Tuesday, January 18, 2005

Christmas Holidays

Christmas Holidays

Natal tahun 2004 sudah lama berlalu. Pertemuan kami diawali dengan Natal di tahun 2001. Ini sudah Natal yang ke-4 yang kami rayakan bersama. Tapi bedanya, Natal tahun 2004 kami tidak bertukar hadiah. Kesepakatan bersama. Tapi rasanya aneh kalau gak kasih hadiah apa-apa ke Michael. So, beberapa hari sebelum Natal, saya menyempatkan diri pergi untuk mencari hadiah.

Malam Natal pun tiba. Hadiah saya sembunyikan di kaus kaki berbentuk snow man yang kalau ditekan tombolnya, akan terdengar lagu-lagu Natal. Saya suruh Michael mengambil kaus kaki itu. Sudah saya duga, dia kaget waktu liat kaus kaki itu ada isinya. Sambil membuka hadiah-hadiah Natal itu, bibirnya tak henti-hentinya bergerak, "Tapi aku gak beliin kamu apa-apa... Kan kita gak tuker-tukeran hadiah. Gimana donk?" Saya cuma menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. "Buka hadiahnya."

Isinya, dompet, tempat kunci mobil dan parfum favoritnya. Seminggu yang lalu, saya tanpa sengaja melihat ke atas meja rias. Wah, parfumnya udah mau habis. Saya yakin dia sangat irit sekali pakai parfumnya. Maklum, parfum kan barang mahal. Gak bisa sembarang beli kaya beli kacang. Itu sebabnya saya terpikir untuk beliin dia parfum. Kalau dompet dan tempat kunci mobil emang sengaja saya kasih karena yang lama sudah mulai rusak. Berhubung dia gak bisa kasih saya hadiah balasan, seharian itu saya cuma dipeluk dan dicium sayang. Dan, memang cuma itu saja yang saya inginkan.

Pagi Natal pun tiba. Saya bersiap-siap pergi ke rumah orang tua saya, karena ada acara ulang tahun keponakan tercinta, Rimsky. Sebetulnya ultahnya tgl 24 Desember, tapi sepakat dirayakan saat hari Natal. Sesampainya di Karet, saya dan Michael langsung sibuk makan. Maklum, kami terlambat datang. Setelah itu keponakan saya, Vivi, sibuk memberikan bingkisan Natal kepada kami semua. Lalu ternyata, ada doorprize. Gak nyangka juga, saya yang dapat doorprize-nya. Dan hadiahnya... sekotak Ferrero Rocher berbentuk hati isi 8 butir... Hepi banget. Coklat favorit saya sepanjang masa. Hehehe. Maklum. Saking mahalnya, sampe gak pernah beli. Padahal doyannya minta ampun. Abis itu, 2 butir saya jadikan doorprize tambahan, biar seru.

Kebayang kan, kami ramai-ramai cekikikan sambil teriak-teriak. Mengingatkan saya akan masa kecil saya sendiri. Kami ber-5 selalu ramai. Pergi ke mana pun selalu bersama-sama. Sekarang dengan adanya tambahan 3 menantu (my two bro-in-laws and my husband) plus 4 anak-anak kecil (belum dihitung para mbak baby-sitternya) rumah kami selalu ramai. Entah yang berantem, entah yang rebutan mainan, entah yang teriak-teriakan, dll. Pokoknya kalau udah ngumpul semua, ributnya gak ketulungan. Tapi, itulah kami. Dari dulu kami selalu ramai. Terlebih lagi saya. Tiada hari di rumah tanpa terdengar suara atau teriakan saya. Makanya, walaupun saya dan Michael masih berduaan karena belum dikaruniai anak, kami gak pernah kesepian. Michael memang bukan tipe suami yang cerewet, tapi saya sudah jelas tipe istri yang bawel. Makanya rumah kami gak pernah sepi. Selalu ada tawa dan canda kami berdua menghiasi rumah mungil kami.

Natal tahun 2004 kami tutup dengan dinner berdua di Cafe Gran Via, Gran Melia. Kebetulan salah satu teman kantor saya memiliki 2 voucher complimentary buffet di Cafe Gran Via. Tebak saya, beliau gak sempat makan di sana dengan suaminya. Voucher itu dimulai dari 25 September - 25 Desember 2004. Jelas saya harus segera menggunakannya, berhubung beliau memberikannya tgl 22 Desember 2004. Untungnya, voucher masih bisa dipakai di hari Natal, sehingga tidak terbuang percuma. Dan, kami berdua benar-benar menikmati free romantic dinner di sana. After dinner pun kami masih duduk-duduk di lobby sambil menikmati suasana hotel yang tenang dan nyaman. Setelah itu kami baru pulang ke rumah.

Sisa liburan Natal tahun 2004 menjelang tahun 2005 kami lewatkan di rumah saja. Kami gak ke luar kota. Kami cuma di rumah. Menikmati nyamannya rumah kami. Nonton DVD. Bercengkerama di kamar. Makan bersama. Main komputer. Semua kegiatan kami lakukan dengan senang hati. Dan kami gak sabar menunggu libur Natal tahun 2005.

Dedicated to Michael.
Thanks for this lovely christmas holidays.

Tuesday, December 14, 2004

Home Sweet Home

Home Sweet Home

11 Desember 2004, setelah tinggal selama 1 tahun 3 bulan 6 hari, rumah kami tercinta akhirnya diberkati. Akhir November 2004 saya mencari tahu mengapa rumah saya tidak diikutsertakan dalam pemberkatan massal di perumahan saya. Ternyata saya memang terlewatkan. Entah karena ketua lingkungannya lupa atau memang saya dianggap tidak aktif di lingkungan. Maklum saja, Michael selalu pulang malam, dan saya masih malu untuk ikut kegiatan sendirian. So, nasib saya untuk mencari sendiri Romo yang mau memberkati rumah saya.

Setelah menelepon sana-sini, saya optimis kalau acara pemberkatan rumah nanti akan sukses. Semua saya persiapkan sebaik mungkin. Bahkan 2 hari sebelum acara, saya menelepon lagi untuk memastikan Romo-nya memang sudah siap. Dan jawabannya adalah: "Tenang saja. Romo sudah tahu dan akan datang pada hari Sabtu tgl 11 Desember 2004 jam 9 pagi." Dan saya pun tenang. Sampai tiba harinya, jam 6 pagi saya sudah bangun untuk merapikan rumah. Walaupun saya tidak mengundang siapa-siapa, tapi saya ingin rumah saya dalam kondisi siap untuk diberkati. Saya dandan cantik dan wangi. Michael pun sudah dari pagi saya suruh cuci kamar mandi dan rapi-rapi. Tibalah jam 9 pagi, saya menunggu sambil duduk manis di depan TV, tapi apa daya, Romo tak kunjung datang.

Jam 9:10 saya menelepon dengan hati was-was. Dan ternyata memang benar kecurigaan saya. Romo-nya tidak ada di tempat karena mendadak ada rapat di Keuskupan. Hancurlah hati saya. Niat untuk mengadakan pemberkatan rumah pudar sudah. Betapa emosinya saya sampai-sampai saya hampir membatalkan acara pemberkatan rumah hari itu. Untung saja saya gak mengundang teman-teman saya. Coba kalo tamu sudah datang... Mau dikemanakan muka saya? Tapi untungnya masih ada Romo lain yang mau menggantikan. Tapi Romo ini cuma bisa setelah jam 11 siang, dan harus saya jemput sendiri. Walhasil, saya terpaksa mengiyakan. Daripada harus mencari hari lagi di saat saya udah males banget.

Jam 11:00 berangkatlah saya ke gereja untuk menjemput sang Romo. Macet dan panas kami lewati dengan penuh semangat. Maklum, yang akan kami jemput, Romo dari Belgia. Keren donk kalo rumah kami diberkati Romo bule. Hehehe. Jam 11:30 sampailah kami di gereja. Setelah itu kami langsung jalan lagi menuju rumah. Jam 12:00, acara pemberkatan rumah dilakukan. Hanya kami bertiga. Tanpa siapa-siapa lagi. Pemberkatan rumah berjalan dengan khidmat. Air mata saya hampir menitik setiap kali satu persatu ruangan di rumah kami diberkati. Mula-mula ruang tamu, dilanjutkan dengan dapur tempat saya memasak makanan dengan bumbu cinta untuk suami, setelah itu kamar tidur kami tempat kami memadu kasih dan cinta, disambung dengan kamar mandi, kamar komputer dan car port. Setelah pembacaan doa, acara pemberkatan rumah kami pun selesai. Lega rasanya.

Walaupun sempat ada masalah muncul, saat Romo yang batal datang tiba-tiba menelepon saya dan ngomel-ngomel karena merasa saya yang membatalkan acara pemberkatan rumah, saya dan Michael tetap bersyukur karena acara berjalan dengan lancar. Kami memang tidak mengundang siapa-siapa karena kami tidak mengadakan misa pemberkatan rumah. Sebetulnya itu ide saya sendiri. Terus terang, bukannya saya pelit dengan tidak mengadakan acara ramah-tamah dan mengundang teman-teman. Tapi rasanya pemberkatan rumah tanpa keramaian lebih mengena di hati saya. Dan lebih berkesan buat saya. Itu sebabnya Michael juga setuju dengan ide saya.

Well, yang pasti, saya tidak akan pernah lupa moment indah setelah rumah kami diberkati, setelah Romo sudah diantar pulang. Kami di dalam rumah. Hanya berdua. Berdiri berhadapan. Saling menatap. Perlahan saya melihat kedua matanya berkaca-kaca. Haru. Lega. Bahagia. Campur jadi satu. Dan saat ia memeluk saya dengan erat, saya pun semakin merasakannya.

Dedicated to Michael, my lovely hubby.
Thanks yah udah nemenin aku sepanjang hari...

Ps: Thanks to Romo Ludo yang udah menyediakan waktu utk acara pemberkatan rumah kami.

Saturday, December 04, 2004

So Unpopular

So Unpopular

Saya percaya setiap orang pasti ingin menjadi populer. Setiap kali melihat orang lain populer, rasanya ingin menjadi seperti mereka. Saya tahu rasanya. Saya mengerti keinginan itu. Karena saya pun pernah berada di tempat itu. Tempat di mana kepopuleran menjadi suatu kebanggaan. Tempat di mana saya berusaha untuk menjadi populer. Tempat di mana saya akhirnya sadar kalau kepopuleran bukanlah jawaban untuk kebahagiaan saya.

Saat menonton film-film jaman sekarang, saya melihat, kecenderungan orang untuk berusaha menjadi populer masih menaungi tema film saat ini, khususnya film remaja. Contoh yang baru saja saya tonton adalah film Mean Girls, Confessions of A Teenage Drama Queen dan 13 Going on 30. Dalam film-film tersebut terlihat betapa gadis-gadis populer sudah menguasai sekolah. Dan selalu ada gadis tidak populer yang sangat ingin menjadi bagian dari grup tersebut. Tapi seringkali perbuatan grup tersebut sangat mengesalkan. Membuat kita yang melihat rasanya muak dan ingin mengubah sistem yang tanpa disadari sudah merajalela dalam kehidupan kita sehari-hari.

Saya ingin berbagi tentang pengalaman saya sendiri. Saat sekolah dulu, saya bukanlah gadis populer. Saya tidak pernah menjadi gadis populer. Tapi layaknya seorang remaja, anak gadis yang sudah mulai mengenal dunia luar, saya juga ingin menjadi populer. Tapi saya sadar, kondisi fisik saya tidak memungkinkan. Dalam dunia ini, populer identik dengan keren, cantik, kaya raya dan berkuasa. Saya sadar kalau saya cuma seorang gadis biasa. Wajah saya biasa saja. Saya tidak pintar. Bahkan kondisi keuangan keluarga saya pun biasa saja. Saya tidak bisa menyamai teman-teman saya yang cantik, pintar dan sering bercerita tentang luar negeri. Saya bukan tipe gadis populer. Dan saya sadari itu.

Seringkali saya berusaha untuk menegur sekelompok gadis yang terkenal di sekolah saya. Just wanna be friends with them. Tapi saya selalu dicuekin. Dianggap tidak ada. Like I never exist. Bahkan di belakang saya, saya tahu kalau mereka mengejek saya. Mengejek ketidakpopuleran saya. Mengejek ketidakmampuan saya. Mengejek semua tentang saya. Tapi saya tetap tegar. Saya ingat, kadang saya menangis. Saya sering bertanya pada diri saya sendiri, mengapa harus ada kesenjangan di antara manusia. Mengapa harus ada perbedaan yang memisahkan. Mengapa harus ada jembatan di antara saya dan mereka. Saya tidak pernah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Saya hanya bertanya dan bertanya terus, tanpa tahu apa jawabnya.

Setelah menginjak usia dewasa, saya mulai kuliah, mulai mengalami hal-hal yang berbeda dengan saat saya sekolah. Saat kuliah, saya memiliki beberapa teman yang selalu berkumpul setiap minggu. Rasanya indah. Saya merasa jadi bagian dari 1 grup populer di universitas. Rasa yang tidak pernah saya alami saat saya sekolah. Tapi itu pun tidak lama. Semakin banyak orang dalam 1 grup, itu berarti semakin banyak pribadi dan semakin banyak ego. Masing-masing punya kebiasaan dan kehidupan

yang berbeda. Dan itu akhirnya membuat grup kami pun bubar. And once more, I feel like I never exist.

Lulus kuliah, saya bekerja. Saya dengar, dunia kerja sangat berbeda dengan dunia sekolah atau kuliah. Tapi lagi-lagi saya masuk dalam tempat di mana kepopuleran menjadi satu kebanggaan. Ada seorang teman yang menjunjung tinggi kepopuleran. Kebetulan saya pernah dekat di awal saya masuk kerja. Setelah berjalan beberapa lama, saya jadi muak melihat caranya mencari muka agar dia jadi anak populer bos. Saya bukan iri atau dengki. Saya hanya tidak suka melihat dia menjilat bos bersamaan dengan dia menjelekkan bos di belakang beliau. Tapi saya tidak peduli. Saya tetap menjalankan pekerjaan saya seperti biasa.

Hanya saja, saya jadi mulai menyadari kalau kepopuleran memang bisa membuat orang jadi berubah. Orang yang tadinya baik hati, biar berubah menjadi tak peduli dengan orang lain dan berambisi besar untuk meraih kepopuleran. Segala cara bisa diambil untuk menjadikan dirinya populer. Siapa pun tidak boleh menghalangi langkahnya untuk menjadi yang terdepan. Ambisi untuk menjadi yang terbaik adalah hal yang bagus. Saya setuju. Tapi kalau dipakai jalan belakang atau jalan pintas, saya tidak akan setuju. Menjadi populer belum tentu menjadi yang terbaik. Tapi menjadi yang terbaik kemungkinan besar akan jadi terkenal, jadi populer. Banyak orang populer yang berawal dari kesederhanaan. Contoh Mother Teresa. Kesederhanaan. Bukan kekayaan. Bukan gemerlap uang. Bukan kecantikan. Bukan kesombongan. Hanya kesederhanaan. Mengapa kita harus bangga dengan kekayaan kalau kita tidak bisa memulai dari kesederhanaan. Dan saya akhirnya tahu mengapa harus ada jembatan antara saya dengan mereka.

Saya duduk di sini, menulis tentang ini, bukan berarti saya sudah menjadi populer. Saya hanya seorang wanita biasa yang berwajah biasa, memiliki tingkat kepandaian yang biasa, dan juga kondisi keuangan yang biasa saja. Tapi saya tumbuh dari seorang gadis kecil biasa dengan keinginan besar untuk jadi populer, hingga menjadi seorang wanita biasa dengan keinginan besar untuk tidak jadi populer. Tanpa popularitas, saya mendapatkan semua yang saya inginkan. Saya memiliki orang tua dan keluarga yang menyayangi saya, suami yang mencintai saya dengan sepenuh hati, rumah mungil yang melindungi saya dari hujan dan panas matahari, mobil tua yang mengantar saya ke mana pun saya inginkan, dan waktu serta kemampuan untuk menuangkan semua isi hati saya lewat tulisan-tulisan saya. Dan, saya bangga akan ketidakpopuleran saya. Karena jawaban atas kebahagiaan yang saya dapatkan saat ini adalah karena ketidakpopuleran saya.

Dedicated to Michael, my husband.
Even though I've never been the popular girl in the past, I'm proud to be the one and only popular girl in your heart and life, now and forever.

Friday, November 12, 2004

Indahnya Mudik

Indahnya Mudik

Pagi tadi, saat saya melintasi jalan tol dari rumah menuju kantor, saya melihat beberapa mobil "konde" lewat di dekat mobil saya. Entah mengapa, tiba-tiba saja rasa haru muncul tanpa diundang. Mobil "konde" berwarna merah melewati pandangan mata saya. Terlihat seorang anak kecil duduk di kursi depan samping pengemudi. Kantuk masih terlihat di matanya. Tapi bukan itu yang membuat saya terharu. Sinar kebahagiaan penuh kerinduan terlihat jelas. Anak itu pasti mengerti, sebentar lagi ia akan bertemu dengan sanak saudaranya. Mungkin neneknya, mungkin sepupunya, mungkin juga teman-teman kecilnya. Mungkin dalam hatinya ia mengerti, betapa sebentar lagi ia akan melewati jalan yang cukup panjang untuk menemui semua orang yang selama ini gak selalu ada di sampingnya.

Saya tidak tahu rasanya. Saya tidak pernah merasakan yang namanya 'mudik.' Kampung halaman saya di Jakarta. Saya lahir, besar dan menikah di Jakarta. Walaupun saya sejak menikah tinggal di Tangerang, tapi saya setiap hari ke Jakarta. Saya kerja di Jakarta. Suami saya pun begitu. Kami tidak pernah tahu apa rasanya mudik. Kami tidak pernah tahu apa rasanya berkemas untuk pulang. Kami tidak pernah tahu apa rasanya perjalanan panjang untuk pulang. Tapi setiap tahun, kami mengalami sekitar kami melakukan hal itu. Setiap tahun, kami melihat semua orang mudik, pulang ke kampungnya masing-masing. Setiap tahun, kami merasakan indahnya Jakarta dengan jalanan yang sepi, tidak adanya kemacetan, dan kami gembira dengan perasaan itu.

Tapi baru pagi tadi - pagi yang indah di hari terakhir kami bekerja sebelum libur panjang - saya merasakan kegembiraan mereka yang mudik. Saya bisa membayangkan, mereka bangun lebih pagi, menyiapkan barang-barang untuk masuk ke mobil, menyiapkan snack dan minuman untuk bekal buka puasa sepanjang perjalanan, dan kesibukan-kesibukan lain yang rutin mereka lakukan setiap tahun, setiap mereka mudik, pulang ke kampung halaman. Belum lagi celoteh-celoteh anak-anak yang masih kecil, yang mungkin lupa siapa saja yang akan mereka temui di kampung halaman mereka. Semua itu bisa saya bayangkan. Bisa saya rasakan. Dan, saya bergembira dengan perasaan itu.

Saya sering ke luar kota. Saya tahu apa itu bangun lebih pagi, apa itu berkemas, dan kesibukan-kesibukan yang dilakukan setiap berlibur. Tapi lain rasanya. Apa pun itu, lain rasanya. Saya bukan pergi untuk bertemu dengan saudara yang nun jauh di sana. Saya cuma pergi berlibur. Rasa gembira yang muncul hanya rasa sesaat. Bukan karena rindu, bukan karena kangen. Hanya rasa gembira.

Dan pagi tadi, saat saya melintasi jalan tol dari rumah menuju kantor, saya begitu gembira hingga saya menangis. Selamat mudik semuanya.

Regards,
Yenny
November 12th, 2004

Thursday, October 28, 2004

Someone Like You

Someone Like You

Selasa, 26 Oktober 2004, Erwin Parengkuan telpon saya untuk konfirmasi pengambilan dan pengantaran DVD Private Gladiator (PG) yang dia titip ke saya. Malamnya saya langsung minta Michael untuk mengantar saya ke Radio Cosmo. Untung banget suamiku tercinta itu penuh pengertian. Dia mengerti kalo saya tuh nge-fans banget sama Tika Panggabean (dan Project Pop-nya). Dia juga mengerti kalo Cosmo FM itu adalah my personal station. Jadi dia rela untuk bangun lebih pagi supaya saya bisa ke Cosmo untuk mengantarkan DVD titipan Erwin. Dan sekalian saya mau bawain nasi goreng ala Yenny yang biasa cuma dimakan sama Michael. Lagian saya pernah janji ke Tika dan Erwin mau bawain masakan favorit Michael made in Yenny. Hehehe...

Rabu, 27 Oktober 2004, pukul 4 pagi saya bangun. Saya harus bangun lebih pagi karena harus extra masak nasi goreng plus juga biar Michael gak telat lewat Sudirman dan gak sampe kena 3 in 1. Sehabis mandi saya langsung bikin nasi goreng. Setelah nasi goreng rampung, saya beres-beres seperti biasa. Bikin breakfast buat Michael, siram tanaman, bangunin Michael dan makan pagi bersama. Setelah itu Michael mandi dan saya panasin mobil. Maklum, mobil tua harus dipanaskan dulu pagi-pagi sebelum berangkat. Pukul 05:30, kami berangkat menuju Gedung Sarinah Thamrin. Pukul 06:00 sampailah saya di Cosmo. Belum ada yang datang, cuma ada Bapak Security bertampang gahar berkumis tebal, tapi kalo senyum ternyata manis juga. Dan saya duduk di ruang tamu depan sambil menunggu.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah kaki berjalan di lorong berkarpet di depan kantor Cosmo FM. Dan... jreng... muncullah Erwin Parengkuan memakai kaos ketat berwarna gelap, mencoba melewati saya yang sudah dengan terkantuk-kantuk menunggu kedatangannya. Saya ikuti matanya yang menatap saya dengan tatapan curiga, dan segera dia tersadar dan langsung menyapa, "Yenny yah?" Sambil menyalami saya, Erwin langsung tembak, "Mana???" Melihat saya sibuk membuka tas, dia langsung mengajak saya masuk ke dalam, dengan senyum sumringah penuh makna. Sayangnya, saat itu cuma saya yang tau arti senyumnya. Bapak Security yang duduk di meja operator depan jelas gak tau apa yang membuat senyum Erwin di pagi itu begitu sumringah. ^-^

Sesampai di dalam studio, langsung saya kasih bungkusan warna pink berisi DVD PG. Senyum Erwin udah bukan sumringah lagi, tapi udah ganti jadi ketawa girang. Pokoknya Erwin hepi banget deh. Setelah itu, dia mengambilkan saya minum, dan kami ngobrol2 di ruang operator radio menunggu Tika datang. Lagi asyik-asyiknya ngobrol, terdengar suara khas Tika dari arah depan. Deg... jantung saya berdebar-debar. Maklum lah, pertama kalinya saya ketemu dengan Tika, sang idola. Dan... muncullan Tika di depan mata saya. Memakai sweater warna abu-abu, Tika menyalami saya sambil menempelkan pipinya di pipi saya. Duh, senangnya... Ketemu juga sama Sang Idola...

Setelah itu Erwin dan Tika siaran seperti biasa, dan saya duduk dengan manisnya di dekat mereka mendengarkan celoteh mereka yang seru dan kocak. Kami membahas tentang DVD, tentang Dokter Bedah, tentang parcel dll. Kebetulan topik hari itu adalah bisnis di hari raya. Ada yang bikin bingkisan coklat, kue2 kering, brownies, dll. Saya juga ketemu dengan Mas Dede dan Nona Ame. Ada 1 orang lagi yang bolak-balik juga, tapi gak dikenalin, jadi gak tau namanya. Feelingnya sih itu yang namanya Mas Yudi. :) Jam 8 ada talk-show tentang Pediasure sehingga saya gak ikutan lagi. Jam 9 saya ketemu dengan Mbak Rossa untuk mengambil hadiah Paseo Moment, berupa sekotak tissue Paseo dan voucher Metro senilai Rp 200.000,- Ohya sebelum ketemu Mbak Rossa, saya liat 2 personnel Project Pop (Udjo dan Odie) masuk ke Cosmo, dan tanpa sadar saya langsung melambaikan tangan, dan dibalas. Hehehe... Ternyata mereka lagi mo rekaman di Hard Rock FM bareng Yosi.

Setelah acara pengambilan hadiah selesai, saya langsung masuk ke studio lagi. "Tika... ada Project Pop... kenalin..." Dan diteleponlah Udjo dan Odie untuk datang ke Cosmo. Di depan kantor, sepanjang lorong, saya dikenalin sama Udjo dan Odie. Duh, hepi banget deh. Mereka rame, ramah dan gak sombong. Malah saya serasa udah kenal lama dengan mereka. Tapi waktu harus memisahkan kami. Jam sudah menunjukkan pukul 09:15, dan saya harus balik ke kantor. Maklum, kalo telat lebih dari 4 jam, bisa dipotong cuti atau potong gaji. Ini aja saya udah mengorbankan uang transport karena saya telat masuk kantor. Tapi gapapa, kalo saya ambil hadiahnya jam makan siang pun, saya harus mengeluarkan uang senilai uang transport tersebut untuk naik bajaj bolak-balik dari kantor ke Cosmo. So, setali tiga uang deh.

Well, selesai sudah petualangan saya pagi itu di Cosmo. Walaupun gak sempet on-air, tapi saya seneng karena Michael bisa denger suara saya sayup-sayup di belakang suara Tika dan Erwin. Tapi mungkin karena bangun kepagian, seharian itu saya pusing. Hehehe. Mungkin juga karena sedikit shock bisa ketemu sekaligus Erwin, Tika, Udjo dan Odie. Tapi abis minum Panadol, sudah lupa tuh... Hihihi... Lagian, malam itu, pukul 20:00, saya udah terkapar dengan nikmatnya di kasur. Sampe Michael pulang pun saya gak tau. Baru jam 2 pagi saya terbangun dengan kaget, 'Wah, Michael udah pulang belon yah???' dan mendapati Michael udah tidur nyenyak di samping saya. Langsung saya peluk. Bahagia rasanya punya suami yang mengerti saya. Bahagia rasanya punya suami yang memanjakan saya. Bahagia rasanya punya suami seperti dia. Dan saya pun tertidur lagi.

Dedicated to Michael.
I feel so lucky to have a husband like you...
I love you...

Sunday, October 24, 2004

Crying is OK

Crying is OK

19 Oktober 2004, saya mengirim fax ke Cosmopolitan FM untuk memenangkan "something" from PASEO MOMENT.

21 Oktober 2004, saya kirim sms untuk tanya ttg studio untuk merekam suara saya di CD. Kebetulan saya emang suka banget nyanyi. Dan kebetulan Michael suka banget dengerin saya nyanyi. So, jawabannya adalah... Cosmo FM menelepon saya untuk on-air sebentar dengan Tika dan Erwin. Dan, hasil akhir adalah... saya disuruh nyanyi... Hehehe... Seneng juga bisa nyanyi di radio, walaupun gak pake band. Hihihi... Saya nyanyi lagunya Rio Febrian, yang judulnya Bukan Untukku. Tika sempet ngiringin lagu dengan background vocal gitu. Jadi kaya lagu R&B. :)
Dan, semua bertepuk tangan. Erwin bahkan bilang kalo suara saya bagus. Waaaaah... bangga juga deh. ^-^
And, I am grateful for the info about the recording studio...

Ohya, hari itu juga kisah PASEO MOMENT saya jadi pemenang. So, saya akan dapat hadiah. Thanks to Cosmo FM dan Paseo. Mereka berdua memang ada untuk membuat saya lebih gembira.

Well, please read the "moment" below... Have fun... ^-^

*****

PASEO MOMENT @ Cosmopolitan FM

Sejak Paseo muncul di pasaran, saya gak pernah lagi pakai tissue merk lain. Buat saya, tissue Paseo berguna banget. Saya tuh orangnya cengeng. Nonton film sedih, nangis. Nonton film yang happy ending, nangis juga karena terharu. Nonton film komedi, ketawa sampe nangis. Jadi, gak ada hari nonton tanpa tissue.

Michael, suami saya, udah tau banget sifat saya. Jadi, setiap kali saya nangis kalo abis nonton, dia selalu lari ke kamar untuk mengambil kotak tissue dan langsung diletakkan di samping saya. Abis itu, gak lupa dia ambil kotak sampah untuk bekas tissue yang sudah dipakai. Soalnya bisa banyak banget yang saya pakai.

Di antara semua tissue yang udah saya coba, hanya tissue Paseo yang paling lembut dan enak dipakai. Sebenarnya sayang banget kalo pakai tissue Paseo. Tapi, apa daya, cuma tissue Paseo yang ada di rumah saya. Well, gak salah lagi, Paseo ada untuk membuat Anda lebih nyaman.

*****

Dedicated to Michael.
Don't worry... you definitely make me feel more comfortable than Paseo.
And... I think crying is OK...

Thursday, October 14, 2004

FW: curhat

di bawah ini adalah curhat dari seorang teman di milis ingin-timang, berikut email reply dari saya.
semoga ini bisa menguatkan hati teman2 sekalian yg mungkin merasakan hal yg sama.

-----Original Message-----

dear intimers,

saat ini aku sedih banget...makanya aku curhat ke milis yg sehati sama aku semoga bisa membuat hatiku ga sedih lagi.

temen deket aku di kantor saat ini sedang hamil,pada saat dia sudah terlambat bulan aku yg dorong2 dia untuk tes tapi setelah hasilnya positif aku jadi sedih banget...aku sampai nangis di kamar mandi. kenapa orang lain begitu mudahnya mendapatkan apa yg mereka inginkan...kenapa aku susah sekali untuk mendapatkan anak. aku jadi ngerasa ga berharga,ngerasa lemah dan rapuh. sekarang aku jadi menjauh dari temen aku itu,sebenarnya aku ga mau seperti itu tapi aku ga sanggup ngedengerin cerita dia tentang kandungannya,aku ga sanggup ngeliat gimana temen2 bersukacita nyambut kehamilan temen aku itu. aku jadi ngerasa BT di kantor,aku egois yach...??

maaf...kalo ini mengganggu teman2 di milis,aku cuma ingin mengeluarkan isi hati aku sama temen2 yg senasib dan seperjuangan untuk mendapatkan anak.

*****

Date: Tue, 12 Oct 2004 00:25:20 -0000
From: "Yenny"
Subject: Re: FW: curhat

dear you,

aku tau rasanya.
sepupuku yg married belakangan udah mo punya baby.
tetanggaku yg married belakangan udah mo punya baby.
temen kantorku yg married belakangan udah mo punya baby.
semua rasanya udah mo punya baby, kecuali aku.

tapi...
temen kantorku yg married 3 th lebih dulu dr aku, masih belum punya baby.
sepupuku yang married 10 th lebih dulu dr aku, masih belum punya baby.

so, jangan selalu melihat ke atas... lihat juga ke bawah...
masih banyak org yang sama spt kita...
masih menunggu anugerah terindah dari Tuhan.
tapi...
mereka tetep enjoy...
mereka tetep hepi...
kenapa kita harus sedih???

aku dulu juga sedih.
setiap kali liat iklan di TV ada bayinya, pasti nangis di pelukan suami.
setiap kali liat ibu2 hamil lewat, pasti mataku berkaca-kaca.
setiap kali liat sebuah keluarga sedang berjalan2 di mall, pasti hatiku dipenuhi rasa iri.

tapi, aku sadar, semua itu udah jalan dari Tuhan.
aku ingat kalau Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-NYA.
bukan waktu kita, tapi waktu-NYA.
mendapatkan bayi itu juga seperti mendapatkan pasangan, mendapatkan rumah, mendapatkan pekerjaan.
kalo belum cocok, ya belum dikasih
kalo belum jodoh, ya belum dapat.

skr, setiap kali aku liat gambar bayi di iklan TV, aku senyum.
setiap kali aku liat ibu2 hamil lewat, aku senang.
setiap kali aku liat sebuah keluarga sedang berjalan2 di mall, aku bahagia.

aku menerima semuanya, karena aku tahu... Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-NYA.
dan aku akan selalu menunggu sampai waktu-NYA tiba..

regards
Yenny

Wednesday, October 06, 2004

Dream Comes True

Dream Comes True

Semua diawali dengan keisengan semata. Gara-gara bete dengan temen sekantor, saya membawa radio dari rumah ke kantor. Awalnya saya cuma putar sana-sini, cari radio yang enak didengar. Tau-tau saya sampai di 90.40 FM, radio Cosmopolitan. Saya pikir, cobain deh, radio apaan sih. Ternyata kedengeran suara Tika Panggabean, idola saya. Saya emang suka Tika sejak pertama liat Tika di TV. Buat saya, Tika tuh pede banget. Di antara selebritis lain yang megah, Tika terlihat simple dan sweet. Apalagi sejak muncul Project Pop, waah... langsung jatuh hati liat tingkah mereka yang lucu-lucu.

Waktu pertama denger, Tika masih siaran sama Farhan karena Erwin lagi keliling Eropa. Kocak banget denger mereka siaran. My morning jadi indah banget deh. Saya selalu ketawa sendirian setiap dengerin mereka. Lalu masuklah Erwin. Terus terang, awalnya saya gak terlalu sreg dengan Erwin. Mungkin karena kelamaan denger Farhan. Tapi denger punya denger, Erwin makin asyik dan makin nyambung dengan selera saya. So, saya selalu stay tune tuh di Cosmopolitan FM, gak ke mana-mana lagi. Dari Breakfast Club saya lanjut ke Live and Work. Setelah itu langsung ke Musicbox dan berakhir di Happy Hour. Sayangnya saya cuma bisa denger Happy Hour dari jam 16:00-17:00 karena harus pulang kantor. Karena di rumah radionya gak bisa tuning di Cosmo FM, terpaksa saya harus menahan keinginan dengerin Cosmo esok paginya. Pertama-tama saya cukup bangga kalo ditelepon Cosmo untuk ngobrol dengan Erwin dan Tika. Kadang-kadang laporan traffic, kadang-kadang ikutan curhat soal kerjaan dengan pakar Mbak Ita. Pernah juga cerita tentang saya dan suami waktu masih Farhan dan Tika. Pada intinya, saya udah hepi banget bisa ngobrol dengan mereka. Biasanya para selebritis itu pasti gak punya waktu untuk orang awam seperti saya. Tapi saya seneng karena kenyataannya mereka punya waktu. ^-^

6 September 2004 our first anniversary. Saya gak nyiapin hadiah apa-apa buat Michael, suami tercinta. Tapi saya ikut acara Heart-2-Heart di Radio Cosmo. Dan pagi itu saya deg-degan banget. Setelah telpon, Mas Iyes dari Cosmo bilang, kalo acara H2H itu gak bisa dilaksanakan karena udah ada orang lain yang duluan. So saya pasrah aja. Kata Mas Iyes, nanti Michael akan ditelepon aja. Ok lah, mau gimana lagi... Mendekati jam 10 pagi itu, ternyata suara Michael terdengar berkumandang di radio saya. Dasar! Saya dikerjain... surprise bukan cuma buat Michael, tapi buat saya juga. Cuma, seneng juga sih dapet Tiramisu yang endang bambang dari Cheese Cake Factory. Mantap bo!!! Thanks to H2H and personnel-personnelnya.

3 Oktober 2004 Tika ultah. Seminggu sebelumnya saya coba cari tau, apa sih yang Tika suka. Ternyata Tika suka baca juga. So, pergilah saya ke toko buku dan membeli buku TOTO CHAN. Kisah tentang seorang anak perempuan di Jepang yang mengalami banyak hal dalam hidupnya. Ceritanya bagus dan menyentuh banget. Itu sebabnya saya belikan untuk Tika. Dan senangnya... karena Tika mau terima kado dari saya.

6 Oktober 2004, temen kantor saya ngajak ke Cosmo. Beberapa bulan yang lalu, saya pernah 1 kali ke Cosmo, ketemu Mbak Rossa, sang operator yang baik hati dan tidak sombong. Ohya, dulu sempet bete juga dengan Mbak Rossa, gara-gara susah banget kalo ditelpon. Tapi setelah ketemu baru tau kalo orangnya asyik banget. Ohya, niat ke Cosmo siang tadi emang mo ketemu Tika. Sampe di Sarinah, saya lunch dulu. Abis gitu, ke Hero untuk beli snacks. Sampe di Cosmo, ternyata menurut Mbak Rossa, Tika dan Erwin baru aja pulang. Sedihnya... Tapi gapapa lah, saya emang niat mampir kok. Kenalan dengan Mas Iyes, Mbak Fitri, dll.

Tiba-tiba aja Mbak Cera Esmeralda ngajak saya untuk liat studio tempat mereka siaran. Saya sih seneng aja, langsung saya ikutan masuk. Eeeeh, taunya diajak siaran. On-air. Tangan saya langsung dingin. Cuma, ini emang impian saya sejak dulu. Pingin banget kerja di radio, siaran di radio dan have fun di radio. Setelah 28 tahun, baru saya punya kesempatan. Bener-bener dream comes true deh rasanya. Walaupun cuma jadi bintang tamu dadakan, saya seneng banget. Diberikan kesempatan untuk siaran langsung dengan penyiar beneran, dan bahkan Erwin yang ditelpon oleh Mas Iyes juga ikutan ngomong. Apalagi karena hal yang dibahas seputar Breakfast Club edisi 5 Oktober 2004, saat Erwin dan Tika wawancara dengan Mbak Marissa Haque, sang anggota DPR. Sayang Tika gak bisa dihubungi, padahal ngarep juga sih. Hehehe. Tapi... duh, gak akan terlupakan deh. Bener-bener pengalaman yang indah banget. Kebayang donk gimana rasanya kalo apa yang kita inginkan dari dulu bisa terkabul??? Saya pake headphone, ngomong di microphone, sambil ngobrol dengan Mbak Cera dan Erwin. Lengkap sudah kesenangan saya.

Tapi ternyata, kesenangan itu gak berhenti sampai di situ. Sepulang dari Cosmo, saya udah telat banget nyampe kantor. Bersyukur juga karena boss gak complaint. Langsung saya tune di Musicbox. Beberapa kali ikutan request, saya gak pernah menang tuh. Tapi kali ini saya pingin banget menang, biar ada alasan untuk mampir ke Cosmo lagi. Hehehe. Saya ikutan request lagu Blue dan Stevie Wonder, langsung diputerin. Tapi feeling saya, lagu itu bukan request of the day. So, saya request lagi lagu Sheilla Madjid, dan "Request of the day hari itu dimenangkan oleh... YENNY..." Waaaah, girang banget deh. Biarin lah, mo dibilang norak kek, mo dibilang gila kek, pokoknya abis gitu, saya langsung telpon temen dan suami saya, dan bercerita dengan serunya. Kalo gak inget itu di kantor, udah jingkrak-jingkrak deh. ^-^

Well, malam ini saya cape. Mo tidur dulu. Setelah mengalami hari yang penuh kesenangan ini, saya mau mimpi indah. Mimpi siaran di radio Cosmo bareng Erwin dan Tika, bareng Mbak Cera, bareng Irene, bareng Reymund dan Irina. Semoga saat bangun, saya bener-bener jadi penyiar. Indahnya...

Regards,
Yenny
October 6th, 2004

Tuesday, September 07, 2004

Unlimited Love

Unlimited Love

Gak terasa udah 1 tahun berlalu sejak saya duduk di depan cermin sambil didandani oleh crew dari Cucu Bridal. Sepertinya baru kemarin saya kenal dengan Michael. Dan saat ini sudah 1 tahun sejak saya menginjakkan kaki ke dalam rumah mungil yang Michael beli untuk kami tempati. Berbagai emosi sudah saya alami di rumah ini. Dari yang kesel sampe yang seneng. Dari yang nangis sampe yang ketawa kenceng. Setiap jengkal dari rumah ini sudah saya jelajahi. Setiap langkah di rumah ini sudah meninggalkan memory setahun kemarin yang tak pernah saya lupa. Dan saya masih terus berada di rumah ini. Mengetik di komputer yang sama. Baca buku di ruang yang sama. Mencuci baju di mesin cuci yang sama. Memasak di kompor dan dapur yang sama. Mandi di kamar mandi yang sama. Tidur di ranjang yang sama. Dan tetap memeluk suami yang sama. Suami tercinta, yang sudah memberikan kebahagiaan selama 1 tahun ini, dan yang akan selalu memberikan saya kebahagiaan selama hidup kami berdua.

Gak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan perasaan gembira, haru dan bahagia yang selalu saya rasakan bila saya bersama Michael. Gak ada juga hadiah atau surprise yang bisa menceritakan isi hati saya kepada Michael. Hanya perhatian, cinta, kesetiaan dan kasih sayang yang dapat saya berikan untuk Michael sampai akhir hidup kami.

Saya pernah bertanya kepada Michael, "Sayang, apakah perasaan kamu berubah ke aku?" Michael balik bertanya, "Berubah gimana? Aku kan tetep sayang kamu." Tapi yang saya maksud adalah, apakah perasaannya berbeda dengan waktu masih pacaran. Michael bilang, "Jelas donk. Aku sekarang tambah sayang sama kamu. Dan sayangku ke kamu itu udah yang paling besar. Gak akan aku bisa sayang ke orang lain seperti aku sayang kamu."

Michael balik bertanya ke saya, apakah yang saya rasakan. Dan saya hanya menjawab, "Cinta dan sayangku ke kamu jelas berubah. Semakin bertambah. Tapi bukan yang paling besar. Karena cintaku ke kamu unlimited. Gak bisa ada batasnya. Terus dan terus bertambah. Gak pernah ada kata 'paling' buat kamu, karena perasaan aku ke kamu emang gak terbatas."

Dan Michael hanya menatap saya dengan mata berkaca-kaca penuh cinta.

Dedicated to Michael.
Happy 1st Anniversary, September 06th, 2004
You will always have my unlimited love...
I love you.

Tuesday, August 31, 2004

What A Day

What A Day

Rencana awal, saya dan suami - Yenny dan Michael - beserta kakak saya sekeluarga, akan pergi ke Kampoeng Sampireun tgl 21-22 Agustus 2004. Sungguh sangat disayangkan tour kami ternyata membatalkan acara tersebut. Betapa kecewa hati kami. Masih teringat minggu sebelumnya, kami berdua pergi ke Carrefour membeli snacks untuk di perjalanan. Kami juga menyempatkan diri membeli isi film kamera, berhubung kami belum punya kamera digital.

Tapi pihak tour ternyata bukan membatalkan, melainkan memundurkan acara menjadi tgl 28-29 Agustus 2004. Saya segera memberitahukan berita baik tersebut kepada Michael. Sayangnya kami berdua sudah keburu kecewa. Apalagi di tgl 29 Agustus itu, saya sudah janji dengan Pak Bondan Winarno untuk bertemu muka di acara "Heritage Food at Heritage City" yang akan berlangsung di Gedung Arsip Nasional. Acara ini adalah acara mergersutra antara Jalan Sutra dengan Sahabat Museum. Belum lagi di hari Sabtu ada pameran Elex Media Komputindo di Bentara Budaya Palmerah. Apalagi kakak saya sekeluarga tidak bisa ikut di hari itu. Otomatis, saya cuma berdua saja, plus anggota tour yang lain. Dan lagi, saya baru ingat, karena diberitahu oleh pihak tour sudah mendadak, saya gak sempat lagi ikutan Cosmo FM Trip ke Bandung tgl 21-22 Agustus 2004. Duh, jadi sebel juga. Padahal saya udah lama pingin jalan-jalan ke Bandung juga.

Tapi, alangkah indahnya kalau kami tetap bisa mengikuti tour ke Kampoeng Sampireun. Saya pikir dan pikir terus. 'Think! Think! Think!' kata saya dalam hati. Apa yang harus saya lakukan agar kami jadi ke sana? Dan, tiba-tiba saja seperti ada lampu pijar di atas kepala saya. Saya baru ingat kalau saya pernah melihat foto Kampoeng Sampireun di salah satu majalah milik teman kantor saya, Majalah TAMASYA. Beberapa kali saya pergi ke Gramedia, Carrefour dan lapak-lapak di pinggir jalan, tapi majalah edisi 02 tersebut sudah habis. Saya hanya bisa gigit jari. Tapi saya gak mau menyerah begitu saya. Saya kirim email lalu menelepon redaksi majalah tersebut. Saya minta dikirimkan edisi 01 dan edisi 02 yang belum saya miliki. Pihak redaksi - Pak Sugiman dan Pak Terris - dengan sangat ramah melayani permintaan saya. Pagi itu saya transfer uang ke rekening majalah TAMASYA, sorenya majalah sudah di tangan saya.

Dengan berbekal majalah TAMASYA edisi 02, saya bujuk dan rayu Michael sambil memperlihatkan foto-foto pasangan Early dan suami yang sedang honeymoon lagi di Kampoeng Sampireun. "Masa gak tertarik sih?" Dan jawabannya hanya, "Tapi gak ada TV yah???" Saya langsung cemberut. Sebel juga. Masa mau honeymoon lagi malah mikirin TV. Tapi ternyata Michael hanya bercanda. Dan jadilah kami booking villa di Kampoeng Sampireun melalui tour tadi. Tapi tiba-tiba saja, ada panggilan kerja untuk Michael di hari Sabtu. Dan saya jelas ingin supaya Michael memprioritaskan kerjaan dibanding jalan-jalan. So, terpaksa jalan-jalan ke Kampoeng Sampireun pun batal. Mungkin kami emang gak boleh jalan-jalan ke luar kota di bulan Agustus ini. Bahkan setelah tour dibatalkan, panggilan kerja pun gak jadi hari Sabtu itu, ditunda hari Selasa. Hehehe. Lengkap sudah.

So, Sabtu pagi kami pergi ke Bentara Budaya. Setelah sedikit putar-putar karena nyobain jalan, kami sampai sudah di Bentara Budaya. Sempet kesel berat. Tas yang saya bawa harus dititip, padahal saya gunakan tas tersebut untuk bawa uang, dompet dan handphone. Berpuluh-puluh kali saya datang untuk mengikuti pameran di sana, tidak pernah tas saya disuruh titip. Dengan sedikit kesal, saya suruh Michael taruh tas di mobil saja, karena takut hilang. Tapi, setelah kami masuk ke dalam, saya melihat ada ibu-ibu membawa tas-nya dengan riang dan santai. Langsung saya tegur pihak keamanan di depan itu, "Itu ada yang bawa tas." Dan mereka menjawab tanpa melihat lagi, "Mungkin itu pihak Elex-nya." Bagaimana mungkin? Lha wong si Ibu lagi sibuk mo daftarin anaknya lomba puzzle... Akhirnya sesampai di pintu dalam, saya langsung cari security. "SIAPA SIH PIMPINAN SECURITY DI SINI? SAYA GAK DIKASIH BAWA TAS, PADAHAL SAYA LIAT YANG LAEN PADA BAWA TAS. SAYA UDAH SERING LIAT PAMERAN DI SINI. GAK PERNAH TUH ADA KEJADIAN GINI. SAYA JADI GAK ENAK KE SINI LAGI." Dan mereka bilang, sudah peraturan kalo gak boleh bawa tas. "SAYA MENGERTI! KALO EMANG PERATURAN SEPERTI ITU, SEMUANYA DONK DISURUH TITIP TAS. JANGAN CUMA SAYA! EMANG SAYA MO NYOLONG DI SINI!!!" Dan mereka berlalu sambil mengatakan kalau mau menegur security di depan. Semakin lama, semakin banyak ibu-ibu dan cewek-cewek yang masuk pake tas. Dan lengkap sudah kekesalan saya. "MICHAEEEEEEEL!!! AYO AMBIL TAS. ENAKNYA ORANG-ORANG PADA BAWA TAS, AKU DISURUH MEGANGIN DOMPET AMA HP! AYO!" Dan puaslah saya!

Terus terang, saya emang tipe orang yang sensitif dan mudah emosi. Sedikit lagi saya kesal, saya pasti langsung nangis sambil marah-marah gak tentu ujung pangkalnya. Tapi saya puas pulang dari pameran Elex Media sambil membawa belanjaan sebesar 177K. Komik lucu, buku resep dan buku komputer belanjaan Michael langsung kami bawa dengan senang hati. Dan lupalah saya dengan segala kekesalan dan kemarahan saya. Langkah saya pun bak prajurit menang perang. :)

Minggu pagi, bersiap-siaplah saya dan Michael menuju kota. Setelah mampir ke bengkel, kami lanjut ke rumah ortu Michael di Dwiwarna. Baru deh kami ke Gedung Arsip Nasional. Dengan membayar Rp 60.000,- kami mendapat 2 tiket masuk yang dapat ditukar dengan 2 buah roti buaya. Lucu bentuknya. Enak pula dimakannya. Saya langsung makan nasi uduk betawi bareng es cincau hijau. Nasi uduknya sih nikmat, sayang es cincau-nya pake kuah es cendol. Saya gak doyan, jadi cuma ngabisin cincau-nya, kuahnya Michael yang minum. Abis itu, kami cuma keliling-keliling sambil nunggu Om Sindhiarta datang. Saya memang janji dengan Om Sindhiarta untuk membawakan buku Seratus Kiat yang Jilid 2 karangan Pak Bondan Winarno. Sekitar jam 12-an, saya lihat Pak Bondan datang. Dengan PD dan penuh senyum, saya langsung menegur Pak Bondan sambil memperkenalkan diri. Saat tahu bahwa saya 'Yenny,' Pak Bondan langsung tersenyum lebar. Tapi karena saya tahu Pak Bondan sibuk, saya segera "melepaskan" Pak Bondan untuk menyelesaikan urusannya. Kan siangnya Pak Bondan mau demo masak bareng Om William Wongso.

Jam 1-an, Michael ternyata baru merasa lapar. Langsung saya suruh dia beli makanan, tapi "Kamu sendiri aja yah, Sayang. Panas nih..." bujuk saya sambil tersenyum. Dan pergilah Michael keliling mencari makanan. Tau-tau ada Ferry Salim di samping saya. Wah, ada syuting infotainment nih. Ikutan ah!!! Dan, jalanlah saya di belakang mereka sambil celingak-celinguk mencari Michael. Ternyata Michael tak kutemukan. Sedihnya. Balik lagi deh ke tempat rindang di depan pintu. Setelah menemukan Michael (yang ternyata udah selesai makan nasi uduk), saya langsung tarik dia untuk foto saya dengan Pak Bondan dan Om Ferry. Berhasil... Asyik juga bisa foto bareng selebritis. Hehehe...

Tapi kesan yang menyenangkan adalah bertemu dengan teman-teman JSers di sana. Setelah melihat Nana yang lagi buka stand JS en Gramedia bareng Bung Yos, saya juga ketemu dengan Rusli cs. Barengan menunggu Om Sindhiarta, akhirnya ketemu juga. Dan bukan cuma mereka saja yang saya temui. Ada Oemar, Grace, Ayu, Deasy, Andrew, Indra Lukman, Astrid, dan Fenny/Wendy (gak jelas). Ada juga yang gak sempet kenalan, seperti Yohan Handoyo. Saya cuma tahu dari Oemar tapi gak sempet kenalan karena kelihatannya Yohan sibuk sekali dengan orang Cafe Sampoerna. Ada juga JSers yang malah saya gak tau namanya.

Sekitar jam 3 kurang, saya telepon Pak Bondan untuk meminta tanda tangannya di buku Seratus Kiat Jilid 1, Jilid 2, dan Jalan Sutra. Selesai mendapatkan tanda tangan Pak Bondan, langsung saya meluncur pulang. Panas terik dan macet berat di luar bikin saya dan Michael pingin cepet-cepet nyampe rumah. Tapi, asli deh, baru kali ini saya gak perlu berjemur di pantai untuk mendapatkan kulit yang tanned. Muka dan kedua lengan saya merah-merah dan belang-belang. Hihihi. Tapi, kesan yang saya dapatkan dari beberapa hari terakhir ini, gak membuat saya menangisi kulit hitam saya yang makin menghitam.

Kesan yang lebih dalam? Jelas, tanda tangan Pak Bondan. Tapi kesan paling indah saya rasakan adalah saat melalui hari-hari itu bersama Michael. Ke mana pun saya pergi, Michael rela menemani saya. Bahkan dari saat dia mendengar omelan-omelan saya di pameran buku, sampai ikut berpanas-panasan ria di acara HFHC, dia selalu tersenyum setiap saya menoleh untuk menatap wajahnya, dia selalu membelai rambut saya dengan lembut setiap saya mengeluh kepanasan, dan dia selalu memeluk saya dengan penuh sayang sejak saat beberapa JSers mengenali kami sebagai "Yenny & Michael" yang terkenal romantis itu. Hehehe...

Tulisan ini saya persembahkan untuk Michael, yang sudah menjadi suami saya tepat 1 tahun. Walaupun tahun lalu, 31 Agustus 2003, kami belum tinggal bersama (kami baru tinggal bersama setelah acara resepsi tgl 6 September 2003), tapi kami sudah mengucapkan janji pernikahan di depan altar gereja. Semoga kami akan selalu menjadi "Yenny & Michael" yang selalu romantis, dan bahkan menjadi semakin romantis dengan bertambahnya usia pernikahan kami.

Dedicated to Michael.
Thank you for being such a romantic husband.
I love you.
Happy 1st - Church Wedding - Anniversary

Monday, August 02, 2004

Proud of You

Proud of You

Pertemuan dengan beberapa members milis Jalan Sutra (JS) di Taman Anggrek kemarin telah memberikan kesan tersendiri bagi saya dan suami. Buat saya, rasanya seperti mimpi. Selama ini saya hanya mengenal segelintir nama-nama yang sering muncul di milis, seperti Om Sindhiarta, Pak Gatot dan yang lainnya. Tak disangka, akhirnya bertemu jua. Milis saya sendiri pun belum pernah mengadakan gathering, sehingga sampai sekarang saya masih belum tahu seperti apa tampang-tampang members milis Love Our Life (LOL). Sepertinya hanya dunia maya buat saya. Tapi dengan bertemu members JS, saya seperti ditepuk dari belakang, seperti disiram air dingin, seperti dibangunkan dari tidur yang panjang. Ternyata dunia maya itu benar-benar ada. Saya bahkan bertemu dengan beberapa orang yang selama ini hanya dapat saya baca tulisannya di milis. Sepertinya mereka muncul dari balik layar panggung sandiwara, di mana saya berdiri menunggu pertunjukan dimulai.

Rasa terima kasih saya belum hilang hingga saat ini, saat saya menulis ini, kepada Om Sin. Saya hanya butuh meluangkan waktu sedikit untuk datang ke Taman Anggrek, tanpa berbuat apa-apa, hanya menunggu, tahu-tahu saya sudah memiliki 11 jilid buku perjalanan Prof. HOK Tanzil, yang dapat saya baca dengan hati senang. Terima kasih, Om Sin atas semua yang telah dilakukan untuk kami, para members JS.

Kesan lain juga didapat suami saya dari pertemuan ini. Sepanjang perkenalan dengan teman-teman dari member milis JS, Om Sin tak henti-hentinya memperkenalkan saya sebagai "Yenny, yang bikin Pak Bondan nangis." Muka saya pasti udah merah kaya kepiting rebus. Tak henti-hentinya pujian mengalir dari mulut teman-teman atas keindahan website yang saya buat. Padahal, murni website itu hanya iseng semata. Karena tertarik dengan blog Mr. Yohan yang profesional, saya jadi berniat untuk mempersembahkan website kepada belahan jiwa saya, suami tercinta. Tapi ternyata setelah membuat website tersebut, saya malah ingin mempersembahkannya untuk semua orang.

Mendengar pujian dari teman-teman, ternyata menambah kebanggaan suami terhadap saya. Sampai di rumah pun, Michael masih sibuk memuji-muji saya, karena telah menggerakkan hati banyak orang dengan memperkenalkan website itu. Senang rasanya melihat binar-binar di matanya. Walaupun saat pertemuan itu ia tak banyak bicara, tapi saya bisa merasakan betapa bangganya dia terhadap saya.

Cuma belakangan baru saya tahu bahwa ada 1 hal yang mengganjal hatinya. Michael merasa canggung di depan teman-teman sekalian. Ia merasa minder. Begitu banyak hal yang ia dengar dari teman-teman semua. Ada yang sering ke luar negeri, ada yang punya usaha sendiri, ada yang sering mengadakan tour ke tempat-tempat unik, bahkan ada yang baru pulang dari Riyadh. Rasanya ia tak punya kisah sukses yang bisa dibanggakan. Ia seperti tak punya apa-apa. Ia hanya seorang yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan di Jakarta. Hanya itu. Bagi dia, hanya itu yang ia punya. Dan itu bukanlah hal menarik yang bisa diceritakan atau di-share ke semua orang. Bukan sesuatu yang membanggakan.

Saya sedih mendengar isi hatinya. Saya gak nyangka kalo ia malahan jadi minder. Terus terang, saya sendiri tidak merasa minder, walaupun saya tahu bahwa banyak sekali orang hebat di milis JS ini, malahan saya bangga karena saya adalah salah satu orang yang mengenal orang-orang hebat tersebut, biarpun cuma via milis. Saya pernah minder dulu, tapi keminderan saya sudah lenyap seiring dengan pertemuan saya dengan Michael. Michael-lah orang yang sudah menumbuhkan rasa percaya diri saya. Michael-lah orang yang sudah menyadarkan saya betapa saya juga punya kemampuan yang bisa saya banggakan. Tapi di dalam hatinya, ia pun punya rasa itu.

Saya peluk dia dan saya katakan, "Sayang, aku bangga sama kamu. Apa pun yang orang lain banggakan, itu bukan urusanku. Aku hanya turut senang dengan prestasi yang mereka raih. Tapi aku paling bangga sama kamu. Kenapa kamu bilang kamu gak punya yang bisa dibanggakan? Sayang, kamu punya aku. Apa kamu gak bangga?"
Dan Michael cuma tersenyum simpul. "Oh iya, aku lupa. Aku adalah satu-satunya orang yang memiliki kamu. Gak ada lagi yang memiliki kamu, selain aku. Dan, emang bener, aku bangga sekali."

So, problem solved and case closed. Michael udah gak mengungkit-ungkit lagi tentang ke-tidak PD-annya. Saya pun kembali tersenyum sambil sibuk buka-buka fotocopy-an yang baru saya dapatkan tadi siang. Tapi, masih ada yang mengganjal di hati saya. Setelah bertahun-tahun gak pernah ke Taman Anggrek, saya mulai bingung sendiri. Resto-nya sudah berubah banyak dibanding waktu saya sering ke sana. Kira-kira, resto mana ya yang paling enak untuk dicoba bareng Michael?

Dedicated to Michael.
I'm proud of you, Honey, always...

Sunday, July 25, 2004

Inside the Invitation

this is the inside of the invitation.

Invitation

nah, kalo ini amplop dan cover dari undangan Michael dan Yenny loh. bagus kan??? ini pilihan kami sendiri. setelah bolak-balik di daftar pilihan undangan, yen jatuh cinta waktu liat undangan ini. makanya, kami sepakat milih undangan ini.

Niece & Nephews on MY Wedding

this is my niece and nephews... mereka lagi difoto waktu wedding michael and yenny. keren2 kan??? ^-^

Saturday, July 24, 2004

Ke Dufan

ini foto pertama kali kami pergi ke dufan, just the two of us. seneng banget deh. eh liat deh kami masih imut banget yah. apa gara2 pacaran kami jadi keliatan tua??? waaaaaaaaaaah, sedihnya... anyway, yen seneng punya kenangan indah di dufan sama michael. ^-^

Little Yenny

kalo ini foto yen waktu masih kecil. masih SD tuh. makanya masih muda banget kan, gak kaya sekarang. hehehe.

Little Michael

michael lucu yah waktu kecil. gak nyangka kalo dia pernah kecil. hihihi. abisnya, imut banget sih. tapi ternyata gak beda loh mukanya. skr aja masih imut. :)

Wednesday, July 21, 2004

Michael's Favorite Picture

ini foto yang jadi favorit michael. katanya, yenny cantiiiiiiiiiik banget di sini. apa iya???

MY Wedding Picture

ini foto wedding michael & yenny yg dipajang di kamar tidur. ok kan? sengaja yen pilih foto ini karena di sini bener2 keliatan banget wedding picture. enjoy our beauty yah. hehehe.

Tuesday, July 20, 2004

Thank You

Thank You

Kecupan lembut di pipi membuat saya terbangun dari tidur. "Happy birthday, Sayang. I love you," bisik Michael di telinga saya. Dan kali ini saya benar-benar terbangun. "Loh, kok bangun?" lembut jari Michael menyentuh pipi saya. Dan, saya tahu kalau saat itu pasti sudah jam 00:00 menjelang 19 Juli 2004. "Makasih, Sayang." Saya tertidur dalam pelukannya sambil tersenyum.

Akhirnya, sampai juga saya di usia 28 tahun. Dulu sempet takut kalo usia 28 masih belum menikah. Tapi ternyata di usia 28 tahun ini, saya sudah hampir 1 tahun menikah. Dan saya bahagia. Sejak mengenal Michael, sudah 2 kali saya mengalami ulang tahun. Selalu ada surprise di ultah saya. :)

Kali ini ternyata saya pun mendapat surprise. Udah dari 2 minggu yang lalu dia terbingung-bingung mo kasih apa untuk hadiah ultah saya. Dan, udah berkali-kali saya bilang kalo saya gak perlu dikasih hadiah. Bahkan saya bilang ke dia kalo saya cuma butuh ada dia di samping saya setiap hari. Udah cukup sebagai hadiah ultah buat saya. Tapi dia memaksa dengan cara berkeluh kesah terus kalau dia gak sempet beliin saya kado karena bingung mau kasih apaan. "Perhiasan, kamu jarang pake. Arloji juga gak pernah pake. Udah 2 kali ultah kamu, aku beliin kalung dan arloji. Tapi gak pernah kamu pake. Cuma kamu simpeeeeeeeeeeeeen aja. DVD atau buku, kamu udah banyak. Aku bingung mau kasih kamu apaan."

Akhirnya, saya yang meminta hadiah darinya. Saya bilang, "Ya udah, kalo gitu aku minta blender aja. Yang 3 in 1. Biar bisa buat bumbu dapur sekaligus bikinin kamu jus alpukat. Kan kamu suka banget jus alpukat." Dan, akhirnya diputuskan untuk nitip Mama saya beli di kota.

18 Juli 2004 sore, manager saya datang ke rumah. Sengaja memberikan hadiah. Katanya, "Biar besok di kantor gak repot bawa2 pulang." Dan saya putuskan untuk membuka hadiahnya esok pagi. Dan, setelah bangun pagi itu, saya cepat-cepat membuka blender, hadiah dari Michael. Saya mainkan alat-alatnya. Saya baca lembaran manualnya. Saya putar-putar. Saya nikmati keindahan blender itu. Maklum, udah lama saya pingin punya blender, baru kesampaian. Setelah itu, saya buka hadiah dari manager saya. Dan, ternyata... isinya... blender. Hahahaha. Surprise banget. Gak nyangka kalo manager saya bisa baca pikiran saya. Akhirnya, di pagi hari itu, saya cuma duduk melongo sambil ngeliatin 2 buah blender di depan saya. Hihihi. What a surprise!!!

Saat saya sampai di kantor, saya seperti biasa cek email. Di folder "Michael" ada 2 email yang belum dibaca. Setelah saya buka, ternyata 1 email ada greetings dari Michael. Saya gak sabar langsung buka greetings-nya. Pikir saya, tumben Michael sempet kirim greetings. Biasanya musti ditanyain dulu. :)

Apa yang saya baca, membuat mata saya berkaca-kaca. Rasanya hati ini terharu campur bahagia. Apa yang saya baca, merupakan hadiah terindah yang pernah saya dapatkan. Dan, saya makin mengerti betapa dia begitu mencintai saya.

"what can i give for your birthday?
we've exchanged so many gifts...
shared so many wonderful memories...
known so much passion...

what can i give for your birthday?
something you've had all along - i give my love, now and forever..."

HONEY,
THIS IS THE ONLY PRESENT I CAN GIVE YOU FOR THIS YEAR'S BIRTHDAY. I HOPE YOU LOVE IT AS MUCH AS I DO.

I LOVE YOU,
MICHAEL

Dedicated to Michael.
I love you too.
Thank you, for being such a wonderful husband.