin ke para orang tua. Setelah itu, kami saling memberikan kue pengantin, dan terakhir adalah Wedding Kiss. Malu rasanya diliat sebegitu banyak orang. Tapi, apa mo dikata, memang itu yang harus kami lakukan. Deg2an rasanya saat bibir kami saling mengecup. Dan selesai sudah. Indah. Indah sekali.
Lelah. Itu yang kami rasakan bersama. Tapi kami bahagia. Acara dapat kami selesaikan dengan baik. Dan kami pun siap pulang ke rumah untuk melakukan teh-pai dengan keluarga Michael. Setelah acara teh-pai, kami berfoto di kamar pengantin. Walaupun letih, kami berhasil melakukan dengan cukup baik. Dan, kali ini, selesai semuanya.
Malam Pertama.
Indah. Seindah yang selalu kami bayangkan. Bahagia rasanya menatap dirinya terbaring di sisi saya. Bahagia rasanya memeluk dirinya tanpa takut harus melepasnya lagi untuk pulang ke rumah. Bahagia rasanya saat tahu bahwa kami berdua sudah menjadi satu. Satu hati. Satu cinta.
Dedicated to Michael, my husband.
I'll never regret the day you became mine.
I love you, for the rest of my life.
Falling for You
Falling for You
Rasanya deg-degan banget waktu bangun pagi. Hari itu saya cuti barengan kekasih saya. Kami bakal test make-up di Cucu Bridal di Mangga Besar. Seminggu yang lalu, staf di Cucu Bridal tempat saya nanti make-up untuk pernikahan, sudah menelepon untuk mengingatkan janji kami test make-up sekaligus foto pengantin. Dan, gak terasa, saatnya udah tiba.
Sambil menunggu Michael dateng, saya mandi, makan pagi dan mencoba menyibukkan diri. Tapi rasa deg-degan ini gak hilang juga. Saya mondar-mandir ke sana ke mari, tapi gak ada yang bisa saya lakukan. Gak lama, Michael dateng juga. Dan, kami mulai sibuk memilah barang mana yang mau dibawa, barengan dengan Mama saya.
Sesampai di Cucu Bridal, kami langsung milih jas pengantin untuk Michael. Masih sibuk memilih jas, saya udah dipanggil untuk make-up. Jadi, saya udah gak tau lagi gimana kesibukan Michael memilih jas. Mama saya yang sibuk bantuin Michael. Mama emang sengaja saya ajak, supaya bisa bantuin saya saat memakai gaun pengantin. Kan Mama yang bikin gaunnya. ^-^
Sebentar2, Mama melongok masuk ke dalam melihat hasil dandanan saya. Gak lama, Michael juga masuk, untuk make-up pengantin pria. Saya senyum2 ngeliat dia bengong. Saya yakin banget kalo dia pasti gak suka sama dandanan saya. Dari awal kami bicara soal make-up, dia udah bilang kalo dia gak mau saya tampil dengan make-up yang berlebihan. Dia bilang, "Aku suka kamu dandan yang natural. Tipis-tipis aja. Kamu jauh lebih cantik kalo gak pake dandanan tebal." Makanya, saya udah berasa kalo saat dia liat dandanan saya, dia bakal gak sukaaaaa banget. Dia sih gak lama dandannya. Setelah selesai, dia langsung nunggu di depan. Pas saya keluar ruangan untuk ke bagian tata rambut, saya bisa ngeliat kekecewaan di wajahnya. Tapi saya gak peduli. Saya malah sibuk ngeliatin dia yang wajahnya jadi tambah keren. Hehehe...
Kami sama2 menuju bagian tata rambut. Pelan-pelan rambut saya disanggul, lalu kami sama2 milih rambut palsu yang cocok dengan dandanan plus bentuk wajah saya. Setelah itu, rambut saya disemprot pake multi-colour hair spray agar sewarna dengan rambut palsunya. Dan gak lama kemudian, saya sudah tampil cantik. Giliran Michael yang di-blow.
Saya dan Mama langsung menuju ruang make-up lagi. Saatnya saya milih crown, slayer dan accesories. Saya masuk. 2 orang staf udah nunggu di dalam. Mereka membantu saya memakai gaun pengantin. Setelah itu, crown dipilih. Kebetulan Mama sudah membawa crown, slayer dan accesories sendiri, karena takut kalau pilihan di Cucu Bridal tidak sesuai dengan warna gaun pengantin. Slayer-nya pun baru semalam ditaburi berlian2 kecil. Tapi setelah disesuaikan, ternyata crown dan accesories dari Cucu Bridal sudah bagus. Cuma slayer-nya saja yang kurang cocok. Akhirnya slayer buatan Mama saya yang dipakai.
Setelah siap, saya langsung keluar ruangan menemui Michael yang sudah siap dengan jas lengkap. Kali ini, saya bisa merasakan tatapan kekaguman yang terpancar dari matanya. Dan, kami berdua jalan menuju studio foto yang ada di ruko depan jalan Mangga Besar.
Setelah menunggu 1 jam, kami berdua siap untuk difoto. 2 pose pertama yang paling saya ingat, saat Michael memakaikan wedding ring di jari manis saya, dan saat saya memakaikan wedding ring di jari manis Michael. Indah. Pose selanjutnya mulai kabur. Yang pasti, Michael grogi. Maklum, dia gak pernah foto studio. Sedangkan saya udah beberapa kali foto studio. Cuma di awal2 foto, saya agak kaku. Tapi selebihnya, saya mulai relax. Berkali-kali Michael mengeluh, "Aku tegang banget nih. Kamu sih enak, udah biasa." Hehehe...
Satu moment indah saat Michael foto sendiri. Saya disuruh mundur karena "Pengantin pria foto sendirian." Saya langsung mundur, membiarkan Michael sendirian duduk sambil disorot lampu kamera. Saat itu, saya terpana. Entah apa yang sedang terjadi. Saya melihat Michael duduk, menatap saya - bukan memandang kamera - sambil tersenyum penuh cinta pada saya. Dan, saya merasakan suatu perasaan yang pernah muncul saat saya pertama kali mengenal Michael. Tanpa diduga, saya jatuh cinta lagi. Indah. Indah saat saya merasakan jatuh cinta lagi, yang melambungkan saya ke awan, yang berbunga-bunga dan penuh warna, yang menghilangkan segala sakit dan pedih, dan membuat saya jatuh ke pelukannya. Selalu... untuk selamanya.
Dedicated to Michael, my love.
Only you in the world can make me feel this way...
I'm falling in love, for the second time...
Falling for you, my love.
Rasanya deg-degan banget waktu bangun pagi. Hari itu saya cuti barengan kekasih saya. Kami bakal test make-up di Cucu Bridal di Mangga Besar. Seminggu yang lalu, staf di Cucu Bridal tempat saya nanti make-up untuk pernikahan, sudah menelepon untuk mengingatkan janji kami test make-up sekaligus foto pengantin. Dan, gak terasa, saatnya udah tiba.
Sambil menunggu Michael dateng, saya mandi, makan pagi dan mencoba menyibukkan diri. Tapi rasa deg-degan ini gak hilang juga. Saya mondar-mandir ke sana ke mari, tapi gak ada yang bisa saya lakukan. Gak lama, Michael dateng juga. Dan, kami mulai sibuk memilah barang mana yang mau dibawa, barengan dengan Mama saya.
Sesampai di Cucu Bridal, kami langsung milih jas pengantin untuk Michael. Masih sibuk memilih jas, saya udah dipanggil untuk make-up. Jadi, saya udah gak tau lagi gimana kesibukan Michael memilih jas. Mama saya yang sibuk bantuin Michael. Mama emang sengaja saya ajak, supaya bisa bantuin saya saat memakai gaun pengantin. Kan Mama yang bikin gaunnya. ^-^
Sebentar2, Mama melongok masuk ke dalam melihat hasil dandanan saya. Gak lama, Michael juga masuk, untuk make-up pengantin pria. Saya senyum2 ngeliat dia bengong. Saya yakin banget kalo dia pasti gak suka sama dandanan saya. Dari awal kami bicara soal make-up, dia udah bilang kalo dia gak mau saya tampil dengan make-up yang berlebihan. Dia bilang, "Aku suka kamu dandan yang natural. Tipis-tipis aja. Kamu jauh lebih cantik kalo gak pake dandanan tebal." Makanya, saya udah berasa kalo saat dia liat dandanan saya, dia bakal gak sukaaaaa banget. Dia sih gak lama dandannya. Setelah selesai, dia langsung nunggu di depan. Pas saya keluar ruangan untuk ke bagian tata rambut, saya bisa ngeliat kekecewaan di wajahnya. Tapi saya gak peduli. Saya malah sibuk ngeliatin dia yang wajahnya jadi tambah keren. Hehehe...
Kami sama2 menuju bagian tata rambut. Pelan-pelan rambut saya disanggul, lalu kami sama2 milih rambut palsu yang cocok dengan dandanan plus bentuk wajah saya. Setelah itu, rambut saya disemprot pake multi-colour hair spray agar sewarna dengan rambut palsunya. Dan gak lama kemudian, saya sudah tampil cantik. Giliran Michael yang di-blow.
Saya dan Mama langsung menuju ruang make-up lagi. Saatnya saya milih crown, slayer dan accesories. Saya masuk. 2 orang staf udah nunggu di dalam. Mereka membantu saya memakai gaun pengantin. Setelah itu, crown dipilih. Kebetulan Mama sudah membawa crown, slayer dan accesories sendiri, karena takut kalau pilihan di Cucu Bridal tidak sesuai dengan warna gaun pengantin. Slayer-nya pun baru semalam ditaburi berlian2 kecil. Tapi setelah disesuaikan, ternyata crown dan accesories dari Cucu Bridal sudah bagus. Cuma slayer-nya saja yang kurang cocok. Akhirnya slayer buatan Mama saya yang dipakai.
Setelah siap, saya langsung keluar ruangan menemui Michael yang sudah siap dengan jas lengkap. Kali ini, saya bisa merasakan tatapan kekaguman yang terpancar dari matanya. Dan, kami berdua jalan menuju studio foto yang ada di ruko depan jalan Mangga Besar.
Setelah menunggu 1 jam, kami berdua siap untuk difoto. 2 pose pertama yang paling saya ingat, saat Michael memakaikan wedding ring di jari manis saya, dan saat saya memakaikan wedding ring di jari manis Michael. Indah. Pose selanjutnya mulai kabur. Yang pasti, Michael grogi. Maklum, dia gak pernah foto studio. Sedangkan saya udah beberapa kali foto studio. Cuma di awal2 foto, saya agak kaku. Tapi selebihnya, saya mulai relax. Berkali-kali Michael mengeluh, "Aku tegang banget nih. Kamu sih enak, udah biasa." Hehehe...
Satu moment indah saat Michael foto sendiri. Saya disuruh mundur karena "Pengantin pria foto sendirian." Saya langsung mundur, membiarkan Michael sendirian duduk sambil disorot lampu kamera. Saat itu, saya terpana. Entah apa yang sedang terjadi. Saya melihat Michael duduk, menatap saya - bukan memandang kamera - sambil tersenyum penuh cinta pada saya. Dan, saya merasakan suatu perasaan yang pernah muncul saat saya pertama kali mengenal Michael. Tanpa diduga, saya jatuh cinta lagi. Indah. Indah saat saya merasakan jatuh cinta lagi, yang melambungkan saya ke awan, yang berbunga-bunga dan penuh warna, yang menghilangkan segala sakit dan pedih, dan membuat saya jatuh ke pelukannya. Selalu... untuk selamanya.
Dedicated to Michael, my love.
Only you in the world can make me feel this way...
I'm falling in love, for the second time...
Falling for you, my love.
Nobody But You
Nobody But You
Selama ini saya mengira kalo kekasih saya itu gak pernah mengkhawatirkan apa pun. Dia selalu tenang. Gak pernah grasa-grusu. Gak pernah cemburuan. Pokoknya bener-bener tenang. Dia sendiri pernah bilang kalo dia gak takut kehilangan saya. Dia yakin kalo saya gak akan ninggalin dia atau melakukan hal-hal yang akan menyakitkan dia. Tapi ternyata ada hal yang selama ini dia ingin saya lakukan untuknya.
Tepat pukul 00:00 dini hari, handphone saya berbunyi nyaring. "Happy Birthday, Sayang," suara mesranya membangunkan saya tepat di hari ulang tahun saya. Senang rasanya mendapat ucapan selamat pertama kali dari kekasih tercinta. Setelah itu menyambung sms dari Papa saya. Padahal si Papa kan lagi di kamar bawah, tapi sempet-sempetnya ngasih ucapan via sms. Setelah itu, teman kantor saya yang lucu juga menyempatkan diri sms saat hampir jam 1 pagi. Karena ini hari Sabtu, jadi saya gak kerja. Makanya dia mesti pake sms. Anyway, hari ulang tahun saya yang ke-27 diawali dengan sangat bahagia.
Jam 8 kurang, doi udah datang. Padahal saya lagi asyik mandi. Sekeluar dari kamar mandi, doi udah berdiri manis sambil menyembunyikan tangannya ke belakang. Sekuntum mawar merah yang cantik tak lama menjadi milik saya. Senang rasanya, walaupun saya tahu kalau dia gak sempat membeli kado untuk saya, mawar itu sudah lebih dari cukup buat saya. Apalagi dia juga udah ngasih voucher makan di Domus Restaurant yang dia dapat dari point Amex Credit Card. Dia juga menyempatkan diri untuk membuat kartu ulang tahun yang manis. Setelah itu saya dipanggil Mama saya untuk membicarakan masalah barang-barang yang akan dibawa ke rumah kami. Lagi asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba doi manggil. Di tangannya udah ada roti coklat dikasih lilin kecil warna pink. Lucu. Gak nyangka. Surprise. Pokoknya terharu biru deh. Make a wish. Fhuuuh, lilin pun saya tiup. Langsung saya peluk dan cium dia, "Makasih Sayang..."
Setelah itu, kami berdua berangkat ke rumah kami. Sesampai di sana, saya langsung beresin barang-barang yang kami bawa. Tak lama, Papa saya udah telpon. Mereka semua udah nunggu kami di Glosis, Mal Puri Indah. Kami emang rencana untuk makan bareng, sekaligus merayakan ultah kakak saya, adik saya dan saya, yang berulang tahun di bulan yang sama. Setelah menikmati makan enak, kami berdua balik lagi ke rumah. Melanjutkan beres-beres yang tertunda.
Senang rasanya menikmati kebersamaan kami. Saya membereskan kaset-kaset koleksi saya, dia tiduran membaca buku-buku saya yang udah disimpan di rak buku. Kami saling bercanda, saling menikmati rumah kami. Gak sabar rasanya untuk tinggal bareng di rumah.
Hampir jam 4 sore. Selesai mandi, saya masih sibuk beres-beres di dapur. Secepat kilat deh, soalnya kami mau langsung Candle Light Dinner di Domus Restaurant. Setelah selesai, saya langsung ke kamar tidur untuk mengambil tas saya. 'Loh? Kenapa kartu ulang tahunnya ada di ranjang? Rasanya saya gak ngeluarin kartu itu dari tas? Tapi??? Kok kartunya beda?' Saya perlahan mendekati ranjang untuk melihat kartu itu lebih dekat. Di balik kartu itu ada sebuah kotak berwarna merah yang cantik sekali. Perlahan saya baca isi kartu itu. Tertulis di dalamnya kata-kata indah dari Michael. "To My Sweetheart, You're a lovely girlfriend. * Time really flies when I'm with you. But I hope time can stop still for this day, so I can see your beautiful happy face all the time.* Michael."
Tersedu-sedu saya di samping ranjang. Sambil berlutut menikmati indahnya cinta. Masih terisak-isak, saya berdiri dan langsung memeluk Michael yang sudah beberapa waktu berdiri di depan pintu. Michael memeluk saya dengan erat, menenangkan saya yang masih meneteskan air mata. Lalu, dia mengajak saya untuk membuka hadiah darinya.
Saya bukan tipe cewe yang suka pake kalung, pake arloji, pake gelang, dan sebagainya. Tangan saya selalu polos, tanpa embel-embel. Saya cuma pake arloji kalo saya pergi ke pesta atau pergi makan di restaurant yang keren. Dan saya cuma punya 1 arloji. Itu pun bukan saya yang beli. Sebelum kenal dengan Michael, saya pernah dekat dengan seorang pria. Entah bagaimana, saat ulang tahun saya yang ke-25, dia membelikan saya hadiah arloji yang mahal. Dan, arloji itu yang selalu saya pakai ke pesta atau ke restaurant.
Saat saya membuka kotak berwarna merah itu, saya melihat arloji yang cantik sekali. Takjub rasanya. Saya gak nyangka kalo dia begitu sayangnya sama saya, sampai membelikan barang sebagus itu. Saya ambil arloji itu dan langsung saya minta dia pakaikan. Cara pakainya unik, karena bentuk talinya yang seperti ban pinggang. Pokoknya bagus banget deh. Terus terang, saya masih merasa takjub. Sampai saat ini pun, sembari menulis kisah ini, saya masih diliputi rasa takjub.
Satu kalimat yang diucapkan Michael membuat saya yakin kalau dia selama ini pun punya sedikit rasa gak nyaman, entah itu yang namanya cemburu atau bukan. Dia cuma mengatakan, "Mulai sekarang, kamu gak perlu lagi pake arloji yang dikasih sama orang lain." Saya sadar, dia gak ingin ada yang lain. Cuma dia. Gak ada yang lain. Dan itu yang akan selalu saya berikan padanya seumur hidup. Cinta saya hanya untuk dia. Gak ada yang lain.
Dedicated to Michael.
Thank you for the:
* 00:00 first call
* hugs and kisses
* sweet red rose
* yummy chocolate croissant
* cute candle
* beautiful watch
* nice candle light dinner (excluding the glass accident... ^-^)
* the beautiful wedding rings (I Love You, Honey...)
* delicious your-Mom-made marmer cake (always the best...)
I can't wait to see what my next surprise on my next year birthday.
^-*
Selama ini saya mengira kalo kekasih saya itu gak pernah mengkhawatirkan apa pun. Dia selalu tenang. Gak pernah grasa-grusu. Gak pernah cemburuan. Pokoknya bener-bener tenang. Dia sendiri pernah bilang kalo dia gak takut kehilangan saya. Dia yakin kalo saya gak akan ninggalin dia atau melakukan hal-hal yang akan menyakitkan dia. Tapi ternyata ada hal yang selama ini dia ingin saya lakukan untuknya.
Tepat pukul 00:00 dini hari, handphone saya berbunyi nyaring. "Happy Birthday, Sayang," suara mesranya membangunkan saya tepat di hari ulang tahun saya. Senang rasanya mendapat ucapan selamat pertama kali dari kekasih tercinta. Setelah itu menyambung sms dari Papa saya. Padahal si Papa kan lagi di kamar bawah, tapi sempet-sempetnya ngasih ucapan via sms. Setelah itu, teman kantor saya yang lucu juga menyempatkan diri sms saat hampir jam 1 pagi. Karena ini hari Sabtu, jadi saya gak kerja. Makanya dia mesti pake sms. Anyway, hari ulang tahun saya yang ke-27 diawali dengan sangat bahagia.
Jam 8 kurang, doi udah datang. Padahal saya lagi asyik mandi. Sekeluar dari kamar mandi, doi udah berdiri manis sambil menyembunyikan tangannya ke belakang. Sekuntum mawar merah yang cantik tak lama menjadi milik saya. Senang rasanya, walaupun saya tahu kalau dia gak sempat membeli kado untuk saya, mawar itu sudah lebih dari cukup buat saya. Apalagi dia juga udah ngasih voucher makan di Domus Restaurant yang dia dapat dari point Amex Credit Card. Dia juga menyempatkan diri untuk membuat kartu ulang tahun yang manis. Setelah itu saya dipanggil Mama saya untuk membicarakan masalah barang-barang yang akan dibawa ke rumah kami. Lagi asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba doi manggil. Di tangannya udah ada roti coklat dikasih lilin kecil warna pink. Lucu. Gak nyangka. Surprise. Pokoknya terharu biru deh. Make a wish. Fhuuuh, lilin pun saya tiup. Langsung saya peluk dan cium dia, "Makasih Sayang..."
Setelah itu, kami berdua berangkat ke rumah kami. Sesampai di sana, saya langsung beresin barang-barang yang kami bawa. Tak lama, Papa saya udah telpon. Mereka semua udah nunggu kami di Glosis, Mal Puri Indah. Kami emang rencana untuk makan bareng, sekaligus merayakan ultah kakak saya, adik saya dan saya, yang berulang tahun di bulan yang sama. Setelah menikmati makan enak, kami berdua balik lagi ke rumah. Melanjutkan beres-beres yang tertunda.
Senang rasanya menikmati kebersamaan kami. Saya membereskan kaset-kaset koleksi saya, dia tiduran membaca buku-buku saya yang udah disimpan di rak buku. Kami saling bercanda, saling menikmati rumah kami. Gak sabar rasanya untuk tinggal bareng di rumah.
Hampir jam 4 sore. Selesai mandi, saya masih sibuk beres-beres di dapur. Secepat kilat deh, soalnya kami mau langsung Candle Light Dinner di Domus Restaurant. Setelah selesai, saya langsung ke kamar tidur untuk mengambil tas saya. 'Loh? Kenapa kartu ulang tahunnya ada di ranjang? Rasanya saya gak ngeluarin kartu itu dari tas? Tapi??? Kok kartunya beda?' Saya perlahan mendekati ranjang untuk melihat kartu itu lebih dekat. Di balik kartu itu ada sebuah kotak berwarna merah yang cantik sekali. Perlahan saya baca isi kartu itu. Tertulis di dalamnya kata-kata indah dari Michael. "To My Sweetheart, You're a lovely girlfriend. * Time really flies when I'm with you. But I hope time can stop still for this day, so I can see your beautiful happy face all the time.* Michael."
Tersedu-sedu saya di samping ranjang. Sambil berlutut menikmati indahnya cinta. Masih terisak-isak, saya berdiri dan langsung memeluk Michael yang sudah beberapa waktu berdiri di depan pintu. Michael memeluk saya dengan erat, menenangkan saya yang masih meneteskan air mata. Lalu, dia mengajak saya untuk membuka hadiah darinya.
Saya bukan tipe cewe yang suka pake kalung, pake arloji, pake gelang, dan sebagainya. Tangan saya selalu polos, tanpa embel-embel. Saya cuma pake arloji kalo saya pergi ke pesta atau pergi makan di restaurant yang keren. Dan saya cuma punya 1 arloji. Itu pun bukan saya yang beli. Sebelum kenal dengan Michael, saya pernah dekat dengan seorang pria. Entah bagaimana, saat ulang tahun saya yang ke-25, dia membelikan saya hadiah arloji yang mahal. Dan, arloji itu yang selalu saya pakai ke pesta atau ke restaurant.
Saat saya membuka kotak berwarna merah itu, saya melihat arloji yang cantik sekali. Takjub rasanya. Saya gak nyangka kalo dia begitu sayangnya sama saya, sampai membelikan barang sebagus itu. Saya ambil arloji itu dan langsung saya minta dia pakaikan. Cara pakainya unik, karena bentuk talinya yang seperti ban pinggang. Pokoknya bagus banget deh. Terus terang, saya masih merasa takjub. Sampai saat ini pun, sembari menulis kisah ini, saya masih diliputi rasa takjub.
Satu kalimat yang diucapkan Michael membuat saya yakin kalau dia selama ini pun punya sedikit rasa gak nyaman, entah itu yang namanya cemburu atau bukan. Dia cuma mengatakan, "Mulai sekarang, kamu gak perlu lagi pake arloji yang dikasih sama orang lain." Saya sadar, dia gak ingin ada yang lain. Cuma dia. Gak ada yang lain. Dan itu yang akan selalu saya berikan padanya seumur hidup. Cinta saya hanya untuk dia. Gak ada yang lain.
Dedicated to Michael.
Thank you for the:
* 00:00 first call
* hugs and kisses
* sweet red rose
* yummy chocolate croissant
* cute candle
* beautiful watch
* nice candle light dinner (excluding the glass accident... ^-^)
* the beautiful wedding rings (I Love You, Honey...)
* delicious your-Mom-made marmer cake (always the best...)
I can't wait to see what my next surprise on my next year birthday.
^-*
Subscribe to:
Posts (Atom)







